Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 28


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 28


Tenda-tenda Mongolia berbentuk tabung dengan ujung mengerucut. Ada tempat pendiangan yang cukup besar. Kayu api ditumpuk di dekat sana. Asap mengepul dari sisa-sisa arang.


Para prajurit mondar-mandir dengan membawa tom- bak. Pakaian tempur mereka lengkap. Kepala tertutup pe- lindung logam. Logam yang sama juga ditempelkan di ba- gian lengan dan dada. Lalu menjuntai hingga bawah ping- gang. Helaian bulu menghias puncak helm mereka. Bulu itu melambai-lambai ketika mereka bergerak.


Aku sempat berdecak kagum. Dengan cuaca sepanas ini, mereka mampu bertahan dengan pakaian berat seper- ti itu. Wajah mereka bahkan tidak menampakkan kele- lahan.


Ike Mese tinggal di tenda yang paling besar. Dinding dalam tendanya merah terang, seperti warna kembang se- patu. Sebuah kursi besar ditempatkan di sudut ruangan. Tersampir kulit binatang di atas kursi itu. Beberapa alat penunjang kehidupan sehari-hari terlihat di beberapa tempat. Semuanya terbuat dari logam, keramik, dan kayu. Sebuah vas putih biru berisi sedap malam menghias meja kecil di sudut lain. Memperlihatkan kalau mereka berasal dari bangsa yang beradab.


Ike Mese menjura. Cara bangsa mereka memberi hor- mat. Aku membalas dengan cara yang sama: aku meng- angkat tangan setinggi dada. Kubuat sebuah kepalan, lalu


aku menaruh jemari di atas kepalan tadi. Aku sedikit me- nunduk dan tersenyum. Kutautkan jari di bagian perut. Menunjukkan sikap seorang putri menyambut tamu.


Ekor mataku melirik seorang laki-laki di sebelah Ike Mese. Pakaian laki-laki itu berbeda dari orang-orang Mongolia. Aku menduga, laki-laki itu dari suku lain.


“Saya Luo Shishan, orang Han. Saya datang bersama mereka, sebagai penerjemah,” kata laki-laki itu dalam ba- hasa Jawa.


Luo Shishan memperkenalkan kami secara resmi. Ru- panya, ada tiga orang yang andil mengambil keputusan. Mereka adalah: Ike Mese, Kau Hsing, dan Shih Pi. Kali ini, dua rekan Ike Mese itu berdiri di belakang Ike Mese. Dugaanku, Ike Mese ini boleh jadi hanya juru bicara. Atau mungkin, dialah pemimpin ekspedisi ini.


Dengan sopan, Ike Mese memerintahkan anak buah- nya mempersiapkan tempat duduk untukku. Kami duduk berseberangan. Sementara Luo Shishan berdiri di tengah- tengah untuk melaksanakan tugas menerjemahkan.


“Ada keperluan apa hingga Putri datang kemari?” tanya Ike Mese.

__ADS_1


Aku langsung memberi tanda kepada para dayang. Dayang-dayang itu mengambil kendi tuak. Lalu menyaji- kannya ke hadapan Ike Mese.


“Tuan hendak pergi. Tentu tidak baik jika kami tidak memberikan sedikit oleh-oleh.” Aku memberi senyum ke- mayu hasil latihanku. “Tuak dari Sumenep sangat terkenal di sini. Semoga saja, Tuan menyukainya.”


Aku menunggu reaksi Ike Mese. Mula-mula, dia tam- pak terkejut. Dia memandangku dari atas ke bawah. Ta- ngannya bergerak mengusap berewok di dagunya. Lalu kilat tak senonoh sempat tertangkap dalam pandangan mataku.


Ike Mese tertawa. Tanpa ragu, Ike Mese mengambil sebotol tuak. Dia mengendus-endus ujung kendi. Lalu menghirup tuak itu sedikit.


Dia mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Luo Shishan terlihat memalingkan kepala. Aku sempat me- ngira, Ike Mese tidak menyukai keramahtamahan ini.


“Tuaknya enak sekali. Terima kasih, Putri.” Ike Mese mengelap ujung mulutnya dengan punggung tangan. Aku membalas dengan sebuah sikap anjali.26


“Anda satu-satunya perempuan dari trah Rajasa yang berani datang kemari.”


Aku kembali tersenyum sambil mengangguk sekali. “Begitulah, Tuan.”


