
Putri Rajapatni - Rajapatni - Permainan Istana
Kereta kencana itu akhirnya datang. Dayang- dayang dan pengawal mengenakan pakaian mewah de- ngan perhiasan lengkap. Aku tak peduli saat mereka memberi hormat. Mataku sembap. Wajahku pucat. Kese- dihan masih menyakitiku. Ingin sekali aku mangkir. Sayangnya, aku telah berjanji. Tak bisa mengelak lagi.
Para dayang mengoleskan lulur. Mereka menyirami- ku dengan air kembang. Kemudian mereka mengasapiku dengan berbagai akar wangi. Perlahan, mereka menggan- tikan pakaianku dengan pakaian kerajaan. Batik keraton dipadukan kain bertenun emas. Perhiasan-perhiasan di- pasangkan di tubuhku, termasuk kelat bahu pemberian Raden Wijaya.
Seluruh rambutku diikat lalu disanggul. Kembang- kembang emas ditusukkan satu per satu. Membentuk se- buah gunungan tinggi. Kepalaku sakit berdenyut-denyut. Hiasan-hiasan itu terlalu berat. Sementara wajahku terasa tebal oleh bedak dan gincu. Mataku terasa panas sepan- jang waktu. Kutahan tangis sekuat-kuatnya. Seumur hi- dupku, baru pertama kalinya aku berpakaian seformal ini. Perjalanan ke Majapahit terasa begitu lama dan mele- lahkan. Ketika aku sampai di gerbang kota, sorak-sorai penduduk menyambutku. Mereka menaburkan bunga ke arahku. Untuk sesaat, aku membayangkan cerita Nyi Hanum. Mungkin beginilah yang terjadi di swargaloka pada saat kelahiranku dulu.
Upacara penobatan berlangsung beberapa hari sebe- lum aku datang. Raden Wijaya telah resmi menjadi Raja Majapahit. Namanya berganti menjadi Sri Maharaja Kerta- rajasa Jayawardhana.
Prabu Kertarajasa.
Dia sudah bukan seorang pangeran. Keadaan jauh berbeda dari keadaan sebelum-sebelumnya. Sang Prabu duduk di singgasana. Mahkota emas berkilauan di kepala- nya. Payung kerajaan dan tombak-tombak Pataka—pusa- ka Majapahit, menaunginya dengan keagungan luar biasa. Merestuinya sebagai pemegang wahyu kedaton yang baru. Kata-kata hilang dari kepalaku. Aku mendadak mera-
sa bodoh. Tak menemukan kata-kata untuk menjabarkan perasaan saat aku bertemu dengannya.
Prabu Kertarajasa saat itu duduk dikelilingi empat istri. Aku memfokuskan pandangan pada resi yang sedang membacakan mantra. Asap dupa mengelilingiku. Wangi- nya memabukkan hingga aku merasa akan melayang.
“Gayatri.” Suara itu memang familier, tapi menakut- kan. Dengan pakaian kebesaran, dia—sang Prabu tiba-tiba terlihat terlalu agung. Jantungku berdebar keras saat sang Prabu telah berdiri di sebelahku. Tangannya terulur. Sang Prabu meraih tanganku dengan mantap. Lalu bersamaku melangkah.
Prabu Kertarajasa mendampingiku melanjutkan upa- cara pernikahan. Sang Prabu menggandeng tanganku ke bagian samping balairung agung. Di sana, kain terang disampirkan menutup dinding dan lantai. Berbagai sesaji dan alat upacara diletakkan di atas lantai.
Perlu usaha sangat keras untuk bertahan di tengah upacara itu. Berada di sebelah Prabu Kertarajasa saja sudah membuatku sangat panik. Apalagi kini, semua orang memperhatikanku dengan serius.
Beberapa mantra kembali diucapkan. Sang resi membacakan syair penyerahan mempelai. Setelah selesai, dia menggoyangkan genta keras-keras. Mengakhiri ritual.
