
Putri Rajapatni - Rajapatni - Kalung
Sebuah kalung bermata mirah menyambutku dari dalam kotak. Kalung itu mengingatkanku akan peris- tiwa di Hutan Tarik.
Arya Virendra melemparkan kalung itu. Kami ber- tengkar. Lalu dia memelukku erat. Kami diam seribu ba- hasa. Sampai kemudian masing-masing dari kami merasa lelah. Kami berpisah dengan hati remuk redam.
Aku mengira, tidak akan pernah melihat kalung itu
lagi.
Jadi begitu kulihat merahnya batu, kenangan itu
bangkit, beserta perkiraan-perkiraan bagaimana dia men- dapatkan kalung itu lagi. Hutan yang lebat dan luas itu, bagaimana Viren menemukannya? Pastilah dia berusaha sangat keras. Dia mencari. Sementara aku memaksa diriku melupakan apa yang terjadi di hutan itu.
“Arya Virendra terlihat semakin kacau sejak dia men- dengar kabar kematian Ken Sakka dan Nari Ratih.” Prad- nya mulai bercerita. “Aku sedikit mengkhawatirkannya, jadi aku mengirim orang untuk mengikuti Virendra. Aku takut, dia akan melakukan sesuatu yang buruk.”
Oh, Viren....
“Orang suruhanku melaporkan, beberapa kali dia me- lihat Virendra nongkrong di warung-warung. Bertingkah seperti gelandangan pemabuk. Penobatan kian dekat. Se- hari setelah upacara, aku memutuskan menirumu. Aku menyamar sebagai laki-laki. Lalu menyelinap keluar ista-
na. Sebelum dia mabuk, aku memanggilnya. Kutegur dia agar bersikap baik. Bagaimanapun, Kanda Prabu sudah berniat memberikan jabatan Rakryan Tumenggung. Arya Virendra akan menjadi seorang panglima perang. Tidak baik jika menteri pertahanan negara bersikap ugal- ugalan, bukan?”
Aku memejamkan mata. Tak sanggup menjatuhkan penghakiman pada Viren. Aku bahkan baru tahu beban hidup Viren. Sakka pernah mengatakan kalau Ardaraja memburu semua pengikut Raden Wijaya. Tentu, Viren ter- masuk salah satunya.
“Keesokan harinya, Arya Virendra menitipkan kotak ini kepada dayang kepercayaanku.” Pradnya duduk lalu meletakkan tangannya di pangkuan. Dia membiarkan ke- heningan menjadi jeda. Perasaanku karut marut. Aku ti- dak ingin mendengar, tapi aku ingin tahu nasib sahabat terbaikku itu.
“Ternyata, pertemuan di warung itu adalah pertemu- an terakhir sebelum Virendra pergi dari Majapahit,” kata Pradnya. “Aku tidak pernah menyangka, Virendra akan pergi tanpa pamit. Dia bahkan berpesan pada orang-orang agar merahasiakan keberangkatannya. Jadi, ketika aku ta- hu, Virendra sudah tidak ada di kotaraja.”
Aku tak sanggup mengeluarkan suara. Kotak itu ada di pangkuanku. Aku masih bengong melihat kalung dan sekumpulan lontar-lontar yang ada di bawahnya.
“Aku segera mencari kusir. Kuperintahkan kusir itu mengemudi cepat-cepat. Aku terus berdoa di dalam hati. Berharap semoga kami masih bisa bertemu.”
Lalu Pradnya mulai bercerita....
***
Pradnya beberapa kali berhenti dan bertanya. Setelah mencari beberapa lama, dia mendengar Arya Virendra te- lah berada di Canggu.
Cepat-cepat, Pradnya menyusul ke sana. Kereta kuda- nya berhenti tidak jauh dari pelabuhan. Laki-laki dan perempuan berbaur di satu tempat. Orang-orang mem- bentuk barisan. Masing-masing menunggu perahu yang akan memberangkatkan mereka.
Virendra tidak mengenakan pakaian bangsawan. Agak sulit menemukannya di antara kerumunan. Pradnya mencarinya di barisan calon penumpang. Beberapa kali, dia salah orang.
