Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Rajapatni - Kelam Senjakala


__ADS_3

Putri Rajapatni - Rajapatni - Kelam Senjakala


Hari-hari kemudian berlalu dalam kesunyian. Tahun demi tahun berganti dengan cepat. Kerajaan bergo- lak tiada hentinya. Perebutan kekuasaan dan permainan politik semakin lama semakin menyedihkan. Yang kuat bertahan. Yang lemah tumbang dan tersingkirkan.


Hal yang sama terjadi juga di istana keputrian. Satu per satu orang-orang jatuh. Penyakit datang tanpa diduga. Bayang-bayang kematian menyertai di belakangnya.


Tri adalah yang pertama pergi di antara kami. Entah keputusasaan, sakit hati, atau sebab-sebab lain yang me- nyebabkan, aku tidak tahu. Sakitnya begitu mendadak. Be- gitu parah dan tiada obatnya.


Nare menuding Dara Petak di depan wajah wanita itu. Nare menuduh Dara Petak menggunakan sihir hitam. Dia mengatai wanita itu sebagai titisan Calonarang dan raksesi. Aku melihat wajah Dara Petak berubah merah ke- unguan. Melihatku di sebelah Nare, dia tidak berani ma- rah. Dara Petak memamerkan senyuman palsu. Dengan lihai, dia mengatakan kalau Nare tengah memfitnahnya dengan kejam.


Tak ketinggalan, Halayudha turut membela Dara Pe- tak. Suasana sempat kacau sebelum akhirnya Tri dipe- rabukan. Kobaran api yang membubung terlihat sebagai api dendam yang akan mulai menjalar ke kami semua.


Berselang seminggu, Nare menyusul Tri. Saat itu, be- berapa alat praktik ilmu hitam ditemukan di kediaman


Dara Petak. Sekali lagi, dengan muslihat Halayudha, pe- rempuan itu berhasil menghindari tuduhan.


Kasih sayang Prabu Kertarajasa kepadaku, membuat sang Prabu melindungiku sedemikian rupa. Aku merasa sesak dengan pengawalan yang sang Prabu berikan. Tak jarang, aku mendebat saat sang Prabu menyebutkan soal ilmu hitam. Sang Prabu memaksa mendatangkan seorang tukang sihir. Beberapa jimat ditaruh di istanaku. Alih-alih merasa aman, aku malah merasa terintimidasi. Aku tidak menyukai hal-hal klenik. Tapi mendebat Prabu Kertara- jasa hanya akan mendatangkan pertengkaran.


Sekitar delapan tahun kemudian, aku melahirkan la- gi. Prabu Kertarajasa sangat senang karena bayi itu lagi- lagi berjenis kelamin perempuan.


“Sudah kukatakan, aku ingin melihat dirimu dalam versi kecil,” guraunya.


Putri-putriku diberi nama Putri Dyah Gitarja dan Put- ri Dyah Wiyat. Aku memutuskan untuk turun tangan sen- diri mengasuh dan mendidik mereka. Aku hanya menda- tangkan beberapa guru untuk pengetahuan umum. Sisa- nya, aku yang menerangkan.


Aku tidak mau memaksa mereka belajar keterampi- lan wanita. Aku lebih suka menyerahkan tugas itu kepada kepala dayang. Sedangkan aku sendiri sering mengajak mereka memahami posisi ayahanda mereka. Mereka ber- dua putri-putri Raja Majapahit. Karena itu, mereka harus paham apa yang terjadi di istana.


Dyah Gitarja adalah yang paling bersemangat mem- pelajari masalah kenegaraan. Dia selalu memberondong ayahandanya dengan pertanyaan-pertanyaan lugu. Tak ja- rang, pertanyaan itu sulit sekali. Prabu Kertarajasa mengernyit kaget, lalu tertawa terbahak-bahak. Bingung ha- rus menjawab apa. Dyah Gitarja selalu menunggu ayah- andanya menjawab. Meski kadang harus menunggu bebe- rapa hari.