“Saya umumkan Putri Gayatri sebagai istri kelima Prabu Kertarajasa Jayawardhana,” seru Resi itu lantang. “Dengan gelar ”
“Rajapatni (raja wanita).”28
Prabu Kertarajasa yang mendahului Resi itu. Sang resi tampak bingung. Semua orang seketika bingung. Para putri memang menerima nama kehormatan setelah meni- kah. Tetapi seharusnya nama abhiseka dipilih melalui pe- rundingan dengan para menteri dan ahli nujum.
“Gusti Prabu, tapi ”
“Ini adalah titahku.” Prabu Kertarajasa berkata de- ngan nada tak boleh dibantah. Sang resi akhirnya menu- ruti keinginan junjungannya.
“Saya umumkan, mulai sekarang nama Putri Gayatri, adalah: Gayatri Rajapatni.”
Bersamaan dengan itu, seluruh ruangan mengelu- elukan nama Prabu Kertarajasa. Pesta diadakan beberapa malam. Mungkin ini adalah pesta meriah pertama di Maja- pahit. Karena seisi istana begitu bersukaria.
Aku ingat, saat itu masih bulan Kartika. Musim semi yang indah. Waktu di mana para pujangga menulis puisi cinta. Bunga akasia jingga mekar bersama bunga-bunga lain. Riris hujan menggoda purnama. Guntur menunduk dan melemah.
28 Rajapatni berarti Raja Putri atau Raja Perempuan.
__ADS_1
Sayangnya, saat aku datang, purnama telah hampir habis. Rasanya aku kembali pada situasi istana sebelum- nya. Para perempuan bersaing memperebutkan kasih sa- yang. Hanya bedanya, kali ini yang diperebutkan adalah kasih sayang seorang suami.
Dara Petak adalah orang yang pertama kali menun- jukkan aura persaingan. Aku mengingat sorot benci di mata Dara Petak. Dengan tegas, dia mengatakan kalau posisinya saat itu ada di atas angin. Dara Petak telah me- lahirkan seorang putra. Dan putranya telah resmi menjadi putra mahkota.
Saat-saat memberi perkenalan dan memberi salam menjadi saat yang sangat menjengkelkan bagiku. Untung- nya, Tri masih memegang jabatan permaisuri. Dialah yang kemudian menyelamatkanku dari Dara Petak. Yundaku itu mengajak berkeliling ke istana keputrian. Sebelum ke- mudian mengantarku ke bagian istana yang menjadi mi- likku.
Ya, Prabu Kertarajasa tidak menempatkanku di ista- na keputrian. Dia memilih mendirikan sebuah paviliun. Tri menjelaskan dengan gembira tentang paviliun ini. Ko- non, Dara Petak dulu mendapatkan paviliun hanya setelah Jayanagara dinobatkan sebagai putra mahkota. Dan pavi- liunnya jauh lebih kecil dari paviliunku.
Bangunan itu tidak bisa dibilang sederhana. Atap si- rapnya sewarna perunggu yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Taman di depannya dipenuhi rumpun-rumpun bunga ratna, bunga pecah seribu, dan bunga widuri. Se- mentara pohon-pohon bunga lain juga meramaikan ta- man. Jempiring, cempaka, dan kamboja ditanam di bagian dalam. Hanya ada satu pohon buah di sana: pohon mangga. Aku tersenyum sendiri melihatnya, menebak-nebak apakah ini hanya sebuah kebetulan.
Tri memperkenalkan dua dayang yang mulai saat itu akan melayaniku. Ada beberapa pengawal yang bertugas di depan gerbang. Tri menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku di istana ini. Tidak ada yang berubah. Kare- na itu, aku hanya pura-pura menyimak untuk berbasa- basi. Pikiranku berkelana ke mana-mana. Hatiku resah memikirkan kesibukan baru suamiku.
Aku ingat, setelah upacara pernikahan, sang Prabu langsung pergi ke pasewakan. Dia hanya sempat terse- nyum kepadaku. Aku pun tak sempat banyak berkata- kata.
