
Putri Rajapatni - Gayatri - 22
Kejadian Sejarah:Prabu Jayakatwang memberikan Hutan Tarik kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian membangun sebu- ah desa yang diberi nama Wilwatikta, atau lebih dikenal dengan Majapahit.
*
Kedatangan Viren keesokan harinya sama sekali tidak menghibur. Apalagi Viren membawa banyak prajurit penjaga. Dia menempatkan prajurit-prajurit itu di sekeliling pondok.
Aku memelotot pada Viren. Ekspresi lugunya me- mancing emosiku. “Bagus. Jadi kalian sekarang mengang- gapku sebagai seorang terpidana.”
Tentu, Viren tidak menanggapi pernyataanku. Aku menyumpahi Raden Wijaya dan semua kekeraskepalaan- nya. Apakah dia masih ingin meneruskan lamaran? Itu adalah ide yang paling konyol. Aku bahkan bersumpah ti- dak akan menikah. Tidak akan ada orang yang akan meng- gunakan kekuasaanku untuk melawannya.
Jadi kenapa dia masih memedulikanku?
Aku memutar kelat bahu emas pemberian Raden Wijaya. Tatahan kerawangnya terlihat halus. Taburan in- tan berkilau memantulkan cahaya. Hingga kini, aku mera- sa tidak pantas menerimanya.
Kali ini, aku ingin meluapkan perasaanku. Kenapa orang-orang selalu memintaku melakukan hal yang tidak kuinginkan? Kenapa aku bahkan tidak bisa mencurahkan isi hati lagi kepada sahabat terbaikku? Aku menarik Viren dan memaksanya mengikutiku. Kami menjauhi pondok. Aku mencari-cari tempat yang sepi dari para prajurit. Ke- tika kami tiba di sebuah tanah lapang, aku berhenti. Aku mondar-mandir dengan gelisah. Viren berdiri di dekatku. Kurasa, dia juga gelisah. Dia menendang-nendang buah maja ke sebuah pohon.
“Arya Virendra ”
“Sendhika, Putri.”
Hatiku perih mendengar jawaban formal itu. Aku se- gera marah dan mengomelinya, “Apa kau tidak bisa sese- kali menolak perintah atasanmu? Kau pikir aku seperti kambing yang akan dicuri, hah? Untuk apa kau ikut-ikutan mengatur penjagaan di sana dan di sini, hah? Apa kau juga sudah gila?”
Di luar dugaan, rentetan omelanku membuat Viren tertawa terbahak-bahak. Aku sampai melongo.
“Sudah berhenti mengambek rupanya,” ujar Viren. “Saya pikir Anda masih marah kepada saya.”
“Bukannya kau yang marah kepadaku? Siapa yang menghindar kalau kita bertemu, hah?”
Viren menyengir dan menggaruk-garuk kepala. “Ya, sudah. Saya meminta maaf.”
“Kalau begitu, segera tarik prajurit-prajurit itu pergi dari sini!”
Viren menggeleng. “Bagaimanapun, di sini sedang di- bangun sebuah desa. Banyak orang akan datang meng- huni desa. Penduduk Desa Majapahit bisa jadi orang baik, atau orang jahat. Siapa pun mereka, kita tidak tahu apa- kah mereka akan mengusikmu atau tidak.”
“Desa Majapahit, ya?” Aku memandang buah itu. “Nama yang aneh.”
__ADS_1
“Yah, ini gara-gara salah seorang prajurit makan buah ini dan rasanya pahit.” Viren menunjuk buah di kaki- nya.
“Konyol.”
“Raden Wijaya langsung setuju.” Ada ejekan dalam nada suara Viren. “Majapahit menurutnya nama yang baik. Karena menurutnya, desa ini menjadi saksi pahit hi- dupnya.”
Aku mendecakkan lidah. Terlalu sentimental. Aku sa- ma sekali tak mengerti apa yang dia sebut sebagai pahit hidup. Apa yang pahit dari hidupnya sebagai pangeran?
“Raden Wijaya memerintahkanku membujukmu kembali.” Viren berkata jujur.
“Tinggal katakan kalau aku tidak bersedia.”
Viren menggaruk kepalanya lagi. “Semoga hukuman- nya tidak seberat hukuman yang diberikan Pangeran Ardaraja.”
Aku mengenali seringaian polos itu. Ah, si Pandir su- dah kembali rupanya.
“Kakang ” Aku merajuk.
“Apa yang membuat Anda tak bersedia?” tuntut Viren. Tak sengaja, pandangannya menangkap kalung di leherku. Dengan satu gerakan, Viren menyambar kalung itu. Dia menggenggam dengan terlalu kencang. Seolah- olah, dia akan meremukkan kalungku.
“Putri masih memakai kalung ini?”
“Sebuah keajaiban, kalung itu masih menggantung di leherku. Aku menyimpannya sebagai pengingat.”
Viren tidak mengatakan apa-apa. Sesaat, dia meni- mang kalungku. Tak terlintas sama sekali di pikiranku, Viren bertindak jauh. Viren mengayunkan tangan lalu me- lemparkan kalungku menembus pepohonan.
Aku memekik kaget. Kemarahanku kembali naik ke ubun-ubun. Wajahku pasti jelek sekali. Aku membelalak- kan mata seraya menuding Viren.
