
Putri Rajapatni - Gayatri - 17
Bibi Terukbali datang beberapa hari kemudian. Ada lebih banyak pengawal yang mendampinginya. Bah- kan kelompok Sakka ikut bergabung. Kekhawatiran tam- pak jelas di wajah mereka. Alis Pradnya berkerut se- panjang waktu. Viren dan Sakka mengunci rapat-rapat mulut mereka. Sedang Bibi Terukbali juga berkali-kali mengembuskan napas dengan gelisah.
Langit pun seakan setuju dengan mereka. Awan- awan hitam berarak beriringan. Hamparan mendung ke- lam siap mengalirkan hujan deras. Aku belum sempat menceritakan tentang Ranggalawe. Bahuku lebih dulu diremas oleh bibi. Dia pun mengutarakan kecemasannya.
“Gayatri, apakah kau masih ingin menyepi?” Tentu saja aku mengangguk.
“Haruskah kita mencari tempat lain?” Kening Bibi berkerut. “Bibi tidak tahu menahu. Tahu-tahu saja, Wijaya menghadap. Dia mengatakan akan membuka Hutan Tarik. Entah apa yang membuat pamanmu setuju. Banyak orang kini telah menetap di sini.”
“Dinda, aku khawatir akan terjadi sesuatu kepada- mu,” sergah Pradnya. “Tidak semua orang mengenalimu. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padamu?”
Aku melirik ke kiri. Viren dan Sakka tampak bertukar pandang. Sakka memegang kepala, tanda sedang gelisah.
“Apakah Raden Wijaya sedang merencanakan sesua- tu?” Aku bertanya.
Gelengan Bibi dan Pradnya terlihat tak yakin. Buru- buru, Bibi menyuruh Viren dan Sakka untuk berjaga di luar. Kedua lelaki itu segera beranjak setelah memberi hormat.
Aku duduk dengan bahu gemetar. Keributan-keribut- an di hutan rasanya semakin dekat. Mengingatkanku akan peperangan yang telah berlalu setahun lebih. Aku takut melihat keramaian. Aku belum siap menghadapi banyak orang.
“Ratu Batara,” keluh Bibi. “Aku takut akan ada ****- rangan lagi. Firasatku buruk sekali. Aku sudah memper- ingatkan pamanmu. Sama seperti waktu itu. Sayang sekali, perangainya keras. Sulit sekali mengubah keputusan yang telah dibuatnya.”
Mataku terasa panas. Air mataku sempat mengalir.
Segera, aku menghapusnya dengan punggung tangan.
__ADS_1
“Padahal ayahanda kalian sangat baik kepada kami,” isak Bibi. “Aku takut kepada karma pala. Bagaimana kalau kini, pamanmu yang mendapat balasan?”
Dadaku sesak menahan tangis. Trauma peperangan masih sulit kulupakan. Darah dan mayat. Orang-orang ma- ti begitu saja. Keindahan masa kecil dan masa remaja ter- tinggal jauh di belakang. Semua hilang. Tidak berbekas.
Meski Ayahanda dan Ibunda masih mendapatkan penghormatan, mereka tetaplah tiada. Yunda-yundaku melanjutkan hidup masing-masing. Sementara aku masih sibuk mengumpulkan serpihan hatiku.
“Bagaimana kabar Mahadewi?” Aku sengaja meng- alihkan pembicaraan. Sayang, bukannya mencerahkan suasana, Bibi terlihat makin murung.
“Tak lama lagi, Mahadewi akan melahirkan,” kata Bibi tanpa semangat.
“Sungguh? Itu kabar yang bagus sekali.” Aku memak- sakan nada ceria dalam ucapanku. Pradnya sempat me- ngernyit. Namun, dia memaksakan seulas senyuman.
“Mahadewi sudah sering mulas-mulas. Tapi Si Bayi agaknya masih belum ingin lahir.” Pradnya menambah- kan.
“Hingga kini, Yunda Tribuaneswari belum mengan- dung.”
