Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 30


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 30


Ike Mese sangat antusias menyambut kerja sama dengan Majapahit. Komandan Mongolia itu mengadakan pesta anjangsana yang sangat meriah. Ike Mese memin- dahkan tenda-tenda para prajurit Mongolia di Desa Pacekan yang letaknya di tengah-tengah Majapahit dan Kadiri. Aku mendengar mereka sempat bentrok dengan pasukan Kadiri di wilayah Canggu. Namun ketangguhan pasukan itu membuat pasukan Kadiri takluk dengan mudah.


Ratih melahirkan di tengah-tengah suasana perang. Bayi Ratih montok dan tangguh. Tangisannya membuat seluruh padepokan seketika gempar. Ada tanda lahir me- nyerupai seekor gajah di lengan kiri si Bayi. Dalam seke- jap, bayi itu memiliki banyak penggemar. Semua murid Empu Ragarunting senang menggendong si Bayi.


“Saya akan menunggu Kanda Sakka datang lalu mem- berinya nama,” kata Ratih. Matanya berlinang. Penuh air mata haru. Aku segera menuliskan surat atas nama Ratih. Seekor merpati menerbangkan surat itu untuk Sakka.


Sakka mengirimkan balasan sehari kemudian. Aku terpaksa berbohong kepada Ratih. Aku mengatakan kalau semua baik-baik saja. Padahal, ketika itu Sakka dan Viren sedang diburu Ardaraja. Ardaraja mengeluarkan perintah tegas: siapa pun yang melihat Sakka atau Viren harus me- lapor.


Pengikut-pengikut Raden Wijaya dicari satu per satu. Ardaraja bersumpah akan menuntaskan dendam saat ini juga. Dia sangat berhasrat memenggal kepala musuh abadinya.


Kami semua menjadi buronan, tulis Sakka, Beberapa kawanku yang mendukung Majapahit telah menjadi kor- ban. Ardaraja mengirim orang untuk menghabisi keluarga mereka.


Aku menggenggam surat itu erat-erat. Aku bahkan tidak berani memberikannya kepada Ratih. Seharian aku menghindari Ratih. Gundah karena menyembunyikan ma- salah ini sendirian.


Curadharma yang kemudian mencium gelagat aneh- ku. Curadharma mencariku setelah jam makan siang. Dia melihatku menggenggam surat sambil terus menggigit bibir.


“Apa yang sebenarnya ditulis Ken Sakka di surat itu, Putri?” katanya. “Melihat gerak-gerikmu, tampaknya itu bukan hal bagus.”


Aku meremas surat itu. Hatiku meragu. Namun Cura- dharma semakin berusaha meyakinkanku.


“Saya tidak akan mengatakannya kepada Nyi Nari Ratih atau siapa pun. Putri dapat percaya kepada saya.”

__ADS_1


“Sungguhkah?”


Curadharma mengangguk. Dadaku yang sesak mulai terasa lega. Tanpa dapat ditahan lagi, seluruh isi surat itu meluncur dari mulutku. Aku juga mengutarakan ketakut- anku. Aku takut, Ardaraja akan membunuh Ratih dan bayinya.


“Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Sakka? Ah! Terkutuk mulutku ini!” Aku memukul mulutku dengan


jengkel. “Peperangan selalu membuatku takut. Oh, Hyang Widhi, mengapa kami harus mengalami hal ini?”


“Tenanglah, Putri.” Curadharma tersenyum sambil menggerakkan kepala. “Yang harus kita lakukan hanya banyak-banyak berdoa. Biarkan para kesatria melakukan tugasnya.”


Aku mondar-mandir. Masih bingung dan gelisah. Curadharma agaknya membaca pikiranku, karena dia langsung mengatakan:


“Semua orang di sini menyukai si Bayi. Aku yakin, jagoan kecil itu cukup terlindungi. Tidak akan ada yang tega membiarkannya tersakiti.”


“Kalau Putri mengizinkan, saya akan berbicara de- ngan guru.” Curadharma berkata, memotong ucapanku.


“Apakah itu jalan keluar yang baik?”


“Putri tahu kalau pengetahuan guru sangat luas. De- mikian juga pemikirannya yang tenang dalam mengambil keputusan.”


Beberapa saat, aku berpikir sambil terus memandang surat di tanganku. Usul Curadharma mungkin ada benar- nya. Aku mengangguk pelan, memberi persetujuan. Aku tidak tahu bahwa anggukan itu adalah awal nasib baru bagi Ratih dan bayinya.


***

__ADS_1


Surat kedua datang dua hari kemudian. Aku ingat, saat itu, merpati datang di waktu fajar. Surat itu untukku, ditulis oleh Pradnya.


Gayatri, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini kepadamu, tulis Pradnya. Kemarin sore, Ardaraja me- ngamuk. Dia datang dengan tubuh terluka. Lalu Mahadewi mencoba membantu. Maha ingin mengobatinya.


Ardaraja berteriak. Dia langsung melempar alat peng- obatan yang dibawa Mahadewi. Lalu si Bayi memperkeruh suasana. Bayi mereka menangis kencang. Mahadewi ber- usaha menggendong dan menenangkan bayi itu. Akan tetapi, tanpa pikir panjang, Ardaraja berteriak bahwa anak itu hanyalah anak seorang pengkhianat. Dia menyambar lalu membanting bayi itu. Si Laknat itu membunuh anak- nya sendiri! Sungguh manusia itu tak memiliki hati! Mahadewi yang tak terima anaknya dibunuh, menyerang suaminya sendiri. Saat itulah, Ardaraja yang bermoral busuk itu menusuk istrinya!


Ini adalah kabar kematian pertama yang kuterima. Air mataku seketika menggenang. Mahadewi. Adikku yang malang. Sejak kecil, dia selalu berusaha menyenangkan Ayahanda. Dia selalu berusaha menurut. Bahkan ketika Ayahanda menyuruhnya menikahi Ardaraja.


Duh, Ida Sang Hyang Widhi....


Bulir-bulir air mataku jatuh. Aku merosot, tersedu- sedu di atas lantai. Ratih yang kemudian datang menghi- burku. Dia diam seribu bahasa, membiarkanku menangis dalam pelukannya. Aku berteriak. Aku marah.


“Mengapa harus senja? Mengapa harus sama dengan ramalan yang dia bawa waktu lahir?”


Tiga malam aku menangisi kepergian Maha yang be- gitu tragis. Aku bahkan tidak bisa menghadiri upacara kremasinya. Maha adalah istri seorang Pangeran Kadiri.


Upacara kematiannya akan diadakan di Kadiri—kerajaan musuh Majapahit.


Maha, adikku... setiap kali aku selesai menangis, aku hanya bisa mengingat bagian dari kitab Trilakkhana Gatha—tiga corak kehidupan:


Di antara sekian banyaknya manusia,


Hanya sedikit yang bisa mencapai pantai seberang. Sebagian besar manusia lainnya,

__ADS_1


Hanya bisa hilir mudik di pantai sini.


__ADS_2