Dyah Wiyat mewarisi sikap kaku dan tertutup ayah- andanya. Aku sering melihat Prabu Kertarajasa mencoba membujuk Dyah Wiyat. Lalu putri bungsuku itu akan cem- berut dan mengambek. Kembali, Prabu Kertarajasa terta- wa. Mungkin ingat pada dirinya sendiri.


Aku bersyukur, kehadiran dua putri dapat menjadi penghiburan tersendiri bagi sang Prabu. Karena itu, aku selalu mengingatkan dua putriku kalau mereka harus mencintai tanpa pamrih. Mereka harus memeluk ayahan- danya dengan tulus. Dan mereka kularang membahas ma- salah daerah kekuasaan.


Aku sadar, konflik politik kadang lebih berbahaya da- ri konflik perang yang sesungguhnya. Bahkan saat kondisi kesehatan Prabu Kertarajasa mulai menurun, masalah- masalah negara belum bisa berkompromi. Fitnah Maha- pati menyebar bagai racun. Sementara Jayanagara yang semakin dewasa tak henti menuntut sang Prabu untuk tu- run takhta.


Wajar kalau senyuman di wajah Prabu Kertarajasa semakin jarang terlihat. Sang Prabu hanya berusaha ber- gembira saat berada di dekat putri-putrinya.


Aku ingat, sang Prabu selalu menanggalkan mahkota ketika memasuki paviliunku. Setelah itu, dia akan pergi ke kamar. Memilih untuk berganti pakaian sendiri. Sang Pra- bu selalu mengenakan sehelai kain sederhana. Rambutnya tergerai lepas. Sehelai kain tipis tersampir di bagian ba- hunya.


Sang Prabu akan duduk di beranda. Berlama-lama memandangi pohon-pohon yang semakin menjulang. Di- am-diam, sang Prabu memperhatikan Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Dua putriku sering mengejar kupu-kupu, sa- ma sepertiku dulu.


Pada saat musim mangga, aku akan menyuruh para dayang memetikkan mangga. Kusajikan mangga itu ke ha- dapan sang Prabu. Lalu kami akan menertawakan perte- muan pertama kami.

__ADS_1


Saat itu, aku akan memperhatikan helai-helai putih pada rambut Prabu Kertarajasa. Kutelusuri kerut-kerut di pipi, kupandangi garis hitam di bawah matanya. Air ma- taku selalu menitik. Mengingat kenangan kami. Pahit dan manis. Secepat itu waktu berlari. Semudah itu perubahan terjadi.


Dia yang di masa mudanya begitu gagah, kini duduk dengan wajah tua yang letih. Beban di istana telah meno- rehkan luka-luka jiwa. Merampas semua kegembiraan yang ada. Merebut semua harapan yang tersisa.


Pangeranku. Rajaku. Sosok itu terlihat begitu ringkih. Kekuatan kehadiran yang dulu begitu menggetarkan, kini meredup oleh usia. Kehidupan ini semakin terlihat mele- lahkan baginya.


Begitulah senjakala mulai datang. Aku ingat, Prabu Kertarajasa semakin sering minum ramuan suplemen di pagi hari. Sang Prabu berusaha menegakkan bahu. Sang Prabu tersenyum sekali, lalu wajahnya mengeras lagi se- perti arca.


Lalu ada satu pagi. Saat itu cahaya matahari tertutup awan kelam. Aku beringsut di tempat tidur, enggan ber- anjak. Tetapi sang Prabu memanggilku. Jarang sekali dia memintaku membantunya. Karena itu, aku segera meng- ambil sisir. Kusisiri rambut yang mulai abu-abu memutih itu. Aku menggelung rambutnya ke atas. Lalu kuambil mahkota, untuk kupasangkan ke kepalanya.


