
"Kau benar, sepertinya kita harus melakukan sesuatu untuk bisa membuatnya segera melepaskan ketegangan dalam hatinya dan bahkan jika beruntung Mei'er juga bisa lebih mengenal orang lain. Dan siapa tahu Dia juga bisa mendapatkan seseorang yang pantas untuk melabuhkan hatinya itu. Mengingat kita juga tidak memiliki hak apapun untuk menentukan dan memutuskan untuk masa depan Mei'er. Jadi kita harus mendukungnya dengan cara lain," ucap Patriark Hua dengan penuh pertimbangan.
"Akan tetapi Ayah, Apakah kau yakin bahwa Mei'er akan setuju. Ayah tau sendiri, jika Putri ku itu akan jauh lebih memilih untuk bisa berada di kediaman dibandingkan dirinya harus melakukan perjalanan yang menurutnya tidak jelas. Bahkan selama ini dia juga selalu menghindari setiap ada perjamuan. Bahkan jika itu di Istana Kekaisaran sekalipun," ucap Hua Yun Qi dengan tak berdaya.
"Aku yakin kali ini Mei'er akan setuju. Apalagi ini adalah kesempatan baginya untuk keluar dari segala macam kepenatan yang dirinya alami belakangan ini. Apalagi semenjak istrimu memaksanya ikut dalam perjamuan terakhir kali. Gadis kecil itu kini menjadi semakin tertekan karena telah menjadi sorotan dari berbagai kalangan di seluruh Ibukota Kekaisaran ini," ucap Sang Patriark Keluarga Hua.
"Baiklah Ayah, akan ku coba membicarakan hal ini pada Putri ku itu. Hanya saja aku tidak bisa yakin jika Ibunya itu akan mengizinkannya pergi, haihhh...." keluh Hua Yun Qi.
"Apa yang kau pikirkan? Apa hubungannya kepergian Mei'er dengan istri mu yang tidak masuk akal itu? Jangan katakan padaku jika kau masih saja memikirkan mengenai istri yang tidak berbudi dan juga angkuh seperti wanita itu? Sudah cukup selama ini aku menoleransi Wanita itu yang telah membuat banyak masalah di kediaman ini dan bahkan dimana-mana orang selalu saja menggosipkan hal buruk mengenai istri mu itu. Tidak kah kau akan memberikan penjelasan yang masuk akal untuk Ayah mu ini?" geram Sang Patriark Hua pada Putra sulung nya itu. Yang selalu saja membela dan juga menangani ulah yang ditimbulkan oleh wanita ular berkedok istri itu.
"Tapi Ayah... aku.." Hua Yun Qi ingin sekali lagi membela istrinya, hanya saja sudah di sergah oleh Sang Patriark Hua.
"Cukup, aku tidak buta dan juga tuli. Kau selalu menggunakan alasan klise seperti berhutang nyawa padanya. Tapi apakah kau pernah berpikir jika seseorang yang kau anggap sebagai dewa penyelamat mu yang agung itu, adalah benar-benar dia dan bukan orang lain? Ku harap kau segera membuka matamu itu lebar-lebar dan jangan hanya bisa berdiam diri dan menahan malu seperti selama ini. Sudah cukup aku memberikan toleransi ku. Jika sekali lagi wanita itu membuat masalah maka lihat saja apa yang bisa aku lakukan padanya," marah Sang Patriark Hua yang benar-benar sudah sangat muak terhadap menantu perempuan pertama nya itu.
"Baiklah Ayah, aku janji akan menanganinya," ucap Hua Yun Qi pada Sang Ayah.
"Dan satu lagi, Jangan biarkan Wanita sialan itu agar tidak ikut campur dalam urusan Mei'er. Meskipun Mei'er hidup menggunakan status dan juga identitas Putri kalian tapi kalian semua tahu benar dengan semua kenyatannya. Dan kebenaran itu tidak bisa disangkal, jadi wanita itu sama sekali tidak berhak mengatur apalagi memutuskan kehidupan Cucu kesayangan ku itu. Apa kau mengerti!" tegas Sang Patriark Keluarga Hua yang ingin memastikan jika tidak akan ada seorangpun yang berani mengacaukan kehidupan Cucu perempuannya itu.
"Baik Ayah. Aku mengerti," jawab Hua Yun Qi dengan serius.
"Bagus, selain itu lebih baik kau cari seseorang wanita lain yang akan bisa mengimbangi mu. Kau masih cukup muda jadi kau tidak bisa diam saja ketika kau tahu wanita itu sudah tidak melahirkan keturunan untuk mu. Lagipula aku pernah mendengar jika kediaman Dong melahirkan anak kembar perempuan kala itu dan yang satu telah kau ambil sebagai momok di kediaman Hua kita ini. Jadi pikiran baik-baik dan kembalilah sekarang juga. Aku sudah sangat lelah, Aku ingin istirahat sebelum kembali ke Balai Pengobatan Kekaisaran," ucap Sang Patriark Hua yang kini segera beranjak dari tempat duduknya dan segera bergegas ke ruangan sebelah ruang kerja itu untuk segera beristirahat.
