
"Bukankah tadi Rosse bilang jika itu adalah pantulan bayangan yang ada di cermin? Dan sedari tadi hanya ada aku sendiri yang berdiam diri di depan cermin itu hingga sebelum Rosse datang kembali? Jadi....Jadi bayangan itu adalah..., Diriku sendiri?!" gumam Yun Yi Jia begitu pelan.
Rosse yang menyadari bahwa tampaknya Yun Yi Jia kini sudah menemukan suatu kebenaran dan mengenali sosok yang sedari tadi membuatnya terpesona itu adalah dirinya sendiri. Rosse pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi benar itu adalah pantulan diriku?!" seru Yun Yi Jia ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Rosse. Sehingga dirinya ingin memastikan pemikirannya itu.
"Ya, itu adalah tampilan dirimu sendiri Jia'er. Bukankah kau begitu mengagumkan?" jawab Rosse dan diakhiri sebuah pertanyaan yang membuat Yun Yi Jia menjadi tersipu.
Yun Yi Jia merasa sangat malu, apalagi jika teringat akan kebodohan yang dirinya lakukan sedari tadi. Hal itu sungguh memalukan dan membuat Yun Yi Jia ingin segera pergi dari sana untuk menghindari suasana yang canggung ini.
"Hufttt, tidak akau sangka jika kecantikan dari tubuh yang ku tempati saat ini begitu takterbayangkan oleh ku sebelumnya. Sungguh kecantikan yang memiliki sefat selayaknya iblis yang sangat mengerikan, yang akan mampu menarik para lelaki dari mana saja untuk mendapatkan nya. Pantas saja para saudarinya begitu berambisi untuk melenyapkan nyawanya atau bahkan hanya sekedar menyiksa dan menghancurkan wajahnya dengan racun. Ku kira itu memang tidaklah berlebihan jika mereka melakukan semua itu. Karena wajahnya sendiri memang sangat menarik dan membuat siapapun iri," batin Yun Yi Jia yang merasa sangat tidak berdaya.
Setelah mengetahui kebenaran mengenai kecantikan yang dirinya miliki, itu membuat Yun Yi Jia memutuskan untuk selalu menggunakan penutup wajah, baik itu cadar ataupun topeng yang akan menutupi separuh wajahnya. Agar tidak akan terlalu mencolok jika dirinya berada di dunia luar.
...****************...
Sementara itu di tempat Yang sangat jauh berbeda, di sebuah ruangan yang tampak sangat tenang terdapat dua sosok pria dewasa. Yang mana keduanya sama-sama memiliki karakteristik yang sangat mempesona.
Hanya saja salah satu dari mereka memiliki kepribadian yang sangat dingin, menyendiri dan juga tampak sangat penyendiri dan tak tersentuh. Selain itu sorot mata yang tajam serta memiliki karisma yang sangat agung yang terkesan mencekam serta aura yang sangat mendominasi.
Yang membuat siapapun yang melihatnya, hanya ingin menunduk dan bertekuk lutut dihadapannya. Bahkan akan membuat semua orang merasa bahwa mereka sangatlah kecil dan tak berarti jika dihadapjan dengan aura tiraninya yang selalu saja terpancar dari dirinya.
Sedangkan sesosok yang lainnya justru berkebalikan. Ia memiliki senyuman yang sangat hangat, menyenangkan dan juga pandangan mata yang sangat meneduhkan layaknya pemandangan yang indah di awal musim semi. Namun meskipun begitu, itu tidak bisa menyembunyikan auranya yang sangat agung dan juga elegan.
Yang akan membuat semua orang yang menyaksikannya, akan langsung terpesona dan mengagumi sosoknya yang menawan dan juga memiliki sisi kelembutan tersendiri terhadap siapapun. Meski terdapat kesan bermartabat yang sulit digapai oleh sembarang orang.
Namun jika diperhatikan secara detail dari kedua sosok itu, mereka sama-sama memiliki sifat kejam pada setiap musuh dan juga orang-orang yang berusaha menjilat apalagi menjeratnya. Untuk mendapatkan sebuah keuntungan kecil dari mereka berdua.
Meskipun kedua sosok tersebut sekilas tampak sangat bertentangan. Namun pada kenyataannya mereka berdua bersaudara dan keduanya hidup dengan sangat rukun dan akur.
Meski sering kali mereka memiliki beberapa pandangan yang tak selaras, namun mereka juga merupakan sosok yang sangat peduli satu sama lain.
__ADS_1
Dan kedua sosok itu merupakan keberadaan yang sangat istimewa dan juga memiliki status yang sangat Mulia di Alam Atas.
Namun sangat disayangkan karena mereka lebih cenderung memiliki sikap yang tertutup.
Sehingga tidak banyak orang yang mampu berkomunikasi dengan mereka.
Dan saat ini tampaknya kedua sosok itu tengah dalam perbincangan santai yang akan sangat jarang sekali bisa mereka lakukan.
