Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 6


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 6


Aku tidak sanggup menahan diri hingga acara itu selesai. Konsentrasiku tersita untuk mencari peluang me- nyelinap. Saat orang-orang mulai berdoa dengan khusyuk, aku segera beranjak meninggalkan tempat upacara. Kepa- nikan membuatku gegabah. Di pintu gerbang, aku mena- rik perhatian prajurit jaga.


“Aku tak keberatan adu tanding dan membuat keka- cauan di sini,” kataku pada mereka. “Tapi kupikir, akan le- bih bijaksana kalau kalian mengawalku secara baik-baik. Toh, aku hanya pergi ke kediaman Paman Mahapatih.”


Kedua prajurit itu bertukar pandang. Merasa tidak punya pilihan, mereka akhirnya memanggil prajurit lain. Prajurit muda itu ditugaskan mengawalku.


“Kalau terjadi apa-apa pada Gusti Putri, kau harus menanggung akibatnya!” ancam mereka.


Aku merasa agak kasihan pada prajurit itu. Tapi aku harus menemui Viren atau ayahnya. Aku harus memasti- kan mereka berdua baik-baik saja. Tak peduli jika setelah ini aku akan dikatakan bikin malu. Hatiku menjerit ingin mengeluh. Penurunan pangkat Paman Raganata, Lamaran Raden Wijaya, kenapa semua terjadi pada waktu bersa- maan?


Cibiran dan bisik-bisik orang bergantian memenuhi pikiranku. Aku mengingat, air mata Pradnya jatuh tak terbendung. Nare tak hentinya melontarkan tatapan sungguh-tak-pantas-kau-bersanding-dengan-Raden-Wija-


ya. Perkataan Raden Wijaya sama sekali tidak menyan- jungku. Memangnya siapa yang bakal bangga menjadi istri kedua?


Raden Nararya Sanggrama Wijaya!


Orang lain boleh memandang tinggi dirinya. Di mata- ku, dia hanya seorang tukang kritik. Aku tak peduli de- ngan semua ilmu kanuragan, tata negara, atau ilmu apa pun yang dia miliki. Pangeran arogan itu tidak berhak me- ngatur hidupku! Aku tidak mau dia menjadi bagian ter- penting hidupku! Tidak! Dia tidak berhak memegang kuasa atas diriku!


Sungguh lancang Raden Wijaya mengajukan pinang- an di depan seisi istana seperti tadi. Aku marah dan ter- luka. Aku ingin mengadu pada Viren. Aku ingin menjelas- kan. Aku ingin menangis sejadi-jadinya di depan sahabat terbaikku itu.


Aku mengetuk pintu rumah Paman Raganata berkali- kali. Namun, tiada hasil. Rumahnya sepi dan terkunci dari luar. Dengan menyimpan harap, aku memutari rumah. Beratnya pakaian beserta hiasan membuatku terengah- engah. Panas matahari semakin menyiksa.


Duh, Ida Sang Hyang Widhi Wasa... kasihanilah aku! Aku menangis tersedu-sedu di pinggir sungai. Perta-


hananku luntur. Kemarahan dan ketidakberdayaan mem- buatku putus asa. Aku merosot hingga berlutut. Tidak ku- pedulikan prajurit muda yang kini bengong sambil garuk- garuk kepala.


“Menangis di tempat terbuka seperti ini sungguh tidak sopan, Putri.”


Suara itu mengagetkanku. Sial! Saat ini yang paling tidak ingin kutemui adalah Raden Wijaya. Mengapa malah dia yang muncul?


Aku mengusap air mata dari pipi. Menangis di depan- nya hanya akan semakin merendahkan harga diriku.


“Apakah acaranya sudah selesai?” Aku berusaha bangkit lalu berdiri tegak. Tak sudi memperlihatkan kele- mahanku di depannya.


Raden Wijaya menggeleng. Dua prajurit yang meng- iringinya segera berdiri dalam posisi siap meringkus. Tapi Raden Wijaya tidak memerintahkan mereka menangkap- ku. Sebaliknya, dia memberi tanda agar para prajurit membersihkan tanah. Seorang prajurit meletakkan kain hitam untuk alas duduk.


Raden Wijaya duduk di atas kain itu. Angin memper- mainkan rambutnya. Cahaya matahari membuat siluet indah dirinya. Dia terlihat sesuai dengan pakaian perang panglima. Terlebih, pakaian itu dipadukan dengan gelang lengan dan kalung yang memperlihatkan status kebang- sawanannya. Tak heran, di istana keputrian, para putri sering membicarakan Raden Wijaya.


“Duduklah, Putri.” Dia menunjuk tempat kosong di sebelahnya.


