Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 16


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 16


Catatan Sejarah:Beberapa sumber mengatakan: Putri Gayatri dan Put- ri Pradnya Paramitha ditawan oleh Prabu Jayakatwang. Raden Wijaya yang kemudian membebaskan mereka.


*


Waktu sungguh aneh. Pagi datang, siang bergan- ti. Senja sering terasa lama saat aku menganggur. Namun, hari-hari berlari dengan cepat. Tanpa sadar, bulan dan tahun pun berganti. Saat kupandang purnama untuk kese- kian kali, aku tersenyum. Kejadian masa lalu telah ber- ubah menjadi kenangan. Cinta dan benci. Luka dan seng- sara. Semua itu telah berlalu. Saatnya kini memulai lem- baran yang baru.


Pradnya sering membawa kabar untukku. Situasi pasca perang tidak begitu baik. Rakyat berjuang keras un- tuk bisa bertahan hidup. Sementara di dalam istana, para pejabat sibuk mempertahankan posisi mereka. Aku se- nang tidak menjadi bagian dari mereka. Dunia kecilku sa- ngat aman. Bibi Terukbali mencukupkan semua kebutuh- anku.


Sandang dan pangan tidak pernah kurang. Tapi ser- pihan hatiku telanjur terserak. Setiap kali Viren datang, perasaanku akan guncang. Terlebih lagi, setelah kejadian dulu, Viren semakin menjaga jarak dariku. Bahkan Prad-


nya tahu, ada masalah di antara kami. Baik Viren maupun aku enggan membuka suara. Kapan pun kami bertemu, kami akan saling menghindar.


Hari-hari berikutnya semakin melenakan. Aku larut dalam keterbatasan materi. Tidak memikirkan lagi ten- tang kemewahan dalam istana. Sesekali, aku datang ke pertapaan para bhiksuni. Dengan senang hati, mereka akan menceritakan tentang kisah-kisah Buddha. Favorit- ku adalah cerita Jataka—perjalanan jiwa sang tataghata20 sebelum terlahir menjadi Siddharta Gautama.


Aku berharap, kedamaian ini akan berlangsung sela- manya. Meski sebagian hati kecilku mengatakan, itu ha- nyalah harapan gombal.


Pagi ini, aku baru selesai mencuci pakaian. Suara ri- but-ribut terdengar dari jauh. Derap kuda berbaur dengan obrolan orang-orang. Heran, siapakah orang-orang yang datang ke tengah hutan begini? Apakah itu Sakka dan anak buahnya? Tapi Sakka baru saja berkunjung. Kun- jungan berikut harusnya beberapa minggu lagi.


Waspada, aku bergerak ke belakang sebatang pohon. Mataku mengintip keramaian yang mulai tampak. Rupa- nya, ada rombongan yang datang ke dalam hutan. Banyak lelaki mengayunkan kapak. Pohon-pohon segera tumbang dengan suara berderak. Beberapa prajurit tampak meng- awasi proses penebangan hutan. Ada beberapa undagi yang berkeliling sambil menggoreskan sesuatu—menu- lis—di atas kulit.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


20 Tataghata = penunjuk jalan. Salah satu sebutan untuk Buddha Gautama.


Aku tentu takut. Orang-orang ini bisa jadi orang jahat. Mereka bisa menangkapku. Atau mereka bisa melakukan sesuatu yang mencelakakanku. Pikiran warasku memper- ingatkan. Sebelum mereka mengetahui keberadaanku, aku harus segera kabur.


Aku segera mundur sambil menggenggam erat bakul cucian. Aku tidak sadar kalau aku menginjak ranting. Suara kretek timbul dari ranting yang patah. Pemimpin prajurit pun menoleh. Aku mengenali raut wajah yang tampak garang itu.


Gusti! Itu wajah Ranggalawe! “Siapa di sana?”


Ranggalawe celingukan mencari asal suara. Kerisnya terhunus di tangan. Tampak sangat siaga. Tatapan Rang- galawe sempat tertuju ke tempatku bersembunyi. Aku menyembunyikan wajah. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari sekencang-kencangnya. Tidak kupedulikan teriak- an Ranggalawe di belakang. Aku tahu, dia mengikutiku.

__ADS_1


Otakku berpikir keras agar bisa lolos dari pengikut Raden Wijaya itu. Saat langkahnya sudah dekat, aku me- nemukan semak-semak tinggi. Waktu yang sempit segera kupergunakan untuk bersembunyi lagi.


“Apakah Anda Putri Gayatri? Keluarlah, saya tidak akan menyakiti Anda.”


Teriakannya terdengar bergema. Tengkukku merin- ding seketika. Bertemu Ranggalawe tidak pernah menjadi bagian rencanaku. Kuharap dia dan Raden Wijaya meng- anggapku sudah mati. Toh, junjungannya itu sudah mene- mukan banyak pelabuhan hati.


Ranggalawe mondar-mandir sejenak di dekat semak- semak tinggi. Untungnya, dia tidak berniat menebas semak untuk mencariku. Aku baru berani keluar saat suara langkah Ranggalawe tidak terdengar lagi. Kupaksa kakiku berlari secepat mungkin. Pondok sudah dekat. Ratih bisa melindungiku di sana.


Ratih tampak kaget melihat keadaanku. Napasku ngos-ngosan. Rambutku awut-awutan. Dadaku seketika sesak. Mengingat serpihan hatiku yang terkoyak oleh Raden Wijaya.


Aku menceritakan semua yang kulihat, “Orang-orang menebangi pohon untuk membuka hutan. Beberapa terli- hat sebagai undagi yang sedang merencanakan pemba- ngunan.”


