Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa

Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa
Bab. 59 Kehidupan Ying Ning Xue di Keluarga Hua


__ADS_3

Kemudian Ding Ya Ran dan juga suaminya Ying Mo Huan pun memutuskan untuk membujuk Putri mereka agar mau tinggal dengan keluarga Hua.


"Sayang, tolong dengarkan Ayah. Xue'er Adalah kesayangan Ayah dan juga bunda untuk selamanya. Apapun yang terjadi nanti di hati Ayah dan bunda Xue'er adalah putri pertama kami yang paling kami cintai. Maafkan ayah dan ibu yang harus melakukan ini semua. Tapi yakinlah bahwa ini semua juga demi kebaikan Xue'er," ucap Ying Mo Huan dengan perasaan sedih dan juga tak rela.


"Tapi Ayah, mengapa Ayah dan ibu harus pergi? Tidak bisakah kalian membawa Xue'er bersama kalian?" tanya bayi kecil itu dengan sangat sedih bahkan matanya telah dipenuhi air mata yang terus berlinang.


"Tidak sayang. Kami tidak bisa mengambil resiko. Karena akan sangat berbahaya jika Xue'er ikut bersama kami. Tapi Xue'er jangan takut. Suatu hari nanti jika semua keadaan sudah kembali tenang kali pasti akan segera menjemput Xue'er, untuk tinggal dan menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibunda lagi.


"Ayah, apakah orang-orang jahat itu masih akan mengejar ayah dan ibu setelah ini? Atau jika begitu ayah dan ibu bisa membawa Xue'er pada mereka. Supaya mereka semua tidak lagi menyusahkan Ayah, Ibu, Nenek dan seluruh keluarga yang lainnya," ucap Ying Ning Xue tak berdaya melihat betapa menyedihkannya nasib keluarga mereka.


"Tidak sayang. Apa yang kau katakan? Itu tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun. Kamu harus hidup dengan aman dan juga bahagia. Kami tidak akan pernah rela membiarkan mu berada di tangan orang-orang jahat itu. Bahkan Ayahmu ini rela mati demi menukar kebahagiaan bagi Putri kecilku. Bagaimana mungkin kau bisa bicara seperti itu nak?" keluh Ying Mo Huan yang merasa sangat tertekan ketika mendengar penuturan Putri kecilnya itu.


"Xue'er, sayang... dengarkan Ibu Nak, kamu jangan pernah sekalipun berpikir tentang nasib kami semua. Kami akan merasa baik-baik saja selama Xue'er bisa aman. Dan satu lagi. Xue'er jangan pernah sekalipun menunjukkan kemampuan mu ya sayang. bersikaplah selayaknya anak-anak pada umumnya. Dan bahkan semakin tidak mencolok dihadapan semua orang, itu akan jauh lebih baik. Ingatlah Xue'er tutupi seluruh identitas dan kemampuan mu yang sesungguhnya meski itu dari keluarga Hua sekalipun. Apa Xue'er Ibu sudah mengerti sekarang?" tanya Ding Ya Ran pada putrinya.


"Emn, Xue'er sudah mengerti Ibunda. Xue'er janji jika Xue'er akan melakukan semua pengaturan Ayah dan Ibunda untuk Xue'er. Selamanya Xue'er menyayangi kalian," ucap Ying Ning Xue yang masih merasa sangat sedih.


Namun Ying Ning Xue juga tahu, jika semua ini harus dilakukan. Apalagi jika dirinya mengingat bagaimana perjuangan Ayah dan Ibunya ketika harus melindungi dirinya. Dari para orang jahat yang selalu mengincar dirinya selama ini.


Itu benar-benar menunjukan padanya dengan sangat jelas, jika dirinya hanya akan selalu menjadi beban berat bagi ayah dan ibunya ketika berhadapan dengan orang-orang yang tiba-tiba datang dan mengincar mereka dalam beberapa bulan terakhir ini.


"Baiklah Xue'er akan selalu menuruti pengaturan Ayahanda dan Ibunda. Dan Xue'er sangat berharap jika Ayahanda dan juga Ibunda akan selalu aman dan juga selamat dari mereka semua. Sehingga Ayah dan Ibunda dapat segera menjemput Xue'er kembali," gumam Ying Ning Xue yang sangat lirih. Yang seolah hanya berbisik.


Karena anak kecil itu berupaya keras untuk menekan perasaan ketidak rekaannya untuk berpisah dari orang tua kandungnya


Bahkan lebih dari itu dirinya tidak dapat menutupi keengganan dan juga kesedihannya yang harus segera berpisah dengan kedua orangtuanya.


"Xue'er kami memang anak yang terbaik yang Ayah dan Ibunda miliki. Tetap aman dan juga hidup dengan bahagia, meski kita akan terpisah oleh jarak yang jauh," ucap Ying Mo Huan sambil mengelus dan mengecup pucuk kepala Putri kecilnya itu.


Dan setelah itu Ying Mo Huan pun memberikan sebuah benda kecil di genggaman tangannya pada putrinya secara tersembunyi.