Aku ingin menolak. Tapi demi kesopanan, aku harus menurut. Bagaimanapun, secara tak langsung dia telah menjadi calon suamiku.


“Kupikir, upacara itu akan berlangsung hingga sore,” kataku asal.

__ADS_1


“Acaraku sudah selesai, Putri.” Sudut bibirnya ber- gerak naik, “Aku telah mengutarakan maksudku. Gusti Prabu pun telah menyetujuinya.”


“Apakah Pangeran sedang bercanda?”


Dia memandangku. Satu tangannya terulur tetapi tertahan di udara. “Aku tidak ingin bercanda mengenai pasangan hidupku.”


“Dengan semua hal yang terjadi selama ini?” Kema- rahan membuat kalimatku terdengar kasar. “Pangeran selalu memarahi saya! Mana mungkin Pangeran meng- inginkan saya sebagai istri?”


Raden Wijaya menjawab dengan sebuah gelengan. “Sebenarnya, aku ingin membimbingmu menjadi istri yang baik, Putri.”


“Saya tidak mengerti.”


“Kupikir, Putri sebenarnya mengerti. Tidak mungkin seorang lelaki melamar seorang gadis di hadapan seluruh istana, jika dia tidak menyukai gadis itu.”


Sesaat, aku terdiam. Ucapan itu memang ada benar- nya. Risiko berbicara di sebuah pertemuan besar adalah hukuman berat. Meski Raden Wijaya disayang Ayahanda, risikonya masih besar.


“Saya pikir, Pangeran malah membenci saya. Setiap bertemu, saya merasa Pangeran sedang berhadapan de- ngan musuh.”


“Memangnya apa yang bisa kulakukan, Putri?” kata- nya lirih. “Kau tidak tahu betapa lelahnya menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan keingin- anku. Kehidupan kita ini sungguh menyesakkan. Tidakkah Putri merasakan hal ini? Krama inggil, unggah-ungguh, kepentingan politik.”


Ya, tentu saja aku merasakannya. Kehidupan yang begitu menyesakkan di istana. Di mana-mana hanya ada peraturan. Tidak ada kebebasan, bahkan untuk menarik napas.


“Ayahanda selalu mengajarkan untuk tidak memer- cayai siapa pun. Beliau meninggal karena konspirasi. Dengan susah payah, aku mencapai posisi saat ini. Meski demikian, ada hal-hal yang tak mampu kutanggung. Ter- masuk di antaranya, perasaanku sendiri.”


Tak ingin Raden Wijaya membaca pikiranku, aku ha- nya menghindari pandangannya. Pembicaraan ini harus dialihkan. Aku tidak ingin menanggapi kisah hidup Raden Wijaya. Aku tidak mau dilemahkan hanya karena pera- saan simpati.


“Putri memang lancang mencuri hatiku.” Raden Wijaya berkata dengan nada geli, “Atau lebih tepatnya, Putri lancang mencuri mangga di kediamanku.”


Wajahku kini benar-benar merah padam. Mangga? Peristiwa memalukan itu langsung melintas dalam ingatan.


Krek!


Aduh! Ranting sial!


Tubuhku terjun bersama ranting yang patah. Wajahku jatuh ke tanah. Dengan menahan rasa sakit, aku terpaksa berlutut sambil menghaturkan sembah pada Ayahanda, “Salam, Ayahanda Prabu.”


Wanita cantik yang belakangan kuketahui bernama Dyah Lembu Tal itu tersenyum ramah melihatku. Sementara anak sombong di sebelahnya melihatku dengan pan- dangan aneh. Sialan. Hilang sudah pencitraanku sebagai seorang putri.


“Hei, mana saya tahu Ayahanda memberikan paviliun tenggara istana keputrian itu kepada Bibi Lembu Tal?” protesku tanpa berbasa basi, “Lagi pula, biasanya paviliun itu kosong!”


Suara Raden Wijaya terdengar seperti menahan ta- wa. “Tapi itu lucu sekali. Aku masih ingat wajahmu yang cemberut saat Prabu Kertanegara tahu putrinya telah berbuat nakal. Setelah itu, Prabu Kertanegara menyuruh orang menebang pohon-pohon tinggi di istana. Takut ada yang menerobos lagi.”


Benar-benar memalukan. Hingga kini, aku berpikir kalau peristiwa itu sudah terlupakan. Sama seperti peris- tiwa-peristiwa lain di masa kecil kami. Sungguh tidak membanggakan ketahuan mencuri mangga. Apalagi kalau sampai dimarahi dan dihukum di depan tamu negara.


“Lain kali, Putri harus merasakan betapa tersiksanya menahan tawa.” Raden Wijaya memandangku geli.

__ADS_1


“Saya baru tahu Pangeran bisa tertawa.”


