
Putri Rajapatni - Gayatri - 10
Catatan Sejarah:Singasari pernah didatangi oleh sekelompok serdadu asing. Mereka utusan Kerajaan Mongolia. Saat itu, Mongo- lia dipimpin oleh Kubilai Khan. Wilayah kekuasaan Mongolia sangat luas. Separuh wilayah Asia dan seperlima luas dunia berhasil mereka taklukkan.
*
Kadang ancaman dari jauh lebih diwaspadai ketimbang ancaman yang sudah dekat. Aku sempat me- ngira, peperangan akan dibawa oleh sekumpulan orang asing yang datang di bulan Citta. Mereka menyebut diri mereka orang Mongolia. Mereka tampak asing dengan pakaian mereka yang penuh logam dan bulu binatang. Rambut mereka terlalu panjang. Helai-helainya dikepang dengan cara yang unik hingga berbentuk seperti helai- helai cambuk. Kemudian, ada hiasan kepala yang melengkapi dandanan mereka. Hiasan itu menutupi bagian tengah kepala mereka yang sengaja dilicinkan tanpa rambut.
Orang-orang Mongolia itu datang beberapa minggu setelah Raden Wijaya berangkat ke Suwarnabumi. Pendu- duk pesisir sempat ketakutan dengan kehadiran mereka. Kapal-kapal mereka begitu besar. Ada makhluk menye- ramkan bak ular di bendera mereka. Pasukan Singasari
sempat ciut nyali. Terintimidasi oleh besarnya meriam yang mereka bawa kemari.
Singasari sempat heboh dengan kedatangan pasukan pendatang itu. Para penduduk tak henti berbicara dengan nada ngeri. Banyak yang mengira, pendatang asing itu akan menghadirkan peperangan.
Melaksanakan perintah Raden Wijaya, Viren menja- gaku bagai menjaga sebuah permata. Sama sepertiku, dia sempat khawatir. Jadi dia tak pernah jauh-jauh dariku. Apalagi saat laskar asing itu kemudian menghadap Ayah- anda.
__ADS_1
“Jika maksud mereka buruk, saya akan mengaman- kan Anda. Kita lari segera setelah Paman Mahisa Anabrang bertindak.”
Sangkakala telah ditiup. Seluruh istana dikumpulkan di balairung agung. Para prajurit bersiaga penuh. Barisan Orang Mongolia kemudian memasuki balairung dengan langkah-langkah tegap.
Orang-orang Mongolia itu mengaku sebagai utusan Kubilai Khan. Dengan semangat berapi-api, mereka men- jelaskan kebesaran kaisar mereka. Kubilai Khan berhasil membawa Dinasti Yuan ke zaman keemasan. Daerah kekuasaan mereka membentang sangat luas. Dari Tibet, Goryeo, Jepang, Annam, Burma, Kamboja, Muangthai, hingga Champa.
Kedatangan mereka ke tanah Jawa tentu bukan tan- pa alasan. Aku melihat Viren melirik waspada saat utusan itu menjura kepada Ayahanda.
“Nama hamba Meng Khi,” kata utusan itu. “Hamba be- serta rombongan kemari membawa perdamaian.”
Sayang, sikap rendah hati Meng Khi tidak mengubah suasana. Pesan dalam surat itu pasti keterlaluan. Wajah Ayahanda merah padam saat selesai membaca.
“Apakah bagi kalian perdamaian sama dengan tak- luk?”
Aku mengenal kemarahan dalam ucapan itu. Oh, tidak. Firasatku mulai buruk. Dan benar saja, meski Meng Khi terlihat malu-malu, dia tetap mengutarakan maksud- nya.
__ADS_1
“Alangkah bagusnya jika kita bisa hidup berdam- pingan tanpa terjadi peperangan, Paduka Raja.”
Semanis-manisnya Meng Khi bicara, semua orang tahu kalau saat itu yang dia minta adalah kerajaan kami. Meng Khi hendak mengatakan kalau mereka ingin Singa- sari takluk. Dengan begitu, mereka tidak akan mengarah- kan senjata menumpas Singasari.
Tentu saja, Ayahanda terhina mendengar permintaan itu. Dengan segera, Ayahanda menghunus keris di ping- gang. Kemarahan di wajahnya mengalirkan ketakutan bahkan kepadaku.
“Lancang sekali, kau!” Ayahanda membentak Meng Khi. Tak menunggu waktu lama. Keris Ayahanda meng- arah ke kepala Meng Khi. Sebelah Meng Khi segera menjadi korban. Potongan daging terlepas lalu terjatuh ke lantai.
Crash!
Darah menciprat segera. Orang-orang ketakutan. Aku pun sempat memejamkan mata. Pengusiran terhadap para utusan Mongolia itu—entah mengapa mengingat- kanku akan pengusiran kelompok topeng pemalangan beberapa tahun lalu. Meski tampaknya, pengusiran ini jauh lebih parah.
Ketakutanku semakin menjadi. Murka Ayahanda ti- dak berhenti sampai di sana. Tak henti-hentinya Ayah- anda marah setelah kejadian itu. Ibunda dan semua putri- nya pernah menjadi pelampiasan. Aku pun sempat ditam- par karena membuat kesalahan kecil.
Beberapa bulan, angkatan bersenjata Singasari ber- siaga penuh. Mengantisipasi serangan balas dendam dari tentara Mongolia. Meski ternyata, serangan itu tidak mun- cul.
__ADS_1
Kejadian ini adalah badai pertama dalam sejarah kehancuran Singasari.