
Putri Rajapatni - Rajapatni - Merengkuh Purnama
Permintaan yunda-yundaku sungguh lan- cang. Gara-gara mereka, aku jadi gelisah di kamarku. Hatiku semakin resah ketika hari menjadi senja. Semua adegan intim yang tidak pernah kubayangkan mendadak muncul di kepala. Beberapa hari, Tri dan Nare membi- sikiku dengan cerita-cerita intim. Katanya, mereka sempat menyuruh beberapa dayang pergi ke rumah bordil. Secara khusus para dayang bertanya, bagaimana caranya melu- luhkan seorang laki-laki.
Ndilalah... yunda-yundaku sungguh keterlaluan! Me- reka tak pernah melewatkan satu hari pun untuk membe- riku trik-trik menggoda laki-laki. Tubuhku jadi sering me- rinding. Alih-alih kepengin, aku malah semakin takut. Kok rasanya itu bakal menyakitkan sekali.
Sore itu, seperti biasa, aku mondar-mandir di kamar. Kugigiti kukuku sampai bergerigi semua. Aku menduga, yunda-yundaku juga sedang waswas di kamar masing- masing. Setiap hari mereka berharap, hari itu akan men- jadi hari baik.
Padahal aku sendiri berharap, hari apa pun tidak akan menjadi hari baik.
Sayangnya, sore itu iring-iringan dayang datang ke depan kamarku. Rasanya, jantungku hampir copot. Lidah- ku gagap saat menyahut panggilan mereka.
“Gusti Putri.” Salah satu dayang memberi hormat. “Gusti Prabu memerintahkan kami untuk membantu Anda bersiap.”
“B—bersiap untuk apa?” Wajahku saat itu pasti pucat sekali. Beberapa dayang terlihat menutup tawa dengan te- lapak tangan mereka. Aih! Aih! Semua wejangan Tri dan Nare langsung terngiang di telingaku, membuatku sema- kin ngeri.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, semua dayang itu langsung melakukan tugas mereka. Jepit-jepit dan per- hiasan dicopot satu demi satu. Setelah itu, mereka mem- basuh tubuhku dan kembali mengasapiku dengan berba- gai rempah dan akar wangi.
Mereka melilitkan batik tipis. Hanya kelat bahu yang dipasangkan di lenganku. Rasanya bagai berabad-abad saat mereka mulai mengurai lalu menyisiri rambutku. Perutku bergolak begitu kencang. Aku terus-menerus me- remas jemari. Berharap-harap, semoga sang Prabu ber- ubah pikiran.
Ketika terdengar suara mengumumkan kedatangan raja, aku langsung melompat kaget. Refleks, aku mau ka- bur dan mengunci kamar. Tapi para dayang tidak mem- biarkanku.
Prabu Kertarajasa datang dengan dikawal prajurit- prajurit bertombak. Tanpa mahkota dan perhiasan-perhi- asannya, dia kembali mengingatkanku akan sosok Raden Wijaya. Pangeran sombong si tukang kritik.
Aku menunduk dalam-dalam. Kusembunyikan wajah di balik uraian rambut panjangku.
Prabu Kertarajasa mendekat. Sang Prabu menyibak rambutku. Tangannya meraih daguku. Matanya segera menatapku lekat-lekat.
__ADS_1
Rasanya sikapku saat itu sudah mirip seekor rusa yang akan segera dimangsa. Aku nyaris menangis, saking takutnya. Terlebih, saat para dayang dan pengawal mem- beri hormat lalu keluar. Hanya meninggalkan kami di da- lam kamar.
Prabu Kertarajasa duduk di atas peraduan. Dia memi- jat keningnya beberapa kali. Wajahnya saat itu menyirat- kan kelelahan yang berusaha dia lawan.
“Kemarilah.”
Aku menurut, kemudian menghampiri sang Prabu. Namun kuambil jarak sebanyak dua jengkal. Pikiranku se- makin sulit kukendalikan. Jadi aku memilih memilin jari dan menutup mulut rapat-rapat.