“Mengapa Kakang membuang kalungku?” Aku mena- han tangis. Sentuhan Viren di kepalaku terasa menyengat, menyakitkan. Secara tidak langsung, Viren menyiratkan kalau sudah saatnya membuang semua kenangan kami.
“Putri, sejak kecil, Anda diam-diam mempelajari se- mua tentang politik kerajaan.” Viren mengatakan. “Dari sana, Anda tahu kewajiban. Anda sadar tanggung jawab terhadap negara dan rakyat. Tak ada ajaran tentang cinta dan segala perasaan yang menyertainya.”
Viren langsung mengambil jarak. Wajahku panas se- olah ada api ditempelkan di sana.
“Putri ”
Aku sengaja mendekat kepadanya. Memaksa Viren menatapku. Kemarahan karena perlakuan Raden Wijaya. Kekecewaan karena Viren membuang barang kenangan satu-satunya yang kumiliki. Semua perasaan itu bercam- pur aduk. Hingga aku tak bisa menelaah emosiku sendiri.
__ADS_1
“Baiklah, Kakang. Aku akan menuruti permintaan- mu.” Nada suaraku membuat Viren membeku. Kilat luka terlintas di manik matanya, tapi aku sudah tak peduli lagi.
“Katakan pada Raden Wijaya untuk menjemputku de- ngan layak.” Aku mengertakkan gigi. “Aku ingin dijemput dengan kereta kencana. Aku ingin dia menghadiahkanku pakaian terbaik. Dan aku... tidak mau kembali saat dia mau membanjiri pertiwi dengan darah para prajurit!”
Viren tampak semakin terkejut oleh ucapanku. Ta- ngannya terkulai lemas. Bibirnya bergerak-gerak, tapi ti- dak ada suara keluar dari mulutnya.
Mataku panas, tapi aku tidak mau menangis. Kupan- dang dia seolah-olah sisa kehormatanku ada dalam ucap- an-ucapanku.
“Katakan pada Raden Wijaya untuk bersikap baik pa- da yunda-yundaku. Aku mau, dia bersikap adil sebagai suami dan pelindung.”
“Saya akan menyampaikan semua permintaan Anda.” Ucapan itu terdengar lemah.
“Dan syarat terakhir, Kakang Virendra. Aku ingin mendengar satu pengakuan darimu.” Tatapanku kini be- nar-benar menusuk Viren. “Apa kau memang tak memiliki cinta dan perasaan?”
Butuh waktu lama bagi Viren untuk memikirkannya. Aku melihat Viren menunduk. Rasanya seperti melihat seorang tertuduh di sebuah pengadilan. Berkali-kali, dia mencuri pandang. Tapi luka memupus semua perasaan ri- angku. Aku terlalu kecewa padanya.
“Bagi saya, cinta dan perasaan tidak sebanding de- ngan pengabdian saya sebagai seorang kesatria.”
“Lalu mengapa kau membuang kalung itu? Sebegitu besar kepalakah dirimu, mengira bahwa aku memakainya karena aku menyimpan perasaan kepadamu?”
Oh, Gusti! Aku bersyukur bisa mengutarakan kalimat- kalimat itu dengan lancar. Tenggorokanku kering seke- tika. Dadaku sesak menahan tangis. Aku hampir pingsan saat itu. Mataku berkaca-kaca dan aku tidak bisa menduga jawaban apa yang akan kuterima.
Kenyataannya, Viren tidak menjawabku. Dia hanya meraupku dalam satu pelukan. Pegangannya membuat napasku semakin sesak. Aku baru tahu, Viren bisa me- meluk seperti ini. Aku merasa rapuh. Bahkan aku merasa, tulang-tulangku akan remuk dan aku segera akan hancur.
“Saya tidak akan pernah bisa membohongi Anda, Putri.”
Viren tidak membiarkanku melepaskan diri. Dia tidak membiarkanku memandangnya. Dia hanya memeluk se- olah takkan melepaskanku lagi.
“Kakang!” Aku mengumpulkan semua keberanian yang kumiliki. Luka di hatiku menganga lebar, tapi aku ha- rus mengakuinya.
“Kau memang benar, Kakang. Tidak ada cinta dalam kehidupan seorang putri sepertiku,” kataku lirih. “Aku pernah berharap, kau mau memperjuangkanku. Meski agaknya, aku salah. Kau memilih sumpah untuk melepas- kanku.”
Napas Viren mengentak kepalaku. Pegangannya me- longgar dan aku langsung mendongak untuk melihatnya.
“Maafkan aku, Putri.”
“Perasaan tumbuh dan mekar. Ibarat wijayakusuma. Sekilas merekah sebelum menghilang.” Kata-kataku me- ngalun sedih.
__ADS_1
Viren terdiam, tetapi dia tidak melepaskanku. Em- busan angin menyeruak di antara kami, menerbangkan angan-angan yang terbentuk sesaat. Lalu buyar bagaikan putik-putik Randa Tapak.
“Kumohon, biarkan aku memelukmu sekali ini, Putri.” Viren berbisik di telingaku. Suara yang terlalu lirih, hingga aku merasa suara itu hanya suara sapuan angin.