Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 15


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 15


Catatan Sejarah:Setelah Singasari runtuh, Raden Wijaya mencari per- lindungan dari Arya Wiraraja di Sumenep. Bersama-sama, mereka menyusun strategi untuk merebut kembali takhta kerajaan. Raden Wijaya kemudian menghadap Prabu Jayakatwang. Dia menyatakan menyerah. Prabu Jayakat- wang memaafkan Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian bergabung membangun kerajaan yang dipimpin Jayakat- wang.


*


Aku telah terbiasa dengan gemericik air. Burung- burung pun membangunkanku tiap pagi. Setelah badai dalam kehidupanku, kedamaian ini lama-lama terasa me- nyenangkan.


Setelah lukaku pulih, aku memaksa membantu me- ngerjakan pekerjaan rumah. Aku tidak begitu mahir di da- pur. Cukup lama bagiku belajar bagaimana menyapu dan membersihkan rumah. Ratih sering tersenyum melihatku memegang sapu dengan canggung. Untungnya, dia tidak pernah menertawakanku.


Kehidupan di sini sangat berbanding terbalik dengan kemewahan di istana. Kabar baiknya, tidak ada peraturan atau tata krama yang perlu dipatuhi. Kebebasan di sini sungguh luar biasa. Bahkan rumah sederhana ini berde-


katan dengan tempat pertapaan. Beberapa bhiksu mele- watkan masa wassa19-nya di hutan ini, Hutan Tarik.


Bibi Terukbali yang dulu memilih hutan ini. Hutan ini bagus sebagai tempat persembunyian. Letaknya pun di pedalaman timur Kerajaan Kadiri. Hanya Bibi, Mahadewi, Pradnya, dan Viren yang tahu keberadaanku. Mereka muncul beberapa bulan setelah aku tinggal bersama Sakka dan Ratih. Situasi sudah benar-benar aman saat itu. Jadi, Bibi Terukbali membujukku agar ikut ke kotaraja.


“Sudahlah, Bi. Jika memang Gayatri lebih bahagia de- ngan kondisi seperti ini, mengapa tidak dibiarkan saja?” kata Pradnya saat itu.


“Kehidupan di luar istana itu susah,” kata Bibi. “Bu- kankah kau telah merasakannya sendiri?” Dia membelai tanganku yang masih melepuh terkena api dari dapur.


“Bibi...,” rengekku.


“Gayatri, Bibi sayang kepadamu. Izinkanlah Bibi me- nebus semua kesalahan pamanmu. Biarkanlah Bibi mera- wat kalian.”


Aku segera menggeleng. “Benar kata Yunda Pradnya, Bi. Aku bahagia dengan keadaan di sini.”


“Sungguhkah begitu, Putri?” Kali ini Viren yang ber- kata. Tangannya bersedekap. Kilat luka di matanya mem- buatku merasa takut. Kira-kira, apa yang ada di pikiran- nya saat itu? Saat melihatku pertama kali, dia maju se- langkah, lalu diam. Tangannya mengepal erat sementara matanya menyipit tajam. Sosok pandir itu mendadak lenyap tak berbekas. Yang ada sekarang, hanya Viren yang menanggung duka.


19 Masa Wassa adalah masa di mana para bhiksu menetap di satu tempat untuk melatih diri.


“Apakah ada yang ingin Kakang bicarakan?”


Bibi Terukbali dan Pradnya saling berpandangan. Mereka berdua tahu kedekatanku dengan Viren dan ayah- nya. Keakraban bagai kakak-adik itu mendatangkan per- makluman di hati mereka.

__ADS_1


“Bolehkah hamba berbicara sejenak dengan Gusti Putri?”


Bibi Terukbali mengangguk. Aku bangkit setelah Viren memberi hormat lalu mengisyaratkan agar aku mengikutinya. Kami berjalan menyusuri jalan setapak ke arah sungai. Seekor rusa sempat muncul dan melompat di hadapan kami. Tak sengaja, aku tersentak dan menyan- dung batu. Tangan Viren menahan pinggangku sebelum aku terjatuh. Jarak terasa hilang saat dia menatap mataku. Sementara kehangatan tubuhnya menyelubungiku de- ngan lembut.


“Anda tidak apa-apa, Putri?”


Aku menggeleng. Dengan cepat, aku membebaskan diri dari pelukannya.


“Aku senang akhirnya kau dan Yunda dibebaskan,” kataku berbasa-basi. “Bagaimana kabarmu sekarang, Ka- kang?”


Senyuman lugu Viren tiba-tiba membuatku merindu- kan masa lalu. Kalau saja Raden Wijaya tidak hadir di antara kami. Kalau saja, saat itu Viren mengatakan ‘ya’.