Perahu datang dan semua orang beranjak masuk. Saat itulah Pradnya melihat sosok laki-laki tinggi berkulit agak terang. Laki-laki itu menggendong buntelan. Dia ber- jalan menyusuri jembatan yang akan mengantarnya ke perahu.
“Arya Virendra!” Pradnya memanggil dengan suara keras.
__ADS_1
Virendra menoleh lalu langsung menyengir. Pradnya memerintahkan tukang perahu menunda keberangkatan. Pradnya segera menghampiri Virendra. Kali ini, Pradnya bertekad akan membuat laki-laki itu berubah pikiran.
“Salam hamba kepada Gusti Putri.” Viren membuat salam anjali di kening. Pradnya langsung panik. Viren ter- senyum. Kesedihan dan kebahagiaan membaur dalam se- nyuman itu.
“Arya Virendra, kenapa kau pergi?” Pradnya meme- kik. “Dinda Gayatri belum sampai kemari. Apa kau tidak ingin menemuinya?”
Virendra menggeleng. “Justru karena itu, hamba akan menyulitkan diri hamba sendiri jika melihat Gusti Putri Gayatri dalam pakaian pengantin.”
Kilat luka itu melintas di mata Virendra. Pradnya me- megang dada. Napasnya terengah-engah akibat berkejar- an.
“Gayatri akan kecewa sekali.” Pradnya menarik na- pas. “Aku tahu sekali, Gayatri tidak menyukai suasana istana. Dulu, dia hanya memilikimu. Sekarang, bagaimana bisa dia hidup tanpa sahabat?”
Virendra tertawa mendengar perkataan itu. “Gusti Putri Gayatri telah mendapatkan perlindungan yang dia perlukan. Perlindungan terkuat dalam istana. Perlindung- an seorang raja.”
Bahkan Pradnya dapat mendengar nada satir dalam ucapan itu. Pradnya berusaha mendebat Virendra. Namun Virendra merentangkan tangan. Bergerak seakan-akan se- dang membebaskan diri dari sebuah belenggu.
“Sejak dulu, hamba bercita-cita sebagai seorang pen- dekar,” katanya gembira. “Melintasi suka duka dunia fana. Menjelajah negeri antah berantah. Melintasi luasnya sa- mudra, semua hal itu tidak bisa hamba lakukan jika ham- ba terus-menerus berada di dalam istana.”
“Tapi kau juga berjasa dalam membangun Majapa- hit.” Pradnya masih tidak menerima alasan Virendra. Vi- rendra tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergun- cang.
Pradnya heran, sangat heran. Terlebih karena Viren- dra hanya membalas dengan kalimat:
“Lepaskan, lepaskan. Maka engkau akan mencapai kesempurnaan.”
***
“Aku minta maaf. Tidak bisa menahannya. Aku tahu dekatnya hubungan kalian. Ikatan persahabatan yang ter- jalin selama bertahun-tahun. Persahabatan yang hampir seperti persaudaraan.”
“Bahkan dia tidak mau tinggal sebagai saudaraku, Yunda.”
Pradnya mengelus-elus rambutku. Isakanku mulai terdengar. Pradnya hanya bisa diam dan menungguku te- nang.”
“Apa maksud jawaban Virendra itu, Dinda? Saat aku bertanya kepada Virendra, dia bilang, ‘Aku pun sedang mencarinya, entah apa akan kutemukan atau tidak’, Viren lalu memberiku kotak itu.”
Aku baru sadar masih memangku kotak berisi kalung dan lontar-lontar. Ada banyak sekali tulisan dan gambar di lembaran lontar itu. Aku menangkap tulisan Arjuna Wiwaha, Sang Hyang Kamahayanikan, serta beberapa nama sutra dan dharani. Semua ditulis sendiri oleh Viren.
Aku mengernyit bingung. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, aku beranjak membongkar lontar-lontar. Saat itulah aku melihat tulisan Salinan Sutra Hati. Berbeda dengan
lontar-lontar lain, lontar ini memiliki jahitan besar di sisi kiri dan kanan. Aku membolak-baliknya dengan heran, la- lu mulai membaca. Aku mengenali tulisan Viren. Lontar ini hanya berisi sebuah kutipan:
Di dalam karakter kekosongan tiada bentuk juga tiada perasaan,
Tiada kegelapan batin.
Tiada akhir dari kegelapan batin. Tiada usia tua dan kematian.
