Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 4


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 4


Catatan Sejarah:Menurut silsilah, Raden Wijaya seharusnya adalah raja Kerajaan Sunda Galuh. Karena konflik politik, Raden Wijaya tersingkir dari istana. Dyah Lembu Tal—ibu Raden Wijaya mengajak Raden Wijaya mencari suaka di Keraja- an Singasari. Prabu Kertanegara merupakan sepupu Dyah Lembu Tal. Karena itu, Singasari menerima mereka deng- an senang hati.


Kejadian ini berlangsung pada zaman pemerintahan Prabu Kertanegara.


*


“Sa … rwa … telu … pat … lima ….”


Suara Maha semakin terdengar sayup. Aku cekikikan sambil menengok ke belakang. Tahu tidak ada yang ikut, aku berhenti lari. Tengak-tengok lagi, kulihat pohon cem- paka besar di depan. Mantap! Ini jalanku cari tempat sem- bunyi yang aman.


Set! Set! Kusilangkan kain di kaki. Kuikatkan erat- erat, supaya kakiku bebas. Aku melompat ke si pohon. Berpegangan pada bonggol-bonggol pohon, aku memanjat naik. Ketika sudah sampai atas, kulihat Pradnya bersem- bunyi di semak-semak. Putri-putri lain juga sembunyi di belakang batang pohon, ditemani dayang mereka.


Membosankan! Apa asyiknya bersembunyi di tempat biasa? Sebentar saja sudah ketahuan. Tunggu saja! Akan kutunggu mereka menyerah. Lalu, aku akan muncul diam- diam untuk mengejutkan mereka! Rasakan!


Tapi pohon cempaka ini kurang seru untuk sembu- nyi. Lagi pula, di sini sama sekali tidak asyik. Aku perlu mencari tempat yang lebih menantang. Tapi, di mana?


Pandanganku segera tertuju pada pohon mangga di kompleks sebelah. Air liurku terbit melihat buah-buah hijau bergelantungan di sana. Nah, ini baru asyik! Sambil sembunyi, bisa makan mangga. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


Dengan sigap, aku beralih melewati dinding. Jika lompatanku benar, aku akan segera mendarat di halaman kompleks sebelah. Setelah itu, aku harus menghindari pengawal untuk mencapai pohon mangga dan memanjat- nya.


Hore! Ini baru menantang! Aku menggosok-gosok ta- ngan lagi. Semua rencana ini membuatku sangat bersema- ngat.


Siji, loro, telu....


Hup!


Aku berhasil! Kakiku kini menginjak rerumputan hi- jau. Aku segera terpesona melihat pemandangan di bagian istana ini. Tak sabar lagi, aku menyelip-nyelip di belakang batang pohon untuk berjalan ke bagian pohon mangga. Kupilih pohon yang tidak terlalu tinggi. Tak memerlukan waktu lama buatku memanjat. Aku segera memetik buah yang paling mencolok. Warna kulitnya telah menguning. Bahkan harum manisnya menggelitik hidung. Sungguh menggugah selera.


Aku berhasil menggigit kulit buah itu. Kukelupas de- ngan tangan, lalu kucicipi dagingnya yang manis. Kepuas- an menikmati mangga langsung di pohonnya sungguh tak tergantikan. Perut kenyang, hati senang!


Angin mulai berembus sepoi-sepoi. Aku tersenyum sambil mengelus perut. Keteduhan pohon ini segera mem- buatku mengantuk. Aku nyaris tertidur saat mendengar derap langkah beberapa orang. Ketakutan akan ditangkap membuatku berpegang erat pada pohon. Aku duduk di ranting besar dengan sikap waspada.


“Singasari juga rumahmu, Dinda Dewi.”


Itu suara Ayahanda. Lho, kok ada Ayahanda di sini? Diam-diam, aku mengintip mereka. Beberapa prajurit dan dayang mengiringi Ayahanda. Seorang wanita yang bukan ibuku, berdiri sangat dekat dengan Ayahanda. Meski terli- hat sedang menangis, gerak-geriknya sungguh menarik hati. Jarak kami cukup dekat hingga aku dapat melihat wajah wanita itu dan anak di sebelahnya. Tapi... siapakah dia?


