
Putri Rajapatni - Gayatri - 23
Viren benar-benar menyampaikan pesanku ke- pada Raden Wijaya. Beberapa hari kemudian, datang be- berapa prajurit dan dayang. Seorang prajurit menye- rahkan selembar surat. Tertulis jelas jika Raden Wijaya menyuruh kami segera pindah.
P**utri terkasih,**
Aku tahu, kau akan marah. Tapi kumohon, kau mau mendengarkanku.
Majapahit tidak akan aman sampai perang usai.
Jadi kumohon, kau bersedia tinggal sementara di desa Mada.
Aku sudah meninggalkan pesan pada Empu Ragarun- ting. Beliau adalah salah satu resi sahabat Paman Ragana- ta.
Tunggulah hingga aku datang memenuhi janji.
Hormatku, Sanggrama Wijaya
Aku terlalu bosan untuk berdebat. Jadi aku langsung berkemas. Sakka dan Ratih tampak heran, tapi mereka mengerti dan tidak banyak bertanya.
Kami berangkat keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, kami mulai berjalan. Satu dayang memayungiku. Aku
menggandeng Ratih di sebelah. Kulihat, dia sangat kepa- yahan. Beberapa kali dia kesulitan bernapas.
Perjalanan kami beberapa kali terhenti karena kon- disi Ratih. Hari telah senja saat beberapa murid menyam- but kami di gerbang padepokan. Baru kali ini, aku melihat padepokan sebesar ini.
__ADS_1
“Selamat datang, Gusti Putri,” kata seorang murid laki-laki. Belakangan aku tahu, dia bernama Curadhar- mavyasa.
“Mohon maaf, kami tidak menyiapkan penyambutan yang layak.”
Menanggapi Curadharma, aku mengangguk dan ter- senyum. Curadharma dan beberapa murid lain mengantar kami masuk. Curadharma menjelaskan bagian-bagian pa- depokan. Meski tidak terlalu mewah, bangunan-bangunan padepokan itu beratap sirap. Pepohonan dan bunga-bu- nga mendatangkan suasana asri di bagian luar. Selain as- rama-asrama di bagian barat dan timur, padepokan itu memiliki bangunan khusus dengan ruangan belajar, khu- sus untuk murid lelaki.
Kami berhenti di balai pertemuan terbuka. Baik mu- rid lelaki maupun perempuan boleh masuk kemari. Bebe- rapa gadis duduk dengan sikap santun. Rupanya, mereka bertugas membawakan minuman dan kain basah.
Aku berterima kasih kepada seorang gadis yang membawakanku air minum. Kalau tidak salah, namanya Anggreni. Seorang murid mengambilkan kursi untukku. Aku meminta mereka mengambilkan kursi juga untuk Ra- tih. Kelelahan membuat Ratih sulit bicara. Keringat Ratih bercucuran. Aku kasihan melihatnya berkali-kali menge- lus perut sambil mengernyit.
“Anda tidak apa-apa?” Curadharma menyuarakan ra- sa khawatirku. “Apakah Anda lapar? Saya akan meminta seseorang membawakan makanan.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Curadharma melesat ke- luar. Diam-diam, aku kagum kepada lelaki itu. Meski tidak muda lagi, karisma Curadharmawyasa masih bisa meng- gerakkan hati perempuan. Kumis dan cambangnya tam- pak sesuai. Sementara postur tubuhnya cukup propor- sional. Semua kelebihan itu, ditambah sikapnya yang perhatian pasti mengundang kekaguman.
“Ini ada sedikit nasi dan sayur.” Curadharma menyo- dorkan makanan di atas daun pisang. Meski malu, Ratih mengambil daun itu lalu mulai makan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Perempuan yang hamil membutuhkan banyak makanan agar kuat,” celoteh Curadharma. Senyumannya saat itu terlihat ramah. Rona merah seketika timbul di pipi Ratih.