“Tuanku Ike Mese memang berpikiran luas. Tentu Tuan bisa menebak, apa tujuan saya datang kemari.”


Ike Mese terbatuk dua kali. Wajahnya memerah ke- tika kembali meneguk tuak dari kendinya.


“Saya telah mengatakan alasan mengapa saya meno- lak permintaan Raden Wijaya,” Ike Mese berkata, “Saya tidak ingin membicarakan hal itu lagi.


26 Anjali = sikap hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan. Jika diletakkan di dada, artinya ditujukan untuk orang yang sederajat. Untuk orang dengan posisi lebih tinggi, tangan naik ke hidung, kening, hingga atas kepala. Putri Gayatri menaruh tangan di dada. Sebagai tanda dia menyatakan diri sederajat dengan Ike Mese, walau Ike Mese seorang tamu dan Putri Gayatri berhadapan dengan seorang laki-laki.

__ADS_1


“Tuan.” Aku berusaha berkata dengan nada setenang mungkin. “Apa yang menyebabkan Anda berpikir, Raden Wijaya akan mengkhianati Anda?”


Ike Mese berpikir sangat keras hingga kupikir alisnya akan menyatu. Dia berbicara dengan Kau Shing dan Shih Pi. Aku melihat mereka mengangguk dan menggeleng. Ketegangan mengalir lewat jemariku yang makin men- dingin. Rupanya, upaya diplomasi sangat melelahkan.


“Psst!” Aku menarik perhatian Luo Shishan. Ketika laki-laki itu menoleh, aku memberi tanda agar dia mende- kat. “Apa yang sedang mereka bicarakan?” Aku berbisik lirih. Berusaha tidak ketahuan.


Luo Shishan melirik ketiga komandan itu. Dia meng- geleng-geleng. Aku menangkap kata “jaminan” lewat ge- rak bibir Luo Shi Shan.


Merasa kesal, aku memperhatikan Ike Mese lagi. Kilat tak senonoh itu sempat melintas dan aku merasa jijik. Aku sempat ingin pergi. Tapi kesempatan tidak datang dua kali. Otakku berpikir keras. Berusaha mencari cara agar berhasil. Jaminan... jaminan... jaminan....


Pandangan kotor Ike Mese bisa jadi keuntungan. Aku menarik napas. Sebuah ide kini melintas di kepalaku. Raden Wijaya akan marah jika tahu, aku mengingatkan diri.


Tetapi, kutarik selendangku ke bawah. Kubiarkan ba- gian atas tubuhku terekspos mata binal itu. Hanya sedetik, tapi cukup membuat Ike Mese menahan air liur.


Aku berdeham sekali. Ike Mese terlihat menelan lu- dah. Matanya memelotot tak percaya. Mulutnya terbuka tanpa bisa mengatakan apa-apa.


“Jika Anda semua memerlukan jaminan, saya ber- sedia menjadi jaminan.” Aku memberi tanda agar Luo Shishan menerjemahkan.


Ike Mese seketika menunduk malu. Orang-orang di sekitarnya masih berunding. Tetapi Ike Mese langsung berkata lantang, “Saya akan mempertimbangkan usul ini.” Naluri membuatku menggerakkan untaian rambut.


Sikapku ini membuat Ike Mese semakin panas dingin. Dia bergerak gelisah, kakinya gemetar entah karena apa.


Aku memberi tanda kepada Luo Shishan untuk men- dekat. “Katakan ini kepada Ike Mese,” kataku, masih ber- bisik. “Yundaku masih lebih cantik daripada aku. Kami berdua masih lajang. Dengan senang hati, aku memper- silakan Ike Mese menulis surat untuk Raden Wijaya. Bantuan Mongolia akan ditukarkan dengan dua putri Ja- wa. Setelah kita memenangkan perang, dia boleh memilih, apakah akan menyerahkan kami kepada Kubilai Khan, atau dia mengambil kami sebagai miliknya sendiri.”

__ADS_1


Luo Shishan bergerak cepat. Dia membisikkan kali- matku di telinga Ike Mese. Seperti dugaanku, laki-laki Mongolia itu langsung terkekeh saking senangnya.


“Tawaran Anda sulit ditolak, Putri Gayatri,” tantang- nya. “Kau Hsing, Shih Pi, Putri Cantik ini benar-benar diplomat cerdik. Kupikir, kita memang harus menguji ke- setiaan Raden Wijaya melalui perang itu. Kalian sepemiki- ran denganku, bukan?”


__ADS_2