Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 11


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 11


Segala sesuatu yang berkondisi selalu berubah. Anitya. Buddha pernah mengatakan ini dalam ajaran tiga corak kehidupan. Ajaran ini sungguh-sungguh terjadi menjelang runtuhnya Singasari. Mara datang setelah pes- ta. Sama seperti hujan menghapus panas. Semua terjadi dalam sekejap mata. Meski bagiku, penderitaan itu terasa bagai bertahun-tahun.


Orang mulai melupakan ancaman Mongolia. Persiap- an penyambutan Raden Wijaya segera diadakan. Saat itu, Ardaraja dan Maha telah resmi tinggal di kotaraja. Ayah- anda memberikan rumah mewah, lengkap dengan pera- bot dan dayang sebagai hadiah pernikahan. Suasana riuh rendah. Seluruh rakyat bergembira. Kotaraja dihias sede- mikian rupa. Makanan dan tuak terbaik didatangkan.


Aku sempat mengira bahwa kedamaian ini akan ber- langsung selamanya.


Pasukan Raden Wijaya tiba seminggu lebih cepat. Ayahanda tampak senang mendengar kabar itu. Pesta me- riah dengan gamelan dan tari-tarian diadakan semalam suntuk. Ayahanda segera berkeinginan menghelat pesta pernikahan yang lebih megah.


Singasari tiada tanding. Tak ada seorang pun bisa mengalahkan Singasari. Begitulah beliau meracau di tengah-tengah kemabukan.


Lalu sangkakala tanda peperangan itu berbunyi.


Tawa riang berhenti seketika. Teriakan panik meng- hambur segera. Seorang prajurit menerobos penjagaan. Sebatang panah menancap di dadanya. Di antara nyawa yang tinggal setengah, dia masih setia. Terbukti, dia memilih mengabaikan keselamatan untuk menghadap kemari.


“Lapor, sang Prabu....” Prajurit itu berkata di sela napas yang terputus-putus. “Ada... pasukan... menyerbu... di... daerah... utara. Mereka... Prabu Jayakatwang ”


Napas prajurit itu putus. Namun, nama Paman Jaya- katwang telah terucap. Ayahanda marah hingga gemetar. Sederet sumpah serapah meluncur dari mulutnya. Mengu- tuk kekurangajaran Paman Jayakatwang. Rupanya sekian banyak kebaikan Ayahanda tak mampu membendung ambisi Paman Jayakatwang.


“Ardaraja! Apa kau bisa menjelaskan sesuatu menge- nai hal ini?” bentak Ayahanda.

__ADS_1


Kulihat Ardaraja bertekuk lutut. Wajah Maha pucat pasi. Mau tidak mau, Maha ikut berlutut di samping suaminya.


“Ampunkan hamba, Ayahanda Prabu. Hamba sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau saya tahu, pasti telah memberita- hukannya sejak awal.”


“Berani-beraninya Si Jayakatwang itu!” teriak Ayah- anda. “Sekarang, Ardaraja! Katakan kepadaku, di mana kakimu berpijak?!”


Ardaraja menggeleng-geleng. Tapi Ayahanda saat ini benar-benar menguji kesetiaan menantunya.


“Pikirkanlah baik-baik! Mertua dan istrimu ada di sini! Sedangkan yang ada di sana, hanyalah seorang peng- khianat!”


Aku mengerti dilema Ardaraja. Orang yang dimaki dan disebut pengkhianat adalah ayahandanya. Bagaimana dia akan menjawab? Ini sungguh pertanyaan sulit.


Seisi balairung hening menantikan jawaban Ardaraja. Aku melihatnya menunduk. Jemarinya bergerak-gerak ti- dak menentu. Sementara tubuhnya seolah akan doyong kiri kanan karena resah.


Ardaraja makin membungkuk hingga hidungnya me- nyentuh lantai.


“Sebaiknya kau jawab pertanyaan itu, Ardaraja.” Kini Raden Wijaya yang menambahkan.


“Saya tidak berani memilih, Ayahanda Prabu. Sung- guh, saya tidak berani.”


Ardaraja mengangkat wajah. Sungguh, baru kali ini aku melihat tetesan air mata dari seorang laki-laki. Pera- saannya saat ini pastilah sangat berkecamuk. Jika dia berpihak pada kami, dia harus melawan ayahandanya sendiri. Sementara jika dia meninggalkan kami, dia harus menghancurkan seluruh keluarga mertuanya. Pilihan ma- cam apa itu?

__ADS_1


“Saya akan membela Singasari yang telah banyak memberi budi kepada hamba.” Suara Ardaraja pecah oleh tangis. Terdengar embusan napas lega dari seisi balai- rung, Ayahanda mendengkus lega. Lalu dia meneguk tuak kembali.


“Baiklah, Ardaraja. Kau dan Wijaya, bawa pasukan utama. Pergilah ke utara untuk mengatasi serangan pasu- kan Gelang-Gelang!” perintahnya.


“Sendhika, Ayahanda Prabu.” Ardaraja berkata patuh. Orang-orang mulai berkasak-kusuk. Kali ini agak ragu dengan kepercayaan diri Ayahanda.


Raden Wijaya yang kemudian maju. Mengungkapkan keresahan hati semua orang, dia berkata, “Ampunkan saya jika salah. Apakah tidak berbahaya meninggalkan istana dalam penjagaan yang longgar?”


Ayahanda meneguk tuaknya lagi. Tawanya memba- hana di balairung. “Ada aku, Prabu Kertanegara di sini! Apa yang perlu kalian takutkan?”


Kasak-kusuk bertambah ramai. Raden Wijaya meno- leh ke kiri dan ke kanan. Mencari seseorang yang bisa me- nasihati Ayahanda.


“Rasanya tidak ada salahnya menempatkan prajurit untuk berjaga.” Paman Mahisa Anabrang rupanya sepa- ham dengan Raden Wijaya.


“Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan.” Ayahanda berdiri. Dia masih sempoyongan ketika memberikan pe- rintah.


“Mahisa Anabrang! Siapkan satu kompi pasukan ber- siaga di sini. Sisanya, pergi hadapi pasukan Gelang- Gelang! Kalian harus memberi pelajaran kepada besanku yang tidak tahu diri itu! Mengerti, kalian semua?”


“Mengerti, Gusti Prabu!”


Ayahanda menuang tuak lagi. Masih memegang ke- percayaan bahwa Maharaja adalah titisan dewa. Peme- gang wahyu kedaton yang tak terkalahkan.

__ADS_1


Aku masih mengingat dengan baik raut wajah Ayahanda saat itu. Matanya merah. Rahangnya mengeras, menahan amarah. Dan entah mengapa, firasat buruk lang- sung hinggap dalam hatiku. Rasanya, itu adalah terakhir kali aku dapat melihat wajah Ayahanda.


__ADS_2