Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Rajapatni - Fajar yang Mengembara


__ADS_3

Putri Rajapatni - Rajapatni - Fajar yang Mengembara


Keesokan harinya, aku bangun begitu siang. Itu pun terjadi karena keributan yang dibawa rombongan yundaku.


Tri, Nare, Pradnya, dan iring-iringan dayang datang beramai-ramai. Tri mengetuk pintu kamarku dengan he- boh. Dia memaksaku bangun. Alasannya, hari sudah mulai siang.


Padahal, langit masih abu-abu. Matahari pun masih hinggap di langit timur. Udara dingin semriwing. Enak se- kali rebahan di saat seperti ini.


Aku terpaksa beranjak dari tempat tidur. Aku mem- buka pintu sambil mengucek-ngucek mata. Masih meng- antuk, aku melihat Tri dan Nare meneliti tempat tidur. Aku menutupi kuap. Mataku enggan terbuka. Aku jadi ti- dak sadar kenapa hari ini sikap mereka begitu aneh.


Setelah membasuh wajah, aku duduk di dekat mere- ka. Aku minum air dengan santai. Ketenanganku ini ru- panya mengganggu mereka.


“Duh, Dinda. Aku tidak tahan lagi!” Nare lebih dulu berdiri lalu berkacak pinggang. “Sebenarnya, apa saja yang kaulakukan bersama Kanda Prabu semalaman?”


“Tidur,” jawabku polos.


Omelan Tri menanggapi jawabanku. Aku hanya bisa melongo mendengar omelan-omelan mereka:

__ADS_1


Kesempatan emas terlewatkan begitu saja. Padahal kami sudah mengajarimu.


Hanya dua kalimat itu yang bisa masuk otakku. Pradnya menyeretku keluar dari situasi yang semakin memanas. Aku masih bengong ketika kami tiba di istana keputrian. Bahkan ketika Pradnya mengajakku ke kedi- amannya.


“Maafkan yunda-yunda. Dara Petak benar-benar membuat mereka tak bisa menahan diri,” kata Pradnya. “Di sini tidak senyaman di kediamanmu, Dinda. Tapi aku dapat memerintahkan dayangku untuk membantumu membersihkan diri.”


Aku baru memperhatikan kamarnya yang memang lebih kecil dari kamarku. Tidak enak rasanya, melihat pe- rabot-perabot yang terkesan sederhana. Walau aku tahu, untuk ukuran istana, ini sudah memenuhi standar.


Beberapa dayang datang setelah dipanggil. Tak ingin kembali ke istanaku, aku meminjam kain Pradnya. Aku menolak perhiasan yang ingin dia pinjamkan. Terus te- rang, semua perhiasan itu malah membuatku merasa tak nyaman.


“Sebenarnya, kami tidak berhak menuntut banyak darimu.” Pradnya mendesah. “Kami semua ada di sini, de- ngan segudang masalah. Sama seperti Kanda Prabu.”


Pradnya menggeleng. Dia terlihat bingung. “Aku tidak tahu, Dinda.”


“Kanda Prabu terlihat lelah sekali. Matanya sampai memerah,” keluhku. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghiburnya.”


“Percayalah, kehadiranmu saja sudah membuatnya terhibur.” Pradnya memamerkan sebuah senyum meya- kinkan. “Kau juga berkorban cukup besar. Aku tahu, kau tak suka terlibat. Kini, kau harus menanggung beban lebih berat dari kami. Seorang Rajapatni. Aku tahu pasti, mak- sud Kanda Prabu memberikan gelar itu.”

__ADS_1


Aku memaksakan seulas senyum. Baik gelar maupun kedudukan, keduanya tak pernah terlintas dalam pikiran- ku. Dulu aku berpikir, aku tidak akan terlalu peduli.


“Tanggunganmu akan lebih besar, Dinda. Kau harus melepaskan bagian terbaik darimu. Jiwamu yang sebebas burung pengelana. Bahkan Arya Virendra tak mampu me- lakukan hal itu.”


Ini pertama kalinya aku mendengar nama Viren dise- butkan di istana. Aku mengerutkan alis, baru ingat mena- nyakan kabarnya.


“Di mana Kakang Viren sekarang, Yunda? Kemarin, aku tidak melihatnya.”


“Dia memang tidak ingin hadir di upacara pernikah- an.” Senyuman Pradnya terlihat getir. “Arya Virendra te- lah minta izin kepada Kanda Prabu untuk tinggal hanya sampai upacara penobatan. Aku baru tahu hal ini ketika dia benar-benar pergi.”


“Jadi, Kakang Viren telah pergi?”


Pradnya mengangguk. “Kau mungkin lebih mengerti dengan jalan pikirannya. Sayang sekali, aku gagal mem- bujuknya. Tekadnya telah bulat sekali.”


“Aku ingin bertemu Kakang Virendra.” Pundakku ber- getar saat mengatakan itu. Terlalu sedih karena tahu salah satu peganganku di istana telah pergi. “Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?”


Pradnya menggeleng perlahan. “Itu mustahil.” De- ngan langkah ragu, Pradnya mendekati lemari. Tangannya menarik pintu. dikeluarkannya sebuah kotak dari sana.

__ADS_1


Aku tak pernah menyangka, kotak itu adalah kotak kesedihan. Semua isinya menghancurkan hatiku hingga nyaris tak bersisa.


__ADS_2