
Putri Rajapatni - Gayatri - 27
Purwakaning (Pada permulaannya)...
Srimathi Radharani,
Sang kekasih sejati,
Turun mengajarkan bakti.
Insan-insan melagukan wargasari. Sri Krisna meniupkan seruling.
Cinta menggugah keindahan.
Hutan gunung mengenang Bulan Kartika. Pohon tangguli ketur membentuk tirai.
Bunga gadung pun mekar dengan jelita.
Baik aku maupun Raden Wijaya melupakan sega- lanya. Asal kami. Tujuan kami. Seolah-olah seluruh dunia tertinggal di belakang. Sama seperti Ranggalawe, Gajah Biru, dan para pengiring yang tadi kami tinggalkan.
Karena itu, kami baru sadar Ranggalawe dan Gajah Biru telah sampai di dekat kami. Kami sama-sama tersen- tak kaget. Lalu dengan kompak menepis rumput dan ta- nah yang tersisa. Jantungku berdetak kencang. Takut me- reka akan menyangka yang bukan-bukan. Padahal kami hanya jatuh terguling-guling saja.
Ranggalawe jelas cengar-cengir. Gajah Biru masih berusaha menahan senyum. Sementara para prajurit dan dayang memalingkan muka, mencari kesempatan untuk tertawa.
Mukaku pasti sudah seperti maling ketahuan men- curi. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Raden Wijaya kemudian menyingkapkan tanganku. Wa- jahku panas sekali, pasti merah padam. Di luar dugaanku, bibir pangeran itu bergetar sejenak. Lalu dia tertawa.
Ini pertama kalinya setelah berpisah, aku melihatnya tertawa seperti itu. Suaranya yang biasa terdengar tanpa emosi, kini mengalun lepas, merdu sekali. Senyuman itu juga menegaskan garis tegas yang membelah dagunya. Tanpa sadar, pipiku memanas ketika memandang bibir- nya.
“Pangeran,” kataku, setengah terpana. Aku tak men- duga akan terguncang, hanya karena senyum dan tawa Raden Wijaya. Ini sangat mencengangkan.
Raden Wijaya memandangku sejenak. Topeng arca- nya kembali terpasang. Untungnya, keseriusan itu malah bisa lebih menenangkan. Mengingat sikapnya yang men- jengkelkan langsung menyurutkan luapan perasaanku.
Tapi sesaat kemudian, aku kembali mengingat bagai- mana ketika dia melingkupiku. Ini memalukan sekali. Mengapa aku malah mengingat kemesraan kami? Aku mengutuk pikiranku yang lancang. Sungguh tidak pantas mengingat hal itu kembali!
“Ada apa?”
Aku menelan ludah. Dengan cepat, aku membela- kanginya. Tanganku masih mengelus dada. Berusaha menenangkan degup jantung.
“Saya... ehem... saya senang melihat Anda tertawa seperti itu.”
Dugdagdig. Dugdagdig. Duh, jantung kurang ajar.
Sampai kapan jantung ini menggodaku?
Napas Raden Wijaya berembus di ubun-ubunku. Dia memutar tubuhku. Sehingga mataku pun kembali mena- tap matanya.
“Aku akan melakukan apa pun yang kau suka.” “Memangnya Anda tidak merasa senang saat terta-
wa?” Aku bersuara lebih sinis dari yang kuharapkan.
Hanya senyuman Raden Wijaya yang menjawab. Dia menyelimutiku dengan pelukannya. Aku memejamkan mata, menghirup aroma cendana dan bunga-bunga yang bercampur kehangatan. Aku tak tahu apa yang sedang dia lakukan atau pikirkan. Namun sejenak berada dalam kea- daan seperti ini, mendadak membuatku berpikir. Betapa manis perlindungan ini. Betapa kuat kerinduannya me- melukku.
Aku masih ada dalam pelukan Raden Wijaya ketika Ranggalawe beranjak dari tempatnya berdiri. Wajah Ranggalawe tertekuk.
Seketika, aku melepaskan diri. Raden Wijaya mena- han tanganku. Menegaskan kalau aku tidak boleh ke mana-mana.
“Hamba mohon maaf telah mengganggu.” Rang- galawe terbatuk dua kali. Dia cepat-cepat memberi hor- mat kepada kami.
“Ada apa hingga kalian tiba sangat terlambat?” Raden Wijaya berkata galak. “Jika saja tadi ada perampok yang mencegat, bagaimana kalian akan bertanggung jawab?”
“Sekali lagi, ampunkan saya, Gusti.” Ranggalawe kem- bali menghormat sambil menunduk penuh penyesalan.
__ADS_1
“Hamba tadi menunggu prajurit yang membawa pe- san dari Nambi.”
Raden Wijaya mengerutkan alis. “Apa yang dia kata- kan?”
