Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Rajapatni - Terik Sinar Surya


__ADS_3

Putri Rajapatni - Rajapatni - Terik Sinar Surya


Sejak malam itu, kami selalu membahas masalah kenegaraan sebelum tidur. Prabu Kertarajasa akan berbi- cara panjang lebar. Dia mengeluh. Dia marah. Ketika suasana hati kami sama-sama buruk, kami akan berdebat. Lalu dia akan meninggalkanku dalam keadaan murka.


Belakangan aku tahu, berdebat hanya akan meng- ingatkan sang Prabu akan rumitnya pasewakan. Aku mu- lai belajar mengalah. Aku mendengar semua keluhannya. Aku menampung semua curahan hatinya. Kupasang te- linga baik-baik. Aku belajar mengendalikan mulutku.


Hingga akhirnya, hubungan kami semakin membaik. Aku semakin paham kepedihannya. Aku mengerti se-


mua rasa sakit saat berada di puncak kekuasaan. Setiap hari, masalah semakin menumpuk. Masalah rakyat me- nunggu untuk diselesaikan. Hujan membuat petani gagal panen. Hama wereng menyerang persawahan. Oknum- oknum pedagang nakal menimbun barang kebutuhan pokok hingga harga terus meninggi. Kemiskinan dan kela- paran mulai menyebar di kotaraja.


Di istana, sang Prabu harus melihat para abdi negara bergontok-gontokan. Para menteri dan kaum bangsawan saling sikut untuk kepentingan diri dan golongan mereka sendiri. Daripada membahas solusi bagi kesejahteraan rakyat, mereka memilih membahas undang-undang baru. Kadangkala, mereka ribut karena merasa pajak yang dibe-


bankan kepada rakyat terlalu ringan hingga merugikan negara.


Yang paling menyakitkan, satu per satu sahabat sang Prabu disingkirkan. Semua orang yang dikasihi sang Pra- bu disorot untuk dicari kesalahannya. Sedikit saja ditemu- kan cela, maka fitnah besar akan ditimpakan kepada me- reka.


Hujan deras mengiringi kedatangan sang Prabu sore itu. Dia basah kuyup. Payung terlempar beberapa depa. Para dayang berlutut di dekatnya. Sementara para penga- wal berdiri dengan sikap canggung.


Hanya aku yang melihat air matanya. Kupeluk sang Prabu di bawah air hujan. Wajahnya kaku. Dia berdiri te- gak seperti arca. Di mataku, dia terlihat begitu putus asa.


“Ranggalawe,” desahnya penuh kepedihan. Aku me- nariknya masuk. Kukeringkan tubuhnya segera. Lalu ku- perintahkan dayang menyiapkan wedang jahe untuk kami berdua.


Prabu Kertarajasa tidak mengatakan sepatah kata pun. Malam harinya, dia hanya memelukku terlalu ken- cang. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Bukan karena aku sulit bernapas. Aku ingin membantu meringankan kesedi- hannya. Jadi aku kecewa karena tidak bisa melakukan apa-apa.


Keesokan harinya, aku sengaja ke istana untuk men- cari berita. Rupanya, Prabu Kertarajasa tengah berselisih pendapat dengan Ranggalawe. Sahabat sang Prabu itu tidak menyetujui pengangkatan Paman Nambi sebagai Rakryan Patih. Gaya bahasa Ranggalawe memang blak- blakan. Jadi dia langsung mendebat Prabu Kertarajasa di pasewakan.


Tentu saja, baik para pejabat maupun para bangsa- wan tidak menyukai hal itu. Para pejabat mendesak Prabu Kertarajasa bertindak tegas. Sementara para bangsawan langsung menuntut Ranggalawe dipecat dari jabatannya.


Pikirku, Prabu Kertarajasa sempat membujuk Rang- galawe. Namun tidak ada yang pernah bisa menahan emosi Ranggalawe. Aku mendengar, pasewakan berubah menjadi kekacauan. Kata-kata yang diucapkan Ranggala- we semakin melewati batasan sebagai bawahan. Dia ngo- tot mengajukan Paman Sora menggantikan Paman Nambi. Padahal, Paman Sora sendiri tidak keberatan jika Paman Nambi menjabat sebagai Rakryan Patih.


Lembu Sora sempat menasihati Ranggalawe agar me- minta maaf. Akan tetapi, Ranggalawe sangat keras kepala. Dia tidak terima, pendapatnya tidak diindahkan.


