Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - PROLOG


__ADS_3

Putri Rajapatni - PROLOG


Tirai Mimpi


Aku masih ingat peristiwa malam itu. Hujan deras sambung menyambung dengan sambaran petir dan suara guntur yang bergemuruh. Seakan-akan, semesta memang sedang meluapkan duka yang terpendam begitu lama.


Pohon-pohon di depan kuti1 bergoyang begitu dah- syat. Mereka tampak berusaha bertahan agar tak tercabut oleh angin. Beberapa bhiksuni menggeleng-geleng keta- kutan. Wajah mereka pias. Kaki mereka gemetar. Sebelum bhiksuni senior memutuskan untuk mengambil tasbih dan mulai membaca dharani2.


Sesosok pemuda dengan badan tegap berdiri men- julang di depan pintu. Tetes-tetes air mengalir di atas kulitnya yang basah. Rambutnya terurai, kusut masai. Se- mentara kegelisahan membuat raut wajahnya terlihat mengerikan. Kalau saja pemuda ini tidak sering datang mengantar Dyah Gitarja berdana makanan, mungkin para bhiksuni akan berprasangka buruk mengira pemuda ini seorang bramacorah.


Pemuda itu memberikan sujudnya tiga kali, lalu ber- sila dengan sikap gelisah. Aku memandang wajahnya yang lelah. Beberapa kali aku menelan ludah, berusaha mem- buat nada suaraku lembut setenang air.


“Katakan, apa tujuanmu kemari, Mada.”


1 Tempat tinggal bhiksu/bhiksuni.


2 Mantra doa agama Buddha


Mada menangkupkan telapak tangan, lalu menyen- tuhkannya ke ujung hidung. Sekali lagi memberi hormat, “Yang Mulia Bhante 3”


Aku sangat mengenal Mada. Aku tahu saat dia masih merah dan dalam gendongan. Bisa dikatakan, hal ini yang paling meresahkan. Sifat-sifat kesatrianya yang menonjol tak mungkin membiarkannya menerjang aturan untuk da- tang ke biara di waktu seperti ini.


Mada terlalu sopan. Terlalu bermartabat, hingga tak jarang menjadi orang yang sangat keras kepala. Kekeras- kepalaannya inilah yang membuat Mada masih melapor- kan segala yang terjadi di istana. Memaksaku memberikan tanggapan dan nasihat, meski aku selalu enggan. Meng- urus keadaan suatu kerajaan bukanlah hal yang cocok di- lakukan seorang bhiksuni, kan?


Aku ingat, terakhir kali Mada kemari saat negara guncang oleh pemberontakan Ra Kuti. Saat itu, Mada ma- sih menjabat sebagai pemimpin pasukan bhayangkari. Emosi dan kesetiaannya pada negara membuat semangat- nya meluap-luap.


“Sampai kapan saya akan dilibatkan dalam masalah- masalah istana, Mada?” kataku sambil menggeleng. “Se- mua yang saya ketahui, sudah saya katakan. Semua pe- ngetahuan, sudah saya ajarkan. Lagi pula, saya seharus- nya tidak terlibat lagi dengan urusan negara.”


“Sudah sepantasnya Anda tahu semua masalah yang terjadi di istana. Apa pun yang terjadi, Anda masih ang- gota keluarga kerajaan, Gusti Yang Mulia.” Pemuda itu menangkupkan telapak tangan menutupi wajah. Sama se-

__ADS_1


3 Panggilan kepada bhiksu


perti sekarang, berkali-kali, Mada mengembuskan napas, gusar. Bahunya bergerak-gerak gelisah. Selalu begitu jika ada hal besar yang akan disampaikannya.


“Apakah saya salah, datang mencari Anda? Hanya Anda yang peduli. Sementara yang lain hanya berani me- nundukkan wajah di depan raja. Tak berani melawan ke- lalimannya. Saya tidak ingin negara ini runtuh hanya ka- rena kesewenang-wenangan seorang penguasa.”


“Mada ”


Aku berusaha menghentikan Mada. Namun, tubuh pemuda itu bergetar. Apakah dia panik? Masalah apa yang terjadi hingga mampu mengguncang orang setangguh Ma- da?


Aku melihat Mada menyusut hidung lalu terdiam se- jenak. Aku harus menebak-nebak apa yang ada di pikiran- nya sekarang atau masalah apa yang hendak dikatakan- nya kepadaku.


“Anda masih ingat? Waktu saya ditunjuk menjadi Patih Daha, dulu, Anda yang berbicara di depan para pe- jabat istana, mempertahankan pemuda yang asal-usulnya tidak jelas ini. Pemuda yang berpotensi menjadi peng- khianat.” Suaranya terdengar makin lirih. “Hanya Anda... yang memercayai saya.”


Agaknya, Mada sudah mulai dapat mengendalikan emosi. Bahunya yang tegap itu kini tegak. Jemarinya diam tak bergerak gelisah lagi.