Karena kesibukan dan juga sifat tertutup mereka masing-masing yang membuat mereka tampak seperti orang asing yang baru saja bertemu dan saling menyapa.
“Yang Mulia Ketiga, keberadaan mu disini tidaklah kau memiliki sesuatu yang ingin kau sampaikan pada Tetua ini?" ucap salah seorang yang tampak ramah mulai memecahkan kesunyian yang sedari awal menyelimuti keadaan di sekitar mereka.
“Cih... Tetua apanya?! Usia kita hanya terpaut 7 tahun kau masih belum layak untuk menjadi seseorang yang ku hormati. Kau tahu itu,” balas pria dingin itu dengan acuh tak acuh.
"Yah apapun itu, lalu hal apa yang bisa membuat mu bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi saudara mu ini?" tanya sosok yang tampak lembut itu.
"Jadi kau kini menyadari, jika dirimu belum pantas disebut sebagai tetua untuk ku?" cibir sosok pria yang sangat dingin itu.
“Ckk....Kau tak perlu memikirkan mengenai diriku. Itu hanya akan membuat mu lalai dengan kehidupan mu sendiri. Jadi lebih baik kau urusi saja masalah Tahta dan tugas-tugas mu sebagai seorang Kaisar serta suami yang baik untuk kakak ipar, jangan repot-repot mengurusi hal yang tidak penting apalagi masalah hidupku. Karena aku bisa mengurus dan menentukan pilihan hidupku sendiri. Dan terlebih lagi masih ada Kakak kedua yang harusnya lebih kau perhatikan dari bandingkan dengan diriku ini," ucap Di Zhao Ren dengan datar.
“Hah.. baiklah aku menyerah. Aku memang tidak akan pernah bisa menang melawan mu, Tapi setidaknya kau memiliki niat untuk masa depanmu sendiri. Apalagi dengan status dan juga kedudukan mu saat ini seharusnya kau juga bisa menjadi jauh lebih bijaksana lagi. Terutama untuk kehidupan mu sendiri itu yang paling kakakmu ini harapkan padamu Yang Mulia.” Ungkap Sang Kaisar Kekaisaran Atas Langit Di Fu Tian.
"Untuk masalah Kakak kedua mu, kau tahu sendiri bagaimana sifatnya. Dan ku rasa dirinya juga belum bisa melupakan bayangan gadis itu, sampai saat ini. Da itu juga yang membuat ku semakin tak berdaya jika mengingatnya. huhhfft...." dengus Di Fu Tian yang merasa sangat frustasi ketika dirinya terinfat akan nasib kedua saudara lelakinya itu.
“Emm, Aku mengerti kau tak perlu risau. Lagipula baik diriku ataupun kakak kedua memiliki pemikiran dan juga pertimbangan kami sendiri. Jadi tidak perlu di bahas lagi,” Balas Di Zhao Ren singkat.
“Lalu apa tujuanmu kali ini menemui ku? Apakah Kau sudah akan segera kembali ke Kekaisaran Dewa? Sebenarnya aku masih merindukan adik ku yang super menyebalkan ini. Dan kau sendiri tahu ada orang tua itu yang akan selalu membuat ulah jika kau tidak memiliki waktu untuk menemuinya,” Ucap Di Fu Tian mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih santai.
“Bukankah seharusnya seperti itu, Jika tidak maka akan ada banyak pihak yang mengambil kesempatan disaat ketidakhadiran ku di antara mereka. Orang seperti kita tidak ditakdirkan hanya untuk menikmati hidup dengan berpangku tangan dan ongkang-ongkang kaki saja.” Tukas Di Zhao Ren memaparkan realitas.
“Apa yang Yang Mulia Kaisar Dewa Di Zhao Ren memang selalu tepat dan sesuai sasaran. Tapi setidaknya dirimu tidak hanya berfokus dan terus berkutat dengan kesibukan dan pekerjaan saja. Mulailah menjalani hidup dengan sesuai keinginan mu. Kaisar kecil ini hanya ingin melihat kehidupan adik tercinta hidup dengan penuh warna dan tidak hanya warna abu-abu yang suram itu, yang selalu melingkupi dirimu.” Ucap Di Fu Tian menanggapi perkataan Sang Adik. Dan kembali menyarankan sang adik untuk mencoba membuka hati untuk seorang gadis.
__ADS_1
“Ya,” jawab Di Zhao Ren singkat.
"Bagus! Jadi kau, telah...." ucapan Sang Kaisar Atas Langit terpotong oleh Sang adik yang kejam itu.
“Aku akan segera pergi, tolong sampaikan pada lelaki tua itu untuk tidak perlu memikirkan ku, pikiran saja kesehatannya sendiri dan jaga kehidupannya itu sampai hari baik ku tiba nantinya.” Sambung Sang Kaisar Dewa itu yang kemudian langsung melesat dan menghilang dari tempatnya tadi. Seolah-olah tidak pernah ada dirinya di tempat itu.
