Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 25


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 25


Lontar yang diberikan oleh Empu Ragarunting rupanya berisi kisah yang merupakan bagian dari sutra Maha Parinirwana. Bagian dari tripitaka yang mencerita- kan kehidupan Buddha sebelum beliau mangkat di Kusi- nagara. Yang tertulis di lontar itu adalah kisah saat Buddha berada di Magadha. Pada masa pemerintahan Raja Ajatashatru.


Ini adalah kisah baru tentang Raja Ajatashatru yang kuketahui. Sebelumnya, seorang bhiksuni pernah mence- ritakan tentang ramalan buruk dan arti nama Ajatashatru. “Dahulu, Raja Ajatashatru diramalkan akan membu-


nuh ayahnya sendiri.” Demikian bhiksuni itu menjelaskan. “Ajatashatru artinya musuh yang belum lahir. Ayah Ajata- shatru, Raja Bimbisara menamakannya demikian karena beliau ingin mematahkan ramalan itu.


Namun kemudian Ajatashatru bertemu Dewadata, orang yang memengaruhinya untuk merebut takhta. Tanpa perasaan, Ajatashatru memenjarakan ayahnya. Dia menyiksa ayahnya hingga meninggal.”


“Apakah Raja itu sama sekali tidak menyesali per- buatannya?” kataku marah. “Mengapa dia tega sekali?”


Senyuman bhiksuni itu terlihat getir ketika dia me- mandangku.


“Jika ada keajaiban yang bisa mengetuk nurani Raja Ajatashatru, keajaiban itu ada di anak sang raja. Saat istri Raja Ajatashatru melahirkan, kebaikan bangkit di hati raja


itu. Untuk pertama kalinya, Raja Ajatashatru merasakan cinta kasihnya terhadap sang anak begitu melimpah. Sa- yang, penyesalan selalu datang di belakang. Meski Raja Ajatashatru merasa bersalah, yang mati tidak bisa dihi- dupkan kembali. Meski sesal menggunung dan menjadi duka yang dalam.”


***


Aku menggenggam lontar itu erat-erat. Kekejaman Raja Ajatashatru sungguh tidak termaafkan. Dalam ba- yanganku, Ajatashatru berwatak keras dan menyukai perang. Dalam lontar ini pun, dijelaskan tentang ambisinya menaklukkan suku Vrji. Sebuah suku yang ting- gal di bagian timur Provinsi Malla.


Saat itu, Raja Ajatashatru memanggil patihnya, Brah- ma Vassakara.


Dia memerintahkan sang patih pergi menemui Sang Buddha.


“Wahai patihku, sampaikanlah salam hormatku kepa- da Buddha Gautama. Selanjutnya, sampaikan pesanku ini kepada beliau:

__ADS_1


‘Aku raja Ajatashatru dari Magadha, hendak berpe- rang melawan Suku Vrji. Akan kumusnahkan suku yang berdaulat dan berjaya itu.’


Kau harus mengingat jawaban Buddha. Apa pun yang dia katakan, beritahukan semuanya kepadaku. Aku yakin Sang Tathagata akan menyampaikan pendapatnya dengan jujur. Karena Sang Buddha tidak pernah berbicara dusta.”


Patih Vassakara menyimak pesan Raja Ajatashatru. Dia segera berangkat bersama para pengiringnya. Sesuai perintah, dia menghadap Sang Buddha di puncak Gijjhakuta.


Setelah Patih Vassakara sampai di hadapan Sang Buddha, dia bersujud kepada Sang Buddha.


“Sang Gautama yang mulia.” Dia berkata dengan nada lemah lembut, “Saya datang menghadap Yang Mulia de- ngan tujuan menyampaikan pesan Raja Ajatashatru dari Magadha.”


Pada saat itu Ananda berdiri di belakang Sang Bud- dha, sedang mengipasi Beliau. Buddha menyimak setiap kata yang diucapkan Patih Vassakara. Beliau kemudian bertanya kepada Ananda:


“Pernahkah kau mendengar kalau Suku Vrji itu sering bermusyawarah? Apakah musyawarah mereka selalu menghasilkan kata mufakat?”


“Demikianlah yang   kami   dengar,   Bhante,”   jawab


”Kalau demikian adanya. Maka seharusnya kita meng- harapkan perkembangan dan kemajuan Suku Vrji.”


Buddha beberapa kali menanyakan pertanyaan. Dan berkali-kali pula Ananda membenarkan. Patih Vassakara mengingat setiap kata dari mulut Buddha.


