
Putri Rajapatni - Gayatri - 2
Tidak ada yang istimewa dari kelahiranku. Tu- buhku tidak memancarkan cahaya terang. Betisku tidak bercahaya. Yang paling penting: aku seorang perempuan.
Menjadi tidak peduli dengan kedudukan adalah cara terbaik menjaga kesehatan jiwa. Dengan demikian, aku ti- dak akan merasa kecewa saat semua orang lebih mengin- dahkan ketiga yundaku. Atau setidaknya, inilah pedoman yang kujadikan cara menghibur diri.
Menjadi perempuan di masa seperti ini, sama dengan tidak memiliki arti. Terlebih aku lahir di dalam kerajaan yang menjunjung nilai patriarki. Mitos-mitos dan keper- cayaan masyarakat semakin melemahkan posisiku. Hanya karena keyakinan pada ramalan-ramalan, nasib seseorang bisa berubah.
Sebelum aku lahir, ayahanda telah memiliki dua orang anak perempuan. Dua putri ini telah diramalkan akan menjadi istri seorang raja. Konon, saat lahir, kening Tri—Tribuaneswari—berkilau seperti cahaya manikam, sedang Nare—Narendraduhita—memiliki tanda lahir ma- tahari yang amat cantik.
Saat mengandungku, Ibunda tidak berharap banyak. Melahirkan dua orang anak perempuan, lalu melihat raut kekecewaan di wajah ayahanda telah membuatnya pas- rah. Dalam kesakitannya membawaku ke dunia, Ibunda hanya berharap kalau aku akan menjadi anak yang baik dan bertindak lurus sesuai dharma. Mungkin memang itu
__ADS_1
yang terjadi. Karena sejak kecil, aku senang dininabobo- kan dengan ayat-ayat berbagai sutra.
Ayahanda tidak terlalu puas dengan hasil ramalan saat aku lahir. Tidak ada kata-kata yang terkait dengan kesucian atau kekuasaan. Para ahli nujum menyimpulkan kalau aku ada di tengah-tengah anugerah dan musibah.
Karena itu, kedudukanku kemudian diturunkan satu tingkat. Ayahanda memilih mengasihi Pradnya Paramitha, yang setahun lebih muda dariku. Konon, saat Ibunda mengandung adikku itu, Ayahanda bermimpi didatangi Bodhisatva Avalokitesvara. Ayahanda kemudian meng- anggapnya sebagai petunjuk. Tidak heran, makna dalam nama adikku adalah ‘kesempurnaan dalam kebijaksa- naan’. Begitulah yang Ayahanda harapkan. Bahwa adikku akan membawa kesempurnaan dan seorang menantu yang bijaksana untuk membantunya membangun keraja- an.
Meski Maha, adikku, lebih terkucil karena ramalan dia akan meninggal saat senja (karena itu nama Maha- dewi Sandyakala diharapkan dapat mengurangi efek ra- malan itu), aku kerap iri. Aku kemudian bertanya-tanya, mengapa semesta menghadirkan kelahiranku. Walau di masa kecil, aku memilih percaya pada apa yang dikisah- kan Nyi Hanum, ibu asuhku. Kata-kata Nyi Hanum mem- beriku kekuatan kala sedang membutuhkan.
Nyi Hanum selalu bercerita tentang fajar yang ber- gembira. Semburat merah muda menggantikan jingga. Awan-awan kecil bertaburan bagai kelopak bunga. Itulah saat-saat kelahiranku. Awal hari yang begitu bercahaya dan gemilang.
Aku pernah membayangkan langit itu. Menebak-ne- bak bagaimana cakrawala saat para dewa menaburkan kembang dari masing-masing singgasananya. Sementara Dewa Surya Yang Agung memberi cahaya yang paling cerah dan menenangkan.
__ADS_1
Sayangnya, saat aku beranjak remaja, rasa iri mem- buatku meragukan kisah Nyi Hanum. Keyakinanku luntur seiring waktu mendewasakanku. Aku tetap merasa tidak puas. Kasih sayang yang kuperoleh dari ayahanda tidak- lah sama dengan kasih sayang yang diperoleh para yundaku. Hukuman tampaknya lebih mudah kuperoleh ketimbang sebuah pujian. Dan itu menyakitkan.
Aku mulai meragukan Nyi Hanum. Aku pun meng- anggap kisah itu hanyalah sebuah cerita yang dibuat untuk menyenangkanku. Meski demikian, aku masih me- nyukai satu bagian cerita.
Saat menjelang kelahiranku, konon bertepatan de- ngan saat para pendeta menghaturkan puja kepada Sang Pencipta. Dalam bayanganku, saat itu pastilah damai dan sakral. Genta-genta dibunyikan. Sementara doa memulia- kan jagad semesta dipanjatkan melalui mantra yang indah:
Om bhur bvah svaha, tat savitur varenyam,
Bhargo devasya dimahi, diyo yo nah prachodayat…
Para Brahmana biasanya menghaturkan sesaji. Mere- ka akan membakar dupa dan melantunkan mantra itu. Puja kepada penguasa tiga alam. Permohonan agar Sang Maha Kuasa menganugerahkan kekuatan dan akal budi yang mencerahkan pikiran manusia.
__ADS_1
Entah kebetulan atau tidak, aku dinamakan sama dengan nama mantra itu. Sang Pemegang Tiga Kekuatan. Dengan nasibku yang diramalkan berada di tengah kebe- runtungan dan ketidakberuntungan itu, aku tidak tahu apakah sebuah nama kemudian akan mengubah suratan nasibku.
Orang-orang memanggilku Putri Gayatri. Aku adalah putri tingkat keempat dari sang Maharaja Singasari, Prabu Kertanegara.