Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 31


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 31


Tak banyak cerita yang bisa kukisahkan mengenai perang di antara Majapahit dan Kadiri. Yang aku tahu, se- tiap senja, akan datang para prajurit secara bergantian. Mereka menghadap Empu Ragarunting. Lalu aku akan dipanggil ke ruang belajar. Bersama beberapa murid te- percaya, kami mendengarkan semua laporan.


Aku merasa, saat itu, kami tidak ada bedanya dengan Raja Drestarastra27 yang buta. Kami hanya bisa mengha- biskan hari dengan gelisah. Kemudian kami mendengar- kan jalannya pertempuran dari mulut orang lain.


Dan tentu saja, prajurit-prajurit itu tidak memiliki ke- mampuan seperti Sanjaya—penasihat Raja Drestarastra. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk bisa melihat kejadian yang sangat jauh. Jadi laporan tiap sore itu hanyalah angka-angka. Bilangan prajurit yang terluka. Bilangan prajurit yang gugur.


Prabu Jayakatwang berhasil dikalahkan di hari keli- ma. Dia ditangkap dan diarak keliling kota. Tak tahan dengan penghinaan, Bibi Teruk Bali memutuskan untuk bunuh diri. Aku berduka dan sakit hati. Lagi-lagi, aku tak dapat melihat jasadnya untuk terakhir kali.


Saat itu, Pradnya telah diboyong ke kediaman Raden Wijaya. Kudengar, pernikahan mereka berlangsung seder- hana. Tapi aku percaya, Pradnya akan sangat bahagia.


27 Tokoh Mahabharata, ayah para Korawa


Bagaimanapun, Pradnya sempat memimpikan pernikahan ini di masa remajanya.


Yang tak terduga, peristiwa paling menyakitkan jus- tru terjadi setelah peperangan berakhir. Kadiri kalah. Ike Mese terpukul mundur. Suasana masih belum stabil benar.


Saat itu, dua orang prajurit datang ke padepokan ka- mi. Mereka memapah seorang prajurit yang sedang ter- luka parah.


“Kanda Sakka!” Ratih kontan menghambur saat meli- hat suaminya. Senyuman Sakka tak lantas menghibur hati Ratih. Aku sendiri melihat keletihan yang besar di wajah Sakka. Bibirnya pucat, nyaris membiru. Sementara bebe- rapa bagian tubuhnya yang terbalut perban masih menge- luarkan darah.


“Aku senang, kau baik-baik saja. Aku kemari hanya untuk melihatmu.”


“Kanda! Kanda! Jangan mengatakan hal seperti itu!” isak Ratih. “Seharusnya kau beristirahat dulu! Seharusnya kau memulihkan dirimu! Seharusnya kau—”


“Ardaraja masih buron.”

__ADS_1


Aku yang menahan napas mendengar berita itu. Pan- tas saja Sakka memaksakan diri kemari. Dia pasti meng- khawatirkan Ratih dan putranya.


“Aku ingin melihat bayiku.”


Dengan sigap, Anggreni memberikan bayi itu kepada Ratih. Sakka tersenyum puas melihat anaknya.


“Duh, Cah Ganteng... akhirnya Bapa bisa melihatmu.” Ratih mengusap air mata.


“Dia akan menjadi seorang kesatria yang hebat,” kata Sakka saat menyentuh bayi itu. Mereka berdua menangis.


Sama seperti kami semua. Kebahagiaan berkumpulnya keluarga itu meliputi padepokan ini.


“Kau belum memberinya nama?”


“Aku menunggumu memberinya nama.” Ratih berka- ta sambil menenangkan bayinya. “Tapi nanti saja, berikan dia nama saat Kanda sudah benar-benar sembuh.”


“Malam ini, biarkan aku yang menjaga bayi kalian.” Tanpa menunggu, aku segera menawarkan diri.


“Tapi, Putri ”


“Tidak, Ratih. Selama ini, kau telah banyak memban- tuku. Sekarang, biarkan aku yang membantumu.” Aku mengambil bayi di gendongan Ratih. “Aku akan membawa bayi ini. Silakan kalian berdua melepas rindu. Cah Gan- teng, malam ini tidur sama Bibi, ya.”


Aku tertawa kecil. Ratih ingin meraih bayinya, tapi Sakka mencegah. Wajah Ratih saat itu menyiratkan terima kasih. Pasangan suami itu bersitatap. Saling tersenyum.


Rasanya itu senyuman terindah yang pernah kulihat di wajah Ratih dan Sakka.


Perang usai. Suami kembali.

__ADS_1


Aku mengira, mereka akan hidup berbahagia selama- lamanya.


Sayang, takdir berkata lain.


Tidak ada seorang pun tahu, kematian bisa menya- mar menjadi siapa saja. Salah satu prajurit yang datang bersama Sakka, ternyata bawahan Ardaraja. Diam-diam, ada rencana jahat dalam hatinya.


Malam itu, kobaran api membubung dari pondok. Dengan cepat, api menjalar ke tempat Ni Ambarareka. Membumihanguskan pondok-pondok dan beberapa ru- angan di sekitarnya. Curadharma memergoki si prajurit pengkhianat sedang berusaha lari. Tak ingin diinterogasi, prajurit itu memilih untuk menelan racun.


Duka menyelimuti padepokan untuk beberapa lama. Empu Ragarunting mengurung dirinya seharian. Murid- murid perempuan menangisi kepergian guru mereka.


Curadharma terlihat lebih sedih dari biasanya. Setiap pagi, dia membawa bunga ke sisa-sisa pondok. Dia me- mandang abu dan puing-puing. Mengenang Nari Ratih untuk waktu yang sangat lama.


Sementara itu, dalam sekejap, si Bayi telah yatim piatu. Semua orang kini mulai merasa kasihan pada si Bayi. Selain tidak memiliki bapa biyung, kejahatan masih mengintainya. Dendam Ardaraja masih berkobar. Jika Ardaraja tahu ada keturunan dari musuhnya, dia akan se- gera mengutus pembunuh lagi.


Empu Ragarunting berpikir keras. Menyelamatkan bayi ini tidaklah mudah. Belum lagi, keberadaannya akan membahayakan murid-murid padepokan.


Akhirnya, diam-diam Empu Ragarunting membawa bayi itu ke kepala desa. Kepala Desa Mada adalah sahabat- nya. Jadi sang kepala desa sangat tepercaya. Empu Raga- runting memberi uang sangat banyak pada si kepala desa.


Dia berpesan agar si kepala desa menjamin masa depan si Bayi.


Setelah itu, kami hanya bisa mendengar kabar tum- buh kembang putra Sakka.


Sama seperti prediksi ayahnya, si Bayi memang men- jadi kesatria yang hebat di kemudian hari. Ada banyak kisah mengenai anak itu. Asal-usulnya hingga kini mis- terius. Ada yang bilang, dia adalah anak dewa. Ada yang bilang, dia adalah anak dari murid Empu Ragarunting. Sebagian lagi mengatakan, kalau dia adalah putra dari seorang dewa yang jatuh hati melihat kemolekan ibunya.


Ah, lagi-lagi kisah.


Dan waktu kembali membukakan sebuah kisah baru untuk kami, di kerajaan yang baru, Kerajaan Majapahit.

__ADS_1


__ADS_2