“Saat ini, saya tak tahu... apakah saya masih bisa mempertahankan kepercayaan yang Anda berikan itu. Apakah saya masih patriot yang sama, ataukah berubah menjadi pengkhianat yang ditakutkan semua orang.”


“Gusti Rajapatni.” Akhirnya panggilan lama itu keluar dari mulut Mada. “Apakah saya melakukan sebuah dosa? Apakah salah, menyingkirkan satu orang demi keselamat- an ratusan bahkan ribuan orang?”


Aku mengernyitkan alis, bingung. Belum sempat aku berpikir, Mada telah melanjutkan.


“Raja telah mangkat.” Sang pemuda menunduk tanpa berani memandangku.


Aku tersentak mundur, kaget oleh berita ini. Setahu- ku, Jayanagara memang menderita penyakit bisul,4 sama seperti Kakanda Kertarajasa. Namun, tak kuduga, kemati- annya akan datang secepat ini.


“Bagaimana bisa raja meninggal?”


Mada menggertakkan jari. Kelihatan sekali sedang mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berbicara. “Ra Tanca membunuh Prabu Jayanagara. Dia menusuk sang Prabu dengan pisau yang digunakannya untuk meng- operasi bisul.”

__ADS_1


Aku menghela napas. “Ra Tanca? Tabib Istana? Mem- bunuh Jayanagara?”


Mada mengangguk.


“Di mana tabib itu sekarang?”


“Saya langsung membunuhnya.” Mada menautkan ja- ri. Sorot matanya menyiratkan rasa bersalah. “Saya yang menunggui proses pengobatan Paduka Raja. Jadi, begitu raja terbunuh, saya tidak mampu menahan diri.”


4 Ada asumsi yang mengatakan bahwa bisul itu adalah penyakit tumor.


“Mada, Mada.” Aku menggeleng tak sanggup mena- han kesedihan. “Jika dirimu menjaga Paduka Raja, aku lebih percaya kalau kau menggagalkan upaya pembunu- hannya, bukan malah membunuh pelakunya.”


“Gusti,” kali ini Mada memandangku dengan penuh permohonan. “Gusti telah tahu bagaimana kelakuan Prabu Jayanagara selama ini. Apakah kita harus berdiam diri melihat kehancuran di tangannya?”


Suara Mada menggelegar sama seperti guruh di luar. Kilat kemarahan terlihat jelas di matanya. “Ra Tanca membunuh raja bukan tanpa alasan. Kelakuan sang Prabu sudah menjadi rahasia umum. Entah berapa perempuan yang sudah jadi korbannya! Pikirkanlah, Gusti Rajapatni! Apakah seorang raja amoral mampu memerintah negara dengan adil?”


Aku terdiam. Ingat akan ajaran-ajaran tata negara yang pernah aku berikan kepada Mada. Tak jarang aku mengingatkan agar pemerintahan sebaiknya dikendalikan oleh orang-orang berhati bersih.


Sebenarnya, sangat memalukan mengetahui rahasia- rahasia terdalam istana. Apalagi menyangkut pemaksaan hingga rudapaksa yang dilakukan seorang raja. Akan teta- pi, Mada benar. Aku memang keluarga istana. Aku bahkan ibu dari dua saudari Jayanagara yang ingin diperistri raja itu. Tidak habis pikirku, mengapa seorang pria berani memperistri adik-adiknya sendiri. Bukankah itu kelakuan yang sangat biadab?


Namun, sebiadab-biadabnya Jayanagara, dia tetap se- orang raja. Lebih dari itu, Jayanagara adalah seorang manusia. Haruskah aku mengatakan kalau membunuh Jayanagara adalah tindakan yang layak? Pembunuhan adalah tindakan yang ditentang oleh Buddha. Bahkan menginjak seekor semut pun sudah menjadi sebuah dosa bagiku. Lalu bagaimana aku harus menanggapi pembu- nuhan raja ini?


“Apakah saya melakukan kesalahan, Gusti Rajapatni? Ataukah saya harus terus diam meski tahu negara akan hancur?” Mada menutup wajah dengan telapak tangan. Keheningan bercampur kesedihan itu mendadak meng- ingatkanku akan sesuatu.


Masa laluku. Masa lalunya.


Ah, pemuda ini..., pemuda yang dikatakan sebagai putra dewa. Aku telah menceritakan banyak kisah pada- nya. Kisah Perang Bharatayudha, Kisah Ramayana, Bha- gavad Gita, Kisah kelahiran Mataram Kuno, Jenggala, Kadiri, tentang dinasti-dinasti, dan kesatria-kesatria di tanah Jawa.


Tetapi, aku belum pernah menceritakan kisah ini ke- padanya: kisah hidupku sendiri.

__ADS_1


Mungkin kali ini, aku harus bercerita. Rajapatni yang dia kenal juga memiliki kelemahan. Juga memiliki kesa- lahan.


“Mada.” Aku menggenggam jubah. Setitik air mata mendadak luruh saat aku mengingatnya. Masa lalu bagai- kan tirai mimpi. Semua keindahan yang memudar, bersa- ma usia yang kian tua.


__ADS_2