Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 5


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 5


Catatan Sejarah:Pada tahun 1286 Masehi, Prabu Kertanegara membe- rikan sebuah prasasti kepada Raja Melayu di Dharmas- raya. Prasasti itu diberikan sebagai penghargaan untuk Adityawarman. Dia adalah penerus Dinasti Mauli yang ke- mudian mendirikan kerajaan Malayapura.


*


“Aku memberinya nama: Prasasti Amoghapasa.” Demikian Ayahanda bersabda. Juru tulis menggerakkan kalam di atas lontar. Para brahmana membacakan doa pe- nyucian. Segera setelah upacara, batu akan diukir menjadi prasasti. Prasasti ini nantinya akan menjadi pengukuhan bahwa Raja Melayu telah tunduk pada Singasari.


Senyum Ayahanda tampak lebih lebar dari biasa. Dia meneguk tuak dengan sangat gembira. Lagi-lagi mem- banggakan angkatan perang Singasari yang mampu me- naklukkan kerajaan-kerajaan besar di nusantara. Para pe- jabat, kaum bangsawan, dan kesatria sama-sama terlihat semringah. Semua memuji-muji Ayahanda. Prabu Kerta- negara—maharaja Singasari yang perkasa.


Ayahanda dan Ibunda terlihat begitu agung dalam pakaian kebesaran mereka. Di mataku, mereka nyaris seperti dewa-dewi. Begitu sempurna. Tidaklah heran, jika Ayahanda kemudian menuntut kesempurnaan dari putri-


putrinya. Kami berlima dididik secara keras dalam tata krama. Kami juga dituntut sempurna sebagai perempuan.


Tri tampak berkilauan dalam perhiasan mutu mani- kam. Sama dengan Nare dan Pradnya. Maha memilih bunga-bungaan dan emas menghiasi tubuhnya. Di antara mereka, aku langsung terlihat bukan apa-apa. Memperta- hankan sikap kemayu selama berjam-jam membuatku sangat tersiksa. Bibirku terasa kaku mempertahankan se- nyum. Aku bersyukur posisi dudukku berdekatan dengan posisi Paman Raganata. Yang artinya, aku juga berdekatan dengan Arya Virendra.


Aku mengalihkan pandangan ke arah putra Paman Raganata itu. Ingatan saat aku menghampirinya di arena latihan dulu membekas begitu dalam. Aku mengingat saat tanganku menutup matanya. Aku mengingat saat dia me- nanyakan apakah aku memperhatikannya.


Beberapa tahun berlalu, Viren tetap Viren. Kedudu- kan Viren sebagai putra Mahapatih Singasari tidak meng- ubah sifatnya yang rendah hati. Bahkan dalam acara besar seperti sekarang, dia tetap berpenampilan biasa. Penam- pilan sederhananya membuatnya jauh dari sorotan po- litik. Viren menganggap ini sebagai perlindungan diri. Toh, dia tidak memiliki ambisi meneruskan jabatan orang tuanya.


Dibandingkan Raden Wijaya, Viren lebih terlihat ma- nis. Gesturnya berwibawa, tapi sangat santai. Bisa dibi- lang, Viren lebih terlihat sebagai pendekar daripada seorang pejabat. Wajahnya yang sering tersenyum itu seolah-olah pandir. Akan tetapi, sejak kecil dia telah mem- pelajari kitab-kitab paling sulit dari Paman Raganata. Dialah yang mula-mula mengenalkanku dengan kesusastraan. Kami bersahabat dalam perdebatan pandangan. Pandangan Viren sama bijaknya dengan pandangan Pa- man Raganata. Karena itu, semakin lama kami bersama, aku semakin mengagumi Viren.


Aku batuk dua kali, sengaja menarik perhatian Viren. Yang menyebalkan, balasan Viren ternyata hanya seri- ngaian yang menyiratkan: tolong-jangan-menyeretku- dalam-kesulitan-lagi.


