Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 12


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 12


Rasanya menakutkan melihat laga Bharata- yudha seolah terbentang di depan mata. Singasari ber- hadapan dengan Kadiri. Seperti Pandawa dan Korawa. Dua bersaudara yang terikat erat oleh dendam. Kalah jadi debu. Menang jadi arang. Prajurit bertempur. Bangsawan diserbu musuh. Rakyat jelata berjuang hanya untuk menyelamatkan hidup.


Kotaraja yang tadinya meriah kini menjadi rusuh. Kabar serbuan Gelang-Gelang telah tersebar seantero ne- geri. Semua orang sibuk berkemas. Mereka mencari cara melarikan diri. Tempat yang aman sulit sekali dicari karena nyaris semua pasukan pelindung diperintahkan menghabisi para pemberontak.


Istana dijaga oleh pasukan pengawal raja dan satu kompi pasukan. Jumlahnya tidak seberapa. Namun, Ayah- anda sangat percaya kalau penjagaan itu cukup bagi kami. Toh, para dewa melindungi kami semua.


Aku sedang berlutut di kuil belakang istana. Kece- masan membuatku memilih membaca dharani perlin- dungan. Para Dharmadyaksa ri Kasogatan17 ikut mendam- pingi. Para bhiksu dan bhiksuni terus memutar tasbih sambil memohon kewelasasihan agar peperangan ber- henti.


17 Dharmadyaksa ri Kasogatan adalah pejabat-pejabat


yang bertanggung jawab dalam urusan keagamaan (agama Buddha).


Itu adalah hari kedua setelah pasukan Raden Wijaya berangkat ke utara.


Suara-suara gemuruh peperangan terdengar kian mengerikan. Kotaraja telah dimasuki oleh pasukan pem- berontak. Gerbang istana hancur oleh terjangan balok kayu. Pasukan berkuda, pasukan panah, juga pasukan- pasukan lain, menyerbu dengan ganas.


Rupanya, pasukan yang menyerang di utara hanyalah pasukan jaran guyang. Pasukan ini dikirimkan untuk mengalihkan perhatian. Setelah itu, pasukan ini menyi- bukkan angkatan perang Singasari hingga tidak bisa kem- bali.


Pasukan utama para pemberontak dipimpin langsung oleh Paman Jayakatwang. Mereka menyerang kotaraja untuk merebut istana. Tak ketinggalan, para bramacorah bertopeng turut meramaikan suasana. Selain menyerbu, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam kepada rakyat kecil. Tanpa ampun, mereka men- jarah semua yang bisa dirampas. Siapa pun yang mela- wan, akan segera kehilangan nyawa.


Kekacauan terjadi di mana-mana. Panah api beter- bangan di angkasa. Teriakan perkelahian dan jerit kema- tian memenuhi udara.


“Gusti Putri, kita harus segera pergi!”


Aku berhenti membaca dharani. Tak ingin membuang waktu, Gendis menarik tanganku. Di tangannya sudah ada dua buntalan kain berisi keperluan kami.


“Di mana putri-putri yang lain?”

__ADS_1


“Putri Tribuaneswari dan Narendraduhita sudah ke- luar dari istana,” kata Gendis, “Putri Pradnya Paramitha masih tertahan di halaman keputrian.”


Aku menarik napas panjang. Prahara tidak terhindar- kan. Pilihannya hanya menyerah atau berjuang. Tanganku terangkat ke puncak kepala. Dengan satu tarikan, meng- ambil cundrik18 dari rambutku.


Aku mendapatkan cundrik itu setelah aku menerima datang bulan pertama. Keris mungil itu diserahkan Ayah- anda langsung ke tanganku. Ini adalah senjata terakhir seorang perempuan yang terancam kehormatannya.


“Kita cari Yunda Pradnya dulu.” Aku berdiri segera. Gendis mengangguk lalu menggandeng tanganku. Berdua, kami berjalan mengendap-endap. Berusaha keras meng- hindari para prajurit. Keadaan kami tidak memungkinkan untuk perang tanding. Sementara prajurit musuh akan dengan senang hati menangkap atau membunuh kami.


Aku melihat Pradnya berdiri di tengah para prajurit pengawal. Tombak pasukan pemberontak mengelilingi mereka.


Sebenarnya saat itu, pasukan pengawal Pradnya jauh lebih unggul. Jumlah mereka banyak. Dan aku tahu, Ayah- anda memberi pengawal berkemampuan tinggi untuk Pradnya. Sayang, pihak lawan menggunakan cara curang. Aku melihat seorang pemanah tengah menarik busur. Anak panah itu jelas mengarah ke punggung Pradnya.


Tali busur semakin meregang. Aku berteriak saat pa- nah mulai melesat. Dengan cepat, aku menghambur ke arah Pradnya. Lengan kiriku terasa kebas. Pedih bergan- tian dengan sakit. Lalu semua semakin panas dan me- nyiksa.


