Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 8


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 8


Catatan Sejarah:Secara sederhana, riwayat kerajaan pendahulu Singa- sari adalah sebagai berikut:


Kerajaan Mataram Kuno dibagi menjadi dua kera- jaan: Jenggala dan Kadiri.


Dua kerajaan ini kemudian berseteru.


Ken Arok menumbangkan Kadiri setelah merebut Tumapel dari Tunggul Ametung. Ken Arok yang kemudian mendirikan trah Rajasa dan mendirikan Kerajaan Singa- sari.


*


Kemungkinan pemberontakan Paman Jayakatwang sungguh mengerikan. Aku terpengaruh hing- ga gelisah sepanjang sore. Cukup lama, aku bolak-balik di tempat tidur hingga akhirnya aku bisa tertidur.


Kegelisahan itu rupanya enggan meninggalkanku. Aku merasa mimpiku saat itu terlalu murung. Itu adalah pengulangan masa lalu dalam versi berbeda. Aku dan yunda-yundaku berada dalam balairung agung. Menonton sejumlah seniman topeng membawakan lakon Panji Asmarabangun.


Di manakah engkau, wahai Putri Candra Kirana?


Kanda mencari dari puncak gunung hingga tepi lautan.


Di manakah engkau, pujaan hati?


Setiap malam, Kanda memanggil hingga terbawa da- lam mimpi.13


Gending giro14 terdengar riuh. Terlalu riuh hingga kepalaku pusing. Aku berdiri di tengah-tengah panggung. Ketakutan dan kesakitan. Gerakan-gerakan gemulai milik para penari topeng berubah menjadi tangan-tangan ber- senjatakan keris. Mereka menyerangku satu per satu. Dengan kejam, mereka menusukkan keris sambil me- neriakkan dendam mereka.


Saat bangun, aku langsung mencuci muka dan takut kembali naik ke tempat tidur. Gendis telah terlelap sedari tadi di atas tikar. Aku menggeleng sedih. Tiba-tiba sadar kalau kehidupan seorang dayang jauh lebih damai dari kehidupanku.


Perintah Raden Wijaya sempat terlintas di kepala. Dia berpesan agar aku tidak membahayakan diri. Dia juga mengingatkan agar tidak turut campur atau terlibat jauh.


Omong kosong.


Siapa yang tahan dengan situasi penuh curiga seperti ini? Berdiam diri bukanlah gayaku. Dan tentu saja, mimpi buruk tadi sudah membuatku enggan meneruskan tidur.


Aku memutuskan berjalan-jalan keluar istana ke- putrian. Toh, di lingkungan istana ada banyak prajurit tangguh. Jadi ini bukan pelanggaran perintah, pikirku.


Udara malam terasa dingin. Aku mengambil selen- dang tebal dari dalam lemari. Kemudian beranjak keluar kamar. Udara terasa dingin menjelang musim hujan. Aku mengetatkan selendang itu menutup dada. Kuperhatikan


13 Gending Panji Asmarabangun di sini adalah rekaan.

__ADS_1


14 Iringan musik yang dimainkan di awal, sebagai penarik perhatian.


suasana di sekitar. Suara jangkrik dan katak menyam- butku riang. Bulan sabit menggantung di langit. Pucat dan bisu.


Aku ingin mengungkapkan segala keresahanku. Tapi apa yang bisa kulakukan saat ini? Mengetahui jabatan asli Viren, jelas membuat semua berubah. Apa yang aku bica- rakan dengan Viren berisiko tinggi jika tersebar keluar. Tidak ada yang tahu apakah di istana ada penyusup telik sandi pihak lain.


Aku sampai di deretan pohon bagian belakang istana utama. Saat hendak berjalan lagi, aku mendengar suara orang berbicara. Tidak ada prajurit di sekitar mereka. Jadi kupikir, mereka membicarakan suatu rahasia.


“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, Senapati.”


Aku mendengar suara Raden Wijaya. Dengan segera, aku beringsut ke belakang pohon berbatang besar. Apa yang Raden Wijaya lakukan malam-malam begini? Apa- kah yang dia panggil ‘senapati’ itu Viren?


Aku mendengar suara terbatuk sejenak. Ternyata yang diajak berbicara oleh Raden Wijaya memang Arya Virendra.


“Silakan bertanya, Pangeran.”


“Tak usah bersikap terlalu formal.” Raden Wijaya berkata. “Aku hanya ingin tahu apakah kau menyimpan perasaan untuk Putri Gayatri?”


Hening sesaat.


Aku merasa jantungku hampir copot mendengar per- tanyaan itu. Kalau mau jujur, aku ingin sekali mendengar kata ‘ya’. Seandainya Viren yang melamarku di balairung agung, situasinya akan berbeda jauh. Aku tahu, kata ‘ya’ akan berdampak buruk pada Viren. Tapi sungguh, seka- rang, aku ingin jadi egois.


