Putri Rajapatni

Putri Rajapatni
Putri Rajapatni - Gayatri - 7


__ADS_3

Putri Rajapatni - Gayatri - 7


Catatan Sejarah:Topeng Malangan atau Topeng Pemalangan adalah salah satu seni pementasan tari. Para penari mengenakan topeng sesuai karakter yang dimainkan. Kesenian ini mulai populer saat pemerintahan Raja Erlangga (Mataram Kuno, kerajaan sebelum Singasari). Lakon Panji Asmara- bangun (atau Sastra Panji) tengah populer pada masa pemerintahan Raja Kertanegara (Singasari).


*


Aku ingat. Saat itu umurku sekitar sebelas atau dua belas tahun. Tubuhku berubah tanpa terkendali. Emosiku cepat sekali menggelegak. Berkali-kali, aku me- nentang Ayahanda. Aku dihukum, lalu berulah. Aku ber- ulah, lalu dihukum lagi. Begitulah keseharianku saat itu.


Menyelinap ke luar istana adalah caraku menghibur diri. Kapan pun aku punya kesempatan, aku akan meng- ikat erat bagian dadaku, lalu berdandan seperti prajurit. Aku berkeliaran di luar istana, bertingkah seolah-olah baru saja keluar dari penjara.


Seandainya bisa, ingin sekali aku meninggalkan ke- luarga dan istana, seperti Siddharta Gotama. Sayangnya, hingga kini aku hanya bisa mendengar kisah-kisahnya dari para bhiksu dan bhiksuni.


Pagi ini, aku berniat menyelinap, kali ini untuk me- nemui para bhiksu lagi.


Sekotak makanan lezat telah disiapkan oleh Nyi Hanum. Gendis mengikuti dengan waswas. Kami pun mengendap-endap di lorong-lorong rahasia. Aku berhasil melewati istana utama, lalu beralih ke taman sari dekat gerbang barat. Beberapa langkah lagi, kami akan sampai di gerbang utama.


Sayangnya, sebelum kami benar-benar keluar daerah istana, seseorang menepuk bahuku.


“Permisi?”


Astaga, siapa lagi ini. Jangan-jangan,  prajurit peng-


adu.


Aku terpaksa berbalik untuk menghadapinya. Seo-


rang pemuda kini berdiri di depanku.


“Permisi, kalau saya boleh tanya, di manakah ruang kepala bagian kesenian?” Sang pemuda berkata santun. Karena aku tidak menjawab, dia menjadi heran sendiri.


“Kau siapa?” Dia bertanya dengan nada meragu.


Dilihat dari perawakan tubuhnya, pemuda ini tidak mungkin tergabung dalam kelompok keprajuritan. Meski tegap, wajahnya lebih terlihat cantik untuk ukuran laki- laki. Kulitnya juga lebih putih dari para prajurit.


Aku masih terlalu muda untuk merasa kagum kepada fisik seorang laki-laki. Akan tetapi, aku tahu kalau pemuda yang kira-kira berusia awal dua puluhan ini akan menjadi bahan pembicaraan di keputrian, seandainya dia muncul di sana.


Pemuda ini langsung bingung saat dia memindaiku dari atas ke bawah. Merasa diteliti, aku buru-buru menu- tup dada.


“Apa yang kaulihat?” bentakku.


Pemuda ini tampak terkejut. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menekuk lutut di depanku. “Ampunkan hamba, Putri Gayatri!”


“Ssst! Cepat bangun!” Aku mulai panik dan menarik- nya berdiri. Kuseret dia sambil mencari tempat yang lebih aman.


“Kalau para prajurit itu melihatku, mereka akan me- nangkapku! Dasar bodoh!” Kumarahi dia tanpa basa-basi. Sekarang, kami ada di balik pohon. Nyi Hanum dan Gendis menunduk di balik semak-semak—tak jauh dari kami.


“Apa yang Anda lakukan di sini?”


“Kau sendiri, apa yang kaulakukan di sini?” tuduhku galak.


“Kami akan mementaskan Topeng Pemalangan di istana.” Si pemuda berkata linglung. “Kepala bagian kese- nian istana yang memanggil saya kemari.”


“Topeng Pemalangan?” kataku takjub. Telah lama aku kagum pada kesenian itu. Para penari yang tidak pernah memperlihatkan wajah. Hanya gerakan-gerakan yang me- nyampaikan perasaan. Cerita mengalir dalam narasi da- lang. Emosi berbaur dalam musik dari gamelan pengrawit. Kebahagiaan dan kedukaan menjadi bumbu kisah asmara. Begitu indah.


