Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 3


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 3


Hari belumlah beranjak siang. Aku sedang asyik berbaring ketika mendengar pintu kamar diketuk berkali- kali.


“Bangunlah, Yunda Gayatri. Seluruh penghuni istana telah siap di balairung agung.”


Suara lembut itu adalah suara Maha. Ketukan pintu semakin keras dan cepat, tapi aku sungguh enggan beran- jak dari tempat tidur. Kisah Mahabharata yang aku baca sedang memasuki bagian yang menarik. Aku tidak ingin berhenti membaca hanya karena kewajiban datang ke upacara penyucian batu prasasti.


“Apakah Dinda sudah selesai berdandan?” Pradnya ikut-ikutan membujukku.


Dengan enggan, aku meletakkan lontar yang sedang asyik kubaca ke atas meja. Benar-benar menjengkelkan. Padahal aku baru menikmati bagian saat Dewi Rukmini menulis surat cinta untuk Dewa Krisna.


Pekikan Pradnya seketika menyambutku saat aku membuka pintu. Kulihat para dayang geleng-geleng sambil menahan senyum. Tak melewatkan kesempatan, Pradnya langsung memelotot sambil meluncurkan omel- an.


“Ya ampun, Dinda! Apakah kau baru bangun tidur? Bukankah Ayahanda telah menegaskan kalau semua putri harus hadir saat upacara penyucian? Bisa-bisa Ayahanda


menyalahkanmu jika terjadi sesuatu dalam pembuatan prasasti itu.”


“Ayahanda tidak akan memperhatikan sebuah bang- ku di tingkat empat, Yunda Pradnya,” kuapku. Aku berniat kembali ke tempat tidur, tapi Maha mencubit lenganku.


“Aduh, sakit, Dinda!” protesku.


“Di antara para putri, kaulah yang paling sering kena hukuman. Mau kena hukuman lagi?” Pradnya mengingat- kan.


Duh. Aku menggosok-gosok lengan. Cubitan Maha pe- das sekali. Heran, tenaganya kok kuat begini.


“Tidak bisakah kalian mengatakan kalau aku sedang sakit flu dan semacamnya?”

__ADS_1


“Tidaaak!” pekik Pradnya dan Maha kompak.


Aku menyengir. Ingin menghindar lagi. Namun, ta- nganku telah ditahan oleh Pradnya. Dengan lincah, Gendis memilih-milih kain di lemari. Pakaianku sebenarnya tidak banyak. Karena itu, Gendis tampak bingung. Tidak mene- mukan mana yang cukup pantas untuk sebuah upacara agung.


“Kain mana yang ingin Gusti kenakan?”


“Yang mana, ya? Mungkin kain yang kukenakan wak- tu acara Kathina5 tahun lalu?”


“Aku tidak setuju. Warna kainnya sudah memudar. Yunda bisa ditertawakan oleh para lelaki.” Pradnya lang- sung menggeleng keras.


“Memangnya apa urusan mereka menertawaiku?”


5 Dana untuk para bhiksu


Pradnya mencibir. Aku menyengir untuk membalas. Maha kemudian kembali menggeleng dengan sikap meng- ingatkan.


“Bersikap seperti seorang putri dan berpakaian dengan pantas maksudmu?”


“Betul sekali.” Maha mengambil salah satu batik yang terlihat lebih baru. “Nah, kain ini kelihatan lebih bagus. Sepertinya kau baru mengenakannya sekali.”


“Sutra Cina hadiah dari Raden Wijaya itu akan sangat cocok kaukenakan, Dinda.” Tanpa basa-basi, Pradnya langsung ikut-ikutan menyarankan.


“Hah? Sutra Cina?”


“Ah, Dinda ini pelupa! Dinda ingat, kan, waktu Raden Wijaya datang ke istana mempersembahkan upeti dari Suwarnabumi? Waktu itu, Raden Wijaya juga membawa oleh-oleh untuk para putri. Aku sempat mengintip sedi- kit.” Pradnya cekikikan. Aku langsung memelotot mem- protes ketidaksopanannya.


“Pokoknya aku melihat ada kain yang bagus sekali. Karena tidak menemukannya di petiku, aku menebak- nebak siapa yang mendapatkan kain itu. Yunda Tribuaneswari tidak pernah mengenakannya. Demikian dengan Yunda Narendraduhita. Kutanyakan Dinda Maha, dan dia pun bilang, kain itu tidak ada padanya. Jadi, te- bakan terakhirku kalau bukan Dinda Gayatri, ya siapa lagi?”