“Mohon maaf, ini memang terlalu mendadak. Tapi ”
Ranggalawe menggeleng sesaat, berusaha mencari kata- kata yang tepat.
“Ike Mese baru saja menolak permintaan Raden un- tuk memohon bantuan.”
Kemarahan Raden Wijaya hanya terlihat dari jarinya yang mengepal keras-keras. Senyum dan tawanya meng- hilang bak awan tersapu angin. Aku terdiam. Cekalan tangannya telah berubah menyakitkan. Pasti ini kabar yang berat baginya.
“Ike Mese sedang memikirkan untuk pulang ke Mo- ngolia dan mengatakan kalau kerajaan Prabu Kertanegara telah hancur.”
“Kita bicarakan ini di padepokan,” kata Raden Wijaya.
Kali ini tidak dapat menyembunyikan kemarahannya.
***
Tak ingin aku membuat masalah lagi. Raden Wijaya menaikkanku di atas kudanya. Sepanjang perjalanan, ka- mi sama sekali tidak bicara. Meski aku merasa, saat itu, Raden Wijaya sedang berusaha mati-matian mengendali- kan emosi.
Ranggalawe dan para pengiringnya pergi mendahului kami. Mereka mengatakan akan mengumpulkan orang un- tuk sebuah pasewakan kecil. Aku memang melihat keri- butan saat kami sampai di padepokan. Beberapa orang datang dengan kuda mereka. Ada yang mengenakan seragam Majapahit. Sebagian lagi masih mengenakan seragam Kadiri.
Raden Wijaya disambut di gerbang. Seorang prajurit segera mengambil alih kudanya. Raden Wijaya tampak ge- lisah ketika dia menaikkan semua rambutnya lalu meng- gelungnya dengan gaya formal.
“Kembalilah ke asrama, Gayatri. Aku akan menemui- mu setelah pasewakan.”
Aku mengernyitkan alis. “Apa maksud Anda dengan menemui saya setelah pasewakan?”
Amarah berkobar dalam sorot matanya. Dia tidak su- ka perkataanku. Namun, hal itu tidak membuatku gentar.
“Jika kejahatan harus diberi hukuman, maka itulah yang akan dilakukan,” kataku menentangnya. “Biarkan sa- ya ikut dalam pasewakan.”
“Saya hanya perempuan? Begitu?” Nada suaraku me- ninggi tanpa kusadari. Aku melihat Gajah Biru sempat melirik ke arah kami. Tahu telah ketahuan, Gajah Biru mengalihkan pandangan ke arah gerbang. Rupanya, dia menunggu seseorang.
“Apakah Anda meremehkan saya, karena seorang pe- rempuan?” Dengan yakin, kutatap Raden Wijaya langsung di matanya. “Pangeran yang mengatakan, Kerajaan Kadiri kini dibangun di atas puing-puing kerajaan saya.”
Raden Wijaya menaruh telunjuknya di hidung, me- nantang kesabaranku. Dia tidak menjawab.
Dan tentu saja, aku masih berdiri di depannya. Keras kepala. Tidak berniat pergi. Kali ini, aku tidak mau menga- lah. Raden Wijaya pun agaknya sudah enggan berdebat.
“Aku ingin, kau menjaga sikapmu.”
“Sendhika, Pangeran.”
Dia menarik tanganku. Lalu kami memasuki ruang belajar yang kini dijadikan tempat pertemuan. Paman Nambi mengawali pasewakan itu dengan laporan lengkap mengenai Ike Mese. Rupanya alasan Ike Mese masih sepu- tar keraguannya terhadap Raden Wijaya.
“Demikianlah, Pangeran. Tampaknya, kali ini kita su- dah tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”
“Tapi persenjataan dan kekuatan laskar mereka cu- kup tangguh.” Raden Wijaya menanggapi. “Tidak dapat- kah kita memikirkan cara lain, Paman?”
Paman Nambi menggeleng putus asa. Keheningan menggayuti ruang rapat itu. Semua orang mengerutkan alis, tak berani bersuara.
“Maaf, saya datang terlambat.” Suara itu datang dari arah pintu. Seketika semua orang menoleh. Arya Virendra masuk terburu-buru. Semua orang mencibir kepadanya. Namun Viren hanya meringis sambil memamerkan eks- presi pandirnya.
“Apa yang kaulakukan hingga datang paling akhir, Arya Virendra?” sindir Gajah Biru.
“Maaf. Ada sekelompok prajurit mengadang saya di tengah jalan. Mereka ingin menangkap saya.”
Meski Viren mengatakan hal itu dengan sikap masa bodoh, orang-orang malah makin panik. Makin banyak ke- ributan akibat orang-orang mulai ketakutan.
__ADS_1
“Astaga! Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?
