Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa

Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa
Bab. 31 Ketakutan Jenderal Han


__ADS_3

"Karena adik ku sudah berkata seperti itu, maka ambil dan terimalah ketulusan hatinya itu. Yah meskipun mungkin itu tidak seberapa Tapi setidaknya dirinya sudah berniat baik untuk menghargai keramah tamahan mu pada kami," ucap Yun Yi Juan dengan bijak.


"Nona Muda kecil dan juga Tuan Muda, terima kasih banyak, atas berkah yang Anda berdua berikan ini kepada Keluarga kami. Karena saat ini saya benar-benar membutuhkan perak ini untuk membiayai pengobatan putri kami yang sudah menderita sakit lebih dari setahun ini. Hamba benar-benar berterima kasih kepada Tuan dan juga Nona Muda. Ini sungguh berkah besar bagi Putri kami." ucap pelayan wanita itu yang seketika bersujud di hadpan Yun Yi Jia dan juga Gege nya itu.


Meskipun dirinya tidak tahu seberapa besar jumlah koin yang ada di dalam kantong tetsebut. Tapi jika di timbang dari bertanya itu pasti tidak sedikit koin perak yang diberikan oleh gadis kecil itu.


Jadi tanpa pikir panjang ataupun sungkan, pelayan itu segera berlutut untuk menunjukkan rasa syukurnya atas pemberian Yun Yi Jia itu kepada dirinya.


Namun Pelayan itu tidak pernah tahu jika apa yang diberikan oleh Yun Yi Jia bukanlah hanya koin perak saja. Akan tetapi didalam kantong kecil itu dipenuhi dengan koin emas.


Yang bahkan tidak pernah dirinya impikan sama sekali. Karena upah kerjanya selama satu bulan di restoran itu tidak mencapai sepuluh koin perak. Dan hanya sekitar 8 koin perak saja. dan seharusnya itu akan cukup untuk biaya hidup setidaknya dua sampai tiga bulan.


Hanya saja semenjak anak perempuan bungsu keluarga mereka jatuh sakit satu tahun yang lalu, semua keadaan secara perlahan menjadi berubah.


Uang tabungan mereka selama puluhan tahun juga telah habis untuk biaya berobat. Dan saat ini penghasilan pelayan wanita itu dan juga suaminya sama sekali tidak dapat mencukupi untuk melanjutkan pengobatan putrinya itu yang sampai saat ini masih belum sembuh juga.


Sebenarnya, Yun Yi Jia memberikan koin-koin emas itu bukan tanpa alasan. Karena sebenarnya Yun Yi Jia sebelumnya telah mengetahui keadaan pelayan wanita itu dan keluarganya yang sedang dalam kesulitan dalam keuangan. Jadi dirinya tidak sungkan untuk membantu bibi pelayan itu, karena dirinya tahu jika sang bibi pelayan itu benar-benar orang yang baik dan juga tulus terhadap orang lain.


Dan bibi pelayan itu juga tidak pernah menilai atau membedakan antara kaya dan miskin dalam bersikap. jadi dia akan selalu sopan dan ramah terhadap siapa saja. Sehingga Yun Yi Jia benar-benar terkesan dan juga tulus untuk membantu Bibi pelayan tersebut.


Namun Yun Yi Jia bahkan tidak mengira jika uang itu akan digunakan untuk biaya pengobatan untuk putri dari bibi pelayan itu.


Namun sayangnya dirinya saat ini dirinya dalam penampilan gadis kecil seperti ini, jadi dirinya tidak bisa membantu untuk memberikan pil obat ramuan yang lain.


Jika tidak maka dirinya, tidak akan begitu ragu ketika akan membantu dan memberikan obat sesuai dengan keadaan Putri dari pelayan wanita itu.


Namun sayangnya dirinya saat ini hanyalah seorang gadis kecil berusia lima tahun dimata orang lain. Jadi tidak akan ada yang percaya jika dirinya benar-benar mengetahui mengenai ilmu medis.


"Untuk saat ini dengan memberikan koin itu saja sudah cukup, Jia'er. Kamu tidak bisa berbust lebih banyak lagi saat ini. Jika tidak maka hal itu akan sangat menarik perhatian, karena dengan usiamu saat ini hanya seorang gadis lima tahun dimata orang luar," tegur Yun Yi Juan melalui transmisi suara.


Karena hanya dengan melihat ekspresi Yun Yi Jia saat ini saja Yun Yi Juan bisa mengetahui pemikiran adiknya itu. Yang sangat peduli dan juga ingin menolong orang lain.


Jadi Yun Yi Juan dengan segera mengingatkan adiknya itu, tentang apa yang seharusnya di lakukan.


"Baik Gege, terima kasih telah mengingatkan diriku." ucap Yun Yi Jia dengan tulus.


Dan setelah itu Yun Yi Jia pun kembali fokus pada Sang pelayan wanita itu yang kini berlutut dia hadapan mereka berdua.