“Haih... Dia memang tak pernah berubah. Tapi apa yang baru saja bujangan tua itu katakan? Apakah akhirnya dirinya mulai berubah pikiran. Dan mau membuka hati untuk seseorang. Kalau memang benar itu akan sangat bagus. Aku harus segera menceritakan hal ini pada Ayah Kekaisaran, pasti dia akan sangat senang mendengarnya.” gumam Sang Kaisar atas Langit. dengan senyum puas tersungging di bibirnya yang menawan itu.
“Diyu ayo kembali ke kediaman Pak Tua, untuk menyampaikan pesan bujangan tua itu.” Ucap Di Fu Tian dengan sangat antusias, mengajak pengawal setianya yang menunggunya di depan pintu aula kerajaan.
Sesampainya Sang Kaisar Di Fu Tian di kediaman Sang Ayah, atau yang sering dipanggil Yang Mulia Pensiunan Kaisar Agung oleh para rakyatnya itu.
Tak tunggu lebih lama lagi di saat Ia memasuki pintu kediaman Sang Kaisar Muda Di Fu Tian pun lekas berteriak dengan sangat keras.
“Heii.. Pak Tua cepat keluar, Kaisar ini memiliki hal bagus untuk dibagi dengan mu. Jika kau tidak segera keluar kau akan sangat rugi jika tidak segera mendengarkan apa yang ingin ku sampaikan nanti.” Seru Kaisar Di Fu Tian dengan diiringi gelak tawa yang membuat semua pengawal, pelayan maupun Kasim yang bekerja di sana ikut merasa sumringah dibuatnya.
Karena bagi mereka semua, interaksi para majikan mereka itu memang sangatlah begitu akrab dan saling terbuka. Sehingga mereka semua tidak ada yang merasa jika perbuatan Sang Kaisar muda itu adalah sesuatu yang tidak sopan ataupun tidak pantas.
Karena bagi mereka, kehidupan yang menyenangkan adalah bergaul dengan keluarga tidak perlu harus selalu menggunakan tata cara yang formal dan juga penuh aturan yang sangat kolot dan kuno itu.
Tentu hal ini juga hanya akan mereka tunjukan pada orang-orang terdekat mereka. Dan mereka akan berperilaku sewajarnya kaum Bangsawan Kekaisaran yang berbudaya dan memiliki etiket tata Krama yang unggul. Di waktu waktu tertentu yang formal.
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini bocah tengil? Apakah kau tidak sadar jika suaramu itu sangat jelek, dan dapat merusak pendengaran ku dan semua orang di kediaman ku yang trnang ini. Dan awas saja kalau kau sampai berani menipu orang tua ini debgan kata-kata mu yang tidak bermutu itu, maka jangan harap kau akan bisa menikmati hari-hari tenang kedepannya.” Sahut suara seseorang yang berasal dari dalam kediaman. Yang kini tengah berjalan perlahan dengan di dampingi oleh seorang Kasim tua di sebelahnya.
“Hei Pak Tua, aku serius. Apa yang akan aku sampaikan kali ini pasti akan membuatmu lupa daratan. Dan bahkan aku berani bertaruh, bahwa kau akan dengan senang hati menyajikan anggur yang selama ini kau simpan dan kau sembunyikan dari ku itu, setelah kau mendengarkan barita bahagia ini,” ucap Di Fu Tian dengan sangat percaya diri.
“Aku tetap tidak akan percaya sebelum kau mengatakan sesuatu hal yang bisa membuat Orang Tua ini merasa diatas kayangan. Apalagi aku harus mempersembahkan Anggur kesukaan ku yang tidak akan ada lagi di dunia ini. Apakah kau benar-benar ingin merampok satu-satunya harta berharda yang ku miliki. Yang dipersembahkan secara langsung oleh mendiang Istriku dengan penuh cinta dan kasih sayang dia buat dengan kedua tangan ajaibnya itu dan butuh waktu dan proses yang tidak sebentar, bagi dia untuk bisa menciptakan sebuah anggur yang begitu nikmat, sebelum dirinya pergi meninggalkan kita untuk selamanya,” ucap Sang pensiunan Kaisar yang kini menjadi sedikit emosional karena kembali mengenang mendiang Permaisuri nya yang begitu Ia cintai.
Mendengar jawaban Sang Ayahandanya, membuat Sang Kaisar Di Fu Tian mwrasa sedikit tercekat. Karena Ia justru mengingatkan Sang Ayah pada luka lama yang telah susah payah dia pendam selama ini.
“Haih.... Baiklah, baiklah Pak Tua aku mengalah. Aku tidak akan lagi meminta mu untuk menyajikan anggur ternikmat buatan Ibu ku itu. Tapi jika kau tahu apa yang akan aku katakan pasti kau akan menyesal telah menolak ku, huh!” ucap Sang Kaisar Di Fu Tian mencoba membujuk Ayahnya agar tidak kembali emosional karena teringat mendiang Ibunda Permaisuri nya.
__ADS_1