Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Epilog


__ADS_3

Akhir Mimpi,Awal Harapan


Aku memandang pemuda di depanku. Mada du- duk sambil menahan perasaan buncah. Aku tidak mence- ritakan bagian dari kelahiran Mada. Namun sebagian be- sar kisahku sukses membuatnya menitikkan air mata.


Mada bahkan bersimpati kepada Ra Kuti, pemberon- tak yang dulu sangat dia benci.


Ra Kuti adalah salah satu dari Dharmaputra yang du- lu disayang Kanda Kertarajasa. Aku memberitahu Mada bagaimana akhir hidup para pendiri Majapahit. Tidak ada yang berakhir baik.


Setelah Kanda Prabu mangkat, Jayanagara resmi di- nobatkan menjadi raja. Akan tetapi, raja kedua Majapahit ini bukan raja yang baik. Kelaliman Jayanagara menda- tangkan banyak korban tak bersalah. Para Dharmaputra termasuk di antaranya.


Yang kutahu, masa pemerintahan Jayanagara me- mang masa-masa penuh gejolak dan pemberontakan.


Pemberontakan yang sempat kulihat adalah pembe- rontakan Paman Sora. Saat itu ada tuntutan dari Mahisa Taruna—putra Paman Mahisa Anabrang. Kasus Rangga- lawe dibuka kembali. Muncul asumsi bahwa Paman Sora membunuh Paman Mahisa Anabrang. Motifnya karena Paman Sora tidak terima Paman Mahisa Anabrang mem- bunuh keponakannya (Ranggalawe).


Tanpa berpikir panjang, Jayanagara langsung menya- lahkan Paman Sora.


Atas saran Halayudha, Jayanagara langsung berniat menjatuhkan hukuman mati. Para menteri yang masih setia menentang keras keputusan itu. Jayanagara akhir- nya hanya bisa memberikan hukuman buang ke Tulem- bang.


Tak kurang akal, Halayudha kemudian datang ke ru- mah Paman Sora. Dia mengabarkan kalau Jayanagara mengusir Paman Sora dari Majapahit. Padahal, mengusir Paman Sora sama saja dengan menyuruhnya mati.


Lembu Sora kemudian berencana menghadap Jaya- nagara. Namun Halayudha keburu memprovokasi Paman Nambi. Meniupkan isu-isu panas masih menjadi senjata ampuh. Paman Nambi pun termakan omongan Halayudha. Halayudha mengatakan kepada Paman Nambi kalau Paman Sora akan membuat kekacauan. Dengan berbagai bumbu, dia menambahkan kalau Paman Sora kurang ajar. Sudah diampuni, masih juga tidak puas pada keputusan Jayanagara.


Paman Nambi kemudian mengadang Paman Sora di halaman istana. Mereka berkelahi dengan hebat. Hingga akhirnya, Paman Sora tewas saat itu juga.

__ADS_1


Paman Nambi sendiri memiliki nasib buruk yang sa- ma. Halayudha memanfaatkan cuti berkabung Paman Nambi. Halayudha memutarbalikkan fakta di hadapan Ja- yanagara. Halayudha berargumen dengan begitu meya- kinkan, hingga kemudian Jayanagara percaya, Paman Nambi sedang mempersiapkan pemberontakan di Lama- jang.


Aku tidak begitu dekat dengan para Dharmaputra. Meski demikian, nuraniku terusik. Para pahlawan gugur begitu saja. Reputasi mereka hancur oleh isu dan fitnah. Tidak ada penyelidikan, apalagi pengadilan.


Di antara para Dharmaputra, hanya Ra Kuti yang per- nah datang menemuiku. Dengan jujur, Ra Kuti menguta- rakan maksudnya. Ra Kuti bermaksud mengakhiri keke- jaman Jayanagara. Dia ingin menggulingkan kekuasaan hingga Jayanagara tidak dapat berkutik lagi.


Ra Kuti membuatku mengalami dilema besar. Satu sisi, aku tahu putri-putriku sendiri dalam bahaya. Jayana- gara saat itu hendak mengamankan posisi dengan meni- kahi adik-adiknya sendiri.


