Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Rajapatni - Bintang pun Bersinar


__ADS_3

Putri Rajapatni - Rajapatni - Bintang pun Bersinar


Hampir seminggu, Prabu Kertarajasa tidak me- ngunjungi paviliunku. Rasa rindu bergulung-gulung di da- lam hatiku. Setiap malam, aku memandang gerbang de- pan. Aku sibuk bertanya-tanya, apakah saat itu Prabu Kertarajasa telah makan atau istirahat.


Ketika terdengar pengumuman dari seorang utusan, aku girang bukan kepalang. Ritual itu tidak lagi terasa me- nakutkan. Ketika asap dengan wewangian akar wangi itu menyelubungiku, kepalaku telah penuh oleh bayangan Prabu Kertarajasa. Kuingat pegangan tangannya. Begitu kokoh, memeluk dan menyelimutiku dengan kehangatan.


Malam itu, aku telah hampir tertidur. Jelang tengah malam, barulah sang Prabu datang. Prabu Kertarajasa di- iringi beberapa pengawal. Sang Prabu langsung ke kamar- ku setelah menyuruh pengawal-pengawalnya pergi.


Aku mengucek mata, hendak bangkit dari tempat ti- dur. Namun Prabu Kertarajasa memberi isyarat menahan- ku. Dia melangkah masuk, lalu membaringkan diri di satu sisi tempat tidur.


“Lain kali tidak usah menungguku.” Sang Prabu ber- kata seraya mengelus rambutku.


“Apakah Kanda Prabu memerlukan sesuatu? Perlu saya panggilkan seseorang untuk mengambilkan minum? Kanda tidak telat makan, kan?”


Perkataanku mendatangkan senyum tipis di bibir sang Prabu. “Mengapa kau malah menanyakan keperlu-


anku? Sesungguhnya aku sedang menunggumu merayu- ku.”


Aku langsung mencibir. Tentu aku enggan menceri- takan teror Tri dan Nare yang semakin menyudutkan. Kupikir, dia tidak akan tahu.


“Aku sedikit penasaran tentang apa saja yang diajar- kan yunda-yundamu,” katanya dengan nada geli.


“Mengapa saya merasa ada mata dan telinga Kanda di setiap sudut istana?” protesku. Alih-alih menjawab, Prabu Kertarajasa meraihku. Sang Prabu mendaratkan kecupan kecil di keningku. Setelah itu, Prabu Kertarajasa memba- ringkan kepalaku di atas dadanya.


“Aku hanya ingin memastikan, kau tidak terlalu ke- sepian di sini.” Prabu Kertarajasa mengelus rambutku. “Maafkan aku. Menjaga sebuah negara ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan.”


Aku mendesah, mengingat surat Viren. Para pejabat mulai melupakan tujuan perjuangan. Permainan politik menjadi perang memuakkan.


Bayangan Halayudha juga turut meramaikan lamun- anku. Mengingat Mahapati licik itu berkeliaran, membuat- ku semakin khawatir kepada Prabu Kertarajasa.

__ADS_1


“Kalau Kanda tidak keberatan, mungkin Kanda bisa bercerita kepada saya. Saya siap mendengar, kapan pun Kanda berkehendak.”


Prabu Kertarajasa menghela napas. “Mungkin kau be- nar, menjadi rakyat jelata jauh lebih bebas daripada men- jadi seorang raja.”


Digerakkan naluri, aku memeluk Prabu Kertarajasa lebih erat. Aku berharap bisa meringankan pikirannya.


“Kau pasti sudah mendengar tentang Mahapati, ah, maksudku Halayudha.” Prabu Kertarajasa meringis. Sadar kalau dia memanggil Halayudha dengan julukan buruk- nya.


“Halayudha pernah menemui saya dan berniat me- nyogok saya.” Aku menjelaskan apa yang terjadi. Saking kesalnya, tak lupa kusebutkan peti besar berisi harta yang hendak dia gunakan untuk menyogokku.


Prabu Kertarajasa kembali mendesah, menahan ama-


rah.


“Argumen Halayudha hanya satu di antara sekian ba-


“Apa yang terjadi, Kanda? Bukankah Kanda telah membuat susunan pemerintahan yang sesuai?”


“Aku baru saja membentuk Dharmaputra. Hanya ja- batan ini yang bisa kuberikan kepada prajurit-prajurit yang telah berjasa membantuku membangun Majapahit.” Sang Prabu menjelaskan. “Para bangsawan menentang hal ini. Mereka takut, kalau para Dharmaputra akan meng- gunakan hak istimewa mereka untuk mengusik kewe- nangan para menteri. Terlebih lagi, para Dharmaputra tidak memiliki darah bangsawan.”


Aku mengusap dada sang Prabu. Detak jantungnya bergemuruh kencang.


“Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya, Gayatri.” Prabu Kertarajasa mendesah. “Mereka bertujuh menjaga- ku selama pertempuran. Mereka menjadi perisai bagi pa- nah-panah yang melesat. Mereka membelaku dari serang- an para prajurit yang mencoba mengepung.”


Aku bisa membayangkan keadaan itu. Menjadi peri- sai artinya merelakan nyawa mereka untuk Prabu Kerta- rajasa. Tidak banyak prajurit yang dengan gagah berani rela melakukan hal itu.


Aku berguling hingga bisa menatap wajahnya. “Jika seorang raja mengambil keputusan, maka kewajiban yang lain untuk taat. Saya percaya kalau Kanda Prabu memiliki pertimbangan-pertimbangan sendiri.”


Prabu Kertarajasa memandangku selama beberapa saat. Tangannya terulur, menyusup ke helaian rambutku. Jarinya bergerak menggulung rambutku. Dimainkannya helai rambutku di antara jemarinya.

__ADS_1


“Kisahmu tentang Dewi Sati sangat mengesankan.” Prabu Kertarajasa berkata, “Malam ini, apakah tidak ada cerita lain yang bagus?”


Wajahku memerah melihat senyuman itu. Prabu Kertarajasa memandangku lekat-lekat. Tangannya me- nyentuh kelat bahu pemberiannya. Para dayang selalu melepas semua perhiasanku. Tetapi mereka memasang- kan kelat bahu itu setiap kali ada pengumuman keda- tangan raja.


“Bagaimana kalau malam ini kau bercerita tentang Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih?”


“Maafkan saya, saya tidak tahu cerita itu.” Aku me- nunduk malu.


Prabu Kertarajasa mengecup puncak kepalaku de- ngan lembut. Sesaat, dia membiarkan keheningan menjadi jeda di antara kami.


“Legenda mengatakan, Batara Kamajaya pernah membuat kesalahan. Batara Kamajaya membangunkan Batara Guru dari tapa. Batara Guru pun marah sekali. Beliau memandang Batara Kamajaya hingga api melesat dan membakar batara itu.” Prabu Kertarajasa memulai ceri- tanya. “Kabar ini didengar Batari Kamaratih. Istri Batara Kamajaya ini merasa sangat sedih.”


Aku heran sekali. Ternyata sang Prabu juga bisa ber- cerita. Dia membelai rambutku. Suaranya mengalun in- dah, seperti lantunan sebuah lagu.


“Batari Kamaratih kemudian memohon kepada Bata- ra Guru. Dia masih berharap, Batara Guru akan bermurah hati. Dia meminta dengan sangat agar Batara Guru meng- ampuni kesalahan suaminya. Namun kesalahan Batara Kamajaya agaknya sangat besar. Permintaan Batari Kama- ratih tidak dikabulkan.”


Prabu Kertarajasa menarik napas lalu mengembus- kannya. “Akhirnya, Batari Kamaratih memohon agar Ba- tara Guru turut membakarnya. Batara Guru mendatang- kan api dari abu Batara Kamajaya. Jiwa Batara Kamajaya seolah muncul dari sana. Tersenyum dan melambaikan tangan. Batari Kamaratih pun segera terjun untuk meme- luk suaminya. Mereka berdua akhirnya mati di dalam nyala api.”


Aku menahan napas. Masih takjub karena Prabu Kertarajasa tahu cerita ini.


“Mendiang ibundaku sering menceritakan kisah itu sewaktu aku kecil. Beliau kadang menambahkan akhir bahagia. Namun kisah itu tetap terdengar menyedihkan bagiku.”


Aku mengangkat wajah. Kuperhatikan ekspresi Prabu Kertarajasa yang mulai melembut. Kenangan akan ibunya mendatangkan binar kerinduan. Binar itu terlihat indah dalam manik matanya.


“Ibunda mengatakan, Batara Kamajaya ada dalam ra- sa sayang laki-laki kepada perempuannya. Sedang Batari Kamaratih hadir dalam setiap hati perempuan yang me- ngasihi lelakinya. Mereka berdua adalah lambang keru- kunan dan kasih sayang suami istri.” Prabu Kertarajasa menjelaskan. “Masa kau tak pernah mendengar kisah ini?”


Aku menggeleng lalu menunduk malu.


“Seharusnya kau lebih banyak membaca cerita per- cintaan.” Prabu Kertarajasa mengulum senyuman jail. Wajahku panas sekali. Aku tidak bisa menolak ketika sang Prabu menarikku semakin dekat. Seperti Batari Kama- ratih yang memeluk nyala api, aku pun lebur dalam pe- lukannya. Luluh lantak dalam kehangatan sentuhannya.

__ADS_1


__ADS_2