Ratih menggigiti kuku. “Bagaimana mungkin ada pembangunan di wilayah terpencil begini? Apakah mung- kin—” Wajah Ratih tampak pias. Sepertinya dia meng- ingat sesuatu yang sangat penting.


“Kanda Sakka mengatakan sesuatu saat terakhir kali kemari.” Ratih mengembuskan napas gelisah, “Kanda mengatakan kalau Raden Wijaya telah mendapatkan izin untuk membuka hutan. Hanya saja, Kanda tidak tahu Raden Wijaya akan membuka hutan mana.“


“Duh, Ida Sang Hyang Widhi,” keluhku. “Mengapa Raden Wijaya harus membuka hutan ini?”


Aku menahan napas. Kegelisahan di mata Ratih ter- tangkap di mataku. Firasat buruk melilit perutku. Semua terasa tidak beres. Terlebih lagi, saat itu terdengar gemerisik yang semakin dekat. Jelas sekali, ada seseorang se- dang melangkah dengan terburu-buru.


“Permisi! Ada orangkah di sini?” Suara Ranggalawe terdengar keras.


Dingin menjalari tanganku. Ratih mencoba mene- nangkan, tapi wajahnya masih pucat. Ratih menggeleng cepat. Dia memberi isyarat agar aku bersembunyi. Sambil menelan ludah, aku beranjak ke bagian paling tersembu- nyi di pondok. Dari lubang gedek sudut ini, kejadian di luar bisa terlihat jelas. Namun orang di luar tidak akan melihatku.


“Permisi!” Ranggalawe berteriak lagi, “Tadi saya me- lihat seorang gadis yang berlari ke sini! Bisakah saya menemuinya?”


Aku bersyukur, sandiwara Ratih cukup mumpuni. Dia tampak tegar menghadapi Ranggalawe. Meski laki-laki itu bertubuh tinggi besar dengan sorot mata menakutkan.


“Ah, siapakah Kisanak ini?” Dia berkata tenang, “Mungkin, gadis yang Kisanak maksud adalah saya.”


Ranggalawe terdiam sejenak. Dia memperhatikan Ratih dari atas ke bawah. “Sepertinya perempuan itu tidak hamil.”


Ratih tertawa seraya menepiskan tangan. “Ah, Kisa- nak ini bisa saja! Apakah saya sekurus itu? Atau jangan- jangan, Kisanak tadi melihat wewe? Dengar-dengar, di hu- tan ini memang ada penunggunya.”

__ADS_1


Perkataan Ratih, mau tidak mau, turut membuat Ranggalawe tertawa. Suasana menjadi cair setelah itu. Ratih malah sempat menanyakan tentang keramaian di bagian lain hutan. Dengan senang hati, Ranggalawe menjelaskan. Dia bahkan menyuruh Ratih pindah jika pemu- kiman tersebut telah selesai.


“Apakah Nyisanak penduduk asli sini?”


“Benar sekali. Sudah bertahun-tahun saya tinggal di sini. Tidak ada orang lain selain saya.”


“Mungkin saya yang salah lihat,” kata Ranggalawe tanpa berusaha menyembunyikan semangatnya. “Tapi ka- lau suatu saat Nyisanak melihat seorang gadis ayu, tolong segera kabari saya. Gadis itu adalah seseorang yang sa- ngat penting.”


“Gadis ayu di tengah hutan begini?” Ratih masih ber- usaha mengelak.


Ranggalawe menoleh ke kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang lain di sana. “Dengarkan saya, Nyi. Ada selentingan bahwa Putri Gayatri ada di hutan ini. Kalau memang benar, maka saya harus segera melaporkannya pada junjungan saya.”


Ratih kembali tertawa. “Sayang sekali, Kisanak. Selen- tingan itu salah. Tidak ada yang namanya Putri Gayatri di sini.” Ketenangan dalam suara Ratih membuatku kagum.


“Saya pastikan tidak ada perempuan lain di hutan ini selain saya.”


“Raden Wijaya masih kalang kabut mencarinya, Nyi.” Ada kesedihan tersirat dari ucapan itu. “Tidak ada orang yang pernah melihat jenazahnya. Tak ada yang pernah menjumpainya. Seolah-olah, Putri Gayatri memang hilang ditelan bumi.”


“Mungkin saja, memang itu yang terjadi.”


“Saya harap tidak.” Ranggalawe berkata muram, lalu tertawa. “Maafkan saya. Sepertinya, saya terlalu terbawa suasana. Maaf telah mengganggu. Saya pamit dulu.”


Tanpa berbicara lagi, Ranggalawe segera berbalik lalu melangkah menjauhi pondok. Ratih menunggu hingga Ranggalawe benar-benar menghilang. Barulah setelah itu, dia menghampiriku.


Tangisku pecah di dada Ratih. Serpihan hati yang sudah koyak semakin robek oleh kenangan. Perkataan Ranggalawe menumbuhkan harapan yang kutahu akan semakin melukaiku.


Raden Wijaya kalang kabut mencariku. Ini sungguh- an, tapi....


Aku mengingatkan diri. Raden Wijaya hanyalah bagi- an masa laluku. Bayangannya kembali hanya untuk kule- paskan lagi. Baik itu Raden Wijaya maupun Arya Virendra. Mereka berdua tidak ada yang ditakdirkan untukku. Satu membagi hati kepada gadis-gadis lain. Satu lagi sama se- kali tidak mau membagi hati denganku.


Gayatri, Gayatri.


Kuejek diriku sendiri. Gadis pengkhayal yang pernah terpesona kegagahan Panji Asmarabangun. Kenyataan- nya, di dunia ini tidak ada Panji Asmarabangun. Semua itu hanya cerita yang membuai pikiran.

__ADS_1


__ADS_2