“Kau berperan sebagai siapa?” Aku tersenyum lebar. Girang sekali bisa bertemu dengan salah satu artis. Ini akan jadi bahan merumpi yang sangat asyik. Pradnya dan Maha pasti iri sekali!


“Hamba memerankan Inu Kertapati, Putri.” Si pemu- da memamerkan deret gigi yang putih berkilau. Seketika, rasa kagumku bertambah. Dengan postur tubuhnya itu, dia memang cocok sekali berperan sebagai Inu Kertapati. Sang Panji Asmarabangun yang sedang mencari kekasih hati.


“Jangan bersikap terlalu formal.” Aku menepiskan ta- ngan. Sedikit risi melihatnya terus menunduk.


“Terima kasih sekali, Gusti Putri.”


“Aku tidak akan mengganggumu.” Kupamerkan seu- las senyum. “Tapi jangan lapor kalau kau pernah melihat- ku lewat sini, ya?”

__ADS_1


“Baiklah, Putri” Si pemuda kini ikut tersenyum. “Tapi bisakah Anda menjelaskan, untuk apa mengendap-endap seperti pencuri di istana sendiri?”


Malu-malu, aku mengangkat tangan berisi kotak ma- kan di tangan. “Aku hendak ke biara,” jelasku.


Pemuda itu melongo. Sama sekali tidak memercayai pendengarannya.


***


Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Ken Sakka. Seniman berbakat yang kemudian kehilangan segalanya. Itu semua terlalu mengerikan untuk diceritakan. Aku ingat, setelah pertunjukan, Ayahanda memanggil Sakka dan semua anggota rombongannya. Tidak banyak yang ta- hu hal itu. Lecutan cambuk terdengar tajam. Aku melihat satu per satu orang tersungkur bergelimang darah. Lalu aku keluar dan menangis tersedu-sedu. Aku memohon agar Ayahanda menghukumku seorang. Bicara dengan orang asing adalah perbuatanku. Aku yang bicara pada Sakka. Aku yang perlu dihukum.


“Ayahanda, saya mohon, ampunilah mereka semua, Ayahanda.” Aku berlutut dan menunduk hingga mencium tanah. “Saya rela menerima hukuman apa pun. Biarlah saya yang menanggung akibat perbuatan saya sendiri!”


Aku sama sekali tak menyangka, saat itu Raden Wijaya yang bertindak. Antipatiku kepada Raden Wijaya kian bertambah. Betapa kejamnya tangan itu saat meng- goreskan keris! Betapa tidak berperasaannya hukuman sang pangeran itu!


Mengingat kejadian itu selalu mendatangkan perih di hatiku. Aku membenci ketidakberdayaanku menolong Sakka.


“Apakah mengetahui perasaan laki-laki penting bagi seorang gadis, Pangeran? Tidak bolehkah saya memilih untuk tidak mengetahuinya?”


Raden Wijaya terdiam. Kemarahan dan keputusasaan menguasaiku seketika. Ketidakberdayaan yang sama me- runtuhkan semua pertahanan diriku.


“Siapalah saya ini, Pangeran,” kataku lirih. “Bagi ka- lian, saya dan semua yunda saya hanya sekumpulan goa gharba10. Hanya laki-laki paling beruntung yang dapat menebak betis siapakah yang paling berkilau.”


Kening Raden Wijaya berkerut. Ucapanku ini sangat tidak sopan. Untuk sesaat, aku berharap dia membatalkan lamarannya karena mendengar hal ini. Putri ini tidak tahu tata krama, Pangeran. Tolong, tinggalkan putri ini. Aku merintih dalam hati.


10 Goa gharba = rahim.


Tapi lagi-lagi, dia tidak menunjukkan kemarahan. Raden Wijaya hanya menyunggingkan sebuah senyum ge- tir. Perkataan berikutnya hanya balasan sindiranku.


“Apalah gunanya memiliki anugerah ardhanares- wari11 jika kepribadiannya buruk. Aku tidak ingin memi- liki istri seperti itu. Sungguh.”


“Saya tidak suka ucapan Anda.” Aku berkata jengkel, “Lagi pula, ramalan nasib saya tidak terlalu baik.”


“Aku tidak terlalu percaya ramalan.”


Perkataanku itu terlalu lancang hingga aku sendiri merasa malu. Tapi Raden Wijaya bergeming. Yang dia la- kukan hanya terus melemparkan batu.