“Sebelumnya saya minta maaf. Empu Ragarunting se- dang tidak ada di sini. Empu Ragarunting sedang ada urusan di Manguntur hingga beberapa hari ke depan.” Curadharma menjelaskan. “Beliau menitip pesan kepada kami untuk menjaga kalian.”
“Saya merasa tidak enak karena harus merepotkan kalian semua,” kata Ratih.
“Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling me- nolong.” Curadharma berkata bijak. “Lagi pula, kita semua tidak tahu kapan perang akan dimulai atau berakhir.”
Aku dan Ratih sama-sama menghela napas. Ketidak- setujuan teredam dalam kebungkaman. Aku pun bertukar pandang dengan Ratih.
__ADS_1
“Jadi Anda juga tahu bahwa akan terjadi perang?” Curadharma menjawab dengan mengangkat bahu-
nya.
“Kalau saja, saya dapat mengubah niat Raden Wija-
ya,” keluhku.
“Semua orang memiliki kewajibannya masing-ma- sing, Gusti Putri.” Curadharma berkata. “Kaum brahmana membabarkan ajaran kebenaran, kaum kesatria menjaga pemerintahan, kaum waisya menjaga perekonomian, dan kaum sudra menjalankan kewajiban sebagai rakyat. Setia pada kerajaan.”
“Sistem masyarakat terkotak-kotak seperti itu, pan- taskah disebut kerajaan?”
“Putri Gayatri.” Curadharma berkata, “Kabar bahwa Anda menguasai ilmu politik dan seni peperangan itu ru- panya bukan sekadar isapan jempol belaka.”
“Orang-orang sering kali melebih-lebihkan.” Curadharma tertawa. “Putri yang terlalu rendah hati.
Gusti Putri menunjukkan kalau Prabu Kertanegara mendi- dik putri-putrinya dengan baik.”
Aku mengernyit sesaat. Bukan karena duka mende- ngar nama Ayahanda disebutkan. Akan tetapi, hatiku tera- sa tercubit saat sadar kalau kata-kata Curadharma benar. Ayahanda memang mempersiapkan kami sedemikian ru- pa. Putri-putri Ayahanda memiliki kelebihan yang sangat membanggakan. Hanya aku yang tidak mampu mengge- rakkan hati Ayahanda.
Tribuaneswari memiliki sifat-sifat feminin yang me- ngagumkan. Dia dapat menangani dapur dengan baik. Ta- ngannya pandai menenun. Sikapnya berwibawa, membu- atnya dihormati di istana belakang. Narendraduhita tegas dan cakap. Namun sangat lembut berbicara di depan orang lain. Pradnya lebih pendiam dibanding yunda-yun- daku yang lain. Namun banyak laki-laki mendambakan Pradnya, karena Pradnya pandai dalam berbagai bidang seni.
Bisa dibilang, aku dan Maha lebih bebas dari mereka. Ayahanda tidak menaruh harapan terlalu besar pada ka- mi. Pemberontakanku karena diskriminasi gender kemu- dian membuatku dekat dengan Paman Raganata. Mula- nya, aku banyak bertanya. Lalu akhirnya aku belajar. Sis- tem politik dan tata negara menantang nalarku. Semakin aku mendapat jawaban, semakin timbul banyak pertanya- an. Hal ini akhirnya membuatku semakin tenggelam da- lam pelajaran filsafat dan strategi perang.
“Pasti banyak laki-laki menjadi rendah diri di dekat Anda,” kata Curadharma dengan nada bercanda. Perkata- annya menyadarkanku dari lamunan.
__ADS_1
“Cara Anda berbicara mendekati gaya penasihat yang bijak. Tak heran, Raden Wijaya begitu mengasihi Anda,” lanjutnya.
“Bahkan Anda juga mengetahui hal itu,” sindirku ta- jam. Namun Curadharma hanya membentuk senyuman untuk membalasku.