__ADS_1


"Aiya... bibi yang baik hati, mengapa kau begitu sungkan. Berdirilah, dan jangan pernah berlutut ataupun bersujud seperti itu kepada kami. Kita ini semuanya sama. Hanya saja mungkin saat ini secara kebetulan aku dan juga Gege ku bisa bertemu dan juga bisa membantu dirimu. Namun tudak ada yang tahu, jika di masa depan kami juga pasti akan ada masanya membutuhkan bantuan orang lain. Jadi kehidupan ini tidak ada yang namanya kekal. Apalagi kali ini akau memberikan hadiah kecil ini murni karena kebaikan hati mu. Jadi jangan pernah bersikap rendah diri terhadap siapa pun itu, jika kita tidak melakukan sebuah kesalahan pada orang lain," ucap Yun Yi Jia sambil membantu Sang pelayan wanita itu bangun.


"Baik terima kasih Nona Muda, kau begitu cantik dan hatimu juga sangat baik, bibi akan selalu memohon kepada Sang Dewa yang agung agar Nona dan juga Tuan Muda selalu dilindungi dan juga diberkati oleh para Dewa. Kalau begitu hamba juga akan segera pamit undur diri, Dan semoga Tuan Muda dan juga Nona Muda kecil dalat menikmati hidangan dari Rumah makan kami," ucap pelayan wanita itu dengan sangat sopan.


Setelah kepergian pelayan itu, kini Yun Yi Jia dan juga Yun Yi Juan tengah bersiap unyuk menyantap hidangan yang ada di atas meja mereka saat ini.


Namun baru saja mereka berdua hendak memasukan makanan ke dalam mulut, tiba-tiba saja mereka berdua mendengar suara seseorang yang saling menyapa dari arah luar pintu ruangan mereka saat ini.


"Tuan Wakil Komisaris Du, terima kasih sudah bersedia datang memenuhi undangan kami," ucap seorang Pria paruh baya, dengan sangat rumah.


"Tuan Jenderal Muda Han, anda terlalu sungkan. Tentu saja, saya pasti akan mengusahakan untuk menyediakan waktu untuk memenuhi undangan Anda." Balas Sang Wakil Komisaris di Kementerian Yamen. yang bernama Fu Ming dengan Marga Du.


"Shhttt, Gege apakah kau mendengar suara di luar sana?" tanya Yun Yi Jia pada Gege nya yang juga menghentikan gerakannya.


"Ya, aku juga mendengarnya," balas Yun Yi Juan sambil mengangguk.


Setelah itu mereka berdua pun segera memfokuskan pendengaran mereka terhadap suara percakapan itu lagi.


Yang secara kebetulan mereka sedang memasuki ruangan yang berada tepat diruangan samping kanan ruangan yang mereka berdua tempati saat ini mereka.


Karena meskipun demikian mereka berdua tetap saja masih bisa mendengar akan pembicaraan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di ruangan sebelah kanan mereka saat itu.


Dan seperti adab dan juga tata cara seseorang saat menjamu tanubundangan tentu saja pihak Jenderal Muda Han telah menyiapkan berbagai menu hidangan sebagai jamuan untuk Sang Wakil Komisaris Kementerian Yamen Du Fu Ming.


Apalagi saat ini Sang Jenderal Han benar-benar sangat membutuhkan bantuan Tuan Du Fu Ming itu, untuk membantu nya saat mengurusi perkara kasus yang menimpa Adik nya Sang Selir Agung Han dan juga kedua keponakannya yang saat ini ditahan dan juga dihukum oleh Sang Kaisar Yun Hao Yan.


Bahkan dirinya sendiri sebagai seorang Kakak dan juga satu-satunya Keluarga yang dimiliki oleh Selir Agung Han, masih tidak dapat menemui saudara nya itu. Atas perintah Sang Kaisar, yang melarang keras bagi siapa saja yang hendak mengunjungi Sang Selir Agung.


Terlebih lagi saat ini semua pelayan kepercayaan Sang adiknya itu juga telah dibukum mati oleh Sang Kaisar, sehingga itu sangat menyulitkan baginya untuk bisa berkomunikasi dengan Adik perempuan yang selama ini dirinya andalkan dan juga bangga-banggakan dihadapan banyak orang.


Karena memiliki status yang sangat tinggi. Apalagi saat ini Kekaisaran Bulan Perak ini telah lama tidak memiliki seorang Ibu Negara, karena Sang Permaisuri Hua telah lama meninggal. Begitu juga dengan Ibu suri Kekaisaran juga telah tiada.


Sehingga kedudukan wanita tertinggi di seluruh penjuru Kekaisaran Bulan Perak ini, saat ini berada di tangan Sang Adik. Yakni Selir Agung Han yang juga memiliki dua keturunan yang selama ini sangat dicintai oleh Sang Kaisar Yun Hao Yan.


Namun dengannkeadaan yang saat ini terjadi pada Adik perempuannya dan juga kedua keponakannya itu, benar-benar telah membuat Sang Jenderal Muda Han merasa sangay tertekan dan juga ketakutan.