“Apa yang terjadi pada Ken Sakka, bukanlah sepenuh- nya salahmu.” Dia berkata muram. “Apakah kau tidak tahu dia pernah menyelinap ke istana keputrian untuk menca- rimu? Aku melaporkannya untuk hal itu.”


Raden Wijaya! Jadi pangeran ini yang sudah melapor- kan Sakka!


“Saya tidak peduli apa yang Sakka lakukan. Saya pun tak sempat menyelidiki niat hatinya.” Kali ini aku benar- benar marah, “Yang saya tahu: Pangeran membutakan sa-


11 Ardhanareswari merupakan perempuan yang keturunannya akan menjadi raja-raja. Ken Dedes mendapatkan sebutan ini karena betisnya (konon) berkilau.


tu mata Sakka. Pangeran merusak wajahnya. Lalu pange- ran mengusir Sakka dan kelompoknya dari istana.”


Alih-alih ikut meninggikan suara, Raden Wijaya ha- nya mendesah pasrah.


“Aku harus memberi pelajaran kepada lelaki yang berpikir tidak senonoh terhadapmu, Putri.” Ketegasan ter- sirat dari ucapannya. “Aku yakin, jika Arya Virendra da- lam posisiku, dia juga akan melakukan hal yang sama. Bukankah begitu, Virendra?”


Aku merasa kaget saat Raden Wijaya meraih batu berukuran sedang lalu melemparkannya ke atas pohon beringin, tak jauh dari tempat kami duduk. Suara kele- batan manusia segera terdengar. Dalam sekejap, Arya Virendra berlutut di depan kami. Tangannya ditangkup- kan di atas kepala, memohon ampun.


“Ckckck. Tidak sopan sekali menguping pembicaraan orang lain, Virendra.” Raden Wijaya menggeleng sambil mendecak lagi.


“Ampunkan hamba, Pangeran. Hamba seharusnya ta- di sedang tidur siang di atas pohon.” Virendra memamer- kan seringaian bodohnya. Ya ampun, aku malah baru tahu Viren sedari tadi menyimak pembicaraan kami.


Agaknya, Raden Wijaya baru pertama kali mende- ngar Viren menampilkan ekspresi pandir itu. Reaksi Raden Wijaya cukup membuatku bingung. Dia mengerut- kan alis sejenak. Mungkin berpikir apakah akan marah atau tidak.


“Sudahlah.” Raden Wijaya akhirnya mengibaskan tangan. “Mengetahui jabatan ayahmu diturunkan pasti mengganggu suasana hatimu. Aku tak ingin melukaimu lebih dalam.”


Viren dan aku terdiam mendengar ucapan itu. Raden Wijaya memberi tanda dengan tangan. Prajurit-prajurit yang mengawal kami mundur. Mereka mengambil jarak sejauh beberapa batang tombak. Aku mengernyitkan alis. Raden Wijaya jelas sedang mengarahkan pembicaraan ke sesuatu yang bersifat rahasia.


Aku bangkit berdiri, hendak undur diri. Tapi, Raden Wijaya menahan selendangku.

__ADS_1


“Tetaplah di sini, Putri!” perintah Raden Wijaya. Pan- dangannya tertuju pada Viren. Sorot garang itu kulihat jelas. Suaranya bernada keras dan dingin.


“Bagaimana kondisi ayahmu saat ini?”


Viren menggaruk-garuk kepala. “Mungkin memerlu- kan waktu meditasi dan yoga selama beberapa hari. Tidak apa-apa, kok. Nanti juga baik sendiri.”


Aku tahu, Viren kecewa. Karena itu, dia tidak ber- minat untuk bersikap terlalu patuh. Untungnya, Raden Wijaya memaklumi hal ini.


“Paman Raganata telah banyak berjasa untuk Singa- sari.” Raden Wijaya menghela napas. “Pasukan telik sandi (mata-mata) Garuda, tidak akan dibubarkan, bukan? Senapati?”12


Aku makin mengerutkan kening. Lho, sejak kapan Viren menjadi seorang senapati? Kok dia tidak pernah cerita?


“Sulit menyembunyikan sesuatu sekecil apa pun dari Raden.” Viren terkekeh, tetapi ada nada waspada dalam suaranya. Sikapnya yang semula santai kini berubah jauh lebih serius.


12 Senapati = pemimpin sepasukan besar prajurit.


“Dengan digesernya kedudukan ayah saya, ada ke- mungkinan Pasukan Garuda juga akan dibubarkan.” Viren menjelaskan. “Semua sudah tahu persaingan di dalam is- tana. Paman Mahisa Anabrang, kemungkinan besar, tidak akan melewatkan kesempatan ini. Manis tutur katanya telah terbukti mampu membujuk Gusti Prabu.”


