
Putri Rajapatni - Gayatri - 20
Meski hari ini masih mendung, aku memutuskan untuk membereskan cucian yang menumpuk. Sakka mengantarku mencuci pakaian. Dia membantuku meng- hindari keramaian di beberapa tempat. Tampaknya, be- berapa bagian dari hutan ini telah berubah fungsi. Aku terpaksa mengambil jalan yang lebih jauh. Hanya untuk bersembunyi dari orang-orang. Sakka berjalan di sebe- lahku. Dia menebas ilalang, membuatkan jalan yang lebih nyaman.
Akhirnya, aku sampai di bagian sungai yang sepi. Aku telah terbiasa melakukan pekerjaan ini. Gending dolanan keluar begitu saja dari mulutku. Itu cara menghindarkan diri dari melamun. Diam-diam, Sakka memperhatikanku. Ketika aku melirik, dia berpaling.
“Apa yang mau kaukatakan, Sakka?”
Sakka berdeham sekali. Aku menunggu beberapa hi- tungan. Lalu kembali mengucek baju. Gending dolanan itu kunyanyikan lagi. Aku sengaja tidak mengacuhkan Sakka. Biarlah dia yang memulai duluan.
“Dua hari lalu, Raden Wijaya memanggilku.” Akhir- nya Sakka berbicara. Aku pun segera mengambil pakaian- pakaian basah, lalu mengumpulkannya dalam bakul. Hati- hati, aku mencari batu untuk duduk. Sakka duduk di de- katku. Tangannya menggoyang-goyangkan ilalang. Sedang wajahnya tampak kaku dengan ekspresi tak terbaca.
“Putri, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Silakan bicara,” perintahku.
“Aku tak tahu apakah aku berpikir berlebihan.” Sakka diam sejenak. “Raden Wijaya menanyakan tentang hu- bunganku denganmu.”
Aku mengernyitkan alis. Raden Wijaya memanggil Sakka untuk menanyakanku? Tidak salah?
“Raden Wijaya mengatakan kalau kau terlalu polos dan rapuh. Kau tidak tahu betapa kejamnya dunia. Karena itu, dia ingin sekali melindungimu.”
“Apakah dia sengaja memancingmu?” Sakka menggeleng. “Entahlah.”
Aku meringis. Kali ini betul-betul yakin harus mele- paskan perasaanku. “Raden Wijaya tidak berhak meng- khawatirkanku. Dia hanyalah seorang pangeran yang ber- kuasa di istananya sendiri.”
“Hanya?” Sakka mengernyit bingung.
“Apa yang diketahui orang yang seumur hidupnya tak pernah memegang pacul, Sakka?” Aku tersenyum. “Meski beban seseorang di pemerintahan begitu berat, kehidup- an mereka terlalu baik. Masih lebih baik daripada beban rakyat kecil yang pusing membayar pajak. Sementara pa- nen mereka gagal dan lumbung mereka kosong.”
“Kau ini gadis yang aneh.” Sakka membuang batang ilalang yang sedari tadi dia mainkan. “Aku seharusnya me- nyadari hal ini dari dulu.”
“Menyadari apa, Sakka?”
__ADS_1
“Kau adalah putri pertama yang kulihat lebih senang bergaul dengan para bhiksuni. Biasanya putri-putri lain akan lebih senang memperhatikan panglima dan pangeran. Mereka merumpi menebak-nebak dengan siapa me- reka akan dinikahkan.”
“Aku tidak ingin menikah,” jawabku jujur. “Mungkin ada banyak hal yang ada di pikiranku. Namun menikah bukan salah satu di antaranya.”
“Mengapa?”
Senyumanku pasti terlihat sedih karena Sakka lang- sung memandangku dengan tatapan muram.
“Cinta hanyalah sebuah khayalan maya.”
Sakka mengangguk-angguk sambil memijat pelipis- nya. “Ya, kau benar.”
“Sayangnya, Panji Asmarabangun hanya sebuah dongeng,” lanjutku. “Hiburan untuk hidup yang susah. Khayal bual agar orang berani bermimpi.”
“Seperti juga khayalanku.” Sakka tersenyum getir. “Aku pernah menjadi pungguk yang merindukan bulan. Seorang seniman mengharapkan hal yang tak mungkin dapat dia raih. Akhirnya dunia pun memberi pengha- kiman dan hukuman.”
Sentuhan di bekas lukanya membuatku menyadari arti perkataan Sakka. Aku mungkin tidak peka. Tapi aku malu. Tahu dia sebenarnya membicarakanku.
