
Putri Rajapatni - Gayatri - 14
Sungguh menyedihkan nasibku kini. Hidup segan, mati tak hendak. Sakka jelas memaksaku pulih. Setiap beberapa jam, Ratih akan datang membawa ra- muan. Rasa jengkelku bertambah setiap kali meminum ramuan pahit dan bau itu. Sakka bahkan meminta Ratih mengawasiku dengan ketat. Tidak setetes pun boleh terbuang, katanya.
Ratih mengembalikan kalungku. Ingatan akan Viren membuat harapan hinggap di hatiku. Aku mengenakan- nya kembali. Setiap kali bersedih, aku akan memegang kalung itu. Mengingat ada orang-orang yang menungguku, seperti kata Sakka.
Berbeda dengan keramahan Ratih, sikap Sakka sa- ngat dingin. Dia seperti tidak mengindahkan kehadiranku. Bahkan dari awal, dia memilih tidak bersikap formal. Aku sampai heran, mengapa dia peduli dengan nyawaku?
Aku tidak mengerti mengapa, baik Ratih maupun Sakka begitu memperhatikanku. Di hutan begini, sungguh sulit mendapatkan beras. Tetapi nasi setiap hari tersedia. Aku menghargai usaha Ratih menghadirkan masakan le- zat, meski dengan bahan-bahan sederhana.
Ratih mengatakan kalau Bibi Terukbali berhasil membujuk Paman Jayakatwang untuk membiarkan Pradnya tinggal bersama Bibi. Sementara Viren, dia dipe- kerjakan di keprajuritan. Kebaikan Ayahanda rupanya
masih diingat Paman Jayakatwang. Dia tidak memperla- kukan tahanan perang dengan semena-mena.
Sayangnya, aku sudah telanjur disembunyikan di sini. Bibi memutuskan membiarkan Paman Jayakatwang ber- pikir aku sudah meninggal. Penyelamatanku rupanya te- lah diatur oleh Bibi Terukbali. Emosi Paman Jayakatwang dulu membuat bibi berpikir panjang. Dia berpikir, Paman mungkin gelap mata hingga mencelakakanku.
Berangsur-angsur, keadaan fisikku membaik. Meski perasaanku masih kacau balau. Kerinduanku kepada ma- sa lalu semakin memuncak. Setiap hari, aku mengenang kekerasan Ayahanda. Aku memikirkan petuah-petuah Ibunda. Aku membayangkan saat-saat yang kulalui bersa- ma yunda-yundaku.
Sore itu, ada kupu-kupu kuning terbang di beranda. Dia terbang berputar-putar di kepalaku, lalu hinggap di bahu kanan. Saat aku menoleh, dia melonjak pergi.
Kupu-kupu itu mengingatkanku pada sesuatu. Atau tepatnya seseorang. Refleks, aku menyentuh bahu. Mem- bayangkan ujung selendang sutra yang pernah dipegang olehnya.
Raden Wijaya.
Di manakah dia saat ini? Kudengar, dia telah menikah dengan Tri dan Nare. Hatiku sakit mengingat semua itu. Meski aku tahu, menikahi Tri dan Nare juga penyelamatan kehormatan mereka. Dalam pelarian seperti itu, akan le- bih baik jika mereka memiliki status yang resmi.
“Apa yang sedang kaulamunkan, Putri?”
Aku tersentak mendengar pertanyaan Sakka. Rupa- nya, Sakka baru pulang. Di tangannya terlihat beberapa ekor burung buruan. Aku menyingkir dari jalan Sakka.
Membiarkan laki-laki itu ke dapur, menghampiri Ratih di sana.
__ADS_1
Tetapi Sakka tidak berlama-lama. Dia segera kembali ke beranda. Matanya memperhatikanku dari atas ke ba- wah.
“Kelihatannya, Putri sudah sehat.”
Aku mengangguk. “Terima kasih atas semuanya.”
Jawabanku terdengar gamang. Sakka agaknya tahu apa yang sedang kupikirkan. Perlahan-lahan, dia mende- kat lalu bersila di sebelahku.
“Apa kau baik-baik saja?”
Aku kembali mengangguk. Namun hatiku tahu, aku tidak baik-baik saja. Ada potongan besar yang hilang dari hatiku. Jiwaku merana. Perasaanku terombang-ambing tanpa tujuan.
“Putri,” Sakka memecah kesunyian, “Kau mengatakan kalau aku berpegang pada Prabu Jayakatwang. Kau mung- kin berpikir bahwa aku sengaja. Bahwa aku memang ingin mencari kekayaan dan kekuasaan melalui tangannya.”
Pikiranku tak sanggup mencerna maksud Sakka. Jadi aku hanya diam.
