
Putri Rajapatni - Gayatri - 18
Hujan turun semakin deras. Bibi Terukbali me- mutuskan berteduh sambil menunggu hujan reda. Sua- sana berubah semakin buruk. Viren dan Sakka duduk di depan pintu masuk. Sementara kami berlesehan di da- lam. Ubi rebus tidak tersentuh. Wedang telah mendingin. Pikiran kami sibuk berkeliaran memikirkan urusan ma- sing-masing.
Pradnya memilih bungkam. Menceritakan Dara Petak rupanya menguras emosi. Dia menggigit bibir berkali-kali. Jemarinya bergerak-gerak tidak tenang. Bibi Terukbali sendiri memilih memperhatikan hujan di luar.
Merasa bosan dalam diam, aku akhirnya memutus- kan bicara. “Apakah betul ada selentingan yang mengata- kan saya tinggal di sini? Beberapa hari lalu, Ranggalawe melihat saya. Dia langsung mengejar dan langsung me- manggil nama saya.”
“Bibi tidak tahu, Gayatri.” Bibi Terukbali membetul- kan selendangnya. “Akhir-akhir ini yang ramai di istana hanyalah obrolan tentang Raden Wijaya. Ada kabar bu- rung yang mengatakan Raden Wijaya sedang memper- timbangkan akan mengambil putri-putri Kertanegara sebagai istri.”
“Apa?” Refleks, aku menoleh pada Pradnya. Heran- nya, alih-alih gembira, yundaku itu lebih terlihat kecewa. Padahal, kalau isu itu benar, dia akan menikahi laki-laki impiannya.
“Pada akhirnya, di sanalah posisi wanita.” Pradnya menautkan jemarinya. “Hanya sebagai simbol di pang- gung politik.”
Rupanya ini maksud ucapan Pradnya tadi. “Tenanglah, Yunda. Bukankah Yunda yang mengata-
__ADS_1
kan tentang Dewi Satyawati dan Dewi Sinta?” Aku mene- puk bahunya dengan penuh simpati. “Mungkin, yang ha- rus Yunda lakukan memang itu. Memainkan peranan di panggung politik. Lalu mencuri perhatian seluruh penon- ton.”
“Seperti yang selama ini kaulakukan?”
“Hah. Kok aku?” Aku meringis. “Maksudku, Yunda cu- kup melakukan apa yang selama ini Dara Petak lakukan.”
Pradnya menyunggingkan seulas senyuman getir. “Apa kau pernah bertemu dengan Dara Petak?”
“Apakah dia cantik?”
“Berarti ada sesuatu yang membuat Raden Wijaya memperhatikannya.”
“Yang kutahu, Raden Wijaya sering menemani Dara Petak berdana makan21. Dan sering kali, Raden Wijaya mencarinya saat wanita itu sedang membaca sutra.”
Tanpa sadar, aku menunduk. Perkataan Pradnya se- cara tak langsung membuatku tak nyaman. Oh, Gayatri,
__ADS_1
21 Dalam agama Buddha, para bhiksu hanya boleh menerima makanan pemberian umat. Proses mempersembahkan makanan disebut dana makan.
kau harus menyingkirkan semua asumsi dan khayal bual- mu itu, aku mengeluh.
“Ada beberapa bagian dari wanita itu yang mirip de- nganmu.” Pradnya berkata lagi.
Aku menggeleng keras. “Hanya karena Dara Petak bersikap baik kepada Kasogatan, bukan berarti Raden Wijaya membandingkanku dengannya.”
“Dinda.” Pradnya berkata dengan kesedihan terde- ngar di tiap suku kata. “Semua orang tahu, siapa yang dipinang Raden Wijaya di pertemuan agung.”
“Dia akan melupakan aku.” Aku meyakinkan diriku sendiri.
“Apakah semudah itu melupakan cinta?” Pradnya me- megang dada, tampak seperti membicarakan dirinya sen- diri.
“Jika saja semudah itu memupus perasaan. Jika bisa menghanyutkan kerinduan ke dasar samudra. Sungguh malang yang memendam cinta. Tak bisa menyampaikan. Hanya bisa memandang dari kejauhan
__ADS_1