Napas sang Prabu terdengar tidak teratur. Prabu Ker- tarajasa mendaratkan sebuah kecupan kecil di keningku. Tatapannya saat itu membuat hatiku melumer.


“Dinda Gayatri. Terima kasih telah menemaniku sela- ma ini.”


Di pintu gerbang, sang Prabu berdiri begitu gagah. Sorot matanya saat itu mengingatkanku akan sorot mata penuh rayuan di masa lalu. Dia mengangkat tangan. Jema- rinya bergetar saat dia melambaikan tangannya.


Itu adalah saat terakhir Prabu Kertarajasa Jayawar- dhana datang ke paviliunku.


***


Beberapa kali, aku berusaha mengunjungi Prabu Ker- tarajasa. Namun dia hanya mengizinkan Nambi dan bebe- rapa menteri untuk memasuki kamarnya. Para tabib siaga setiap saat. Para pendeta dan bhiksu tak henti meman- jatkan doa-doa demi keselamatan raja.


Aku memergoki Jayanagara sedang mengadakan pes- ta bersama wanita-wanita pelacur. Dia tampak senang se- kali. Jayanagara bersenda gurau. Dia bermain-main sambil mabuk-mabukan. Beberapa kali, Jayanagara berkata, dia tak sabar menunggu kematian ayahandanya.


Kemarahan dan kesedihan membuatku nyaris tak bi- sa makan. Aku menguatkan diri, hanya sekadar bisa membaca dharani. Aku sangat berharap, kondisi Prabu Kertarajasa akan berangsur sembuh. Jika saja ada keajaib- an, aku ingin dia sehat seperti sediakala.


Sayangnya, kabar baik tidak pernah datang. Penghuni istana keputrian mulai bergunjing mengenai kondisi sang Prabu. Dara Petak kembali menjadi tertuduh. Banyak orang menebak, perempuan itu menggunakan sihir hitam untuk menyakiti Prabu Kertarajasa.


Namun tentu saja, tak seorang pun berani membuka mulut di depan Dara Petak.


Penyakit Prabu Kertarajasa adalah bisul yang mem- bengkak. Itu yang aku dengar dari para tabib. Aku tidak pernah mendengar ada penyakit seaneh ini. Para tabib mengatakan, bisul itu kembali tumbuh setelah disingkir- kan. Lalu akan muncul bisul baru di bagian tubuh lain. Penyakit itu juga secara tidak langsung melemahkan tu- buh Prabu Kertarajasa. Kesakitan membuatnya tidak bisa tidur. Organ pencernaannya diserang. Hingga lama kela- maan membuat sang Prabu susah makan dan minum.


Kabar kesehatan Prabu Kertarajasa akhirnya menye- bar ke seluruh kerajaan. Rakyat resah mendengar kondisi raja semakin memburuk. Dari istana, kotaraja, hingga desa-desa. Para penduduk mulai memanjatkan doa-doa mengharap kesembuhan. Tabib-tabib baru dari luar mulai didatangkan. Namun apa daya, semua doa-doa itu tak mampu membawa keajaiban.


***


Peristiwa ini terjadi di bulan Margasira.


Prabu Kertarajasa memanggil seluruh penghuni ista- na ke balairung agung. Aku tidak tahu, kekuatan apa yang membuatnya bisa duduk di singgasana. Tetapi sang Prabu duduk dengan tegak. Sementara dua dayang memegangi kain lebar yang membuat kami hanya bisa melihat ba- yangan sang Prabu.


Suara Prabu Kertarajasa bergetar. Berkali-kali, aku mengusap air mata dengan ujung selendang. Sang Prabu terbatuk-batuk. Bayangannya berguncang. Kelihatan se- kali, dia memaksakan diri melebihi batas-batas kekuatan seorang manusia. Keajaiban ini sungguh luar biasa. Aku sempat berharap, Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan membuat keajaiban lain.

__ADS_1


Namun aku tahu, itu tidak mungkin.