Kakang, katakan, ‘ya’! Tolonglah! “Saya tidak berani, Pangeran.”


Setitik air mataku jatuh. Secara tidak langsung, ja- waban Viren telah membentangkan jarak. Dia tidak mau memperjuangkanku. Dia tidak mau merebutku dari Raden Wijaya.


Wajahku memanas. Cengkeramanku pada kalung Vi- ren kian erat. Hingga aku merasa, kalung itu akan ter- putus.


“Bagus jika kau sadar.” Suara Raden Wijaya memecah lamunanku.


“Aku ingin kau mengucapkan sumpah.” Suaranya te- gas tak terbantahkan, “Sumpah bahwa kau akan melin- dungi Putri Gayatri. Bersumpahlah kalau kau tidak akan menyimpan perasaan apa pun kepadanya, selain rasa hormat kepada junjunganmu.”


Ingin sekali aku melihat wajah kedua orang itu. Namun malam terlalu gelap. Keheningan kembali terjadi. Jantungku berdebar semakin keras. Sebagian diriku ber- doa agar Viren tidak mengucapkan sumpahnya.


“Saya bersumpah akan melindungi Putri Gayatri me- lebihi nyawa saya sendiri. Saya bersumpah tidak akan menyimpan perasaan lain, selain rasa hormat kepada junjungan saya.”


Air mataku mengalir semakin deras. Aku ingin keluar. Aku ingin memarahi dua laki-laki tanpa perasaan itu. Jagad dewa batara! Tidak adakah di antara mereka yang mengerti perasaanku?


“Bagaimanapun, aku harus menaruh kepercayaan ke- pada seseorang.” Raden Wijaya berkata lagi. “Aku tidak bisa setiap waktu melindungi Putri Gayatri.”

__ADS_1


Raden Wijaya bahkan tidak meminta maaf. Sungguh keterlaluan!


“Saya akan selalu setia kepada Putri Gayatri.”


“Aku percaya itu, Senapati.” Raden Wijaya berkata, “Nah, sekarang aku ingin kau melaporkan hasil penyelidi- kanmu.”


Hening kembali.


“Saya mohon maaf, Gusti. Seluruh perampok adalah pendekar-pendekar tangguh. Sungguh sulit menangkap mereka. Gusti Prabu pun agaknya kurang tanggap. Gusti Prabu melimpahkan wewenang kepada para bekel.15 Saya malah agak heran. Kok Gusti Pangeran bisa tahu keterli- batan Ken Sakka dalam masalah ini?”


“Bukankah katamu sulit menyembunyikan sesuatu dariku?”


Dua orang itu tertawa. Mendadak, aku ingat tawa ke- cilnya saat bersamaku. Ah, kenapa aku malah memikirkan itu?


15 Bekel = kepala pasukan kecil.


“Ranggalawe kenal dengan banyak pendekar di dunia persilatan.” Raden Wijaya menjelaskan. “Aku juga menyu- ruh Ranggalawe menyelidiki masalah ini.”


“Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah lagi da- lam penyelidikan ini, Gusti.”


“Salah. Tidak pernah ada yang sederhana dalam strategi. Apakah kau bisa menemukan bukti keterkaitan Jayakatwang dalam insiden bramacorah ini?”


“Entahlah, Gusti. Saya belum dapat menyelidiki lebih jauh. Rahasia keprajuritan Prabu Jayakatwang begitu ter- tutup. Membutuhkan waktu cukup lama untuk menguak- nya.”


“Kalau begitu, aku ingin kaujalankan satu perintahku.”


“Apa itu, Gusti?”


“Tangkap para perampok! Gantung mereka di alun-alun! Ini akan menjadi gertakan bagi Paman Jayakatwang. Rakyat kotaraja juga akan lebih percaya diri. Sanggup menjalankan tugas ini, Senapati?”


“Sanggup, Gusti.”


“Bekerjalah diam-diam bersama pasukanmu. Aku akan menugaskan Ranggalawe dan pasukannya untuk membantu.”


“Sendhika.”


“Bagus,” ucap Raden Wijaya, terdengar puas. “Aku ingin tugas ini tuntas sebelum aku berangkat ke Suwar- nabhumi.”


“Secepat itu?”

__ADS_1


“Ya. Aku ingin melihat, seberapa lama Paman Jaya- katwang akan mampu mempertahankan topengnya.” Suara Raden Wijaya terdengar seperti geraman, “Dan untuk para bramacorah, aku mau mereka menerima hu- kuman yang pantas. Terlebih lagi makhluk begundal yang satu itu: Ken Sakka.”


__ADS_2