Lalu apa kau terluka?” sergah Ranggalawe.
“Saya baik-baik saja.” Viren garuk-garuk kepala. “Po- sisi Ken Sakka dan Putri Mahadewi mungkin saat ini lebih riskan. Salah satu prajurit mengatakan, Pangeran Arda- raja sedang murka.”
Semua orang terdengar berkeluh kesah. Ruangan se- makin ramai.
“Apakah Prabu Jayakatwang sudah tahu rencana kita untuk menyerang Kadiri?” kata Lembu Sora.
“Maafkan saya. Tapi saya tidak begitu tahu. Prabu Jayakatwang mulai menutup mulut para pejabat istana. Hal ini terjadi sejak orang Mongolia itu datang.”
Lembu Sora memperlihatkan ekspresi khawatirnya kepada Raden Wijaya.
“Dengan kekuatan kita saat ini, apakah kita dapat mengalahkan prajurit-prajurit Kadiri?” Raden Wijaya ber- tanya, kali ini kepada Nambi.
“Sulit dipastikan,” kata Nambi. “Kekuatan kita saat ini seimbang. Mungkin saja kita menang, jika mengandalkan keberuntungan.”
“Arya Virendra, kabar apa lagi yang bisa kauberikan kepada kami?”
“Saya hanya bisa mengatakan bahwa Prabu Jayakat- wang sudah memulai lagi latihan pasukannya di Ganter.”
Suara kaget bersahutan di ruangan itu. Banyak orang menggeleng-geleng. Bisa jadi, mereka berpikir untuk ber- ganti pihak.
Viren menggaruk kepalanya lagi. Sekilas, Viren meli- rik Raden Wijaya. Dia melihatku di sebelah pangeran itu.
“Eh? Rupanya Gusti Putri ada di sini?”
Aku mencebik. Perkataan Viren mau tidak mau mengalihkan perhatian semua orang. Pandangan semua orang kini tertuju kepadaku, satu-satunya perempuan di ruangan itu.
“Ike Mese baru saja menolak permintaanku memin- jam pasukannya, Arya Virendra.” Raden Wijaya menyua- rakan kegelisahan semua orang.
“Aduh, maaf, saya baru tahu.” Viren berdeham. “Lalu, apakah ada di sini yang bisa memberi jalan keluar?”
Raden Wijaya menggeleng. Begitu juga semua orang yang dilirik Viren.
“Bagaimana dengan Anda, Putri?”
Wajahku memanas. Senyuman Viren dan pandangan semua orang mendadak memendam tanya.
“Sampaikan saja apa yang ada dalam pikiranmu, Gayatri.” Ada nada keberatan dalam suara Raden Wijaya. Aku sempat memilin jari. Merasa tegang atas perhatian semua orang yang kini menuntut jawaban.
“Ranggalawe.” Akhirnya nama itu yang terucap dari mulutku. “Apakah kau masih menyimpan tuak-tuak dari desamu?”
Suara gebrakan meja membuat semua orang menelan ludah.
Sebelum Raden Wijaya berbicara, aku lebih dulu me- lanjutkan. Raden Wijaya akan marah, aku tahu, tapi aku harus mendahuluinya bicara. Aku berdiri di depannya. Kutangkupkan telapak tangan di depan dada. Aku menun- duk untuk memberi hormat.
“Pangeran, saya mohon. Biarkan saya mencoba berbi- cara dengan orang Mongolia itu.”
“Gayatri!”
Aku tersentak. Pertama kali aku mendengar suara bak guntur. Seisi ruangan menahan napas. Ketakutan mereka pupus tersapu murka Raden Wijaya. Semua hanya menunggu. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
Aku berusaha memenangkan deru jantungku. Hatiku memanjatkan doa. Semoga Hyang Widhi membimbing mulutku bicara.
Aku menelan ludah. Bersyukur, suaraku saat itu jauh terdengar lebih mantap dari suara orang-orang di sana.
“Kalau ada pilihan lain, saya akan membatalkan per- mohonan itu. Dengan senang hati.”
“Saat ini, kita memang tidak punya pilihan lain,” de- sah Nambi. “Bahkan dua per tiga rampasan perang masih tidak mampu menggoyahkan mereka. Mungkin jika Putri yang berbicara, akan lain hasilnya.”
__ADS_1
Pandangan Raden Wijaya kini mengarah ke Lembu Sora, Gajah Biru, dan Ranggalawe. Mereka semua menun- duk. Namun, tidak satu pun menyatakan penolakan. Se- cara tidak langsung, itu berarti mereka mendukung usul- ku.
“Aku benar-benar berharap keberuntungan akan da- tang.” Raden Wijaya berkata pasrah. Kali ini sambil memi- jat pelipis. Terlihat begitu lelah.