Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 19


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 19


Awan-awan masih setia menutup langit. Menyembunyikan warna jingga dari senja. Malam pun tiba lebih cepat. Beruntung, menjelang sore, hujan sempat ber- henti. Bibi, Pradnya, Viren, dan para pengawal akhirnya bisa pulang tanpa kehujanan. Sakka sendiri diberi izin menginap.


“Kasihan, sudah jauh-jauh datang,” kata Bibi Teruk- bali. “Lagi pula, kalian memang membutuhkan penjaga se- karang.”


Aku sempat mengintip Sakka melepas rindu kepada Ratih. Sakka memeluk Ratih, lalu mencium hidung istri- nya untuk merayu. Saat Sakka mengetahui kehadiranku, dia langsung waspada. Tatapannya padaku terlihat tidak senang.


“Aku... aku akan menyiapkan makan malam.” Ratih gelagapan. Wajan di tangannya sempat tergelincir. Untung tidak jatuh.


“Pantas saja   Raden   Wijaya   sering   memarahimu.


Ckckck.” Sakka bergumam dengan nada mencela.


“Tapi... aku tadi hanya lewat,” kataku membela diri. Wajahku merah padam. Mengintip orang berkasih- kasihan memang tidak sopan. Tapi aku tidak berbohong. Aku hanya tidak mengatakan kalau aku memang penasa- ran.


Sakka menatapku dengan raut wajah tidak senang. Kentara sekali bahwa dia sedang berusaha menahan jeng-


kel. Aku tiba-tiba teringat luka-luka cambuk di kulit Viren. Dengan temperamen Ardaraja, aku tak ragu kalau dia juga melakukan hal yang buruk kepada Sakka.


“Apa Ardaraja mencari masalah denganmu?” Sakka menjawab dengan sebuah dengkusan kasar.


“Pangeran Ardaraja memang suka mencari masalah dengan semua orang.” Sakka menggerutu. “Terlebih keti- ka tahu, Prabu Jayakatwang menerima Raden Wijaya. Dia selalu berpikir, Raden Wijaya akan berkhianat.”

__ADS_1


“Apakah menurutmu, Raden Wijaya akan melancar- kan pemberontakan?”


“Aku sama sekali tak bisa menebak apa rencana Raden Wijaya.” Dia mengertakkan gigi. “Mungkin kau ha- rus tanyakan itu kepada Arya Virendra.”


Ratih menghampiri kami sambil membawa dua buah ketela bakar. Dia mengangsurkannya kepadaku, kemu- dian kepada Sakka. Kami duduk di beranda, seperti biasa.


“Janganlah lagi menambahkan api ke dalam sekam, Kanda.” Dia berkata. “Suasana hari ini sudah terlalu te- gang. Aku yakin, Putri Gayatri sama khawatirnya dengan kita.”


Sakka mendengkus lagi. Wajahnya kini cemberut. “Kalau khawatir, kenapa tidak pergi ke kotaraja?” sindir Sakka. “Memangnya, kau tak ingin menjadi istri Raden Wijaya?”


Aku mengernyitkan alis. Tak suka akan perkataan itu. “Jika bisa memilih, lebih baik aku jadi istri petani daripada dimadu seorang pangeran.”


Ratih menggeleng-geleng sambil memberi tanda agar suaminya berhenti menyindirku.


“Putri Gayatri.” Sakka berkata tanpa rasa bersalah. “Kau mungkin tak tahu. Kadang-kadang sulit bagiku untuk berpihak.”


Sakka menyambar sebuah ketela. Dia membelah ke- tela itu. Lalu mulai memakan dagingnya.


“Sekitar sebulan lalu, ada laskar asing memasuki tanah Jawa. Mereka sekumpulan orang-orang asing yang sangat aneh.” Sakka berkata dengan nada tak suka. Kilat luka terlihat dari pandangannya.


“Sekali, aku mendengar selentingan bahwa mereka datang untuk menghukum Prabu Kertanegara,” lanjut Sakka. “Prabu Jayakatwang enggan mengurus. Sang Prabu merasa, dendam mereka tidak ada hubungannya dengan Kadiri.”


Ingatanku seketika kembali kepada Meng Khi. Utusan Mongolia itu dipermalukan begitu rupa. Jadi mereka kem- bali ke sini untuk menghukum Ayahanda. Tapi mereka ti- dak tahu bahwa orang yang ingin mereka hukum telah meninggal.

__ADS_1


“Sejak saat itu, beberapa kali Arya Virendra pergi dan menghilang. Karena tak ingin Pangeran Ardaraja naik pi- tam, aku berkali-kali membohongi sang Pangeran.”


“Kau tahu, Virendra pergi ke mana?”


Sakka menjawab pertanyaanku dengan senyuman sarat ejek. Hal itu justru membuatku makin penasaran. Sakka bukan orang yang gemar merumpi. Jelas, dia hanya menceritakan hal penting saja.


“Apakah Virendra sedang merencanakan sesuatu bersama Raden Wijaya?” tebakku langsung.


Sakka menggoyangkan kepala. Raden Wijaya. Entah mengapa, aku semakin antipati terhadapnya.


Sakka menyambar kendi tuak. Dengan cepat, dia mi- num dalam tenggakan besar-besar.


“Apakah kau bisa membaca pikiran mantan tunang- anmu?” Ini pertanyaan retorik. Merasa jengkel, aku me- rebut kendi di tangan Sakka. Kubanting kendi itu ke ta- nah. Segera, pecahan kendi menghambur. Tuak di dalam- nya meluber. Mengalir bersama sisa-sisa air hujan.


“Kau mungkin tidak tahu, saat Paman Jayakatwang menyerbu, ayahandaku sedang mabuk berat.” Napasku terengah-engah saking marahnya. “Itulah ingatan ter- akhirku tentang Ayahanda.”


Sakka terdiam. Dia bahkan tidak berminat mendebat- ku. Ratih datang setelah itu. Dia membersihkan lantai dengan cepat. Mulutnya terkunci rapat.


“Apa kau pikir aku suka peperangan? Apa kau pikir, aku senang melihat para prajurit bertempur dan kehi- langan nyawa? Begitukah pikirmu, Ken Sakka?” teriakku. “Rakyat di luar masih berpikir akan makan apa esok hari! Yang kalian lakukan hanya sibuk berpolitik! Sungguh me- muakkan! Para pemimpin hanya berpikir untuk berebut kekuasaan! Mereka melupakan nasib pedagang dan pe- tani! Kalian semua pejabat terkutuk! Apa kau masih ber- pikir, aku ingin menjadi bagian dari kejijikan itu?”


“Maaf ”


Aku tersentak mendengar pernyataan itu. Sakka menjatuhkan kepala di bahuku. Seolah menumpangkan semua beban hidupnya di sana. Ratih turut meremas dan berpegangan pada bahuku yang lain. Seolah-olah, saat ini aku sedang menjadi penopang bagi mereka. Poros yang menjaga dunia mereka tetap berputar.

__ADS_1


Duh, Sang Hyang Widhi. Aku benar-benar tak sanggup.


__ADS_2