“Kau pendiam sekali hari ini, Gayatri.” Prabu Kerta- rajasa meraih tanganku. Dia menggeser duduk ke dekat- ku. Diputarnya kelat bahuku. Beberapa kali, kulitnya ber- sentuhan dengan kulitku. Desir panas langsung mengalir di kerongkonganku. Aku menelan ludah beberapa kali. Lagi-lagi tergoda untuk melarikan diri.
“Ada apa?”
“S—sa—saya... saya hanya ” Aku tergugu. Kata-kata
sinis tak mampu keluar dari mulutku. Aku sendiri heran, apa yang membuat otakku mendadak buntu seperti ini? Mengapa aku mendadak merasa begini lemah?
Kepalaku terangkat. Saat pandanganku bertumbukan dengan manik matanya, aku melihat semburat merah di sana. Refleks, tanganku terangkat, menyentuh sudut ma- tanya. Hatiku pedih melihat kelelahan itu. Aku tahu, sang Prabu terlalu tertutup. Mana pernah sang Prabu membagi penderitaannya dengan orang lain. Sedari dulu, sang Prabu memilih menyembunyikan perasaan dari pandang- an seisi istana.
“Yunda Tribuaneswari mengatakan kalau Anda ja- rang berkunjung ke istana keputrian.” Suaraku serak sarat kesedihan.
Prabu Kertarajasa memamerkan sebuah senyuman enggan untuk menjawab.
“Sudah berapa lama Anda tidak tidur?”
“Entahlah.” Sang Prabu berkata. Aku menyibakkan rambutnya. Kedua tanganku kini menyentuh wajahnya. Tanpa sadar, air mataku mulai bergulir. Prabu Kertarajasa mengadang setetes air mata dengan telunjuk. Pandang- annya mengiba. Sang Prabu memberi sebuah gelengan pelan kepadaku.
Itu senyuman kedua yang membuat hatiku bergetar. Kebahagiaannya terasa setipis kelopak kembang kertas. Ada lebih banyak beban dan ratapan yang enggan ditun- jukkan. Membuatku merasa kasihan, sekaligus takut.
__ADS_1
“Kanda ”
Prabu Kertarajasa membaringkan kepalanya di pang- kuanku. Aku memberanikan diri menyentuh kepalanya. Aku kembali merasakan tekstur rambutnya. Kubelai rambutnya sambil menangis tanpa suara. Tak mau dia tahu semua kecemasanku.
“Aku mendengar, ketiga yundamu sering membujuk-
mu.”
“Lupakan itu, Kanda Prabu.” Aku berbicara sambil te-
rus membelai rambutnya. Rasanya lebih tenang saat aku melihat matanya mulai tertutup oleh kedamaian. Air mataku masih turun, tapi hatiku terasa lebih lega.
“Sebenarnya, aku memang ingin memberi anugerah itu kepadamu.”
Aku tersedak. Tanpa kuduga, reaksiku membuat Pra- bu Kertarajasa membuka mata. Sang Prabu pun tertawa dengan gaya yang dulu membuatku terbayang-bayang. Oh, mengapa tawanya begitu merdu?
“Dari dulu, aku selalu membayangkan memiliki seo- rang anak darimu.” Sang Prabu berkata dengan nada lebih serius. “Kalau bisa, anak perempuan. Jadi aku bisa melihat dirimu dalam versi kecil.”
Wajahnya saat itu membuatku malu. Tanganku se- dingin es saat sang Prabu mendorongku. Aku semakin naik, hingga terpojok di sudut peraduan.
“Kau keberatan, kalau malam ini aku tidur di sini?” Aku menggeleng, tetapi tubuhku hampir menggigil.
Aku sampai berhenti menangis. Kilat jail di matanya mem- buat jantungku nyaris melompat keluar.
Prabu Kertarajasa masih memamerkan senyuman. Saat itu, kami berdua telah naik ke tempat tidur. Sang Prabu membaringkanku. Lalu berbaring di sebelahku. Tangannya menarikku mendekat. Merengkuhku dalam pelukannya.
“Aku lelah sekali.” Hanya itu yang sang Prabu kata- Lalu kami berdua tertidur bersama.
__ADS_1