“Semua manusia berbuat salah, Mada.” Aku mende- sah sambil mengingat peristiwa itu. “Kalau saja aku sang- gup menahan Ra Kuti, mungkin aku bisa mencegah satu peperangan. Tapi sama sepertimu. Aku tidak berdaya. Aku hanya satu di antara lautan manusia yang sedang menja- lankan peranku dalam suratan takdir. Hingga kini, aku masih mencari jawaban itu. Mengapa aku hidup? Untuk apa aku hidup? Semua pertanyaan ini masih ada dalam pikiranku.”


Sang pemuda menyusut air mata. Tanda lahir gajah itu kini semakin menonjol di antara otot-ototnya.


“Anda benar, Gusti Rajapatni.”


“Bagaimanapun, hukuman cineleng-neleng36 itu ma- sih terlalu ringan bagi Mahapati Halayudha.”


“Mada, Mada.” Aku menggeleng perlahan. “Dunia ini tidak digerakkan oleh kebencian atau dendam.”


“Segala hal yang berbentuk adalah kekosongan. Ke- kosongan menciptakan bentuk.” Mada mengulang Sutra Hati yang sering aku bacakan ketika dia mulai memasuki Majapahit.


“Gusti Rajapatni memiliki keberuntungan bisa hidup dalam pencarian Prajna Paramitha.” Senyumnya mulai timbul. “Saya berdoa, semoga Gusti Rajapatni menemukan jawaban itu.”


“Lalu, apakah kau merasa dirimu beruntung, Mada?” Senyum lebar itu terlihat di wajahnya. “Hohoho! Ba-

__ADS_1


gaimana mungkin saya tidak beruntung? Saya adalah Ga- jah Mada, putra Dewa Brahma! Saya berdiri sebagai Patih Daha. Saya memiliki pembimbing sehebat Anda. Bukan- kah itu adalah hal-hal paling menakjubkan yang bisa di- miliki seorang manusia?”


Aku memamerkan seulas senyum.


“Terima kasih atas segalanya, Gusti Rajapatni. Meski Anda telah menanggalkan kemewahan istana. Di hati saya, selamanya Anda adalah ibu negara. Saya akan memenuhi janji untuk meneruskan perjuangan Anda. Melindungi Ma- japahit. Melindungi Putri Dyah Gitarja dan Putri Dyah Wi- yat.”


“Aku yang harus berterima kasih kepadamu untuk itu.”


36 Hukuman mati dengan cara dicincang seperti babi hutan.


Pemuda itu menunduk, menggosok kepalanya malu- malu. Tanpa sadar, kami telah bercerita semalaman. Saat para bhiksuni menyibak jendela, aku baru sadar, hari te- lah fajar.


“Saya sudah merepotkan Gusti Rajapatni.” Mada ber- kata dengan nada melucu. “Saya pamit dulu. Maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda.”


Aku mengantar pemuda itu hingga ke pintu depan. Kupandang punggungnya yang mengecil dan menghilang. Kuresapi kehadirannya yang menurut firasatku akan menjadi sebuah nama besar dalam sejarah.


Gajah Mada.


Saat sosoknya telah menghilang, tanpa sadar, aku melihat rumpun-rumpun bunga ratna di halaman. Sebuah pohon mangga sedang berbuah sangat lebat. Bayangan se- sosok gadis kecil sempat melintas di sana. Gadis kecil yang sedang mengintip-ngintip seorang bocah lanang dari kejauhan.


Duhai Pangeran Pujaan, aku hanya bisa berdoa, lalu merindukanmu....


Secepat kabut yang tersapu angin, bayangan gadis kecil itu kini menghilang.

__ADS_1


Aku tersenyum oleh kenangan-kenangan yang kem- bali datang. Pandanganku menjelajahi langit. Semburat bi- ru menggantikan kuning. Perasaanku buncah oleh cahaya berkilau-kilau. Cahaya itu begitu hangat. Cahaya itu ber- sinar lebih terang dari sebelum-sebelumnya. Cahaya yang menaungi seluruh kerajaan. Cahaya yang mengakhiri mimpi panjang. Cahaya Surya Majapahit.


__ADS_2