“Mereka meracuni Kanda Jayadarma.” Wanita itu ter- isak. Satu tangannya memeluk anak laki-laki tadi. Aku menjulurkan leher, ingin tahu. Ini anak, siapa lagi? Sampai disambut Ayahanda segala. Pasti dia bukan orang samba- rangan.


“Puji syukur kepada Jagad Batara, Dinda mampu me- lewati semua prahara dan berhasil selamat hingga sampai kemari.”


Wanita itu masih menangis. Namun, tidak seperti sang wanita, anak di sebelahnya sama sekali tidak mena- ngis. Jangankan menangis, wajahnya lebih kelihatan se- perti arca. Sama sekali tidak ada ekspresi apa pun di sana.


“Apakah kehadiran kami tidak merepotkan?”


Tawa Ayahanda saat itu terdengar sangat gembira, “Kenapa harus merepotkan, Dinda? Dinda Bajradewi pasti senang melihat Wijaya.”


Anak itu kini menunduk. Tata krama yang sangat sempurna. Dan dia anak laki-laki.


Kenyataan ini menohokku sangat keras. Aku iri!


Kenapa dia bisa lahir menjadi laki-laki?


Anak itu membungkukkan badan. Mulutnya berbica- ra dengan nada dan tata bahasa paling lembut yang per- nah kudengar, “Salam, Gusti Prabu.”


Satu kalimat itu langsung membuat Ayahanda jatuh hati. Tawanya berderai begitu bahagia.

__ADS_1


“Namamu Sanggrama Wijaya?” tanya Ayahanda. “Benar.” Si anak menjawab tegas. Ayahanda menya-


pukan tangan di kepala anak itu. Benar-benar terlihat senang.


Aku tidak tahu, apakah kebencianku kepada Raden Wijaya dimulai saat itu. Apakah aku lebih dulu membenci- nya? Atau dia lebih dulu membenciku? Yang kutahu: sete- lah Ayahanda memperkenalkan kami secara resmi, Raden Wijaya lebih sering mengucapkan kalimat pedas bernada kritikan. Sikap yang jauh berbeda jika pangeran itu berha- dapan dengan putri-putri yang lain.


***


Waktu kemudian semakin membuktikan kedigda- yaan pangeran itu. Semakin hari, Ayahanda dan hampir semua orang di istana menyukai Raden Wijaya. Ibunda te- lah menyayangi Raden Wijaya semenjak mereka pertama kali bertemu. Pemikiran pangeran itu sangat cerdas. Dia mampu menyampaikan pendapat dengan mulut manis yang tidak menyakiti pihak lawan.


Sama seperti yang kulihat di hari itu, ekspresinya serupa arca. Raden Wijaya jarang menunjukkan emosi. Namun, semua orang luluh melihat ketegasannya. Bahkan Tri yang lebih tua beberapa tahun, masih hormat kepada Raden Wijaya.


Puih! Kalau saja aku laki-laki sama sepertinya, aku pasti akan menantangnya berkelahi secara resmi. Akan kukalahkan dia di depan semua orang. Supaya dia bisa menelan kembali semua kata-katanya kepadaku!


Akan tetapi, tentu saja itu tidak pernah terjadi. Popu- laritas Raden Wijaya semakin menanjak. Orang-orang be- rebut ingin melihat sang Pangeran berlaga.


Seperti siang itu.


Ayahanda sengaja menggelar latihan perang rutin de- ngan lebih megah. Beliau tampak sangat puas melihat para prajurit memamerkan kepiawaian mereka masing- masing. Pasukan kereta, pasukan penunggang kuda, hing- ga pasukan panah, dan prajurit-prajurit garis depan silih berganti unjuk kemampuan di depan anggota kerajaan.


Raden Wijaya tampil bersama para senapati dan panglima yang secara khusus diperintah Ayahanda untuk melatihnya.


Dengan ahli, Raden Wijaya memperlihatkan keah- liannya memanah. Para pendekar tangguh kalah adu tan- ding dengannya. Dia sungguh terlihat bersinar-sinar di masa remaja. Tubuhnya semakin tebal dengan otot-otot liat. Wajah belianya terlihat kokoh. Sorot matanya tegas.


Serasi dengan alis tebal bagai luk7 yang indah. Hidungnya mancung, sementara bibir tipis melembutkan ekspresi datarnya. Saat sedang bertarung, sorot matanya seperti seekor pemangsa yang menakutkan.


