
Putri Rajapatni - Gayatri - 13
Aku Panji Asmarabangun,
Aku mencari belahan hatiku.
Menembus hutan dan gunung.
Hingga ke dasar samudra biru.
Mimpiku saat itu sangat aneh. Aku berada di sebuah gubuk. Seorang pangeran datang melagukan Gending Panji. Semua penghuni gubuk bergegas keluar. Hanya aku yang tertinggal di dalam. Terdorong oleh peng- huni lain.
“Di manakah engkau, Putri Candra Kirana?”
Suara gamelan berputar-putar di kepalaku. Begitu bi- sing hingga aku berteriak histeris. Alih-alih berhenti, suara itu semakin keras bergema. Kali ini bercampur de- ngan suara-suara adu senjata dan orang-orang yang ber- tempur. Perang itu terulang dengan dahsyat, menyentak- kan pikiran hingga ingatanku terasa begitu menyakitkan.
Aku berteriak lagi saat merasa tubuhku didorong se- seorang. Punggungku menyentuh sesuatu yang empuk. Aku hendak membuka mata, tapi kepalaku pusing. Panas masih terasa di lengan kiriku. Seluruh tubuhku kaku. Se- mentara paru-paru terasa sesak, berusaha keras me- ngumpulkan udara.
“Anda bermimpi buruk, Putri.”
Beberapa kali, aku mengerjapkan mata. Mulanya se- mua terlihat buram. Lalu aku melihat seorang perempuan
duduk di dekatku. Si perempuan memeras kain lalu me- nempelkan kain itu ke keningku. Wajahnya mungil, de- ngan mata berbinar dan hidung yang bangir. Rambut pan- jangnya terurai, hitam pekat. Usianya mungkin dua tiga tahun di atasku.
“Syukurlah Anda telah sadar. Beberapa hari ini de- mam Anda tinggi sekali.”
“Apa yang terjadi? Siapa kau?” Aku terbatuk-batuk. Saat mencoba duduk, perutku langsung mual. Perempuan itu kemudian tersenyum sambil mengelus bahuku.
“Saya Nari Ratih. Mungkin Putri sudah tidak menge- nal saya.” Dia memamerkan gigi putihnya. “Saya dulu memerankan Putri Galuh Candra Kirana.”
Nama Candra Kirana menyentakkan ingatanku. Ingat- an akan peperangan dan pelarian berhamburan di kepala- ku. Apakah benar yang membopongku waktu itu adalah dia?
__ADS_1
“Kanda Sakka yang menyelamatkan Anda.” Ratih membenarkan asumsiku.
“Sakka menyelamatkanku?” kataku linglung. “Dan kau?”
“Saya adalah istrinya.” Ratih menjelaskan. “Jangan khawatir. Anda aman di sini, Putri.”
“Di mana Yunda Pradnya?” Tenggorokanku sakit saat memaksakan diri bicara. Aku batuk lagi. Tetapi kece- masan sungguh melandaku sekarang. Ayahanda telah mangkat. Aku harus tahu nasib anggota keluargaku.
“Tenanglah, Putri.” Ratih menyorongkan sesuatu ke mulutku. “Minumlah obat Anda.”
Aku menolak tegas. Aku tidak mau hidup kalau ke- luargaku tiada. Untuk apa hidup tanpa mereka? Ke mana aku harus pergi? Di mana aku harus tinggal?
Sebutir air mata sempat mengalir di pipi. Aku menye- kanya dengan ujung jari. Sisa tangisku mengalir setelah itu. Kesedihan akan kehilangan keluarga dan dayang yang seperti sahabatku lebih terasa menyakitkan dari perasaan kehilangan kerajaan.
“Minumlah, Putri. Anda harus sembuh.”
“Aku tidak ingin sembuh!” sahutku keras kepala. Ke- tika Ratih membujuk lagi, aku menjerit. Dengan marah, aku menepis cangkir di tangan Ratih hingga pecah ber- keping-keping.
“Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati?” Aku menangis begitu pilu. Beberapa kali aku berteriak histeris. Ratih bergeming, pasti bingung melihat kelakuanku. Apa- lagi aku selalu menepis tangannya.
Hanya sebuah pegangan kuat yang kemudian meng- hentikanku. Aku begitu terkejut sampai lupa menangis. Wajah Sakka terlihat di depanku. Satu matanya yang kini buta tertutup oleh topeng. Bekas lukanya membujur di bawah topeng itu. Aku tak tahan melihat sorot matanya. Sisa-sisa ketampanan itu masih terlihat di rambut dan bentuk wajahnya. Tapi senyumnya telah berubah menjadi sebuah seringai kejam.
“Saat itu, aku juga memilih mati.” Kata-katanya terde- ngar dingin, “tapi kau memohon pada Raden Wijaya. Kau membuatku hidup untuk menanggung kutukan ini.”
“Sakka... aku ”
“Lalu kenapa kau sekarang ingin mati, Putri? Apa kau terlalu pengecut untuk merasakan penderitaan hidup?”
Ucapannya menusuk hatiku. Entah berapa penderita- an yang dia lalui, aku sama sekali tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu, pengampunan yang kumohonkan itu akan membawa penderitaan baginya.
“M-maaf ” Suaraku bergetar. Tanpa terasa, aku ter-
__ADS_1
isak kembali. Kutumpahkan tangis sambil memeluk lutut. Aku malu memperlihatkan wajah pada Sakka. Dia benar. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan hidup. “Ratih, maukah kau membuatkan lagi ramuan untuk
Gusti Putri?”
“Baik, Kanda.”
Keheningan terasa menyesakkan. Dengan sabar, Sakka menunggu tangisku reda. Herannya, kehadiran Sakka justru meredam histeriaku. Aku tidak berteriak dan mengamuk. Sebaliknya, beberapa kali aku mencuri pan- dang ke arahnya.
“Kebaikan hatimu adalah hal yang membuat orang tak tega menyakitimu. Kau tahu itu, kan?” Sakka men- desah. “Kau pernah menyelamatkanku. Seluruh anggota topeng pemalangan berutang nyawa kepadamu.”
“Tapi, aku—”
“Putri ” Sakka menyergah ucapanku, “Ingatlah satu
hal. Apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup.” “Untuk apa?”
Sakka memalingkan wajah. Jakunnya bergerak-gerak.
Aku tidak paham dengan apa yang dia pikirkan.
“Sakka, kau hidup untuk Prabu Jayakatwang.” Ludah- ku terasa pahit. “Kau memiliki pegangan. Kau memiliki tujuan. Lain denganku.”
Sakka tertawa keras-keras. “Jadi begitu rupanya.
Aku... tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan.” Aku memandangnya bingung.
“Dengar. Kau mungkin merasa tidak punya pegangan. Tapi ada orang-orang yang berpegang kepadamu.” Seri- ngaian licik itu kembali terlihat di wajah Sakka. “Kau boleh memilih. Bertahan untuk pengikutmu. Atau mem- biarkan mereka membusuk di penjara.”
Mataku membelalak lebar. “Apa?”
Sakka memandangku geli. Dia tidak memberi banyak tanggapan. Bahkan ketika Ratih kembali membawakan ramuan baru.
__ADS_1
“Minumlah, Gusti Putri.” Kali ini Sakka yang me- merintahku. “Bangkit dan berjuanglah demi orang-orang yang melindungimu. Jangan biarkan mereka melakukan pengorbanan yang sia-sia.”