“Kakang Virendra,” bisikku keras kepala. “Aku pena- saran sekali, apa yang terjadi saat Dewa Krisna membaca surat cinta dari Dewi Rukmini. Bolehkah Kakang mem- bocorkan ceritanya sekarang?”


Viren mendengkus lalu terbatuk. Tak berani mema- lingkan wajah. Aku cemberut saat tahu Viren berusaha fokus pada upacara.


“Ayolah, Kakang. Upacara ini sungguh membosankan.


Berceritalah untukku, ya?”


“Hadir di upacara kenegaraan adalah kewajiban Anda, Putri,” kata Viren akhirnya. Ih, kok cara bicaranya jadi seperti Raden Wijaya begitu?


Aku memberinya sebuah cibiran. Bisik-bisik kami terpotong oleh suara gong yang terpukul. Aku dan Viren bersamaan mengalihkan pandangan ke arah Ayahanda. Pasti Ayahanda akan mengumumkan suatu hal yang sa- ngat penting. Kalau tidak, gong tidak akan dibunyikan setelah pemercikan air suci.


“Kira-kira ada apa, ya, Kakang?”


Viren angkat bahu. Aku melihat Ayahanda berdiri di tengah-tengah balairung. Semua orang kontan menunduk setelah memberi hormat.


“Hari ini, aku ingin berterima kasih kepada para ke- satria Singasari yang telah berjuang untuk negara. Kalian adalah patriot-patriot gagah perkasa. Sudah selayaknya kalian mendapat penghargaan atas perjuangan kalian me- naklukkan Darmasraya.”


Ayahanda mengangkat tangan, lalu menunjuk satu arah, “Mahisa Anabrang, dengan ide cemerlangnya kem- bali membawa kejayaan kepada kerajaan. Karena itu, atas jasa ini, aku menaikkan jabatannya sebanyak tiga ting- kat.” Aku mendengar Ayahanda berkata sekeras suara guntur. Sorak-sorai terdengar dari para pendukung Mahisa Anabrang. Sebaliknya, satu kubu kini resah oleh kenaikan jabatan itu. Viren bahkan menggertakkan jari dan berkali-kali kulihat bahunya terguncang.


Ayahanda mengangkat tangan lagi. Kali ini untuk me- redam keributan.

__ADS_1


“Dengarkan.” Beliau berkata. “Kali ini, aku berniat mengubah susunan pejabat kerajaan.”


Orang-orang mulai berkasak-kusuk. Sibuk menebak perubahan apa yang akan terjadi. Aku sendiri tidak men- duga kalau keputusan Ayahanda sekarang akan mengu- bah nasib Singasari untuk selama-lamanya.


“Arya Wiraraja, mulai sekarang, kau menjadi Bupati di Sumenep.9” Sejenak, pandangan ayahanda menyorot Paman Arya Wiraraja. Aku tahu, meski Paman Wiraraja berterima kasih, hatinya pasti panas dengan keputusan ini.


Aku merasakan jantungku berdebar ketika pandang- an Ayahanda beralih kepada Paman Raganata. Paman Ra-


9 Madura


ganata menelan ludah. Firasatku, nasibnya tidak akan ja- uh berbeda dengan Paman Arya Wiraraja. Dari perkata-an Ayahanda, terlihat sekali kalau beliau berniat mencam- pakkan mereka yang menentang usulan Paman Anabrang. Memang, sempat ada pro dan kontra dalam keputusan menyerang Darmasraya.


“Empu Raganata, aku memberikan tanggung jawab baru untukmu sebagai penasihat kerajaan,” sabda Ayah- anda.


Akhirnya, keputusan itu dibuat.


Kegemparan di balairung berlanjut hampir kisruh. Banyak yang tidak terima dengan keputusan Ayahanda. Betapa tidak, Paman Raganata adalah pejabat yang dike- nal setia dan pandai memberi masukan kepada Ayahanda. Tidaklah adil kalau jabatannya diturunkan seperti itu.