“Berjuanglah, Pangeran!”


“Pangeran! Engkau sungguh hebat!”


Teriakan para putri membuat kepalaku pusing. Para sekar kedaton itu berlarian menuju tempat terdekat de- ngan Raden Wijaya. Mengabaikan para dayang yang se- makin repot mengipasi dan memayungi mereka, aku melihat Tri dan putri-putri lain berdiri di tempat matahari bersinar paling terik. Di sana adalah tempat paling stra- tegis menonton pertunjukan itu. Begitu tiupan sangkakala mengakhiri waktu latihan, mereka langsung menghambur ke arah Raden Wijaya. Para dayang bersiap melayani sang Pangeran kesayangan Ayahanda itu. Tak mau kalah, para putri seketika mengulurkan sapu tangan untuk menge- ringkan peluh sang Pangeran.


“Bi! Ambilkan minum! Cepat!” “Duduklah dulu, Pangeran.”


Aku berdecak. Tidak mau larut dalam euforia ala penggemar sang Pangeran. Ada seseorang yang lebih pen- ting bagiku. Seseorang yang tak mendapat banyak sorot- an, tetapi sikap rendah hatinya lebih memikat hatiku.


Senyumku terkembang melihatnya menghapus peluh seorang diri. Kuambil ceret dari Gendis. Lalu, aku berjalan ke arah pemuda itu. Satu ide nakal mampir dalam benak- ku. Kalau kukejutkan dia, pasti akan lebih seru!


7 Luk = lekukan pada keris


Siji, loro... tutup!


Aku menahan tawa saat pemuda itu menggeleng sambil mendengkus jengkel. Telapak tanganku menutup matanya hingga dia tidak bisa melihatku.


“Kalau kakang tidak mengenaliku, aku akan marah sekali.”


Pemuda yang kututup matanya itu—Arya Virendra, segera tersenyum dan berbalik menghadapku. Dengan se- gera, dia menjauhkan tanganku darinya.


“Sikap Anda bisa membahayakan saya, Putri.” Ber- tolak belakang dengan kalimatnya, kilat jail terlihat saat pandangan Viren beradu denganku.


“Tidak ada yang melihat kemari,” kataku tak acuh. “Semua orang sedang mengagumi Raden Wijaya. Tidak akan ada yang sempat berpikir akan melihat kita.”


“Tidak takut kita akan dihukum?”


Aku menyorongkan ceret itu kepada Viren. “Ayahan- da lebih suka mengurus pangeran itu ketimbang meng- hukumku.”


Viren tersenyum. Dia berterima kasih. Lalu meng- angkat ceret ke mulutnya untuk minum. “Kelihatannya, Putri sangat membenci Raden Wijaya.”

__ADS_1


Aku menarik napas. “Untuk apa aku membencinya?” “Mungkin saja, karena pangeran itu telah menyita se-


luruh kasih sayang Prabu Kertanegara?” Viren berkata lugu.


“Duh, Kakang..., pantaskah aku mendambakan kasih sayang seorang raja?” Aku tidak dapat menyembunyikan kekecewaan pada nada suaraku. “Kami para putri hanya- lah sekumpulan perempuan yang akan segera dinikahkan untuk kepentingan politik. Bukankah itu yang terjadi se- jak dahulu kala?”


Viren tertawa cukup keras. Tangan Viren terulur lalu tertahan di udara. Ah, kenapa dia tidak langsung menyen- tuh wajahku saja? Mata kami yang berserobok sama-sama mempertanyakan hal itu.


“Putri, kapan Anda akan mengerti politik adalah urusan para lelaki?”


“Dan urusan kami adalah menyenangkan kalian, para lelaki?” sindirku tajam. Seperti biasa, Viren menekuk bi- bir. Memamerkan ekspresi bodoh yang selalu berhasil menurunkan emosiku.


“Sudahlah, Putri. Memikirkan hal yang tidak ada gu- nanya akan membuat Anda lekas keriput.” Viren berkata riang. Sayangnya, aku tahu, dia sengaja mengalihkan pem- bicaraan.


“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan.” Kali ini, dia berkata sambil memamerkan gigi putihnya. Dia juga ber- topang dagu sambil sesekali melirikku. Viren berdeham. “Apakah tadi... Putri melihat penampilan saya?”


