
Putri Rajapatni - Gayatri - 21
Hujan turun seperti guyuran keras. Aku basah kuyup. Bakul cucianku sangat lembap. Tapi aku tidak memedulikannya. Saat sampai di rumah, aku menaruh bakul. Dengan cepat, aku masuk kamar lalu menutup pintu. Badanku menggigil kedinginan. Aku menarik ram- butku dengan frustrasi. Aku menahan suara. Kepedihan kuredam kuat-kuat. Aku masih berharap bisa bersem- bunyi di sini.
Ratih mengetuk pintu. Aku mendengarnya meminta- ku mengeringkan badan. Takut aku akan masuk angin. Mendadak, rasa kesepian menyeruak dalam hatiku. Aku membuka pintu, dengan segera aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ratih. Keadaanku kacau sekali. Aku tak mampu membuka mulut, apalagi bercerita.
Untungnya, tidak ada orang lain yang datang. Hari semakin siang. Ratih membantuku membersihkan diri. Ratih membawakanku kain kering. Dia juga menyisirkan rambutku, tanpa berkata apa-apa.
Tapi badai telah datang. Seperti kilat dan guntur yang tidak terhindarkan. Menjelang sore, terdengar derap kuda di dekat pondok. Salam Ranggalawe terdengar keras. Seo- lah sedang berusaha membangunkanku dari sebuah tidur panjang.
Aku memberi gelengan keras pada Ratih. Aku masuk kamar lalu menutup tirai. Aku melihat bayangan ketiga
orang itu dari balik tirai. Mereka berdiri di beranda. Ber- bicara kepada Ratih.
Konsentrasiku pecah berkeping-keping. Berkali-kali, kudengar Ratih berusaha mangkir. Perdebatan mereka tampak sengit. Argumen Ratih tidak kuasa mengusir me- reka dari sini. Beberapa prajurit turut hadir. Seakan-akan mereka akan menangkap seorang teroris berbahaya.
Semua terjadi begitu cepat. Para prajurit bergerak. Pondok digeledah. Ranggalawe menunduk saat menemu- kanku di balik tirai. Tanpa basa-basi, Ranggalawe mene- kuk lutut. Tangannya ditangkupkan lalu ditempelkan ke hidung, memberi penghormatan formal.
“Hormat saya, Gusti Putri.”
Aku membuang muka karena marah. Namun, pan- dangan mataku langsung bertumbukan dengannya. Sorot mata tajamnya membekukanku begitu saja. Sementara se- nyuman lega itu membuatku tak mampu berkutik.
Raden Nararya Sanggrama Wijaya.
Hatiku bergemuruh. Kakiku bergerak tanpa tenaga. Dalam hatiku memohon semoga aku tidak pingsan saat berjalan keluar kamar. Aku mencoba mengalihkan perha- tian. Tetapi sosok Raden Wijaya terlalu menonjol di an- tara yang lain.
Kulitnya kini tampak lebih gelap oleh matahari. Mata- nya sayu oleh kelelahan. Namun derita seolah menempa dirinya. Tubuhnya semakin kokoh. Wajahnya menjadi le- bih gagah dan tampan. Kekuatan kehadirannya mengalir- kan getaran di udara. Kakiku lemas tak berdaya.
Aku ingin bumi menelanku. Sayang, tanah di bawah- ku bergeming. Aku masih berdiri lemas di antara para prajurit pengawal Raden Wijaya. Mereka semua menahan senyuman. Bahkan Gajah Biru menyengir di sebelah Sakka.
Satu per satu mereka tersungkur memberi hormat. Raden Wijaya memberi isyarat dengan tangan. Lalu mere- ka semua undur diri. Sakka dan Ratih ikut keluar bersama mereka.
“Putri, sudah berapa lama kita tidak bertemu?” Sua- ranya terdengar lirih. Aku masih memandang dinding ge- dek. Berusaha mati-matian tidak menghiraukannya.
“Seminggu, setahun, ataupun sewindu, apalah arti- nya.” Aku menarik napas. “Sedari dulu, saya dan Anda se- lalu berlawanan. Pertemuan itu tidak penting.”
Raden Wijaya memamerkan sebuah senyuman getir. “Bagiku, itu penting.”
__ADS_1
Aku mundur selangkah. Emosi menerjangku seperti ombak. Kepalan tanganku semakin kencang. Hingga kuku- kuku menusuk kulitku.
“Pangeran, kita tidak bisa mengubah apa yang telah berlalu.” Aku memejamkan mata. “Sudah saatnya melang- kah di jalan masing-masing. Anda dengan kedudukan di Kadiri. Saya dengan kedamaian di sini.”
Raden Wijaya menggeleng keras.
“Pergilah, Raden Wijaya.” Aku memohon, “Berlama- lama seruangan begini, bisa membuat bawahan Anda ber- prasangka buruk.”
“Mereka tidak berhak melarang seorang suami me- ngunjungi istrinya.”
Jawaban itu mendatangkan gemuruh lain di hatiku. Ini pertama kalinya kulihat kilat jail di sorot mata Raden Wijaya. Refleks, aku mundur lagi saat dia mendekat.
“Saya tidak ingat pernah menikah dengan Pangeran.”
Raden Wijaya menyunggingkan sebuah senyuman. “Putri, saat aku melamarmu di pertemuan agung itu, aku telah menganggapmu sebagai istriku. Dan aku percaya, se- mua orang juga berpikir begitu.”