Lalu Buddha menceritakan salah satu kisah perjala- nannya kepada Patih Vassakara:


“Pada suatu ketika, kami berdiam di Vesali. Di Cetiya Sarandada. Di Cetiya itu, kami mengajarkan tentang tujuh syarat membina kesejahteraan suatu bangsa. Mereka telah paham. Selama ketujuh syarat itu dihayati dan diamalkan dengan baik, maka tidak sepatutnya kita mengharapkan kemunduran Suku Vrji.”


Setelah Buddha berkata demikian, Patih Vassakara pun bersujud kepada Buddha.


“Wahai Gautama,” katanya. “Jika suku Vrji benar-be- nar dapat menghayati dan mengamalkan syarat-syarat tersebut. Maka memang sepatutnya kita mengharapkan kemajuan mereka. Jika memang demikian, meski terjadi peperangan, mereka tidak akan mudah kalah. Kecuali, Raja Ajatashatru memilih jalan diplomasi atau memecahkan persatuan mereka. Baiklah, Gautama. Perkenankanlah ka- mi mohon diri, karena masih banyak tugas yang harus kami laksanakan.”

__ADS_1


“Silakan, Brahmana,” jawab Buddha. Patih Vassakara bangkit dari duduknya. Hatinya gembira. Setuju dengan pendapat Buddha.


***


Aku menutup lontar itu. Mendadak teringat akan ajaran pemerintahan yang pernah diajarkan oleh Paman Raganata. Saat itu, aku dan Viren sedang membahas ten- tang syarat-syarat membangun sebuah negara. Pada haki- katnya, sebuah negara harus memiliki pemimpin, pendu- duk, batas wilayah, dan tujuan negara. Saat itulah Paman Raganata menjelaskan kepada kami tentang Catur Kota- maning Nrpatti dan Catur Naya Sandhi.


“Sebagai pemimpin, ada empat syarat yang harus dipenuhi,” kata Paman Raganata. “Pertama, seorang pe- mimpin haruslah berpengetahuan luhur dan suci. Dia juga harus memiliki kasih sayang kepada rakyat. Ketiga, pe- mimpin itu harus pemberani dan pantang menyerah dalam membela kebenaran. Dan yang terakhir, seorang pemimpin harus berwibawa, jujur, dan mengutamakan kepentingan umum. Empat hal ini, disebut Catur Kota- maning Nrpatti.”


“Apakah hanya hal itu yang patut dimiliki seorang pemimpin?” tanya Viren.


Paman Raganata menggeleng. “Ada lagi yang disebut


Catur Naya Sandhi.”


“Apakah itu, Paman?” kataku penuh rasa ingin tahu. “Itu adalah empat kebijaksanaan yang wajib dimiliki


seorang pemimpin,” jelasnya. “Yang pertama adalah sama—berlaku adil tanpa pandang bulu. Kedua, bheda, memberi penghargaan sesuai dengan bakti seseorang ter- hadap negara. Dana—memberi bantuan secara adil dan merata. Dan terakhir, danda—menghukum setiap pelang- garan dengan tidak tebang pilih.”


Paman Raganata memandangku dan menjelaskan bahwa seorang pemimpin hendaknya bisa menerapkan Catur Kotamaning Nrpatti dan Catur Naya Sandhi di dalam pemerintahannya.


Lamunanku berakhir saat aku menutup lontar itu. Aku bersimpuh untuk melantunkan Maha Karuna Dha- rani. Kisah pada lontar ini memang membuatku banyak merenung. Mengingat-ingat apakah Paman Jayakatwang mengamalkan ketujuh syarat tersebut. Kalau memang iya, aku akan segera melakukan cara apa pun untuk mencegah Raden Wijaya mengusik Kadiri.


Namun semakin dibandingkan, aku semakin tak bisa melihat persamaan Kadiri dengan suku Vrji. Pengkhianat- an kepada ayahandaku hanyalah satu contoh kecil. Tindakan-tindakannya mengerahkan bramacorah jelas bukan merupakan nilai-nilai luhur bagi pemerintahannya.


Kata-kata Empu Ragarunting tanpa sadar kembali terngiang. Membuatku semakin berpikir akan pendapat- ku. Apakah aku harus terus melawan kehendak Raden Wi- jaya? Atau malah mendukungnya menghancurkan keraja- an yang dibangun di atas puing-puing kerajaanku sendiri? Lalu bagian Bhagawad Gita itu yang mengakhiri pencarianku:


“Aku adalah waktu. Sang Penghancur Semesta. Sang Waktu yang Menumpas. Telah tiba saatnya kini dan ma- tang bagi hancurnya laskar ini. Walaupun engkau lari, semua ini akan tetap binasa.”

__ADS_1


__ADS_2