“Aku senang, kau berada di sini, Dinda,” kata Tri de- ngan wajah bahagia. Aku sedikit iri melihat mahkota dan perhiasannya. Penampilannya jauh lebih mewah dari para selir. Tri mengibaskan tangan. Dua dayang di dekat kami segera mengambilkan kursi dan meja. Mereka juga me- letakkan sepiring buah yang telah dikupas beserta ceret dan gelas.
Yunda-yundaku yang lain datang beberapa saat ke- mudian. Mereka semua—yang kini resmi menjadi selir- selir Prabu Kertarajasa—tampak semakin cantik dan ang- gun. Seketika, aku merasa kecil hati berada di tengah- tengah mereka.
“Ini adalah pertama kalinya kita berkumpul kembali,” kata Nare sambil memelukku. Ada perubahan yang drastis dari sikapnya. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu. Apakah itu kesusahan perang? Atau perasaan lain?
Yang jelas, saat ini kami tidak harus memperebutkan kasih sayang Ayahanda.
“Kita keduluan Dara Petak, Dinda.” Tri langsung me- nyambar dengan nada tidak suka. “Menyebalkan sekali melihat perempuan itu mengomeli dinda kita. Kalau saja aku tidak datang, dia pasti melakukan hal yang lebih bu- ruk.”
“Jangan terlalu memikirkan perempuan raksesi (rak- sasa wanita) itu,” cibir Tri. “Apa kau tahu kalau semua orang mengejek Jayanagara dengan nama Kala Gemet?”29
Aku melongo.
“Perangai Jayanagara sangat buruk. Aku heran ke- napa dia diizinkan memerintah sebagai yuwaraja (raja muda),” gerutu Tri. “Meski Paman Sora mendidiknya de- ngan berbagai cara, Jayanagara tidak pernah peduli. Yang dia lakukan, hanya bermain. Yang dia dengarkan, hanya perkataan Halayudha, si Licik dari Darmasraya itu.”
“Yunda, ucapanmu itu bisa berubah menjadi fitnah. Hati-hati!” Aku mengingatkan. “Lagi pula, apa yang Yunda harapkan dari seorang anak kecil?”
Pradnya terbatuk mendengar pernyataanku. Seolah menyiratkan yang dilakukan Dara Petak dan sekutu-seku- tunya jauh lebih kejam dari itu.
“Siapa itu Halayudha?” tanyaku polos.
“Dia bagaikan Patih Sengkuni,30 Dinda,” cibir Nare, tak mau kalah. “Hubungan persaudaraannya dengan Dara
29Pararaton menyebutkan kalau Jayanagara dipanggil Kala Gemetyang bermakna “lemah” atau “jahat”
30 Sengkuni = Patih jahat dalam kisah Mahabharata, paman para Korawa.
Petak telah membuat Halayudha merasa bisa menguasai istana ini.”
__ADS_1
“Hubungan saudara? Oh, dia masih kerabat Dara Petak?”
“Ya. Halayudha masih memiliki hubungan darah de- ngan Dara Petak dan Dara Jingga,31” jawab Nare. “Hala- yuda tidak terima karena Dara Jingga tidak dinikahi Kan- da Prabu Kertarajasa.”
“Benar. Waktu itu Kanda Prabu menyerahkan Dara Jingga kepada Paman Mahisa Anabrang. Beliau menga- takan kalau pernikahan mereka adalah penghargaan ke- pada Paman Mahisa Anabrang. Paman Mahisa Anabrang kan memang banyak berjasa dalam ekspedisi Pamalayu.” Kali ini Pradnya membantu menjelaskan. “Halayudha merasa kalau ini adalah sebuah penghinaan. Karena seha- rusnya kedua putri itu adalah sira alaki dewa—dia yang dinikahi orang bergelar dewa. Putri-putri yang seharus- nya menjadi istri-istri raja.”
“Aku masih ingat, saat itu kita baru saja mengibarkan bendera Majapahit di Hutan Tarik,” sergah Tri berapi-api. “Aku sendiri hadir di pasewakan itu. Aku melihat Hala- yuda menyindir dan memengaruhi Kanda Prabu. Setiap kata bak semburan bisa ular. Halayudha sungguh menjijikkan.”