“Memangnya kau tak pernah menginginkan sesuatu?” “Keinginanku biasanya hal-hal sederhana. Terkadang, yang membuatku bahagia adalah bisa menolong orang la-
in. Melihat orang lain berbahagia.”
“Karena itulah tak seorang pun tega melukaimu.” Senyuman Sakka terlihat sinis. “Tahukah kau? Aku pernah berpikir akan membunuhmu saat melihatmu di pertem- puran dulu. Tetapi ”
Sakka memejamkan mata. Dia pasti mengingat se- suatu yang tak dia katakan. Ingatan saat Raden Wijaya menorehkan keris ke wajah Sakka, mendadak memba- yang di pelupuk mataku.
Aku ingat, saat itu aku langsung berlari, hendak me- raih Sakka. Namun yang kuterima saat itu adalah sebuah tepisan kasar. Sakka menolak pertolonganku. Meski dia sudah menggelepar kesakitan.
“Kalau Raden Wijaya memintamu kembali kepada- nya, apakah kau bersedia?” kata Sakka mengagetkanku. Aku menggeleng secara spontan. Namun rupanya jawab- anku tidak cukup melegakan bagi Sakka.
“Raden Wijaya mengajakku bergabung dalam pasuk- annya.”
“Apa?”
__ADS_1
Sakka terdiam. Aku sama sekali tidak memercayai perkataannya saat itu. Jika Raden Wijaya mengajak Sakka bergabung, berarti dia sedang menghimpun kekuatan.
“Raden Wijaya berterus terang kalau ingin mengada- kan kudeta.” Sakka melanjutkan. “Raden Wijaya dan Arya Virendra pernah menemui pemimpin Pasukan Mongolia. Panglima itu bernama Ike Mese. Dia masih meragukan Raden Wijaya.”
Aku tak dapat menemukan kata-kata untuk menya- hut. Bayangan peperangan membuat rasa takutku bang- kit.
“Kalau Ike Mese berhasil diyakinkan, Raden Wijaya akan memiliki kekuatan yang besar. Jumlah pasukannya akan berlipat-lipat. Persenjataannya akan lebih canggih. Aku yakin sekali, Prabu Jayakatwang akan terdesak dan kalah.”
Rona pucat menjalari wajahku. Aku merasakan tu- buhku gemetar saat Sakka menyentuh jemariku. Menjaga kesadaranku.
“Putri.” Sakka berkata lirih, “Raden Wijaya berkata, ‘Untuk apa bergabung dengan kerajaan yang kemungkinan besar akan kalah? Aku mengajakmu karena Gayatri. Beta- pa ingin aku melindungi Gayatri, semoga kau tahu.’”
Tubuhku menegang. Bahkan ketika Sakka mulai ter- tawa.
“Sungguh angkuh pangeran itu.” Sakka melepaskan tanganku. “Ingin sekali aku melaporkannya pada Prabu Jayakatwang. Kelancangan itu harus diberi ganjaran. Tetapi ”
Sakka melirikku. Dia memegang kepala seraya me- nunduk. “Putri, kini aku baru tahu bagaimana perasaan Adipati Karna saat dia harus memilih Pandawa atau Korawa. Sejak dulu, Jenggala dan Kadiri memang selalu berseteru.”
Sakka menggeleng lemah. “Meski bebanku tak sebe- rat Adipati Karna, ini tetap membingungkan. Keadilan, ke- benaran... mendadak semua menjadi jungkir balik. Sulit ditelaah.”
“Jadi, siapa yang kemudian kaupilih?”
“Putri ” Dia berkata dengan kepedihan yang tak ber-
usaha disembunyikan, “Meski aku seorang komandan pasukan, aku juga seorang suami. Saat ini, aku sedang me- nantikan kelahiran bayiku.”
Mengingat perut Ratih yang semakin membesar, aku menahan napas. Memikirkan istri dan calon bayi di tengah peperangan. Itu beban yang berat. Aku bahkan tidak bera- ni membayangkan.
“Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan saat ini.” Sakka berkata sedih. “Raden Wijaya benar. Istriku harus dilindungi. Kau... harus dilindungi. Aku tak tahu perang macam apa yang akan berlangsung. Karena itu ”
Aku nyaris memekik saat melihat kelebatan seseo- rang. Sosok lelaki bergerak pelan di balik sebuah pohon. Saat Sakka bersiul nyaring, lelaki itu berjalan lebih cepat. Tak takut lagi menampakkan sosoknya.
“Sakka, kau....” Aku menggeleng-geleng tak percaya. Digerakkan naluri, aku langsung berdiri. Berusaha berlari menjauhi Sakka dan lelaki yang sedari tadi menguping pembicaraan kami.
__ADS_1