Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 29


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 29


Ike Mese menjalankan saranku. Hasilnya: Raden Wijaya marah besar.


Seekor merpati datang membawakan surat. Mataku masih mengantuk akibat lelah berjalan jauh. Jadi aku ti- dak terlalu memperhatikan apa yang dituliskan di sana.


Kita harus bertemu. Wijaya.


Beberapa jam kemudian, Raden Wijaya datang bersa- ma kuda putihnya. Perjalanan kami terasa sunyi. Mulut- nya terkatup rapat. Aku hanya merasakan napasnya di atas rambutku.


Kami berkuda hingga mencapai padang ratna. Dia tu- run dari kuda. Lalu membantuku turun. Dia berjalan sam- bil menghela kuda. Aku mengikutinya.


Raden Wijaya mengikatkan kuda ke bawah pohon. Kami lalu duduk-duduk di dekat kuda merumput. Tangan- nya terulur ke depan wajahku. Sebuah gulungan kulit tergenggam di sana.


“Jadi ini yang akhirnya mengubah keputusan Ike Mese?”


Aku mengangguk.


Raden Wijaya membanting gulungan itu. Aku kaget ketika wajahnya mendekat ke wajahku. Kobaran kema- rahan berpusar di manik matanya.


“Putri, kau tahu ini akan terjadi, kan?” Dia meng- geram.


Aku mundur selangkah. Takut karena tak tahu dia akan melakukan apa. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun. Aku takut dia akan memukulku.


Duh, Gusti.

__ADS_1


“Perlu pengorbanan untuk mencapai tujuan,” kataku datar, bertolak belakang dengan doa-doa ketakutan yang mulai kupanjatkan dalam hati.


“Pesona wanita memang tiada tandingan,” katanya, lebih pada mengejek dirinya sendiri. Aku menunggu emo- sinya menurun. Jadi kuambil jarak agar kami tidak terlalu dekat. Saat dia tenang, barulah aku beranjak ke sisinya.


“Pangeran, semoga Anda tidak lupa, wanita ini telah menjadi istri Anda.” Aku menunjuk dadaku. “Anda yang mengatakan, saat Pangeran melamar saya, saat itu Pange- ran telah menganggap saya sebagai istri.”


“Gayatri,” desahnya. Dia menggeleng-geleng, masih tidak terima.


“Anda tahu, mengapa orang-orang masih melakukan tradisi sati?” Aku mencoba berkata sesabar mungkin. “Empu Ragarunting pernah menceritakan pengorbanan Dewi Sati. Demi kehormatan suami, Dewi Sati melempar- kan diri ke dalam api. Demikianlah pengabdian seorang istri kepada sang suami.”


“Percayalah, aku tak pernah ingin pengorbanan se- macam itu darimu,” katanya muram.


Aku menelan ludah. Mengingatkan diri. Kali ini, aku tidak boleh goyah.


“Jika Anda menganggap saya sebagai istri, maka su- dah sewajarnya saya ikhlas menjalankan kewajiban saya.”


“Pangeran, percayalah. Saya akan melakukan semua yang saya bisa. Saya akan membantu Anda mencapai tu- juan.”


“Aku tak pernah membayangkan kau bisa mencintai-


ku.”


Pertahananku runtuh mendengar kalimat itu. Rasa-


nya badai menghantam hatiku. Menerbangkan serpihan- serpihan rusak kegundahan patah hatiku.

__ADS_1


“Apakah cinta antara lelaki dan wanita masih berhak kita miliki, Pangeran? Ketika di saat yang sama, kita harus mencintai sebuah negara?”


Raden Wijaya terdiam sesaat. Alih-alih merebahkan kepala di atas rumput, dia memilih tidur di pangkuanku. Raden Wijaya memegang tanganku. Aku sedikit malu saat melihat wajah yang jarang diperlihatkannya di depan umum.


“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Gayatri.”


Rasa kehilangan Raden Wijaya rupanya saat itu me- mengaruhiku. Bayangan akan dirinya yang khawatir dan mencariku di mana-mana membuatku terharu. Apakah begini cara seorang Raden Wijaya mencintai?


Takut-takut, aku menyentuh pipi Raden Wijaya. “Anda memang tidak akan kehilangan saya lagi.” Aku berkata lembut. “Kecuali, Anda ingin kerajaan Anda tunduk kepada Kubilai Khan.”


“Sungguh miris.” Raden Wijaya menyunggingkan se- ulas senyuman getir. “Berkata akan setia, tetapi berniat berkhianat.”


“Banyak orang mengatakan kalau dunia memang ti- dak adil,” kataku menirukan Empu Ragarunting. “Mungkin Pangeran perlu berpikir dari sisi lain. Aku tahu, Pangeran tidak akan tunduk dan membiarkan negara terjajah.”


Tanganku bergerak sendiri. Membelai. Menumpah- kan perasaanku. Aku merinding saat tahu, rambut Raden Wijaya begitu halus. Dia memejamkan mata. Aku terce- nung sesaat.


“Pangeran masih bisa memaksa para prajurit Mongo- lia pulang. Lalu memberi dua per tiga rampasan perang sebagai pertanggungjawaban kepada kaisar mereka.”


“Kau memang benar.” Raden Wijaya berkata dengan nada lelah. Matanya tertutup rapat. Namun wajahnya ma- sih menyiratkan kalau dirinya sedang banyak pikiran.


Aku menarik tangan dari rambutnya. Dengan lembut kusentuh keningnya. Sementara dari mulutku mengalun sebuah gending dari lakon Panji Asmarabangun.


“Duhai pangeranku yang agung,


Bagaimana aku dapat mengobati luka hatimu? Aku hanya bisa bersenandung,

__ADS_1


Lalu merindu, mendoakanmu...”


__ADS_2