
Putri Rajapatni - Gayatri - 24
Selama Empu Ragarunting tidak ada di tempat, Curadharma dan kawan-kawannya berperan sebagai tuan rumah yang sangat baik. Curadharma memperkenalkan kami kepada murid-murid Empu Ragarunting yang lain. Murid-murid Empu Ragarunting berasal dari kalangan kesatria dan waisya. Masing-masing keluarga mengirim anak-anaknya untuk belajar di sini.
“Saya adalah murid tertua di sini.” Curadharma men- jelaskan saat itu. Dia memaparkan kalau gurunya adalah putra seorang mahaguru terkenal. Empu Ragarunting dan empat saudaranya menjadi resi-resi yang sangat dihorma- ti. Akan tetapi, alih-alih memilih menjadi seorang penasi- hat ataupun ahli senjata, Empu Ragarunting memilih membuat sebuah padepokan untuk mendidik para murid.
Boleh dibilang, kehidupan di padepokan Empu Raga- runting adalah masa paling ramai. Peraturan di sini len- tur. Aku masih bisa berbicara bebas dan berjalan-jalan se- sukanya.
Saat itu, aku dan Ratih tinggal di asrama perempuan. Mereka dibimbing oleh Ni Ambarareka, putri bungsu Em- pu Ragarunting. Sepeninggal sang ibu, Ni Ambarareka me- mutuskan melajang seumur hidup. Meski kakak-kakaknya memilih pindah, Ni Ambarareka memilih menemani sang ayah. Di sini, Ni Ambarareka mengajar murid-murid pe- rempuan. Ni Ambarareka pandai dalam hal pemujaan. Dia
juga mengajarkan tata krama, keterampilan menenun, memasak, dan tugas-tugas domestik lain.
Tentu saja, aku enggan bergabung dengan kegiatan mereka. Aku pun merasa terlalu besar untuk merengek minta diajarkan berkelahi. Kadang-kadang, ketika bosan, aku akan sengaja melintas di bagian laki-laki. Hanya un- tuk menyimak pengajaran agama dan sastra yang tidak diajarkan kepada para perempuan.
Aku bertemu Empu Ragarunting beberapa hari sete- lah kami menginjakkan kaki di padepokan. Sikapnya ter- atur. Ketenangan terpancar dari wajahnya. Wajahnya ber- keriput. Jenggotnya memutih. Namun, dia masih terlihat kuat dan sehat.
Empu Ragarunting sedikit kaget melihatku melintas. Lalu aku bertanya tentang Raja Daksha Prajapati—putra Dewa Brahma.
“Di mana kau dengar itu, Nak?” Dia berkata lembut. Agak malu, aku mengaku pernah menguping pembi-
caraan para murid lelaki. Yang namanya menguping tentu hanya bisa mendengar setengah-setengah.
“Saat itu, murid-murid Anda sedang berdebat tentang para brahmana di sekeliling Raja Daksha,” kataku. “Itu pertama kali saya mendengar nama Raja Daksha.”
Alih-alih marah, Empu Ragarunting malah terse- nyum. “Daripada mendengar tentang Raja Daksha yang angkuh, Anda lebih baik mendengar satu kisah tentang putrinya.”
Aku mengernyitkan alis, bingung.
“Putri, apakah Anda tahu tentang tradisi sati?”
“Pengorbanan para istri terjun ke dalam api? Ya, Mpu. Saya tahu. Beberapa kerajaan termasuk Singasari mewajibkan para istri raja untuk melakukannya. Dapat- kah Empu menjelaskan, mengapa para perempuan melak- sanakan tradisi itu?” tanyaku panjang lebar.
Empu Ragarunting mengangguk. “Kalau begitu, aku akan menceritakan sebuah kisah dari tanah Jambudwipa. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang putri ”
Sambil memandang murid-murid yang sedang berla- tih kanuragan, Empu Ragarunting mulai menceritakan ki- sah Putri Sati. Sati adalah putri Raja Dhaksa. Pernikahan- nya dengan Dewa Siwa tidak disetujui Raja Daksha. Peng- hinaan Raja Dhaksa kepada suami Sati membuat Putri Sati rela melemparkan diri ke dalam api. Kesetiaan Putri Sati kemudian mengabadi. Sungguh mulia cinta yang mampu menerjang kematian dan waktu.
“Putri Sati kemudian bereinkarnasi menjadi Dewi Parwati. Beliau bertemu kembali dengan suaminya, Dewa Siwa, di kehidupan lain. Mereka bersatu kembali. Meski jiwa Putri Sati telah ada dalam tubuh berbeda.”
Aku terpesona hingga tidak bisa bicara.
“Putri Sati adalah contoh yang baik seorang istri. Be- liau melaksanakan kewajibannya. Maka semesta merestui cintanya. Demikianlah kodrat seorang wanita.”