18 Cundrik = keris kecil yang diselipkan di sanggul. Biasanya, perempuan menggunakan cundrik untuk bunuh diri dalam rangka membela kehormatannya.


“Gayatri!”


Rasa sakit membuatku lupa mencari Viren. Aku hanya memaksa kaki dan tanganku. Aku ingin menyela- matkan Pradnya. Meski harus mati, aku mati sebagai kesatria.


Luka di lenganku dengan cepat membuatku lemah. Kami telah berada di gerbang istana. Sebentar lagi, kami akan melewati area paling berbahaya.


Sayang sekali, di mulut gerbang, aku tersandung lalu terjatuh. Gendis memegang tanganku. Dengan khawatir, Gendis membantuku berdiri. Hati-hati dia memapahku. Kami berlari ke arah hutan. Berharap dapat menyembu- nyikan diri di antara pepohonan. Napasku mulai sesak. Tubuhku lemah lunglai. Sungguh tak kuat lagi.


“Tolong, tinggalkan aku di sini.”


“Tidak, Gusti Putri!” Gendis menggeleng, “Saya telah kehilangan Ibu. Saya tidak sanggup ditinggalkan lagi.”


Isakan Gendis terdengar lirih. Air mataku mulai me- netes. Nyi Hanum..., wanita tua itu begitu baik. Seharusnya dia meninggal di atas tilam yang nyaman. Bukannya di tengah pertempuran seperti ini.

__ADS_1


Aku membiarkan Gendis menangis sepuasnya. Bah- kan aku telah mulai lelah. Kabar kematian selalu beriring- an dengan sangkakala peperangan. Ketika datang seorang prajurit lagi, hatiku telah mulai hampa dan sesak. Mengapa semua lenyap dalam sekejap? Kejayaan kerajaan. Ke- megahan istana yang kutinggali.


Keberadaan keluargaku.


“Prabu Kertanegara telah gugur.”


Ucapan prajurit itu dibisikkan dengan sangat pelan. Telingaku bergemuruh. Pipiku semakin basah oleh air mata. Pandanganku buram. Kesedihan semakin terasa be- rat. Tujuan hidup semakin buram. Hingga aku tak memili- ki semangat apa pun lagi.


Aku merasakan kedua tanganku ditarik. Dua orang memapah tanganku. Salah satunya adalah Viren. Aku me- ngerling ke kanan, memberi gelengan lemah. Hanya ingin agar Viren melepaskanku.


“Sumpahku tidak bisa ditawar lagi.” Viren menegas- kan. Dia dan orang yang berada di sebelah kiri memaksa- ku berjalan. Meski sudah di luar istana, keadaan masih riskan. Suara derap kuda beserta langkah kaki terdengar mendekat. Viren terpaksa melepaskanku. Punggungku menyentuh batang kayu. Rupanya, Viren menyandarkan tubuhku di bawah sebatang pohon.


Seumur hidup, aku tidak pernah membayangkan akan meregang nyawa di bawah sebatang pohon. Aku ter- batuk berkali-kali. Merasa marah karena kematian malah terasa masih jauh. Jika aku mati, semua akan selesai. Tetapi mengapa Ida Sang Hyang Widhi Wasa justru mem- biarkanku tergolek lemah di sini?


Teriakan Gendis terdengar menyayat. Aku tahu, dia juga telah mati.


Air mataku bercucuran. Darah terasa lengket di ta- nganku. Aku ingat cundrik yang sedari tadi kugenggam erat-erat. Mungkin kini saatnya kugunakan cundrik itu.


Mengakhiri segala penderitaan dan bahaya yang masih mengintai.


Tanganku kebas dan aku gemetar, tapi kerasnya lo- gam masih terasa di telapak tangan. Waktu terasa ber- jalan begitu lama. Tangan kananku lemas. Kupaksakan seluruh tenaga untuk mengayunkan cundrik itu ke perut.


“Tidak, Putri!”


Seseorang menahan tanganku. Kesadaranku semakin hilang saat itu. Pertempuran di sekelilingku terlihat sa- mar-samar. Cahaya putih membutakan mata. Karena itu, aku mengira sedang berhalusinasi. Siapakah sosok di de- katku sekarang? Apakah laki-laki bertopeng itu adalah dia yang selama ini ditakutkan akan mencelakaiku?


“Senang bertemu kembali denganmu, Putri.” Aku ma- sih mengenali suara itu. Suara yang sama dengan milik artis topeng beberapa tahun lalu.


“Sakka?”

__ADS_1


Laki-laki itu merampas cundrik dari tanganku. Dunia terasa terbalik saat kakiku tidak lagi menyentuh tanah. Tubuhku semakin terasa ringan. Kegelapan begitu saja menyergap. Hitam ini bahkan lebih buruk dari bayangan kematian.


__ADS_2