Sang Jenderal Han sungguh tidak ingin jika nadib baik adiknya akan berhenti begitu saja sampai disini.

__ADS_1


Karena jika sampai hal itu terjadi maka kehiduapannya di masa depan nantinya tidak akan pernah semudah dan juga semulia seperti sebelum hal buruk ini terjadi pada adiknya itu pagi ini.


Apalagi ditambah dengan kenyataan jika Sang Selir Agung Han kini justru dikirim ke Istana dingin yang begitu sunyi dan juga mengerikan itu.


Hal itu benar-benar tidak dapat Sang Jenderal Han terus berdiam diri begitu saja dan tanpa melakukan apapun yang berarti. Setidaknya dirinya berupaya untuk mengamankan dirinya sendiri.


Karena selama ini seluruh aksi kejam dan juga melanggar hukum yang dilakukan oleh Sang Selir Agung itu juga berkaitan dengan dirinya.


Jadi setidaknya dirinya akan berusaha sebisa mungkin agar masalah yang menimpa adiknya itu tidak akan pernah melibatkan dirinya.


Jadi akhirnya saat ini Jenderal muda Han itu berupaya untuk menemui teman karibnya saat masih muda yakni Sang Wakil komisaris kementerian Yamen itu, untuk meminta bantuan.


Karena seperti yang diketahui, jika petugas yang menangani masalah pagi hari ini di Istana Lotus milik Sang Selir Agung adalah para petugas dari Kementerian Yamen.


Jadi setelah acara menjamu tamu selesai saat ini Sang Jenderal Han pun segera mengutarakan maksud hatinya yang mengundang kawan lamanya itu.


Namun tanpa dijelaskan lebih detail pun, Sang Wakil Komisaris Kementerian Yamen Du Fu Ming secara garis besar dirinya tahu jika teman lamNya itu saat ini tengah mencemaskan keadaan adik perempuannya.


Hanya saja dirinya tidak pernah menyangka jika sang kawan lamaya itu yang selama ini dirinya kenal sebagai pria muda yang memiliki jiwa kesatria dan juga peduli pada Keluarga terutama Adik peremouannya itu. Yang merupakan satu-satunya Keluarga yang tersisa dari ketrurunan Klan Han.


Namun kini dirinya justru bernuat berpaling dan juga menyerah akan nasib adiknya sendiri setelah masalah yang menimoanya kali ini.


"Terima kasih banyak atas jamuan makan malamnya Tuan Han, Sudah begitu lama kita berdua tidak saling bertegur sapa dan mengadakan pertemuan seperti saat ini," ucap Sang Wakil Komisaris Du yang memulai percakapan setelah makan malam mereka selesai.


Tak lupa dirinya juga berterimakasih atas niat baik temannya itu yang telah mengundang untuk jamuan makan malam.


"Apanya yang perlu berterima kasih di antara kita? Lagi pula hal ini hanya masalah jamuan makan sederhana. Dan tidak berlebihan, Jadi Tuan Du tidak perlu sungkan," timpal Sang Jenderal Han dengan ramah.


Hanya saja dalam ramah tamahnya ini dapat terlihat jelas jika Sang Jenderal Han ini, memiliki sebuah maksud tertentu. Dan itu tentu saja Sang Wakil Komisaris Du dapat merasakannya dengan sangat jelas.


Apalagi sebagai seorang petugas yang memiliki posisi dan kekuasaan tertentu dalam Kementerian Yamen, maka intuisi dan juga pengamatannya tidak akan meleset. Karena dirinya benar-benar telah terlatih dan juga selalu menghadapi banyak orang dengan karakter dan juga pola pikir yang berbeda-beda.


Jadi Sang Wakil Komisaris Du bisa memahami dan juga mengetahui tujuan dan juga menebak pikiran seseorang hanya dengan mengamati gerak-gerik yang dilakukan oleh orang yang ada di sekitarnya.


"Baiklah, Aku juga tidak akan begitu sungkan lagi dengan mu kawan, Apalagi saat kita muda kita juga sering menghabiskan waktu untuk belajar dan juga berkelana bersama. Jadi ku rasa saat ini kita juga bisa sedikit mengenang kisah masa muda yang penuh dengan ambisi dan juga perjuangan itu," ucap Sang Wakil Komisaris Du dengan tujuan mencairkan suasana yang terasa sangat kaku diantara meteka berdua.


"Huuuufft....Ya, kau memang benar, Tuan Du. Aku juga bahkan masih ingat bagaimana bebasnya dan juga indahnya kehidupan kita dimasa lalu itu, yang tidak harus ikut campur dalam urusan dan juga polemik politik atau pun hanya sekedar menjalani persaingan dalam kediaman. Namun saat ini rasanya sangat sulit bagi kita hanya untuk sekedar meluangkan waktu untuk diri kita sendiri," timpal Sang Jenderal Han yang kini juga tidak tetlalu kaku dan juga merasa bingung untuk memulai topik pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2