Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 26


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 26


Pencerahan yang kudapat dari lontar itu sungguh luar biasa. Aku segera mengucapkan terima ka- sih kepada Empu Ragarunting. Keesokan harinya, aku memutuskan menulis surat kepada Raden Wijaya. Ada banyak hal yang berputar di kepalaku. Tapi tampaknya, kata-kata itu tidak bisa kutuangkan melalui kalam25. Beberapa kali, aku melempar lontar yang sudah kucoret- coret karena isinya tidak sesuai keinginanku.


Alih-alih menuliskan surat yang manis, aku akhirnya hanya bisa menuliskan satu kalimat:


Silakan menemui saya di Sagala. Gayatri.


Balasan yang kuterima sungguh membuatku malu. Raden Wijaya mengirimkan sehelai batik pesisir, selen- dang sutra merah jambu, beserta beberapa perhiasan.


Putri terkasih,


Sesungguhnya aku ingin memberikan seisi dunia ke- padamu.


Namun, mengingat situasi saat ini tidak memungkinkan,


Aku hanya bisa memberikan beberapa hadiah kecil.


25 Kalam = alat untuk menulis lontar.


Aku ingin melihatmu mengenakannya.


Aku menunggumu, Hai, Putri secantik bidadari. Kekasihmu,


Sanggrama Wijaya.


Setelah keluar istana, ini pertama kalinya aku ber- dandan. Ratih dan para murid perempuan membantuku melilitkan batik bermotif bunga-bunga. Selendang merah jambu disampirkan di dadaku. Lalu Ratih memasangkan subang emas di telingaku.


Ratih membuat pusung gonjer di puncak kepalaku. Lalu menghiasnya dengan seruni bungur dan melati segar yang dipetik dari halaman.


Kesibukan para perempuan ternyata menarik perha- tian. Suara-suara yang kami timbulkan membuat para le- laki penasaran. Curadharma dan para murid lelaki hanya geleng-geleng. Senyum tak lepas dari bibir mereka. Ke- gembiraan kami rupanya menular.


Di luar dugaanku, Raden Wijaya datang tak lama ke- mudian. Dia dikawal Ranggalawe dan Gajah Biru. Rambut panjangnya berkibar saat kuda putihnya bergerak. Hari ini, dia hanya mengenakan batik sederhana dan destar. Otot dadanya terlihat jelas. Beberapa murid perempuan menahan napas sambil diam-diam mencuri pandang.


Aku sendiri terpukau melihat kuda putihnya. Pung- gung kuda itu tinggi dan tegap. Surainya bersinar keemas- an. Saking terpukaunya, aku lupa memperhatikan Raden Wijaya. Beberapa dehaman akhirnya menarik perhatian- ku.


Raden Wijaya turun dari kuda. Matanya berbinar saat menatapku dari atas ke bawah. Aku merasa pandangan


Raden Wijaya saat itu seolah menerawangku. Ini pertama kali aku malu karena merasa begitu terbuka.


“Anda datang menjemputku?” Ini pertanyaan bodoh.


Aku menepuk jidatku.

__ADS_1


“Perjalanannya cukup jauh.” Raden Wijaya melam- baikan tangan. Seorang prajurit segera datang menghela seekor kuda. Kuda yang ini lebih mungil dari kuda-kuda lain. Bulunya cokelat, dengan totol-totol putih di lehernya.


Raden Wijaya mengambil tali kekang kuda  cokelat itu. Diangsurkannya tali kekang itu ke tanganku.


“Naiklah!”


Bisik-bisik para murid perempuan saat itu, tak urung membuatku mengeluarkan protes keras.


“Pangeran.” Aku mengernyit sambil cemberut. “Saya sudah mengatakan agar kita langsung bertemu di Sagala.”


“Kalau kau berjalan kaki, akan butuh waktu sampai senja.” Raden Wijaya menyerahkan cambuk kecil ke tanganku. “Aku tidak suka mengulang perintah. Naiklah!”


Perintah? Aku makin cemberut saat dia mengatakan hal itu. Dengan enggan, aku naik ke punggung si kuda cokelat. Dia manis dan jinak. Dia langsung mendengkur senang saat kugelitik belakang telinganya. Dari dulu, aku suka kuda. Jadi ini sangat menyenangkan.


“Ayo, Putri. Sekarang bukan waktunya bermain.”


Aku merutuk kesal. Raden Wijaya ini paling pandai merusak suasana hati orang. Masih jengkel, aku menepuk bokong kuda itu keras-keras. Tak peduli Raden Wijaya be- lum memerintahkan rombongan untuk berangkat.


“Saya berangkat duluan, Pangeran!” teriakku. “Heiya- aaaah! Ckckck!”


Aku memacu kudaku. Dengan cepat, kuda itu mele- wati jalan depan padepokan. Kekesalan hatiku berkurang saat aku merasakan embusan angin dan goyangan pung- gung kuda yang terasa akrab.


Aku tertawa keras-keras. Aku ingat, ini adalah saat di mana aku merasa paling bebas. Dulu, aku suka berkuda untuk menghabiskan waktu. Di atas kuda, aku bisa ber- gerak bebas. Tak perlu mengindahkan orang di sekitar. Apalagi dunia.


Tindakanku ini agaknya memancing emosi Raden Wijaya. Pangeran itu berteriak, memerintahkan kudanya melesat secepat mungkin. Gerakan kuda putih itu lebih gesit. Pastilah dia tunggangan perang. Dengan segera, ku- da putih itu mengejar kudaku. Aku menoleh dan cembe- rut. Raden Wijaya telah berhasil menyusul.


“Putri! Apa yang sedang kaulakukan?” teriaknya ma-


rah.