Sang Tabib Hua melakukan hal itu karena dirinya merasa bahwa semua yang menjadi tujuannya untuk berbincang dengan Putra sulungnya itu, kini telah tercapai. Sehingga Dirinya tidak ingin lagi mengganggu putranya apalagi hal ini hanya bisa diputuskan oleh putranya sendiri.
Dan dirinya sebagai seorang Ayah sekaligus orang tua tunggal, tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah dan juga kehidupan Putra putrinya.
Sedangkan Sang Putra sulungnya Hua Yun Qi kini tengah terdiam seribu bahasa. Namun siapa yang tahu jika di dalam hati dan pikirannya kini justru sangat berkecamuk dengan berbagai macam pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
"Apa maksud Ayah sebenarnya? Mungkinkah itu berarti....? Tidak aku harus memastikannya!" gumam Hua Yun Qi yang sebenarnya masih ingin menanyakan banyak hal pada Ayahnya.
Hanya saja tampaknya Sang Ayah kini benar-benar tidak ingin memberikan penjelasan lebih jauh.
__ADS_1
Namun Hua Yun Qi bukanlah orang yang bodoh. Dia bisa segera memahami apa maksud dari kata-kata Ayahnya tadi.
jadi dirinya pun segera mengambil keputusan dan juga akan segera bertindak.
"Baiklah jika memang demikian, aku harus mendapatkan segala informasi dengan sejelas mungkin. Jika benar tebakan Ayah. maka sudah pasti aku tidak akan tinggal diam. Selai itu, aku juga harus lebih melindungi Mei'er dari Ping Yue. Aku tidak ingin Ping Yue'er kembali membuat masalah dan juga memaksa Putri ku lagi.
Setelah itu Hua Yun Qi pun segera pergi dan segera mengurus seseorang untuk melakukan sebuah misi.
Dan kemudian Ia pun kembali ke paviliun pribadinya untuk beristirahat, sebelum keesokan harinya dirinya akan membicarakan sesuatu yang telah dirinya rencanakan pada Ying Ning Xue yang telah dirinya anggap sebagai Putri kandung nya sendiri.
Sebab sampai saat ini Hua Yun Qi belum lagi dikarunia seorang anak pun. Akibat dari istrinya Dong Ping Yue yang telah terluka dan tidak lagi mampu memiliki keturunan setelah kecelakaan terakhir kali.
Dan keesokan harinya, setelah mereka selesai sarapan pagi bersama-sama dengan seluruh keluarga.
Hua Yun Qi segera mengumumkan rencananya dan menanyakan bagaimana keputusan Putrinya Hua Lian Mei, mengenai rencana berlibur di pedesaan milik keluarga Hua yang jaraknya hanya sekitar Lima mil dari Ibukota Kekaisaran.
Selain itu Hua Yun Qi yang kini bertindak sebagai kepala keluarga Hua menggantikan Ayahandanya yang jarang bisa kembali ke Kediaman akibat harus menetap di Balai Pengobatan Kekaisaran.
Dan hal itu pun segera di setujui oleh seluruh anggota keluarga Hua yang lainnya.
Bahkan mereka merasa sangat mendukung keputusan itu. Karena yang terpenting bagi mereka semua adalah kebahagiaan Hua Lian Mei.
"Hemm..Hem... Mohon perhatian semuanya. Ada yang ingin Aku sampaikan pada semuanya." ucap Hua Yun Qi setelah acara sarapan pagi telah usai.
"Kakak sulung silahkan," ucap Hua Liao adik keduanya.
"Begini, sebenarnya Kemarin Ayah memanggil ku, dan kami melakukan sebuah pembahasan kecil bersama. Yang mana Beliau memutuskan dua hal. Dan saat ini Aku mewakili Ayah untuk mendiskusikan dengan kalian semua," ucap Hua Yun Qi di jeda.
"Kakak katakanlah jangan membuat kami semua penasaran," ucap Hua Zhu Min adik bungsu dari keluarga Hua yang merupakan seorang pemuda yang berusia dua puluh lima tahun yang masih belum mau menikah.
"Ini masalah para generasi muda di kediaman kita, Yang pertama Ayah memutuskan untuk mengirim para generasi muda untuk melakukan perjalanan ke pedesaan untuk sekedar rekreasi. Apalagi di musim panas yang begitu terik ini, akan terasa lebih sejuk dan juga menyenangkan jika kalian bisa berlibur di Desa keluarga Hua kita," kata Hua Yun Qi dengan nada seperti biasanya.
__ADS_1
"Wah apakah benar-benar seperti itu Paman pertama? bisakah kami berlibur ke sana? hahh... aku memang sudah sangat lama merindukan suasana di sana yang sangat tenang. Dan juga banyak makanan khas lokal yang sangat enak di sana," ucap Hua Taoli yang merupakan putra bungsu paman kedua yang tampak semangat dan antusias.
"Ya, kami juga sangat tidak sabar untuk keberangkatan kami semua ke sana, bukankah begitu jiejie," timpal Hua Lin Yi yang merupakan Putri ketiga keluarga Hua yang kini tengah memastikan jawaban pada kakak pertamanya.