“Aku tidak bisa membayangkan jika Dara Petak dan Halayudha menguasai istana.” Nare mendesah.
“Aku setuju dengan pendapat kedua Yunda.” Kini Pradnya yang bicara. “Dara Petak, Halayudha, pengaruh mereka sekarang sangat kuat di istana.”
31 Dara Jingga = Nama kakak Dara Petak yang ikut dibawa ke Jawa.
Tri menggeleng lemah, lalu menepuk bahuku. “Gayat- ri,” dia berkata, “Aku mungkin telah gagal sebagai istri. Sungguh malu, mengingat betapa jarangnya aku bertemu suamiku sendiri.”
Ucapan Tri segera disambung oleh Nare. “Sedari dulu, suami kita itu selalu mementingkan masalah negara. Tak pernah dia meninggalkan kediamannya. Mana pernah dia datang, sekadar menyapa, atau melaksanakan kewajiban- nya sebagai seorang suami.”
Pipiku memerah mendengar ucapan Nare. Percakap- an ini mulai mengarah kepada hal yang dulu dijauhkan Ibunda dan Nyi Hanum dariku. Mereka menyebutnya se- bagai tabu. Tidak pantas seorang perempuan membica- rakan hubungan suami istri.
“Istana keputrian sepertinya hanya berfungsi sebagai pajangan,” desah Tri kesal. “Hanya Dara Petak yang me- miliki keberuntungan untuk dikunjungi. Itu pun hanya beberapa kali. Dan hal itu langsung membuatnya besar kepala.”
Perkataan Tri membuatku sedikit jengkel. Untuk apa mereka membicarakan masalah kunjungan kepadaku?
“Sudahlah, Yunda.” Akhirnya Pradnya buka suara. “Seharusnya kita berbahagia bisa melihat Dinda Gayatri selamat tiba di sini.”
Tri dan Nare beberapa kali menarik napas, membe- narkan pernyataan itu. Dengan gundah, mereka melanjut- kan cerita tentang kelicikan Halayudha. Nare menyebut Halayudha sebagai Mahapati. Dia murka atas ambisi Hala- yuda. Belum lagi, Dara Petak dan Jayanagara jelas men- dukung tindakan-tindakan Halayudha.
“Sebelumnya, aku mau minta maaf jika selama ini aku bersikap buruk kepadamu.” Akhirnya Tri berkata. “Sebe- narnya, aku mengatakan semua cerita itu untuk meminta- mu melakukan sesuatu. Kau harus melakukan ini untuk menyelamatkan posisi kita.”
Aku mengernyitkan alis. Menyelamatkan posisi kami?
Permainan apa yang sedang direncanakan yundaku ini? “Kami semua telah melihat keberanian Kanda Prabu
melamarmu di hadapan mendiang Ayahanda.” Nare men- desah sambil memandang kejauhan. “Jika memang, beliau amat mengasihimu, aku percaya, beliau akan berkenan memberikan anugerah itu kepadamu.”
Aku menelan ludah. Aku bahkan tak berani meng- angkat wajah. Tahu kalau ketiga yundaku itu kini sedang menatapku dengan penuh pengharapan.
“Jika Jayanagara menjadi raja, aku ragu dia akan membiarkan kita hidup tenang.” Kini Pradnya yang bicara. “Sungguh mengerikan membayangkan garis keturunan Ayahanda Prabu terputus. Lalu kerajaan semakin dikuasai oleh Dara Petak dan Halayudha.”
Aku tak berani menjawab. Tri segara meraih tangan- ku. Dia juga mengangkat daguku, lalu memandangku lekat-lekat. Saat itu, aku melihat sesuatu yang membuat Tri dan Nare berubah. Itu kelemahan seorang wanita. Ke- putusasaan akibat terabaikan. Dan luka-luka lain yang timbul akibat beban dalam kerajaan dan harapan menda- patkan penerus.
“Gayatri.” Setitik air mata mengalir di pipi Tri saat dia mengatakan, “Aku mohon kepadamu, tolong lahirkan seo- rang putra dari sang Prabu.”
__ADS_1