Aku mengangguk dan Viren menyunggingkan seulas senyum geli.


“Syukurlah. Saya pikir, sama sekali tidak ada yang memperhatikan saya. Pasti penampilan saya buruk sekali. Lihatlah, mana ada perempuan yang datang untuk memuji saya.”


Omong kosong! Tidak ada yang buruk dari penam- pilan Viren saat itu. Meski membaur di antara sekum- pulan pasukan kepatihan, sosoknya terlihat menonjol. Tangannya menggerakkan tombak dan tameng dengan memukau. Aku bahkan tahu, Viren tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Kalau berlatih sendirian, dia sa- ngat serius mengeluarkan jurus-jurusnya. Konon, Viren berguru pada salah satu pendekar tertangguh di dunia persilatan. Namun, Viren tidak mau memperlihatkan ilmu yang dia pelajari di latihan keprajuritan. Untungnya, dia mau mengajarkan sedikit jurus padaku. Itu pun setelah aku merengek-rengek kepadanya.


“Jangan rendah diri! Kau terlihat tam—” Baru saja aku hendak mengatakan sesuatu untuk memujinya, tiba- tiba Viren bangkit berdiri lalu berbalik. Rasa bersalah jelas terlihat saat dia menunduk dalam-dalam.


“Mohon ampuni saya, Gusti Pangeran.” Hah? Gusti Pangeran?


“Arya Virendra, tidakkah dirimu berpikir panjang akan akibat perbuatanmu?”


Suara itu!


Aku membalikkan badan lalu melihatnya.


Raden Wijaya kini berdiri di depan Viren. Viren ma- sih diam dan menunduk. Posisi Viren tidak membuatnya harus berlutut pada Raden Wijaya. Hal ini agaknya mem- buat Raden Wijaya semakin kesal.


Eh, tunggu dulu. Untuk apa pangeran angkuh itu kemari? Bukannya dia sedang menikmati puji-pujian dari para putri?


Pandangan galak Raden Wijaya kini beralih menatap- ku. Seolah menjawab pertanyaanku, Raden Wijaya me- narik napas dan berkata, “Para pejabat sudah pergi ke pasewakan8 dan prajurit mulai bertugas kembali. Kenapa kalian masih di sini?”


8 Semacam rapat


Viren yang terpaksa menjawab pertanyaan itu, “Maaf, Pangeran, kami hanya berbincang sejenak.”


Raden Wijaya menggeleng. Tatapannya padaku terli- hat kecewa.


“Seorang putri seharusnya gadis yang manis dan lemah lembut. Seorang putri harus menjaga sikap di mana pun berada.”


“Dari yang kami lakukan, apa yang Anda sebut tidak menjaga sikap, Pangeran? Apakah Pangeran lebih suka sa- ya menyodorkan sapu tangan kepada Pangeran? Memuja- muja Pangeran? Itukah sikap yang pantas?”


Ucapan sinisku seakan menyengat Raden Wijaya. Wa- jahnya merah padam. Viren bahkan sempat memelotot ke arahku dengan ketakutan. Dia pasti takut ini akan menda- tangkan masalah.


Tapi aku tidak peduli.


Aku telah siap menerima hukuman. Raden Wijaya berhak melapor kepada Ayahanda atas penghinaan yang kulakukan. Atau sekalian mengadukan kedekatanku de- ngan Viren. Biar saja, toh aku sudah sering dihukum. Re- putasiku sudah buruk. Aku bahkan tak peduli jika ayah- anda akan menyamakanku dengan perempuan jelata tak bermartabat.


Namun, Raden Wijaya tidak melakukan itu. Kilat ke- marahan berkobar-kobar di matanya, tetapi bibirnya terkatup rapat. Ekspresinya juga masih sama. Dingin dan datar.


Saat itu, aku pikir dia sangat membenciku. Namun ternyata, aku salah. Aku benar-benar tidak mengenal Raden Wijaya. Bagaimana aku bisa tahu isi hatinya?

__ADS_1


Seandainya saja aku tahu, mungkin aku akan lebih menjauhi Raden Wijaya.


Ya, siapa yang tahu kalau ternyata anugerah dan bencana dalam takdirku ini dimul


__ADS_2