
Putri Rajapatni - Rajapatni - Jejak Mahapati
Catatan Sejarah:Nama julukan Mahapati disebutkan dalam naskah Pararaton dan Kidung Sondaraka. Makna dari namanya adalah orang yang berambisi besar untuk menjadi pe- nguasa.
*
Bagian surat Viren tentang perang memuakkan ternyata benar adanya. Siang itu, seseorang dengan pa- kaian mentereng datang berkunjung ke paviliunku. Pera- wakan laki-laki itu kurus tapi tangguh. Kulitnya hitam, dengan kumis dan jenggot abu-abu yang terpelihara rapi.
Namanya Pangeran Dyah Halayudha. Pangeran itu menegur Jayanagara. Rupanya, sang putra mahkota sedang bermain petak umpet dan bersembunyi di paviliunku.
Halayudha mengangkat Jayanagara, lalu memutar- mutar anak itu sejenak. Jayanagara tertawa riang. Dia me- nyentil hidung Halayudha.
“Kau membuatku ketahuan!”
Ra Kuti datang segera setelah itu. Halayudha mele- paskan Jayanagara dari gendongannya. Dia menyerahkan anak itu kepada Ra Kuti. Lalu dia beranjak ke pendapa.
“Hormat hamba untuk Gusti Rajapatni.” Dia berkata saat menghadapku. Wajahnya tidak bisa disebut ramah. Ada kelicikan tersembunyi dalam pandangannya.
“Ada perlu apa Anda mencari saya?”
Halayudha terkekeh sambil mengelus jenggotnya. Dia melirikku. Tangannya bergerak memberi perintah. Sege- ra, beberapa orang datang sambil mengangkat sebuah peti. Alisku mengernyit. Segera merasakan, ada yang tidak beres dari situasi ini.
“Sebelumnya, hamba minta maaf karena baru bisa mengirimkan hadiah pernikahan.” Halayudha menyeri- ngai licik. Dia membuka peti itu dengan bergaya. Diperli- hatkannya emas, perak beserta perhiasan-perhiasan ber- tabur intan permata.
__ADS_1
“Hadiah ini tidak seberapa, Gusti. Namun, hamba ya- kin, ketulusan niat lebih penting daripada hadiah-hadiah yang mahal.”
“Tampaknya Anda memiliki terlalu banyak niat tulus, Paman Halayudha,” kataku menyindir.
Halayudha hanya terkekeh. “Anda terlalu memuji.” Aku bangkit lalu turun menghampiri Halayudha. De-
ngan sengaja, kuambil sekeping koin emas dari peti pem- beriannya.
“Saya dengar, Anda memiliki wilayah yang cukup kaya di Dharmasraya.” Aku menimang-nimang koin itu. “Saking kayanya, Anda sampai bisa menghambur-ham- burkan emas dan perhiasan-perhiasan berharga ini untuk saya.”
Halayudha mengatupkan tangan di atas hidung. “Ini adalah bukti ketulusan hamba kepada Gusti Rajapatni.”
“Kerajaan ini sedang membangun. Seharusnya, Anda memberikan semua harta ini kepada Kanda Prabu. Atau menyumbangkan harta ini untuk kepentingan rakyat.”
“Ah! Gusti Rajapatni, Anda memang terlalu baik.” Per- kataan Halayudha terdengar semanis madu. “Ketulusan hamba, haruskah diperuntukkan untuk rakyat? Kita telah bersusah payah menjaga kerajaan. Tidak ada salahnya se- sekali kita memanjakan diri.”
“Sebenarnya, apa tujuanmu kemari, Paman Halayu- da?” Aku berusaha keras menahan nada suara. Aku muak dengan ketenangan Halayudha. Kemampuan berpura- puranya begitu brilian. Nare benar. Kalau Patih Sengkuni ada di dunia, karakternya pasti mirip orang ini.
“Anda tahu, kalau hamba kemari atas dasar kesetiaan saya terhadap saudari-saudari hamba.” Halayudha berkata santun. “Kesetiaan hamba terhadap kerajaan ini, sama seperti rasa cinta para saudari hamba. Para saudari hamba telah menganggap kerajaan ini sebagai tanah air mereka.”
“Karena itu, Anda juga setia kepada saya?”
“Tentu saja.” Halayudha berkata dengan nada meya- kinkan. Bahkan sambil menunjuk peti yang hendak dia berikan.
__ADS_1
“Kalau begitu, saya minta Anda mengambil kembali hadiah tulus ini,” kataku dingin. Aku bahkan tidak mau repot-repot berterima kasih.
Halayudha mengelus jenggotnya. Dia mengernyitkan alis, bingung. Tak mau dia mendebat lagi, aku segera menambahkan, “Saya rasa Anda salah memberi hadiah. Sau- dari Anda tidak begitu menyukai saya.”
Halayudha tertawa terpingkal-pingkal. Aku semakin muak melihat sikapnya. Ingin sekali kutendang Halayudha keluar kediamanku.
“Hamba akan segera menegur saudari saya,” katanya dengan nada melucu. “Kadang-kadang, saudari hamba itu bicara tanpa berpikir panjang. Atas nama saudari hamba, hamba minta maaf. Maafkan Shri Tinuheng Pura jika be- liau telah membuat Anda marah.”
Aku memberi sebuah ejekan di sudut senyumku. “Apakah saya boleh marah kepada istri yang dituakan?”
“Aih! Aih!” Halayudha menggoyangkan kepala dengan wajah prihatin. “Sejak kecil, Shri Tinuheng Pura terlalu di- manja. Watak dan cara bicaranya memang keras. Namun sebenarnya, beliau baik hati.”
“Yunda Indreswari32 memang baik sekali.” Aku tidak berusaha menyembunyikan nada menyindir dari ucapan- ku. “Beliau telah mengingatkan saya. Oh, peringatan yang jelas sekali. Yang Terhormat Istri Yang Dituakan itu mene- gaskan berkali-kali: posisi selir selamanya tidak akan sejajar dengan posisi calon ibu suri.”
Halayudha tampak terkejut. Wajahnya pias seketika. “Saudarimu yang terhormat itu, Paman Halayudha,
telah melontarkan ancaman serius. Saya bahkan tidak berkutik di depannya. Beliau bilang saya akan celaka ka- lau berani tidak menghormatinya.”
Wajah Halayudha merah padam mendengar ucapan- ku. Topeng kepura-puraannya sejenak terlepas. Dia me-
32 Nama gelar Dara Petak
ngertak-ngertakkan gigi, melotot karena tidak puas. Entah tidak puas pada sikapku, atau tidak puas pada Dara Petak. Halayudha mengatupkan tangan di hidung—benar- benar memaksakan diri untuk terlihat menyesal. Sebelum dia dapat mengeluarkan kata-kata lagi, aku mengeraskan nada suaraku.
__ADS_1
“Kesetiaan terhadap negara dan kesetiaan terhadap keluarga tidak dapat sejalan. Jika kau memang setia pada kerajaan ini, seharusnya kau tidak melakukan hal-hal yang memperlihatkan ambisimu.” Aku menutup peti de- ngan keras hingga mengeluarkan bunyi menggebrak.
“Bawa kembali hadiahmu, Paman Halayudha.” Aku berkata tanpa sudi melihat wajahnya. Dengan cepat, aku melangkah keluar pendapa. Pipiku memanas menahan amarah. Tiba-tiba teringat lagi pada sorot kelelahan di mata Prabu Kertarajasa.