"Yah kurasa tidak buruk. Desa kami memang memiliki pemandangan dan juga banyak obyek wisata yang indah yang akan memanjakan mata dan juga hati kita. itu akan sangat cocok bagi sepupu Mei'er saat ini," ucap Hua Li Liu yang merupakan Putri kedua kediaman keluarga Hua yang merupakan Putri sulung dari Hua Liao
"Hai, Li'er tampaknya kau sangat senang ketika tinggal di Desa? Apakah kali ini kau juga akan menetap di sana lagi seperti sebelumnya?" goda Hua Yun Qi yang merasa sangat senang ketika melihat keponakan kecilnya itu berbicara dengan begitu riangnya.
"Paman sulung, Apakah kau tau? jika selama ini aku sangat menyukai desa itu. Bahkan di masa depan Aku akan memutuskan untuk benar-benar tinggal dan juga menetap di sana, yang sangat nyaman dan tidak banyak kebisingan seperti ketika kita berada di sini." ungkapan jujur Hua Taoli yang kini usianya baru menginjak 7 tahun itu.
"Baiklah ku rasa itu bukan rencana yang buruk sama sekali, Jadi Mei'er kau juka ikutlah pergi bersama mereka, dan jagalah adik-adik mu itu, apalagi kau tau jika selama ini Li'er selalu saja dekat dan mengekor dengan mu. Jadi ku rasa kau lah yang akan jauh lebih mampu mengendalikan keaktifan pria kecil ku itu." timpal Hua Liao yang sebenarnya tahu maksud dari Gege dan juga ayahnya melakukan ini semua.
"Paman kedua bisa tenang, Mei'er yakin jika Li'er akan sangat patuh dan juga lebih rajin belajar juga disana. Apalagi di sana kita juga bisa belajar di alam terbuka, kurasa itu memang cukup menarik untuk dilakukan," ucap Ying Ning Xue yang memberikan jawaban positif akan rencana berlibur ini.
"Baiklah karena kalian semua sudah setuju. Maka yang kedua yang ingin ku sampaikan pada kalian adalah mengenai masalah pribadi Putri ku Mei'er. Kami juga memutuskan untuk menepati janji kami untuk tidak akan memaksa ataupun ikut campur dalam masalah perjodohan. Dan hal itu semua kelak akan diputuskan Mei'er secara pribadi. Kita semua dilarang untuk ikut campur masalah ini. Apakah kalian semua mengerti?" ucap Hua Yun Qi dengan tegas.
"Apa yang kau katakan suami ku? Mei'er adalah Putri kita. Jadi dia seharusnya menurut dengan apa yang kita atur untuk nya. apalagi ini masalah perjodohan?" seru Dong Ping Yue yang merasa tidak bisa menerima itu.
"Ping Yue'er, kamu terutama keputusan Ayah kami ini bukanlah sedang meminta pendapat dari mu. Karena keputusan ini memang sudah seharusnya terjadi dan aku hanya mengingatkan saja pada semuanya. dan terutama pada orang-orang yang ingin memanfaatkan putri ku apalagi hanya untuk membangun pernikahan politik. itu benar-benar tidak bisa diterima. Apalagi prinsip Keluarga Hua sejauh ini, Seseorang dapat dan dan dibebaskan untuk menentukan pilihan hatinya sendiri. Terlebih mengenai pernikahan. Bukanya kau tidak mengetahui itu dengan baik?" sarkas Hua Yun Qi yang kini benar-benar merasa kecewa dengan sikap istrinya itu
"Bukankah memang seharusnya seperti itu? Lagi pula kita semua sama sekali tidak memiliki hak untuk bisa membatasi ataupun mengatur kebahagiaan Mei'er. Bagaimanapun juga Putri kami Mei'er berhak menentukan kehidupan dan juga kebahagiaan nya sendiri," timpal Hua Liao yang merasa apa yang dikatakan oleh kakak sulungnya itu benar adanya.
"Ya kami juga berharap Mei'er bisa menjalani kehidupan yang lebih bahagia di masa depan," ucap istri Hua Liao yang merupakan menantu kedua di kediaman keluarga Hua.
"Ya, kami semua juga setuju. Bukankah begitu?" ucap Hua Zhu Min yang juga segera diangguki seluruh saudara dan juga semua keponakannya atau para sepupu Hua Lian Mei.
Mendengar semua komentar yang keluar dari para iparnya itu. Dong Ping Yue benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Namun apa yang bisa dirinya lakukan? Dirinya hanya terpaksa diam, dan merencanakan hal lain di lain waktu.
Sedangkan Hua Lian Mei atau yang sebenarnya adalah Ying Ning Xue merasa sangat senang dan juga tersentuh akan perlakukan keluarga Hua terhadap dirinya.
"Terima kasih, kepada Ayah dan juga Kakek dan semua keluarga yang telah memikirkan mengenai diriku. Dan Mei'er juga ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk semuanya yang selama ini dengan sabar dan juga tulus merawat dan menyayangi Mei'er sejak Mei'er bersama dengan kalian semua," ucap Ying Ning Xue dengan rendah hati dan juga penuh ketulusan.
__ADS_1