Aku tidak sempat mendengar kata-kata Ayahanda se- lanjutnya. Aku gelisah melihat perubahan raut wajah Vi- ren. Kedua alis tebalnya berkerut. Senyuman di bibirnya berubah kaku dan dingin.


Apa yang sedang dia pikirkan? Aku ingin sekali menghibur Viren, mengatakan kepadanya kalau aku ma- sih menganggap Paman Raganata sebagai mahapatih ter- baik.


Setelah penurunan jabatan itu diumumkan, Viren me- nunduk dan berhenti menatapku. Pikiranku berkecamuk. Hampir tidak terpengaruh oleh suara tepuk tangan yang kini terdengar makin riuh. Aku agak kaget karena merasa pandangan semua orang kini tertuju kepada para putri. Jika ada kejutan lagi, aku tidak akan sanggup menang- gungnya.


Ardaraja dan Raden Wijaya berdiri di tengah-tengah balairung. Aku tidak bisa melihat ekspresi mereka. Namun, melihat dua orang yang kontra berdiri bersisian membuat tengkukku merinding seketika.


“Ardaraja.”


“Sendhika, Gusti Prabu.”


“Apakah kau sanggup menjaga putri bungsuku, Ma- hadewi Sandyakala?”


Perasaanku semakin tidak enak mendengar perta- nyaan Ayahanda. Memberikan Mahadewi kepada Ardara- ja sama saja menjerumuskan adikku ke sebuah sumur. Ya, Gelang-Gelang atau Kadiri tidaklah semenyenangkan ko- taraja. Di sana terlalu panas. Baik cuaca maupun suasana- nya. Meski permusuhan turun temurun Kadiri dengan Singasari telah meredup. Pandangan Paman Jayakatwang hingga saat ini masih terasa menusuk, menyimpan den- dam. Tidak ada yang tahu, apa yang ada di dalam benak- nya.


Sesaat, Ardaraja tidak menjawab. Aku melihat kilat kemarahan dari mata Ardaraja. Bahkan saat lelaki itu me- ngatupkan tangan lalu memberi hormat.


“Itu adalah anugerah yang luar biasa bagi hamba, bisa menjadi menantu Raja Singasari.”


Ayahanda tertawa, diikuti semua orang di dekat ka- mi. Ucapan selamat terdengar di seluruh balairung. Namun rupanya, Ayahanda belum selesai dengan hadiah berupa perjodohan politik ini.


“Wijaya, sekarang giliranmu. Apakah kau sanggup menjaga permataku Tribuaneswari?”


Sudah kuduga ini akan terjadi. Dengan sikap santun dan kesatria Raden Wijaya selama ini, Ayahanda akhirnya menyerahkan putri kesayangannya kepada pangeran itu.


Siapa pun laki-laki yang terpilih sebagai suami Tri, dapat dipastikan dialah yang akan menjadi penerus takhta. Calon raja selanjutnya.

__ADS_1


“Sungguh beruntung hamba bisa memperistri per- mata Kerajaan Singasari.” Aku mendengar Raden Wijaya berkata. Ayahanda sepertinya melihat sesuatu pada ja- waban Raden Wijaya. Nada suara dan caranya menggan- tung kalimat membuat Ayahanda jadi penasaran.


“Ada apa, Wijaya? Tidak suka?” kata Ayahanda de- ngan nada tersinggung.


Raden Wijaya mengatupkan tangan lalu menaruhnya di ujung hidung. Dengan takzim, dia memberi hormat seraya mengatakan. “Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Hamba terlalu berani berpikiran lancang seperti ini.”


Ayahanda mengerutkan alis, bingung akan pernya- taan itu.


“Hamba mengasihi Putri Tribuaneswari. Bahkan hamba merasa terhormat bisa mempersuntingnya seba- gai istri. Akan tetapi …” Raden Wijaya menunduk menyi- ratkan rasa bersalah yang dalam. “Kalau Gusti Prabu berkenan, bolehkah hamba menginginkan seorang lagi?”