Ranggalawe langsung pergi ke kampung halamannya. Dan tentu saja, kepergian Ranggalawe ini menjadi senjata ampuh bagi kubu-kubu oposisi. Halayudha menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan Ranggalawe selama- lamanya.

__ADS_1


Prabu Kertarajasa baru bisa bercerita beberapa hari setelah Ranggalawe dikabarkan gugur.


“Ranggalawe... dia telah meninggal,” desah Prabu Kertarajasa. “Halayudha memanas-manasi para pejabat. Isu pemberontakan berembus kencang di istana. Aku di- haruskan mengirim pasukan. Dan tentu saja, Ranggalawe melawan hingga tetes darah terakhir.”


Aku menutup hidung dengan kedua tangan. Hatiku sangat tidak yakin Ranggalawe mampu melakukan pem- berontakan. Kubayangkan, betapa hancur hatinya ketika tahu sahabat baiknya mengirim pasukan untuk langsung memberi hukuman.


“Sebagai raja, aku seharusnya bisa melindungi mere- ka yang dekat denganku.” Prabu Kertarajasa menghapus setitik air mata.


“Kanda... tenanglah.”


Saat Prabu Kertarajasa berbicara, aku merasa rohnya ada di tempat lain. Aku tahu perasaan sayangnya kepada Ranggalawe. Mereka teman seperjuangan. Bahkan Rang- galawe yang memimpin pembukaan Hutan Tarik yang ki- ni menjadi tanah kerajaan kami.


“Sebegitu sulitkah memiliki hubungan dengan seo- rang raja?” rintih Prabu Kertarajasa. “Hanya karena dia mengambek. Hanya karena dia pulang kampung ke Tuban. Fitnah dilancarkan dengan begitu kejam.”


Aku terdiam, bahkan tak berani menangis. Kubiarkan dia diam, lalu bercerita lagi. Sesekali, kuusap peluhnya. Atau kuambilkan air agar dia minum.


“Gayatri, aku terpaksa! Aku terpaksa mengizinkan Paman Sora dan Paman Anabrang pergi membawa pasu- kan, hanya untuk memuaskan Halayudha dan seisi ista- na.” Prabu Kertarajasa memejamkan mata. “Dengan tegas, aku memerintahkan agar Ranggalawe ditangkap hidup-hi- dup. Aku tak pernah membayangkan Ranggalawe mati tragis di tengah sungai! Aku tidak ingin dia mati! Bagai- mana ini, Gayatri? Apa yang harus kulakukan untuk mem- buatnya hidup kembali?”


Aku memeluk Prabu Kertarajasa. Kali ini, kami tidak dapat menahan air mata. Kamar itu menjadi saksi kesedi- han kami. Kehilangan Ranggalawe menjadi luka parah bagi hati Prabu Kertarajasa. Sementara luka Prabu Kerta- rajasa menjelma menjadi rasa sakit di hatiku.


“Jika saya tidak bisa menangis untuk seorang raja, biarlah saya menangis untuk suami saya,” isakku. “Biar- kan saya menangisi duka mereka yang kehilangan. Paman Sora yang kini kehilangan keponakan atau Paman Arya Wiraraja yang kini telah tidak memiliki putra.”33


“Gayatri ”


“Apa yang bisa saya lakukan untuk meringankan beban Anda, Kanda Prabu?” Aku mengangkat wajahku. Se- mua kelemahan sang Prabu kini terlihat di wajahnya. Aku mengusap pipinya, berusaha mengobati luka-luka hatinya. “Entahlah, Gayatri.” Akhirnya Prabu Kertarajasa ber- kata, “Aku hanya berharap, bisa mempertahankan keraja-


an ini lebih lama.”


***


Sebulan kemudian, aku mulai merasakan ada yang tidak beres pada tubuhku. Aku muntah-muntah di pagi hari dan tidak berselera makan. Masalah-masalah yang meruncing di kerajaan membuatku tidak berani me- ngeluhkan keadaanku. Aku masih menunggu kedatangan Prabu Kertarajasa. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menghibur sang Prabu. Jadi, aku selalu memaksakan diri untuk selalu tersenyum dan tampil prima.