__ADS_1
Tiada akhir dari usia tua dan kematian. Demikian pula, tiada penderitaan.
Aku ingat, pernah membaca Sutra Hati ini ketika ka- mi masih sama-sama kecil. Saat itu, kami duduk-duduk di taman istana. Kami memandang rintik hujan yang turun sambil membayangkan ajaran kesunyataan.
“Apakah kesunyataan mulia itu, Kakang? Mengapa sepertinya itu damai sekali?” kataku. Virendra—yang lebih tua sekitar enam tahun dariku, hanya menggaruk kepala.
“Mungkin karena tidak memiliki apa-apa, maka tidak akan berpikir apa-apa,” kata Viren saat itu.
Aku segera mencubit lengan Viren keras-keras. “Ja- waban macam apa itu?”
“Lepaskan, lepaskan, maka kau akan mencapai kesem- purnaan.” Viren berkata penuh semangat. “Itulah yang suatu saat akan kulakukan. Melepaskan semua ini, ber- harap bisa mencapai pencerahan sejati.”
“Tapi itu mustahil.”
“Tidak ada yang mustahil. Asal kita berusaha. Ya, kan?”
“Lalu, apakah Kakang yakin bisa menemukannya?”
Viren menggeleng. “Tidak ada yang pasti di dunia ini. Manusia hanya bisa berharap. Hyang Widhi menentukan segalanya.”
***
Aku masih menggenggam lontar pemberian Viren. Pikiranku berkelana. Aku tidak menjawab pertanyaan Pradnya. Sebaliknya, aku langsung berpamitan. Dengan perasaan gamang, aku kembali ke paviliunku.
Aku beruntung, tidak ada siapa-siapa di sana. Dengan tangan gemetar, aku kembali membaca kutipan yang ditu- lis sendiri oleh Viren. Air mataku jatuh lagi. Meski aku tahu, menangis sehari semalam pun sudah tidak ada gu- nanya. Arya Virendra telah meninggalkanku sendirian.
Tanganku menyusuri lontar itu. Tanpa sengaja, aku menarik benang yang menjahit sisi-sisi lontar itu dengan kuku. Tak kusangka, saat jahitan-jahitan itu terbuka, aku menemukan tulisan-tulisan lain:
Yang Terhormat Putri Gayatri,
Saat Anda membaca surat ini, artinya saya sudah tak ada lagi di sisi Anda.
Saya mohon maaf karena saya tidak berpamitan. Saya ingin mengawali pengembaraan saya dengan mengenang kisah kita. Tidak lebih dan tidak kurang.
Kedudukan Anda sebagai istri raja adalah halangan terbesar bagi saya untuk menjaga Anda. Meski saya ber- usaha menjaga jarak, kedekatan kita akan membuat Anda dipergunjingkan dan memberi kesempatan untuk fitnah.
Saya tidak ingin menaruh Anda di posisi yang tidak mengenakkan.
Tapi Putri tidak perlu merasa cemas. Saya justru me- rasa senang. Saya lega, saya tidak perlu melihat peperang- an lain di dalam istana. Sungguh memuakkan ketika orang-orang mulai melupakan tujuan perjuangan. Bahkan di hari pertama, setelah Majapahit mengusir para penjajah dari Mongolia itu.
Putri, Prabu Kertarajasa memiliki beban luar biasa be- rat. Jagalah hatinya agar tetap menghangat. Jangan biar- kan dia tumbang di tengah konflik politik istana. Ingatkan dia tentang nasib rakyat dan cintai dia, seperti caranya mencintai Anda.
Saya berharap Putri membakar surat ini setelah Putri selesai membaca. Sekali lagi, saya minta maaf. Jika Putri merasa kesepian, ada banyak kisah yang saya tuliskan. Se- moga saja dapat sedikit menghibur.
Jangan sering bersedih. Bagaimanapun, suatu saat ki- ta semua akan bertemu di pantai seberang, dalam keabadi- an. Saya tidak memerlukan pengakuan sebagai pahlawan. Yang saya perlukan hanya satu: Anda mengingat saya di dalam hati Anda. Sebagai saudara, atau sebagai sahabat.
__ADS_1
Semoga Putri selalu berbahagia. Dari seseorang yang mengasihimu, Arya Virendra.