Ardaraja mengertakkan gigi menahan marah. Aku tidak dapat berkata apa-apa saat melihat senyum penuh arti Pradnya Paramitha. Siapa pun tahu, kalau adikku itu menyimpan hati kepada sang Pangeran. Sejak Raden Wijaya menyelamatkannya dari beberapa perampok, Pradnya telah memutuskan, hanya dengan Raden Wijaya dia akan menikah.


Suara tawa Ayahanda menggema di balairung. Memi- liki istri lebih dari satu memang sebuah hal yang wajar. Dan mungkin, Ayahanda justru merasa senang karena jika putri-putrinya menikah dengan satu orang. Itu akan me- ngurangi percekcokan para menantu memperebutkan wilayah kekuasaan.


“Siapa yang kaukehendaki, Wijaya?”


Raden Wijaya kini memandang para putri satu per satu. Tiba-tiba, aku merasa gelisah. Harapan di mata Pradnya membuat jantungku ikut berdetak tak keruan. Aku kembali mengalihkan pandangan kepada Viren. Men- coba mengalihkan perhatianku dari Raden Wijaya.


Sayang, saat itu, rasa keingintahuanku yang menang. Meski aku tidak memandangnya, suara Raden Wijaya ma- lah semakin terdengar jelas. Semua yang terjadi, malah kuperhatikan secara saksama.


“Jika Gusti Prabu mengizinkan, salah satu putri Gusti telah mencuri hati hamba. Karena itulah, hamba ingin memperistrinya. Agar tiada orang lain yang mengambil dan memilikinya.”


Tidak cukup dengan sikap lemah lembutnya. Raden Wijaya kini malah menekuk lutut dan memberi hormat seolah dia pantas mendapat hukuman mati. Aku melihat wajah Pradnya semakin memerah sementara Ardaraja membuang muka. Muak melihat pemandangan itu.


Orang-orang menahan napas dengan ngeri. Sebagian tidak sanggup menyembunyikan senyum. Tahu dengan baik kalau Ayahanda telah lama mengasihi Raden Wijaya.


Mendengar pengakuan jujur Raden Wijaya, Ayahanda kembali tak mampu menahan tawa. Bahunya berguncang. Dengan nada geli, dia bertanya.


“Katakan, siapakah putri yang telah lancang mencuri hatimu itu?”


“Hamba sungguh tidak berani berharap, Gusti.” “Katakan saja, Wijaya. Siapa pun yang berani mencuri


hati salah satu Panglima Singasari yang perkasa, akan mendapatkan hukuman yang berat.” Nada geli dalam ucapan Ayahanda masih terdengar. Pandangan Ayahanda sedikit mengerling pada Nare dan Pradnya.


“Mohon ampun, Paduka. Putri itu adalah Putri Gayatri.”


Kalimat itu diucapkan dengan tenang. Namun seke- tika membuat suasana di balairung menjadi tegang. Wajah Pradnya yang mulanya merona malu, kini hampir ber- ubah ungu. Aku merasa pandangan semua orang menu- sukku secara bersamaan.


Mulutku sudah hampir terbuka. Waduh! Kok aku? Krama inggilku nyaris terbang ke langit ketujuh. Aku ingin bangkit lalu langsung menampar wajah Raden Wijaya. Gusti, salah apa aku ini?


“Apa yang baru saja kaukatakan? Tidak salah?” “Hamba telah menyebutkannya, Paduka. Putri Gayat-


ri. Dan hamba yakin, hamba tidak salah.”


Menegaskan ucapannya, Raden Wijaya mengerling kepadaku. Aku sempat melihat wajah Nare menekuk tidak senang. Pradnya telah hampir menangis. Aku membenci keadaan ini. Dengan marah, aku membuang muka. Mataku kembali mencari Viren yang saat ini sudah menghilang entah ke mana.

__ADS_1


Gayatri, rupanya nasibmu memang ada di antara anugerah dan musibah, kataku mengutuk diri sendiri. Kapan aku mencuri hati Raden Wijaya? Bukankah dia sangat membenciku?


__ADS_2