33 Ranggalawe konon adalah keponakan Lembu Sora, juga putra dari Arya Wiraraja.

__ADS_1


Tapi agaknya, lama kelamaan keadaanku mulai mengkhawatirkan. Satu malam, sang Prabu mengatakan kalau aku terlalu pucat. Esoknya, dia mengirimkan ramu- an-ramuan suplemen dan banyak masakan daging. Aku memaksakan diri untuk mencicipinya sedikit, tetapi se- mua yang masuk kembali aku muntahkan.


Puncaknya, aku pingsan ketika para istri raja sedang mengadakan pemujaan tengah hari. Yunda-yundaku lang- sung panik. Aku mendengar mereka berteriak-teriak me- manggil dayang untuk membantu menyadarkanku.


Saat aku sadar, aku telah berada di kamarku. Prabu Kertarajasa duduk di sebelahku. Tangannya meremas je- mariku. Beberapa kali dia berteriak, menanyakan apakah tabib sudah datang atau belum.


Belakangan, aku tahu, Prabu Kertarajasa meninggal- kan pasewakan saking cemasnya. Sang Prabu berkali-kali memandangku, lalu membelai kepalaku dengan lembut.


“Sudah kubilang, kau harus lebih memperhatikan ke- sehatanmu.” Sang Prabu menegurku keras.


Saat para para tabib datang, Prabu Kertarajasa segera memberi perintah dengan suara keras. Terburu-buru, pa- ra tabib itu memaksaku berbaring. Mereka kemudian me- lilitkan berbagai benang. Beberapa tabib perempuan me- meriksa mataku. Mereka lalu menyentuh perutku di bebe- rapa bagian. Wajah-wajah ketakutan para tabib membuat suasana terasa amat tegang. Ketegangan baru berkurang saat para tabib itu selesai berdiskusi. Sang Kepala Tabib segera memberi hormat untuk melaporkan hasil pemerik- saan kepada Prabu Kertarajasa.


“Ampunkan hamba, Gusti.”


“Cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada Gayatri!”


Aku terkejut saat para tabib itu bersamaan berlutut lalu membungkuk sambil berseru dengan nyaring.


“Selamat, Gusti Prabu! Anda akan kembali mendapat- kan seorang putra!”


Seru-seruan kemudian tersalur kepada para dayang dan pengawal-pengawal di luar. Dengan segera, istana keputrian menjadi riuh. Kabar gembira itu disambut de- ngan gembira. Bahkan sampai keluar istana.


Yunda-yundaku adalah yang paling bergembira men- dengar kabar ini. Tri mengadakan kebaktian khusus me- muja Dewi Gayatri. Seluruh doa-doa mereka limpahkan untukku.


Aku merasa tidak enak diperlakukan seistimewa ini. Aku takut, harapan akan menjadi terlalu muluk. Tetapi Tri tetap bersikukuh melakukan banyak upacara pemujaan kepada para dewa dan roh-roh leluhur. Yunda-yundaku tak henti mengharapkan keselamatan dan kelancaran per- salinan. Yang terpenting, mereka berkali-kali memanjat- kan mantra-mantra permohonan agar terlahir seorang putra.


Sayangnya, yang hadir kemudian bukanlah seorang putra. Kekecewaan sempat mengalir di istana. Tri dan Na- re memandang bayiku dengan tidak bersemangat. Para dayang mendesah sambil menggeleng. Sementara bidan yang mengurusku hanya memberi sebuah senyuman ba- sa-basi.


Aku malu telah mengecewakan semua orang. Aku ta- kut, Prabu Kertarajasa ikut bersedih. Tetapi rupanya, sang


Prabu terlihat gembira. Semangat juangku bangkit saat kulihat senyum khasnya menghiburku.


“Putri terkasih, kau telah membuktikan, tidak hanya seorang lelaki yang dapat mengubah takdir. Aku percaya, putriku ini memiliki ketangguhan yang sama seperti ke- tangguhan ibundanya. Dia dan keturunannya, akan meng- ubah sejarah. Percayalah, Dewiku. Ini sabda seorang Hari- hara:34 Namamu akan ditulis dalam kitab sejarah. Engkau akan memiliki anugerah ardhanareswari karena keturun- an-keturunanmulah yang nantinya akan menguasai takh- ta.”

__ADS_1


34Prabu Kertarajasa disebut Harihara, gabungan antara Dewa Wisnu dan Dewa Siwa.


__ADS_2