Aku membuka dan menutup mulutku. Sifat keras ke- pala membuatku kemudian mengajukan pertanyaan lain.
“Dapatkah Empu menjelaskan, apakah itu cinta?”
Pertanyaanku ini sempat mengendap karena hari menjelang sore. Empu Ragarunting kembali melanjutkan kisah Parwati keesokan harinya. Setelah dia berkisah, aku bertanya lagi. Dan dia melanjutkan keesokan harinya, keesokan harinya lagi....
__ADS_1
Lama-lama, sesi berlatih kanuragan menjadi ajang bincang-bincang di antara kami. Kisah Dewi Parwati dan Dewa Siwa ternyata masih berlanjut. Ambiguitas cinta ter- gambar di dalam kisah-kisah itu. Bagaimana cinta bisa melahirkan atau menumbuhkan. Sebaliknya, cinta juga se- suatu yang bisa melebur dan menghancurkan.
***
Empu Ragarunting agaknya terkesan akan keinginta- huanku. Setelah kisah Dewa Siwa selesai, dia sering meli- batkanku pada jam-jam pelajarannya. Murid-murid sang Empu menyiapkan satu sekat khusus untukku. Sebuah su- dut kosong yang ditutupi tirai tipis. Di sini, aku bisa men- dengar dan melihat Empu Ragarunting mengajar. Namun aku terpisah dari murid-murid lelakinya.
Hari ini, Empu Ragarunting menjelaskan salah satu bagian Bhagawad Gita22. Ada pemahaman di luar nalar mengenai kekuatan-kekuatan para dewa. Hingga kebi- ngungan mengenai cara-cara mereka mengatur keseim- bangan dharma dan adharma. Hal inilah yang kini sedang dibahas.
“Dan ketika itu, Arjuna begitu takjub.” Suara Empu Ragarunting terdengar kuat, “Apa yang bisa dikatakan orang yang mendengar kalimat ini: ‘Aku adalah waktu, Sang Penghancur Semesta’?”
Para murid tampak menunduk, berusaha merenung. Curadharma mengangkat tangan. Dia hendak bertanya, tetapi ditahan Mpu Ragarunting.
22 Salah satu kitab suci Hindu, menceritakan petuah Krisna kepada Arjuna mengenai perang dan kehidupan
“Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan waktu? Me- ngapa dia dapat menaklukkan semesta, bahkan menghan- curkannya?”
Semua terdiam. Empu Ragarunting melanjutkan pen- jelasan dengan wajah sangat serius. “Saat itu, Dewa Krisna menampakkan wujudnya yang mahadahsyat. Memperli- hatkan ‘Aku’ yang esa. ‘Aku adalah waktu. Sang penghan- cur semesta. Sang Waktu yang menumpas. Telah tiba saat- nya kini, dan matang bagi hancurnya laskar ini. Walaupun engkau lari, semua ini akan tetap binasa’.”
Aku pernah beberapa kali mendengar dan membaca kisah Mahabharata. Namun entah mengapa, saat ini, keti- ka Empu Ragarunting menceritakan bagian lain Maha- bharata, seluruh tubuhku gemetar. Hawa dingin menjalar di tulang punggung hingga aku memeluk diriku sendiri.
Jam pelajaran itu menjadi saat-saat yang sangat su- nyi. Semua sibuk dengan perenungan dan pemahamannya sendiri. Masih menelaah apa makna di balik kisah Krisna yang menakjubkan itu.
Empu Ragarunting sendiri menghampiriku setelah murid-muridnya satu per satu beranjak pergi. Dia terse- nyum kepadaku. Padahal, aku masih terpana di ruangan yang nyaris kosong.
“Gusti Putri, apakah ada yang ingin kautanyakan?”
Aku menunduk. Malu akan kelancanganku. Namun sikapku itu tidak memengaruhi Empu Ragarunting. Dia mengelus jenggotnya. Empu Ragarunting memandangku sejenak dengan tatapan bersimpati.
“Baratayudha adalah sebuah kejadian mengenaskan.” Aku tak dapat menahan mulutku. “Ketika para saudara sa- ling menyerang memperebutkan takhta. Mereka mengor- bankan begitu banyak nyawa para kesatria. Hanya demi memenuhi ambisi pribadi.”
Empu Ragarunting tersenyum bijak. “Lalu, apa pen- dapat Putri mengenai keraguan Arjuna menarik tali bu- surnya?”
“Itu ” Aku meremas jari. Berusaha mencari kata-kata untuk menjawab. Namun agaknya, semua kata terbang dari kepalaku. Aku hanya bisa membayangkan seorang kesatria yang roda keretanya sedang terperosok. Lalu ke- satria lain menimbang-nimbang apakah akan membunuh kesatria itu atau tidak.
“Sejak dulu, saya merasa semua yang terjadi pada Adipati Karna tidaklah adil.” Akhirnya aku berkata tanpa daya.