Aku bahkan tidak bisa menggapai sosoknya. Meski berada satu ruangan, Prabu Kertarajasa terasa amat jauh. Wajahnya tertutup. Aku tidak tahu apa yang sedang sang Prabu pikirkan. Aku juga tidak tahu apakah firasat buruk ini memang tentang akhir hidupnya.


“Aku telah memimpin kerajaan ini selama empat pu- luh tahun.” Prabu Kertarajasa bersabda, “Aku berterima kasih atas semua pengabdian kalian. Kalian semua telah membantuku menjaga kerajaan ini. Kalian semua tetap teguh mempertahankan Majapahit. Memastikan bahwa pemerintahan berjalan dengan baik.”


Tidak ada orang yang berani menanggapi ucapan itu. Isakan terdengar samar-samar. Aku tahu, kecuali Hala- yudha dan Dara Petak, semua orang tengah menangis.


“Kalian menganggapku sebagai Harihara—Wisnu ju- ga Siwa. Karena itu, kuharap, saat ini kalian mendengar- kanku. Tanamkan setiap kata dalam benak kalian:


Pertama, aku tidak ingin ada perebutan takhta sete- lah kepergianku. Aku meminta jiwa kalian. Aku menuntut kesetiaan kalian. Berusahalah dengan keras. Bentengi ke- rajaan ini hingga tiada penjajah yang datang.”


Prabu Kertarajasa terbatuk-batuk beberapa saat. Aku melihat beberapa dayang pergi ke balik tabir. Seorang membawa baskom. Seorang membawa kain. Seorang membawa air minum.


“Gayatri.” Sang Prabu kini memanggil namaku. Takut- takut, aku maju ke hadapannya. Aku ingin menemuinya di balik tabir, tapi seorang dayang menggeleng, melarangku.


Aku akhirnya bersimpuh seraya memberi hormat. Se- dikit kecewa karena tidak dibiarkan mendekat.


“Putri terkasih.” Sang Prabu berkata lirih, “Aku minta maaf karena harus menahanmu lebih lama di istana. Ku- mohon, jaga kerajaanku. Jaga putri-putri kita hingga me- reka bisa melindungi dirinya sendiri. Atau hingga ada pe- lindung yang benar-benar bisa kauandalkan.”


“Kanda, saya mohon jangan mengatakan hal-hal se- perti itu.” Suaraku pecah. Badanku menggigil menahan kesedihan. Air mata masih bercucuran di wajahku.


“Aku pernah mengatakan, jangan meneteskan air ma- ta untukku.” Suaranya semakin lirih. “Gayatri, aku tidak ingin kau melakukan pengorbanan sati atau menyerah- kan nyawamu. Aku ingin kau berkorban dengan hidupmu. Hiduplah untukku, Gayatri. Cintai Majapahit, seperti saat aku masih ada di kerajaan ini.”


“Kanda ”


“Maafkan aku, Gayatri, tapi aku benar-benar mencin- taimu sepenuh hatiku.”


Prabu Kertarajasa terbatuk lagi beberapa kali. Aku diam di depan singgasananya. Hanya berbatas kain tipis yang seketika itu ingin kurobek paksa. Aku menangis ter- sedu-sedu. Bahkan setelah pasewakan itu berakhir.


Tangisanku semakin menjadi saat senja benar-benar turun. Ketika aku melihat para pendeta mulai membakar dupa dan para bhiksu memanjatkan paritta-paritta per- kabungan:


Tidak seorang pun akan terhindar,


Kelapukan dan kematian menerjang semuanya.


Tidak terlawan oleh pasukan bergajah, pasukan ber- kereta,


Atau pasukan pejalan kaki.


Tidak juga terlawan dengan kekuatan mantra. Atau terlawan oleh harta kekayaan.35

__ADS_1


35 Dari Pabbatopama Gatha (Bahasa Pali)


__ADS_2