
Putri Rajapatni - Rajapatni - Malam
Saat surat wasiat Prabu Kertarajasa dibacakan, wajah Dara Petak memucat. Alih-alih mendapatkan posisi ibu suri, Dara Petak malah diperintahkan terjun ke api.
Dengan bahasa sederhana, Kanda Prabu bertitah:
“Aku tidak ingin seorang pun melakukan pengorbanan sati. Tetapi satu, dia yang dijuluki shri tinuheng pura. Dinda Indreswari. Aku ingin dia menemaniku di keabadian. Karena dia adalah istri yang dituakan.”
Aku tak tahu, apakah harus senang atas kabar itu atau kasihan kepada Dara Petak. Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajah wanita itu luntur. Dia menangis dan berteriak. Dara Petak nyaris sampai ke puncak. Titah ini seketika merenggut kesempatan baginya menikmati kekuasaan tertinggi.
Paman Nambi dan beberapa menteri yang mende- ngar kata-kata terakhir Prabu Kertarajasa kepadaku, ber- usaha menghiburku. Namun, aku tak sanggup menahan sakit hati. Aku dan Pradnya kemudian jatuh sakit secara bersamaan. Kami berdua demam tinggi. Para tabib bolak- balik mengecek keadaanku dan Pradnya, lalu meresepkan obat.
Kalau bisa, ingin sekali aku membiarkan penyakit menggerogoti diriku. Aku ingin menyusul Prabu Kerta- rajasa. Namun secara ajaib, aku sembuh di hari ketiga. Ida Sang Hyang Widhi rupanya sepakat dengan Prabu Kerta- rajasa. Sang Pemilik Alam ingin aku menjaga Majapahit untuk waktu lebih lama.
Keadaanku ini berbanding terbalik dengan keadaan Pradnya. Aku baru tahu, keadaannya jauh lebih buruk dari keadaanku.
__ADS_1
Aku mengunjungi Pradnya di hari ketujuh semenjak sakit. Tubuh Pradnya telah mulai menguning. Mulutnya meracau menyebut nama Prabu Kertarajasa. Pradnya ti- dak mau diperiksa. Dia juga tidak mau minum obat.
“Kalau kau tak keberatan, aku hanya ingin kau mem- bacakan Sutra Hati untukku,” katanya dengan napas ter- engah-engah. “Kitab yang sama dengan namaku itu, mungkin akan memberiku kedamaian.”
“Minum obatnya dulu.”
Pradnya menggeleng, “Aku ingin mendengarkan sut- ra itu secara lengkap. Mungkin jawabannya ada di sana. Mungkin, kedamaian itu ada di sana.”
Aku menyusut air mata. Kupeluk kepala Pradnya erat-erat. Entah mengapa firasat yang sama membuatku merasa akan kehilangan lagi.
Aku mengelus kepala Pradnya. Kuperhatikan rona wajahnya yang makin kehilangan roh. Pelan-pelan, aku mengisahkan Sutra Hati dalam bahasa Jawa. Kuceritakan filsafat kebijaksanaan Sang Hyang Arya Avalokitesvara itu kepadanya. Aku bertutur tentang panca kandha. Semua indra dan pemikiran manusia. Kubabarkan semua bentuk, perasaan, pencecapan, pikiran, dan kesadaran. Hingga ak- hirnya, aku sampai ke bagian: semua bagian kehidupan hanyalah kekosongan di mata prajna paramitha.
Aku membelai rambutnya dengan penuh kasih sa- yang. Pradnya mengernyit setiap kali menggerakkan tu- buh. Kesakitan agaknya menghebat. Pradnya mengerang lalu kembali terengah-engah. Tanpa sadar, aku membaca- kan sutra itu dalam bahasa aslinya. Di dalam hatiku se- akan tahu, ini adalah doa terakhirku untuknya.
“Prajnaparamita, adalah panggilan yang agung, pang- gilan yang sempurna pengetahuannya. Panggilan yang ter- tinggi. Panggilan yang tiada taranya. Panggilan yang pasti dapat melenyapkan semua penderitaan.
__ADS_1
Dalam kebenaran mutlak yang tak mungkin salah, kalimat Prajnaparamita terucap seperti ini: Lepaskan. Lepaskan. Maka engkau akan mencapai kesempurnaan.”
Aku menarik napas. Kesakitan terlihat dari tubuh Pradnya yang menggelepar sesaat. Bola matanya memu- tih, mulutnya terbuka, lalu dia menarik napas lagi.
“Selama hidupku, aku tak pernah mendampingi Kan- da Prabu Kertarajasa.” Dia berkata lemah, “Apakah sete- lah aku mati, aku bisa menemuinya? Kalau bisa, aku akan sangat bersyukur, bisa lebih dulu bertemu ”
Pradnya menutup matanya. ”Jika nanti aku terba- ngun, aku berharap akan berada di pantai indah itu...
semoga ”
Satu helaan napas tertarik dan terlepas. Tangan Pradnya terkulai mengempas ranjang. Kekosongan yang sama menyergapku segera. Kata-katanya terulang di teli- ngaku. Mengapa kekosongan ini begitu menyiksa? Apa- kah benar Pradnya akan terbangun di pantai seberang yang indah?
Aku membaca Sutra Hati berkali-kali. Hatiku hancur, semakin aku mengulang kitab itu. Kematian demi kematian satu per satu membayang dalam pelupuk mataku. Aku berteriak, aku menangis! Kehilangan demi kehilang- an. Perpisahan demi perpisahan. Semua orang yang kusa- yangi telah pergi dariku. Aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk dilepaskan. Apakah ini yang disebut kesempurna- an? Apakah perasaan bak neraka ini kebenaran yang ada di dunia ini?
Tapi, mengapa ini begitu pedih dan menyesakkan? Oh, Hyang Widhi... Kasihanilah aku!
__ADS_1
Aku tak dapat menahan duka. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sendirian.
Benar-benar sendirian.