__ADS_1


"Sayang simpanlah ini. Dan gunakanlah benda itu ketika dirimu dalam keadaan terdesak. Dan selain senjata itu di dalam ruang spasial itu tersimpan segala hal yang kamu butuhkan. Ingatlah simpanlah jangan sampai ada seorangpun yang tahu," ucap Ying Mo Huan dengan transmisi suara.


Ying Ning Xue yang terkejut karena mendengar suara ayahnya di dalam hatinya pun tanpa sadar dirinya segera mendongak dan menatap wajah ayahnya seolah bertanya.


Dan hanya mendapatkan sebuah senyuman dan anggukan samar dari Sang Ayah. Dengan memastikan hal itu pun Ying Ning Xue pun segera mengangguk untuk menyetujui apa yang diucapkan Ayahanda nya secara pribadi itu.


"Baiklah sayang, Ayah dan Ibunda tidak dapat lebih lama lagi bersama dengan kalian. Jika tidak maka semuanya akan menjadi semakin bahaya. Kamu pergilah bersama dengan mereka semua," ucap Ying Mo Huan dihadapan semua orang dari keluarga Hua setelah dirinya menghilangkan formasi array rahasia yang dirinya pasang sebelum dirinya berbincang dengan Putri dan juga istri ya tadi.


"Tuan Hua, Aku titipkan Putri semata wayang ku ini pada mu. Ingat dengan sumpah yang kalian buat dihadapan kami tadi. Dan ini Adalah apa yang akan menjadi biaya hidup Putri kami ketika berada di kediaman kalian," ucap Ying Mo Huan sambil memberikan banyak harta yang ada di dalam kantong spasial yang lebih sering digunakan oleh orang-orang di dunia fana ini.


Karena disini keberadaan cincin spasial sangatlah langka. Bahkan pihak kekaisaran sekalipun belum tentu mereka dapat memiliki apa yang dinamakan cincin spasial.


Setelah itu dirinya memandang istrinya yang tengah memeluk dan menciumi putrinya itu. yang kemudian menyerahkan Putri semata wayang mereka itu dengan keterpaksaan kepada Sang Patriark Keluarga Hua.


"Tolong rawatlah dan didik Putri kami dengan baik Tuan, Suatu saat jika kami telah menyelesaikan urusan kami. Tentu kami akan sangat berterima kasih dan membalas kebaikan Anda terhadap Putri kami," ucap Ding Ya Ran dengan terisak. Bahkan dirinya tak mampu menahan air matanya sama sekali, yang saat ini mengalir bagaikan aliran sungai yang begitu deras.


Dan hal itu benar-benar membuat Sang Patriark Keluarga Hua dan seluruh keluarganya merasa terenyuh ketika menyaksikan perpisahan yang memilukan ini.


"Baiklah terima kasih sebelumnya. Karena setelah ini Kami akan segera pergi," ucap Ding Ya Ran dengan sedih namun dengan tekad kang sudah bulat.


"Sayang ingatlah bahwa Ayah dan juga Ibunda selalu menyayangi mu nak. Kamu berhati-hati lah dan menurut lah dan juga hormatilah Tuan Patriark Hua selayaknya kakek mu sendiri dan juga bersikaplah yang baik ya sayang. Semoga kau selalu aman dan juga bahagia bersama dengan mereka semua," pesan terakhir yang Ding Ya Ran sampaikan sebelum dirinya dan suaminya segera pergi dari sana.


"Aku berjanji bunda."ucap gadis kecil itu dengan berat hati ketika harus melepaskan kepergian kedua orangtuanya.


"Xue'er sayang, jangan sedih. Meskipun saat ini kita berpisah. Akan tetapi kita masih dapat terhubung satu sama lain. karena semua orang dari Klan Ying yang asli akan bisa saling berkomunikasi ketika orang itu telah mencapai ranah Biru puncak. Dan semakin tinggi tingkat kultivasi kita, maka akan semakin lama pula kita dapat saling terhubung. Dengan begitu pada setiap malam bulan purnama kita masih bisa saling mengirim telepati satu sama lain. Selama seseorang itu masih hidup. Jadi Berjanjilah pada Ayah mu ini sayang. Bahwa kamu akan tetap semangat untuk meningkatkan pelatihan mu. Apalagi sebentar lagi kau juga akan segera menerobos ranah ungu awal. Jadi sayang kamu jangan bersedih lagi. Dan sampai jumpa di masa depan sayang," ucap Ying Mo Huan melalui telepati. Dan apa yang di katakan oleh nya itu benar-benar mengejutkan bagi Ying Ning Xue.


Yang seketika balita cantik itu segera mendongakkan kepalanya ke atas langit. Dan ternyata benar, malam itu adalah malam bulan purnama.


"Hahh... syukurlah, setidaknya aku masih bisa berkomunikasi dengan ayahanda meskipun itu hanya bisa ku lakukan ketika malam bulan purnama saja," batin Ying Ning Xue yang kini merasa sedikit lebih baik.

__ADS_1


"Baiklah Ayahanda, Xue'er janji akan menjadi kultivator tingkat tinggi yang tangguh. Dan jika suatu saat nanti ayah kembali maka aku tidak akan mengecewakan ayah dan ibu," balas Ying Ning Xue pada ayahnya melalui transmisi suara.