Sakka memegang topengnya. Perlahan-lahan, dia membuka topeng itu. Topeng yang selalu melindunginya itu kini dia letakkan ke atas pangkuanku.
Tanpa sadar, aku meraba topeng Sakka. Wajah putih dan cantik itu terbayang dalam kepalaku. Air mata turun segaris. Aku menoleh dan melihat wajahnya, sosok wajah dengan gores-gores luka.
“Bukan harta atau kekuasaan yang kujadikan pegang- an.” Suara Sakka bergetar oleh kesedihan. “Peganganku, Putri... hanyalah topeng hitam yang kini di tanganmu itu.”
Aku menangis terisak-isak. Kesedihan juga mengha- nyutkan Sakka. Menjadi jejak keheningan yang jatuh di antara kami. Keheningan yang mengangkat luka-luka ka- mi.
Aku mengulurkan topeng itu kembali kepada Sakka. Dadaku terasa lebih ringan setelah menangis. Jadi aku me- lengkungkan bibir untuk tersenyum.
“Terima kasih.”
Sakka mengenakan topeng dengan cepat. Aku baru mengerti arti perkataan Sakka. Topeng itu menutupi kele- mahannya. Hanya itu pegangan Sakka. Perlindungannya dari dunia.
“Kau tidak takut padaku, kan?” Nada suaranya kini le- bih santai. “Banyak yang bilang, aku bhuta kala. Bahkan para bekel enggan berurusan denganku. Prabu Jayakat- wang terpaksa memindah-mindahkan posisiku. Dan di sini, untungnya, tidak ada yang bisa melihat wajahku.”
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa bergabung dengan Kadiri?” “Ceritanya sangat panjang.”
“Waktuku juga sangat panjang.” Aku mendesah mu- ram. Sakka tersenyum getir. Dia menatap ke arah dapur yang terletak di bagian depan pondok. Nari Ratih masih sibuk memasak di sana.
“Saat itu, lukaku cukup parah.” Sakka memulai ceri- tanya. “Ratih yang membawaku menghadap Empu Hang- gareksa. Beliau adalah seorang pendekar dan pembuat ke- ris yang tersohor. Empu Hanggareksa menampung kami. Beliau juga membantu menyembuhkan luka-lukaku.”
Aku menyimak cerita Sakka sambil mengamatinya. Dia tidak terlihat nyaman. Menceritakan hal ini pasti juga membuka luka hatinya.
“Ratih memohon agar Empu Hanggareksa memban- tuku,” lanjutnya. “Empu Hanggareksa jatuh kasihan. Dia lalu memutuskan akan menurunkan semua ilmunya pada- ku. Singkat cerita, aku menjadi muridnya. Tiap hari, aku mempelajari ilmu kanuragan. Tak ketinggalan, dia meng- ajarkan beberapa pengetahuan umum.”
Sakka menggoyangkan kepala. “Suatu hari, Prabu Jayakatwang datang. Sang Prabu berniat mengambil keris. Dia sengaja memesan keris itu untuk membunuh seseo- rang.”
“Orang itu adalah Prabu Kertanegara,” tebakku. “Begitulah,” kata Sakka dengan nada pahit. “Saat itu,
Prabu Jayakatwang bertanya, apakah Empu Hanggareksa mengenal pendekar yang dapat membantu. Empu Hang- gareksa langsung memanggilku.”
“Sejak itu, kau membantu Paman Jayakatwang meng- acau?”
“Itu hanya strategi politik, Putri. Kupikir kau tahu
itu.”
“Bagaimanapun, aku sedih mengetahui kau terjeru-
mus sejauh itu.”
“Semua telah terjadi,” katanya tanpa berniat minta maaf. Sakka menoleh ke dapur. Pintu dapur yang terbuka menampakkan sosok Ratih. Perempuan itu meniupkan udara dengan sebatang bambu panjang.
“Kuharap, kau bisa betah tinggal di sini.” “Memang harus begitu, kan?”
Sakka menggoyangkan kepala lagi. “Prabu Jayakat- wang mulai membangun Kadiri. Beliau akan segera me- manggilku. Sementara itu, tinggallah di sini, Putri. Jika suasana sudah tenang, kami akan membawamu ke kotaraja. Sementara itu, semoga Putri maklum dengan keterbatasan ini.”
__ADS_1
“Aku akan terbiasa.”
Senyumanku saat itu mungkin senyuman paling gan- jil. Kehidupan istanaku berakhir saat aku mengucapkan kalimat itu. Sama seperti Putri Galuh Candra Kirana yang kemudian berubah menjadi Panji Semirang. Aku pun ber- ubah dari seorang putri menjadi seorang gadis jelata.