Wajahku memanas mendengar ucapan itu. Raden Wijaya berhasil meraihku dalam satu langkah. Sentuhan- nya terasa panas di jemariku. Ini pertama kalinya kami berhadapan dalam jarak dekat. Napasnya terasa menari- nari di depan hidungku.
“Kembalilah.”
“Saya tidak mau terpenjara.”
“Tapi kau tampak kurus.” “Mungkin itu hanya tipuan mata.”
Raden Wijaya menggeleng. Sebelum perdebatan se- makin memanas, jemarinya beralih menyentuh pipiku. Aliran hangat kini merayap di wajahku. Aku ingin melari- kan diri, tapi tak bisa.
“Haruskah aku mengatakan betapa aku merindukan- mu? Betapa aku ingin berkeluh kesah kepada para dewa- ta? Betapa ingin aku menuntut mereka karena telah me- misahkan kita?”
Oh, Hyang Widhi. Aku tak sanggup mendengar kata- kata manis dari mulutnya.
“Semua nasib telah disuratkan,” desahku. “Kehidupan berjalan. Berputar. Terkadang kita di atas. Terkadang kita terjungkal ke bawah. Untuk apa disesalkan?”
Aku mendengar Raden Wijaya menghela napas. Aku berusaha menyentakkan pegangannya. Tapi dia lebih dulu memasangkan sebuah kelat bahu.
Aku melongo. Pikiranku buntu. Aku tidak menyangka akan diberikan perhiasan dengan cara seperti ini.
“Kelat bahu ini dulunya milik ibundaku,” katanya lembut. “Beliau memintaku memakaikan di tangan me- nantunya.”
__ADS_1
Oh, tidak. Aku tidak pantas menerima perhiasan ini. Ingatan akan Bibi Lembu Tal yang lemah lembut dan penyayang itu membuatku ingin menangis. Aku tidak mau mengecewakan Bibi Lembu Tal. Tetapi aku sungguh tak ingin menyimpan harap.
“Maafkan aku, Putri. Aku telah gagal melindungimu.” “Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
Raden Wijaya menarikku mendekat. Membaringkan kepalaku di dadanya. Hatiku berdesir semakin asing. Mengingat betapa anehnya situasi ini. Dia telah melamar- ku secara resmi. Ayahanda pun telah memberi restu. Si- tuasi ini seharusnya menjadi hal biasa. Akan tetapi, hatiku bergemuruh semakin hebat.
“Tahukah kau, bagaimana aku gila ketika mencemas- kanmu? Aku menerima kabar bahwa kau tertangkap. Aku takut Paman Jayakatwang akan melukaimu—” Ucapan Raden Wijaya terputus. Suara hujan menjadi jeda di antara kami. Terasa kelam, menyayat.
“Saya masih hidup dan dalam keadaan baik-baik sa- ja.” Aku berusaha tegar, meski pelukan Raden Wijaya kian mengetat. Dia mengajakku duduk di atas tikar.
“Tidak, kau tidak baik-baik saja.” Raden Wijaya me- ngertakkan gigi. “Kau boleh mengatakan apa pun yang ingin kaukatakan. Aku juga akan melakukan apa yang se- harusnya aku lakukan.”
“Termasuk melancarkan kudeta?” tembakku lang- sung.
“Jadi, Sakka telah menceritakannya kepadamu.”
Aku mengangguk. “Apakah menurut Anda itu tinda- kan yang bijaksana? Membujuk orang-orang Mongolia membantu Anda? Lalu mengobarkan peperangan lagi?”
“Ike Mese belum sepenuhnya memercayaiku.” Raden Wijaya memijit pelipisnya. “Dia dan pasukannya hanya mendirikan tenda di dekat Ujung Galuh. Aku berharap bi- sa membujuknya dalam waktu dekat.”
“Pangeran, saya rasa tindakan itu terlalu berlebihan dan tidak bijaksana.”
“Kewajibanku adalah mengembalikan kejayaan trah
Rajasa, Putri.”
Aku berusaha menepisnya, tetapi sia-sia. Raden Wijaya agaknya tak ingin aku melepaskan diri kali ini.
“Saya tak sanggup melihat perang lagi, Pangeran.” Se- tetes air mataku mulai menitik.
“Terkadang, peperangan perlu dilakukan untuk me- numpas kejahatan.” Raden Wijaya menggertakkan jari. “Kerajaan ini dibangun di atas puing-puing kerajaanmu. Dikuasai oleh kemunafikan dan ambisi pejabat-pejabat istana. Apakah kau bisa membayangkan bagaimana kea- daan rakyatnya?”
Aku terdiam, tak mampu mendebat.
“Saat tahu Prabu Kertanegara mangkat, aku telah bersumpah, aku tidak akan membiarkan trah Rajasa han- cur.”
“Semua di dunia ini tak ada yang abadi. Jika memang
__ADS_1
trah Rajasa harus berakhir. Maka kita harus menerimanya dengan lapang dada. Bahkan bangsa Yadawa pun memili- ki saat runtuh.”
“Tidak, Putri.” Raden Wijaya berkata datar, “Aku ingin sejarah mencatat: Singasari berakhir di tangan Jaya- katwang, lalu berjaya kembali di tangan Raden Wijaya.”