__ADS_1


“Dasar!” Aku mendecakkan lidah. Aku lantas mende- kat ke lemari lalu menemukan peti jati yang sebelumnya kuabaikan. Aku baru ingat, pernah menerima hadiah ini dari Raden Wijaya. Saat itu, Raden Wijaya baru kembali dari Suwarnabumi. Sambutan baginya sangatlah riuh. Bahkan rakyat mengelu-elukan keberhasilan Raden Wi- jaya menyelesaikan Ekspedisi Pamalayu.


Peti oleh-oleh ini adalah bagian kecil dari keberhasil- an Raden Wijaya menaklukkan negeri itu. Yunda-Yunda- ku juga mendapatkan peti serupa. Aku menebak, pastilah isi peti Tri yang paling bagus. Sementara aku hanya keba- gian sisa-sisanya saja. Jadi, wajar saja, tho, kuabaikan peti ini. Memangnya siapa yang mau kebagian sisa-sisa saja, huh!


Tetapi hari ini, karena merasa tidak ada pilihan lain, aku membuka peti itu dan menemukan selembar kain me- ngilat. Kain itu begitu lembut membelai tanganku. Benar. Warnanya kuning cempaka. Sama seperti warna kesuka- anku. Sutra itu adalah kain terindah yang pernah kulihat. Teknik tenun dan pewarnaan di Singasari belum mampu menghasilkan warna dan tekstur sehalus ini.


“Ya ampun, ternyata benar! Kain sutra itu diberikan kepadamu!” pekik Pradnya lagi, ”Kok bisa, ya? Aduh, kain- nya bagus sekali! Coba periksa yang lainnya, Dinda! Aku mau lihat juga!”


Didorong rasa penasaran, aku membongkar seluruh peti pemberian Raden Wijaya itu. Selain sutra tadi, aku menemukan barang lain.


“Astaga, tusuk konde itu indah sekali!” Pradnya me- mekik gembira. “Ini lebih indah dari gelang emas yang dia berikan kepadaku!”


Aku meraih sebuah tusuk konde perak yang diukir amat halus. Bagian tengahnya dihiasi batu hijau lembut. Ada beberapa permata berjuntai di satu sisi. Indah sekali.


Dan bentuknya kupu-kupu. Binatang yang paling kusukai di dunia ini.


Aku menghela napas. Apa yang sedang pangeran itu lakukan? Apakah dia sedang mencoba mengamankan po- sisi dengan merebut hati kami, putri-putri Kertanegara? Tidak cukupkah mencari muka hanya kepada Tri dan Nare?


Banyak prasangka sempat berseliweran di dalam kepala. Ketika sangkakala berbunyi, aku langsung panik. Upacara akan segera dimulai sementara aku bahkan be- lum berganti pakaian.


“Dewa Batara!” Pradnya langsung memberi tanda kepada para dayang untuk membantu. Dia sendiri meng- ambil sisir lalu mengatur rambutku. Masih menimang tu- suk konde itu, kubiarkan saja para dayang menggantikan pakaianku. Mereka memakaikan kalung-kalung emas be- sar yang menutup bagian dada. Pradnya membentuk pusung gonjer6 lalu menghiasnya dengan kembang-kem- bang emas.


Kupandang wajahku di depan cermin. Sulaman kupu- kupu di bagian bawah selendang sutraku terlihat indah. Warnanya sesuai dengan bunga-bunga jingga yang dise- matkan di kepalaku. Tanpa sadar, aku menambahkan tu- suk konde sebagai sentuhan akhir. Kupu-kupu itu terlihat menonjol di antara kembang-kembang emas. Tiba-tiba mengingatkanku pada seseorang yang menjadi pusat per- hatian di kalangan para putri.


6 Sanggul tradisional di mana sebagian rambut masih dibiarkan terurai. Biasanya untuk gadis-gadis yang belum menikah.


“Kelakuanmu itu sungguh tidak pantas.” Suara dari masa lalu itu tiba-tiba mengusikku, “Seorang putri seha- rusnya gadis yang manis dan lemah lembut.”

__ADS_1


Itu suara Raden Nararya Sanggrama Wijaya. Pange- ran yang selalu mengganggu dan merusak suasana hati- ku. Aku sungguh-sungguh tidak mengenal siapa dirinya. Bahkan sedari pertama kami bertemu.


__ADS_2