“Saya tidak melihat beda penjara dengan kediaman Pangeran Ardaraja.” Viren berusaha melucu. Dari kebia- saannya, aku tahu kalau Viren sama sekali tidak menik- mati hidupnya.


“Adalah suatu kebetulan yang aneh, saya dan Ken Sakka ditempatkan di kediaman Pangeran Ardaraja. Pangeran itu marah sekali. Namun Prabu Jayakatwang me- negaskan: Pangeran Ardaraja dapat menjatuhkan hukum- an apa pun, jika kami ketahuan berkhianat.”


“Yang penting, kau masih terlihat tampan.” Aku me- nyengir.


Viren menggaruk kepala sambil meringis. “Istana te- rasa sepi tanpa kehadiranmu, Putri.”


“Maafkan saya. Saya telah bersikap lancang.”


“Apa yang perlu kumaafkan? Toh, aku bukan putri lagi.”


“Anda tetaplah anak seorang raja,” tambah Viren. “Tempat Anda seharusnya di istana. Bukan di tengah hu- tan. Apa yang sedang Anda cari di sini, Putri?”


“Kedamaian, mungkin,” kataku sambil tersenyum. “Bebas dari penderitaan. Sama seperti yang dicari Pange- ran Siddharta.”


Rahang Viren mengeras. Tangannya terangkat ke arah wajahku. Namun dia menariknya cepat-cepat.


“Tak bisakah Putri menuruti permintaan Gusti Ratu?” katanya memelas. “Setidaknya, kehadiran Anda bisa menghibur saya. Kediaman Pangeran Ardaraja sungguh seperti neraka.”


Mendengar kata neraka, kekhawatiran semakin me- nyelinap dalam benakku.

__ADS_1


“Apakah Dinda Mahadewi baik-baik saja?”


Viren menjawabku dengan sebuah senyuman mu- ram. Alih-alih menjawab, dia malah mengalihkan pembi- caraan.


“Pangeran Ardaraja membenci Raden Wijaya.” Dia berkata. “Karena dia tidak bisa melawan Raden Wijaya se- cara langsung, dia membutuhkan pelampiasan.”


“Apa maksudmu dengan pelampiasan?”


Ini pertama kalinya aku melihat luka tersirat pada senyum Viren yang biasanya ceria.


“Apa Ardaraja menyakitimu?”


“Mungkin.” Viren menggerakkan kepala. “Yang jelas, dia berkata akan membunuh kami dan semua orang yang kami sayangi.”


Viren membetulkan kain yang tadinya menutupi ba- hu dan dadanya. Saat itulah, aku melihat garis-garis me- rah keunguan menyembul di atas kulitnya.


“Kakang Virendra....” Aku menghambur ke hadapan- nya. Tak tahan untuk menumpahkan air mata di atas dadanya yang penuh luka cambukan itu. Ini sungguh ke- terlaluan. Mengapa orang lain harus menanggung penyik- saan hanya karena mereka seorang bawahan? Aku kasih- an kepada Viren. Bersamaan dengan itu, kekejaman Ardaraja membuatku takut, Maha dan Sakka mengalami hal yang sama.


“Putri, kumohon jangan bersikap seperti ini.” Viren berkata tanpa berani menyentuhku. “Anda membuatku khawatir.”


“Apa yang kau khawatirkan, Arya Virendra?”


Sesaat, Viren mendorongku menjauh. Aku terkejut. Dia sengaja menciptakan jarak untuk menghindar. Sung- guh berbeda dengan Viren yang dulu kukenal.


“Apa yang kau khawatirkan?” ulangku dengan nada lebih tinggi. Tak dapatkah aku mengulang sedikit saja ke- bahagiaan masa laluku?


“Anda seorang wanita, Putri.”


Mataku membelalak. Tak percaya dengan apa yang dia ucapkan barusan.


“Karena aku seorang wanita, lalu apa? Katakan! Kare- na aku wanita, lalu apa?”


“Saya tak berhak mengatakan ini kepadamu,” gumam Viren, berkali-kali. Dia memukul kepalanya. Dia menjam- bak rambutnya sendiri.

__ADS_1


“Mengatakan apa? Arya Virendra! Apa yang sedang kaucoba katakan? Cepat jawab!”


Aku meninggikan dagu. Viren menghela napas sambil menutup mata. Seumur hidupku, aku belum pernah meli- hat Viren yang terluka dan terlihat lemah seperti ini. Sosok berjiwa pendekar pengelana mendadak pupus dari dirinya.


__ADS_2