Raden Wijaya menanggapi dengan sebuah senyuman enggan. Dia berdeham sekali, lalu menghindari pandang- anku.


Aneh sekali. Ekspresi Raden Wijaya saat itu tiba-tiba membuat hatiku menghangat. Aku tidak tahu, bibir itu bi- sa melengkungkan senyum yang begitu indah. Jantungku berdebar. Aku bahkan heran kenapa bisa begini.


Raden Wijaya masih berusaha menghindari pandang- anku. Dengan segera, dia mengambil sebuah batu lalu me- lemparkannya ke sungai.


“Sebenarnya, saat itu aku ingin sekali berteman de- nganmu,” kata Raden Wijaya. “Entah kenapa, setiap kali aku membuka mulut, aku hanya bisa mengucapkan kata- kata pedas. Aku telah berusaha mati-matian, tapi tetap saja, aku tidak menemukan kata-kata yang bagus untuk mengungkapkan isi hatiku.”


Aku ikut melemparkan batu ke sungai. Riak-riak yang diciptakan batu itu bertemu dengan riak dari batu Raden Wijaya. Aku tercenung. Masih tak percaya kami dapat melewatkan waktu tanpa berdebat seperti biasa.


“Saat aku di Darmasraya, pikiranku dipenuhi ba- yang-bayangmu. Seluruh hatiku penuh oleh kerinduan. Singasari mendadak terasa jauh. Begitu jauh hingga bak surga dan neraka.” Perkataan Raden Wijaya mengalirkan getaran hangat ke dalam hatiku.


Duh, Gusti, getaran apakah ini?


“Sungguh merana rasanya dimabuk cinta.” Raden Wijaya menghela napas. “Tak salah para pujangga menulis Pupuh Asmarandana. Cinta membuat mabuk kepayang.”


Lantunan nada mendayu-dayu keluar dari mulut Raden Wijaya. Tunjung biru di tengah telaga. Harum me- wangi mengabarkan cinta. Kerinduan tumbuh, menanti waktu mekar. Suaranya... ternyata semerdu ini.


“Pangeran—”


“Bolehkah aku?” Tangan Raden Wijaya terulur kem- bali. Kali ini, dia membetulkan posisi tusuk konde pem- beriannya. Sentuhan kecil pada rambutku seketika men- datangkan desir aneh dalam hatiku. Meski sekarang, tangannya sudah tidak ada di sana.


“Tahukah Putri betapa aku iri?” Raden Wijaya mene- ruskan perkataannya. “Aku iri pada orang-orang yang mudah akrab denganmu. Aku bahkan iri kepada kupu-kupu yang sering kaukejar di taman sari. Kau adalah putri yang menarik hati. Setiap laki-laki yang dekat denganmu akan mendambakan perhatianmu.”


“Pangeran terlalu mengada-ada,” sahutku. Aku meng- gigit bibir. Tahu diperhatikan seperti ini, perasaanku se- makin buncah. Kini pikiranku terbelah dua. Satu sisi, aku bangga dan tersanjung. Sisi lain nalarku mengingatkan kalau Raden Wijaya mungkin masih akan mengkritikku.


“Tidak! Seharusnya, kau menyadari hal ini. Kau selalu terlihat memberi harapan pada laki-laki yang dekat de- nganmu. Hai, Putri yang tak acuh. Apakah kau benar- benar tak tahu, bagaimana mereka menyimpan harapan? Atau bagaimana mereka memikirkan hal-hal tak pantas terhadapmu?”


Nah, kan, lagi-lagi dia menghakimiku.


“Dari mana Anda menyimpulkan semua itu... hai, Pangeran?” balasku, agak tersinggung.


“Aku ini laki-laki.” Dia berkata tegas. “Aku tahu betul pandangan laki-laki lain terhadapmu. Termasuk pandang- an Arya Virendra.”


Viren? Tapi... kenapa?


“Saya sudah menganggap Kakang Virendra seperti saudara saya sendiri.” Refleks, aku membela diri.


“Tapi dia tidak menganggapmu begitu.”


“Raden Wijaya! Apakah Anda mengerti apa yang se- dang Anda bicarakan?”


“Putri Gayatri.” Senyuman getir itu kini terulas di bibir Raden Wijaya. “Aku. Arya Virendra, Ken Sakka. Dari dulu, apakah kau memang tidak mengerti perasaan kami? Atau hanya pura-pura tidak mengerti?”

__ADS_1


Perkataan Raden Wijaya kali ini benar-benar mem- buatku membeku. Satu nama menyeruakkan kegetiran dalam hatiku. Sakka. Aku tidak mungkin melupakan lelaki itu. Seniman yang malang.


Apakah aku memang tidak mengerti perasaan lelaki? Haruskah aku mengerti?


__ADS_2