“Entahlah, Pangeran.” Aku tak dapat menahan tawa


ketika melihat wajahnya. Aku melecutkan cambuk di ta- ngan. Berusaha menang darinya.


Barisan pohon terlewat. Kami kini menuju padang rumput luas dengan hamparan ratna. Aku terpesona meli- hat pemandangan itu. Hijau berpadu ungu berkelebat in- dah. Sementara langit cerah memayungi kami.


“Berhentilah, Putri!”


“Tidak mau!”


Aku terus memerintahkan kuda tungganganku ber- lari. Kali ini, kesabaran Raden Wijaya telah habis. Sebuah cambukan keras membuat kudanya meringkik. Kaki de- pan kuda itu terangkat tinggi.


Ringkikan kuda putih itu membuat kudaku ikut me- lompat karena kaget. Aku tidak cukup siap untuk ber- tahan di atas punggungnya. Rasanya semua begitu cepat saat aku tersentak lalu terlempar. Aku memejamkan mata, bersiap untuk cedera yang parah. Namun anehnya, aku tidak celaka. Tubuhku sempat terguling sekali. Lalu tahu- tahu saja, aku sudah berbaring di atas rumpun-rumpun bunga ratna.

__ADS_1


Mata Raden Wijaya bersirobok dengan mataku. Ujung hidungnya bersentuhan dengan hidungku. Keha- ngatan Raden Wijaya melingkupiku. Gusti, jantungku ber- dentam-dentam seperti hendak berhenti.


“Kapan kau akan belajar mendengarkanku?”


Suara itu menyadarkanku. Wajahku memanas saat tahu ini jarak yang terlalu dekat. Dia tidak berniat meng- ambil jarak. Sementara aku tak berdaya di bawahnya. Ka- mi berdua terengah-engah. Tak mampu berkata-kata.


Raden Wijaya akhirnya menarik diri. Aku pun bang- kit untuk berselonjor. Raden Wijaya terbatuk sekali. Dia mengamatiku. Memastikan aku tidak terluka.


“Mengapa kau tak pernah berusaha menurut?” “Karena Anda sendiri tidak mendengarkan saya.”


Dua kuda kami kini sedang asyik merumput. Aku mengamati sekitar. Tangkai-tangkai ratna bergoyang- goyang diterpa angin. Kami duduk di tengah-tengahnya.


“Saya ingin berziarah. Karena itu, saya meminta ber- temu di Sagala.” Napasku terengah-engah. “Saya belum pernah pergi ke tempat perabuan Ayahanda dan Ibunda.”


“Jadi kau tidak mengizinkan aku menemanimu?” “Bisa dibilang begitu.”


“Putri, semua sudah sangat sulit bagiku. Tidak bisa- kah kuminta dirimu sedikit membantu?” Raden Wijaya bangkit. Dia mengibaskan rumput dari dadanya. “Paling tidak, berusahalah untuk tidak membuatku khawatir.”


“Saya? Bagaimana mungkin, saya bisa membuat Pangeran khawatir?”


Raden Wijaya mendengkus jengkel. “Di mana Gajah Biru dan Ranggalawe? Mengapa mereka lambat sekali?”


Aku turut bangkit dan membersihkan pakaianku. “Melihat gerak-gerik Pangeran, agaknya Anda memang se- dang mengalami hari-hari yang buruk.”


Raden Wijaya menghela napas. Tanpa berkata apa- apa, dia duduk dengan wajah gusar. Aku tak mampu me- nahan tawa. Terlebih saat melihat sehelai rumput yang menempel di salah satu bagian rambutnya.


“Kalau begini, Anda terlihat lucu sekali.”


“Apa yang lucu dariku?” Raden Wijaya tersinggung. “Itu ” Aku menunjuk untuk memberi isyarat. Namun


Raden Wijaya tidak mengerti. Kuulang isyarat itu, tapi dia membalasku dengan kernyitan kesal.


Tak tahan lagi, aku mendekati Raden Wijaya. Ta- nganku bergerak mencabut helai rumput bandel yang me- nempel di rambutnya.


“Ini yang kumaksud,” Aku berkata sambil menyengir. “Ketampanan Anda bisa menghilang karena sehelai rum- put.”


Raden Wijaya tidak membiarkanku beranjak. Dia mencekal tanganku yang masih menggenggam rumput. Pandangan kami beradu. Keheningan kembali memacu jantungku. Terlalu mendebarkan. Napas kami kian dekat. Semakin dekat saat dia akhirnya menghapus jarak di an- tara kami.


Seumur hidup, yang pernah mengecupku di wajah hanya Ibunda. Beliau selalu mencium keningku saat se- lesai menceritakan sebuah dongeng. Dan aku akan merasa damai lewat kontak itu. Seolah-olah aku akan bermimpi indah saat telah tertidur lelap.


Namun kali ini, sentuhan Raden Wijaya membuatku tenggelam dalam dunianya. Seakan-akan aku sedang ha- nyut, larut dalam sebuah mimpi. Padahal aku sedang ter- jaga. Ciuman itu tidak mencerminkan kelembutan. Itu adalah curahan semua kegusaran yang bercampur aduk dengan kerinduan yang selalu dia katakan.


Banyak letupan kecil, muncul satu per satu seperti gelembung-gelembung di atas air yang mendidih. Ada rasa yang menghangatkan hatiku seperti cahaya matahari. Aku merasa, hubungan ini bergerak ke arah yang lebih da- lam. Terlalu dalam hingga aku merasa takut. Sesuatu ber- golak dalam perutku. Sebuah perasaan asing yang baru pertama kali ini kukecap.

__ADS_1


Aneh sekali.


__ADS_2