“Aku yang akan melindungi pasukan kalian. Aku bisa menjaga mulutku dari Paman Mahisa Anabrang dan selu- ruh istana. Aku mau, kalian tetap menjalankan tugas ka- lian, seperti biasa.”


“Daulat, Gusti.”


Pandangan Raden Wijaya kini bergantian menatapku dan Viren. Ada sesuatu dalam pandangan itu yang mem- buatku takut. Itu bukan tatapan Raden Wijaya Si Tukang Kritik, atau pandangan seorang pelamar nekat yang me- minangku di tengah sebuah acara besar.


Raden Wijaya melirik sekeliling kami. Tampaknya memastikan bahwa tidak ada yang menguping.


“Apakah kabar tentang latihan perang prajurit Gelang-Gelang itu benar adanya?”


Anggukan Virendra terlihat mantap. Raden Wijaya menggeleng resah. Tangannya masih menggenggam ujung selendangku.


“Masalah ini benar-benar meresahkan.” Raden Wi- jaya mengusap sulaman kupu-kupu di selendangku. Keru- tan di keningnya masih tampak.


“Prabu Kertanegara sama sekali tidak percaya kalau Prabu Jayakatwang akan memberontak.” Viren menegas- kan. “Dengan situasi sekarang, Ayahanda pun tidak bisa meyakinkan Gusti Prabu.”


“Sayang sekali.” Raden Wijaya mendesah. “Gusti Prabu juga telah menyerahkan putri bungsunya kepada Ardaraja.”


“Tapi itu tetap tidak menjamin Singasari akan aman.” “Jadi, begitu menurutmu?”


Viren mengangguk. “Hamba tidak yakin Prabu Jaya- katwang bisa dipercaya.”


“Kalau begitu, terus awasi gerakan di Gelang-Gelang, Senapati.” Raden Wijaya mengembuskan napas lalu mem- beri perintah lain. “Aku ingin kau sendiri yang melindungi Putri Gayatri. Karena aku khawatir, Putri Gayatri adalah salah satu sasaran utama.”


Rasanya ada kilat menyambar kepalaku. “Mengapa saya—” Aku hendak mengajukan protes, tapi tak mene- mukan kata-kata yang tepat.


Raden Wijaya melepaskan selendangku. Tatapannya kini mengunciku begitu rupa. Berusaha meyakinkanku.


“Salah satu alasannya: Ardaraja itu memusuhiku, Putri.” Raden Wijaya menjelaskan dengan sabar. “Semua orang tahu persaingan kami. Kau juga tahu kalau sedari dulu Ardaraja menginginkan yundamu. Saat ini, dia pasti geram karena sang Prabu menyerahkan Putri Tribuanes- wari kepadaku.”


“Lalu apa urusannya dengan saya?” Aku masih ngo- tot, “Ardaraja kan menginginkan Yunda. Bukan saya.”


“Ah, Putri yang tak acuh, kapankah kau akan menger- ti?” Raden Wijaya menghela napas lalu mengembuskan- nya dengan gelisah. Dia sempat menoleh pada Viren yang bungkam. Membiarkan keheningan menjadi jeda. Namun keheningan itu membuatku semakin tak sabar hingga aku terbatuk meminta penjelasan lagi.


“Posisimu saat ini sangat tidak aman, Putri.” Dengan enggan Raden Wijaya berkata. “Dendam Ardaraja kepada- ku akan membuatnya ingin menyakiti orang-orang yang kusayangi.”


Raden Wijaya menghela napas lagi. Dia kembali me- noleh ke Viren. Meminta bantuan menjelaskan. Tapi, Viren hanya angkat bahu.


“Dengarkan, Putri.” Rahang Raden Wijaya mengeras. Beberapa kali, dia menggertakkan jari. Hatiku jadi sema- kin was was melihat kecemasannya. Apa sebenarnya yang ingin dia katakan?


“Aku sempat mendengar Mahapatih Gelang-Gelang, Kebo Mundarang, membawahi sekelompok perampok ke- jam.” Suara Raden Wijaya bergetar. “Perampok itu tak hanya merampas harta, mereka juga membunuh dan memerkosa.”


Viren terlihat lebih resah dari seharusnya. Diliriknya Raden Wijaya, lalu aku. Aku mulai bingung. Tapi Raden Wijaya akhirnya menyelesaikan penjelasannya.


“Salah satu pemimpin perampok kejam itu bernama Ken Sakka.”

__ADS_1


__ADS_2