“Banyak orang berkata bahwa dunia ini memang tidak adil. Sebenarnya siapa yang menentukan keadilan? Mengapa yang adil bagi seseorang bisa menjadi tidak adil bagi yang lain?”
Aku mengernyitkan alis, tak mengerti.
“Putri, semua orang tidak mengharapkan perang dan bencana alam. Namun itu yang terjadi. Saat kebenaran merosot dan kejahatan perlu dibinasakan. Saat semesta mencari keseimbangannya.”
“Haruskah semua itu dibayar dengan nyawa manu- sia?”
“Putri, yang saya dengar, Putri mempelajari ajaran Buddha.” Empu Ragarunting berkata dengan penuh kesa- baran. “Bukankah Buddha sendiri mengatakan: adalah wajar bagi manusia mengalami 4 kondisi: lahir, tua, sakit, dan mati?”
Empu Ragarunting membiarkanku berpikir sejenak. Lalu dia melanjutkan, “Semua manusia akan mati. Itu ke- nyataan. Bagi para kesatria, mati—gugur di medan perang adalah kehormatan. Mereka gugur sebagai pahlawan. Lalu mengabadi dalam sejarah.”
__ADS_1
Aku mengangguk-angguk. Mulai memahami penjelas- an Empu Ragarunting.
“Siapakah yang dilihat Arjuna saat itu? Dia melihat saudara tertuanya. Namun dia juga melihat orang yang memilih menjadi sahabat kejahatan. Pilihan sudah pernah diberikan. Bahkan Yudistira merelakan takhta untuk Kar- na, dan Karna menolaknya. Dia memilih membela persa- habatannya dengan Duryodhana.”
Empu Ragarunting menggerakkan kepala. Salah satu alisnya naik. “Jadi, apakah Putri masih menganggap itu ti- dak adil?”
Tiba-tiba kisah itu mengingatkanku akan sebuah sutra:
“Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana. Ber-
gaul dengan mereka yang bijaksana. Menghormati mereka
yang patut dihormati. Itulah berkah utama.”23
“Tepat sekali, Putri.”
Aku baru sadar kalau air mataku mulai menetes tan- pa bisa dihentikan. Mungkin ini lancang. Membandingkan Perang Barathayudha dengan perang yang akan berlang- sung. Namun, aku tidak dapat menahan diri. Genangan
23 Diambil dari Mangala Sutta (Bahasa Pali)
darah dan sosok-sosok tubuh bergelimpangan masih ada di mimpi burukku.
“Sungguh beruntung jika seorang raja memiliki pen- damping seperti Anda.”
“Apa?” Aku mengusap mata dengan punggung ta- ngan. Sulit sekali menjabarkan perasaanku yang buncah. Pengertian dan simpati kepada para kesatria memberi se- buah sudut pandang baru. Selama ini, aku hanya melihat peperangan dari satu sudut pandang. Sudut pandang para rakyat.
Empu Ragarunting melangkah ke bagian samping ru- angan. Dia mengambil beberapa lontar dari dalam lemari. Senyuman tampak di bibirnya saat dia menimang-nimang beberapa lontar.
“Pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang adil bijaksana.” Dia berkata perlahan, “Dia berbahagia saat rakyat bersukacita. Sementara jika rakyat menderita, dia meneteskan air mata. Itulah pemimpin yang akan dipuja dan dikenang.”
Empu Ragarunting menghela napas, lalu menyodor- kan lontar itu kepadaku.
“Ini... untuk saya?”
Empu Ragarunting tersenyum. Agaknya, dia teringat sesuatu. Kerinduan memenuhi pandangan matanya saat Empu Ragarunting memandang lontar itu kembali.
“Lontar ini ditulis lalu ditinggalkan oleh salah satu sahabat saya. Beliau adalah seorang bhiksu yang meng- embara dari Sinhala.24”
“Sinhala? Negeri dekat Jambudwipa itu?”
24 Srilanka
Empu Ragarunting mengangguk. “Dia hanya tinggal beberapa bulan di sini. Saya sempat bertukar beberapa kisah. Beliau mendengar kisah para dewa, sedang saya menyimaknya bercerita tentang kehidupan Buddha.”
Kerinduan itu kembali terlihat dalam pandangan ma- ta Empu Ragarunting. Dia mendesah beberapa kali sebe- lum memandangku kembali.
“Sahabatku itu berpesan: suatu saat akan ada sese- orang yang berjodoh dengan lontar ini.”
__ADS_1
Dengan bingung, aku membolak-balik lontar itu. “Mungkin Putri dapat membaca kembali bagaimana
nasihat Sang Buddha kepada Patih Raja Ajatashatru.” Empu Ragarunting tersenyum bijak. “Putri bisa memper- timbangkan kembali pendapat-pendapat Putri mengenai Raden Wijaya dan kerajaan.”