Rasanya hatiku membeku mendengar kalimat itu. Aku bersyukur, sebuah senyuman lolos dari bibirku. Hei, seharusnya aku mendoakan mereka, kan? Seharusnya aku berbahagia karena yundaku menikahi pangeran pujaan- nya. Seharusnya aku ikut khawatir karena yundaku belum berhasil memberi keturunan untuk suaminya. Seharus- nya....
“Kau tahu, itu hal yang menyedihkan bagi seorang wanita.” Pradnya mendesah. “Meski Yunda Tribuaneswari tak pernah membuka mulut, para dayang telah sibuk ber- gunjing.”
“Memangnya apa yang mereka gunjingkan?”
Pradnya menggeleng sedih. Bibi mengusap air mata dengan ujung selendang. Sama-sama kecewa dengan apa yang terjadi.
“Mereka mengatakan kalau Yunda tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang istri.” Pradnya melirikku ragu- ragu. “Raden Wijaya jarang sekali mengunjungi istrinya. Mereka menebak-nebak. Apakah Raden Wijaya memang tak berniat menyentuh Yunda.”
__ADS_1
“Apa maksudmu, Yunda Pradnya?”
“Ini adalah masalah yang rumit.” Pradnya mendesah lagi. “Sejak zaman dahulu, masalah wanita selalu menjadi masalah yang pelik. Ambisi Dewi Satyawati bisa membuat Bisma memutuskan tidak menikah. Kecantikan Dewi Shinta memicu peperangan di Alengka dan masih banyak lagi yang lainnya.”
“Aku masih tidak mengerti apa maksudmu, Yunda Pradnya.”
Ada rasa cemas, takut, dan sedikit iri yang kurasakan dari pandangan Pradnya terhadapku. “Atas desakan orang-orang istana, Raden Wijaya kemudian mengambil Dara Petak sebagai selir.”
“Putri dari Melayu itu?”
Pradnya mengangguk, “Aku sempat mendengar. Putri itu menjanjikan bantuan yang tidak sedikit. Hal ini akan baik bagi kedudukan Raden Wijaya.”
Kata kedudukan dalam kalimat Pradnya terasa men- cubit hatiku. Apakah hanya itu yang dipedulikan Raden Wijaya? Kata-kata manis yang pernah dia ucapkan men- dadak muncul lalu menguap begitu saja. Rayuan-rayuan semakin terasa kopong. Kini aku menertawakan kebo- dohanku sendiri.
“Dara Petak tidak terlalu menyukai Yunda.” Perkata- an Pradnya menarikku kembali ke kenyataan. “Aku sering melihat Yunda menangis. Dara Petak selalu bersikap seolah-olah Raden Wijaya memperhatikan dan menga- sihinya. Jadi, seluruh istana harus tunduk kepadanya.”
Rasa pahit berpusar di mulutku. Terlebih ketika Pradnya melanjutkan ucapannya.
“Alih-alih lebih mendekatkan diri pada Yunda, Raden Wijaya malah memberi gelar pada Dara Petak. Shri Tinuheng Pura—istri yang dituakan.” Pradnya tidak ber- usaha menyembunyikan ketidaksukaannya. “Wanita itu baru melahirkan seorang putra. Tentu saja, hal ini sema- kin mengukuhkan kedudukannya.”
Oh ya, Gayatri. Kau memang bodoh. Perutku terasa ditonjok oleh ucapan itu. Gayatri yang lugu. Seharusnya kau tak pernah mengharapkan apa pun dari lelaki mana pun. Terlebih dari Raden Wijaya. Lelaki yang merayuku dengan Pupuh Asmaradhana adalah lelaki yang menikahi yundaku sendiri. Lebih parah, lelaki itu kini memiliki anak dari wanita lain.
Lalu apa arti kata cinta yang dulu dia ucapkan kepa- daku?
Aku sadar, saat itu aku sedang cemburu. Air mataku berderai begitu saja. Aku mengutuki diriku sendiri. Mana mungkin aku berhak cemburu. Bahkan aku tidak pernah yakin, aku bisa jatuh hati kepadanya.
__ADS_1