
Putri Rajapatni - Gayatri - 9
Catatan Sejarah:Prabu Jayakatwang adalah bupati Gelang-Gelang. Pra- bu Jayakatwang adalah keturunan dari Kertajaya (raja terakhir Kerajaan Kadiri). Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Prabu Jayakatwang mendendam terhadap keturunan Ken Arok. Karena sebab inilah, dia kemudian memberontak.
*
Isu tentang rencana pemberontakan akhirnya me- nyusup ke dalam istana. Perlahan-lahan, para pejabat mu- lai berbisik-bisik. Meski mereka takut membuka mulut di depan Ayahanda. Tentu saja, hukuman Ayahanda lebih menakutkan dari ancaman apa pun. Semua tahu, Ayah- anda terlalu percaya pada Prabu Jayakatwang. Keteguhan hati Ayahanda sungguh tidak tergoyahkan.
Aku tahu, Raden Wijaya dan pengikutnya berusaha keras meredam teror. Rencana Raden Wijaya tidak main- main. Beberapa kali, kotaraja geger. Ditemukan beberapa mayat tergantung di alun-alun. Mereka semua memakai topeng hitam. Sementara di kaki mereka tergantung bun- talan. Isi buntalan itu rupanya hasil jarahan dari rumah- rumah penduduk. Kejadian yang sama berulang saat ter- jadi perampokan di wilayah sekitar. Para perampok ter-
gantung di alun-alun dengan barang jarahan diikat di kaki mereka.
Entah karena takut, atau sedang menyiapkan siasat lain, para bramacorah kemudian lebih jarang berkunjung. Ayahanda tertawa puas. Beliau meneguk tuak dua kali lebih banyak saat mendengar kabar itu. Ayahanda meng- anggap, adanya kesatria penolong itu adalah bukti kalau para dewa melindungi Singasari.
“Tidak mungkin ada yang berani macam-macam kepada Singasari!” Begitulah teriakan yang senantiasa ku- dengar di balairung agung.
Purnama bulan itu, diadakan sebuah perayaan. Perni- kahan Ardaraja dan Maha berlangsung lebih semarak dari yang kubayangkan. Paman Jayakatwang datang beserta istrinya, Bibi Terukbali16. Kami para putri menyambut hangat kehadiran mereka.
__ADS_1
Bibi Terukbali langsung memeluk kami satu per satu. Sayang sekali, rombongan Paman Jayakatwang enggan menetap lama-lama. Setelah prosesi pamitan selesai, mereka langsung berniat memboyong Maha ke Gelang- Gelang.
“Kalian semua harus datang di acara ngunduh mantu
nanti,” pesan Bibi Terukbali.
Kami semua mengangguk. Perpisahan itu penuh air mata. Kami semua kasihan karena Ayahanda menetapkan kalau menantunya nanti harus tinggal di kotaraja. Ardaraja tetap harus tinggal jauh dari orang tua. Itu bu- kanlah hal yang menyenangkan.
16 Terukbali (nama asli) adalah permaisuri Gelang-Gelang. Putri dari Wisnuwardhana (ayahanda Raja Kertanegara)
“Putri Gayatri.”
Aku mengerjap sesaat. Tengkukku merinding men- dengar suara berat itu. Paman Jayakatwang kembali ter- senyum kepadaku. Sayangnya, senyumnya justru mem- buatku merasa terancam.
“Kudengar, Putri Gayatri tak lama lagi akan menikah dengan Raden Wijaya?”
Aku mengangguk tanpa berani memandangnya. “De- mikianlah keputusan Ayahanda, Paman.”
__ADS_1
“Kapan Wijaya akan berangkat kembali ke Suwarna- bumi?”
“Kalau tidak salah, tiga hari lagi.”
Paman Jayakatwang tertawa. “Aku harus datang ke pernikahan kalian.” Dia tergelak. Sayangnya, aku menang- kap maksud buruk dari kata-kata itu.
“Sayang sekali, baru dilamar malah harus berpisah.” Paman Jayakatwang sedikit menyindir, “Apakah Raden Wijaya adalah orang di balik penggantungan para brama- corah di alun-alun?”
“Mengapa Paman menanyakan hal itu kepada saya?” “Kalau bukan denganmu, lalu dengan siapa?” tantang
Paman Jayakatwang, “Kau adalah calon istri Wijaya. Sudah sepatutnya kau tahu segala hal mengenai calon suamimu.” Aku mengepalkan tangan. “Mengapa Paman bisa ber-
pikir begitu?”
“Jangan pura-pura polos. Menangkap penjahat akan membuatnya lebih disayang dan dihargai lagi, kan?”
“Sungguh tidak pantas bagi saya membicarakan hal itu, Paman. Apalagi, saya adalah calon istri Raden Wijaya.” Akhirnya aku mengangkat wajah untuk menatap Paman Jayakatwang lekat-lekat. Mata Paman Jayakatwang me- nyipit sedikit. Senyumnya saat itu terlihat keji.
__ADS_1