"Anak baik, Ayah dan ibu akan selalu bangga memiliki mu dalam hidup kami. apapun itu keadaannya. Xue'er ku adalah kesayangan kami dan juga kebanggan Klan Ying kami," balas Ying Mo Huan


"Emn, Ayah Xue'er tahu itu," ucap Ying Ning Xue yang saat ini mencoba menahan kesedihannya karena harus berpisah dengan orang tua yang selalu menyayangi dirinya selama ini.


Ying Ning Xue juga terpaksa menerima untuk tinggal dan bergabung dengan Keluarga Hua dengan identitas baru. Sebagai Putri Pertama di Kediaman Hua yang merupakan Putri dari pasangan Hua Yun Qi dan juga Dong Ping Yue yang bernama Hua Lian Mei.


Apalagi Ying Ning Xue kecil juga dapat merasakan ketulusan dan juga kasih sayang seorang Kakek yang selama ini belum pernah Ying Ning Xue rasakan. Karena kakeknya sendiri telah lama meninggal dunia, bahkan sebelum Xue'er terlahir di dunia.


 Selain itu Sang Ayah angkatnya Hua Yun Qi juga tampak sangat perhatian ketika menatap dirinya dengan lembut.


Sehingga dirinya pun memutuskan untuk menuruti pengaturan kedua orangtuanya itu. untuk menetap sebagai Keluarga Hua untuk sementara waktu.


Meskipun mereka semua tidak ada yang bisa memastikan hal itu akan berlangsung hingga berapa lama.


Hingga hal-hal itu akhirnya segera berlalu hingga kurun waktu satu dekade. Dan kini usia Ying Ning Xue alias Hua Lian Mei saat ini hampir mencapai usia kedewasaannya.


Karena tepat dua bulan mendatang usia Hua Lian Mei akan genap lima belas tahun. Yang mana di masa saat ini, di usia yang seperti itu sudah selayaknya untuk melaksanakan sebuah pernikahan.


Namun karena janjinya, keluarga Hua terhadap kedua orang tua kandung Ying Ning Xue, mereka tidak ada satupun yang berani mengambil keputusan untuk menentukan perjodohan untuk Hua Lian Mei.


Dan mereka hanya akan menunggu hingga Hua Lian Mei menemukan jodohnya dengan sendirinya.


"Ayah, Kini sepuluh tahun telah berlalu, Apakah kau sudah memiliki kabar dari mereka? Bahkan sekarang Putri mereka juga sudah tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik dan baik. Meskipun Mei'er lebih pendiam dan tidak menonjolkan dirinya di mata publik, Namun aku merasa jika Putri kami itu merupakan sosok yang cerdas dan berbakat," buktinya saja akhir-akhir ini begitu banyak lamaran yang datang untuk nya. Aku bahkan sangat kewalahan untuk mendapatkan cara untuk menolak mereka semua," ucap Hua Yun Qi yang kini sedang berbincang dengan Ayahnya Sang Tabib Kekaisaran Hua.


"Huuft... Aku sama sekali belum pernah sekalipun mendapatkan kabar mengenai mereka berdua. Namun meskipun begitu kita juga tidak bisa ingkar dengan janji kita untuk menjaga dan juga memberikan yang semestinya pada gadis itu. Apalagi kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan semakin baik seperti ini juga berkat bantuan orang itu. Bahkan mereka juga tidak ragu untuk memberikan banyak harta dan juga sumberdaya yang berlimpah untuk seluruh keluarga di Kediaman Hua ini. Begitu juga Mei'er juga selalu bersikap baik dan tidak pernah sekalipun menyusahkan kita. Kita harus tahu bagaimana caranya untuk bersyukur atas segala sesuatu yang kita dapatkan selama ini.


"Aku mengerti akan hal itu Ayah. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana perasaan Putri kami itu yang sudah sangat lama sejak terakhir kali, Gadis itu sama sekali belum pernah mendengar kabar apapun mengenai keadaan ataupun keberadaan kedua orangtuanya. Aku sangat yakin jika selama ini gadis malang itu selalu menyembunyikan semua perasaan dan juga kesedihannya itu dari kita semua. Apalagi selama ini aku melihatnya tampak begitu murung dan sering berdiam diri di kediamannya saja. Aku benar-benar tidak tega terhadapnya. Apalagi saat ini banyak orang yang datang untuk mengganggunya untuk urusan perjodohan. Aku merasa jika Mei'er seolah tidak berdaya akan semuanya." tutur Hua Yun Qi lagi yang tulus menyayangi dan memperhatikan Putri angkatnya itu.

__ADS_1


Akan tetapi mereka berdua sama sekali tidak mengetahui sebuah kebenaran. Bahwa Ying Ning Xue seringkali mendapatkan kabar dari Ayah kandungnya.


Hanya saja sampai saat ini memang keadaan mereka terpaksa masih harus terus bertahan dalam persembunyian dan juga penyamaran. Dari orang-orang yang berasal dari Klan Liang yang selalu memburu mereka.


__ADS_2