Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa

Putri Yang Dibuang Kekasih Sang Kaisar Dewa
Bab. 8 Perdebatan Ayah dan Anak


__ADS_3

“Dasar bocah bau, cepat katakan! Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan? Ada berita bagus apa, hah? Apakah kau memang berniat mempermainkan perasaan Orang Tua ini? Benar-benar tidak tahu sopan santun sama sekali. Bahkan jika itu seorang bajingan sekalipun, mereka juga tidak akan pernah berani membuat ku merasa begitu penasaran seperti ini.” Teriak Di Zhao Zhang Sang Pensiunan Kaisar.


“Yang Mulia tolong kendalikan emosional Anda, jangan terlalu bersemangat, ingat usia dan juga kesehatan Anda.” Peringat Kasim tua Chao De dengan penuh perhatian.


Kasim Chao De memang sangat peduli pada majikannya itu, bukan hanya karena itu adalah tugasnya. Melainkan hal itu sangat tulus dari dasar hatinya.


Karena selama dirinya mengabdikan diri terhadap tuannya itu. Dirinya Bahkan tidak pernah sekalipun dianggap sebagai seorang pelayan yang bisa diperbudak begitu saja.


Sang mantan Kaisar Kekaisaran Atas Langit itu benar-benar memperhatikannya dan juga memperlakukannya secara baik layaknya dia memperlakukan dirinya sendiri.


Terlebih lagi Kasim Chao De juga merasa sangat berhutang budi terhadap tuannya itu. Karena dulu ketika dirinya muda, dan sebelum Ia diangkat menjadi seorang Kasim, Chao De muda pernah mengalami krisis antara hidup dan mati akibat orang tuanya yang memiliki begitu banyak hutang.


Hingga akhirnya dirinya yang saat itu masih berusia awal remaja terpaksa harus dijual sebagai budak kepada rentenir tempat orang tuanya berhutang.


Dan sejak saat itu hidupnya berubah, menjadi sangat sulit dan juga sering disiksa hingga dirinya hampir mati.


Dan pada suatu ketika dirinya bisa ditemukan oleh Sang majikan yang saat itu juga masihlah seorang pangeran kecil yang sedang menyamar dan menyelinap untuk bisa berkeliaran di dunia luar.


Pada saat itu Chao De muda tengah dihakimi oleh masa, karena dirinya dituduh sebagai seorang pencuri oleh seseora ketika dirinya hendak kabur dari rentenir yang kala itu memperbudaknya.


Namun Ia justru sangat sial sehingga bertemu orang yang menuduhnya begitu saja bahkan dirinya juga dipukuli dan dihajar habis-habisan hingga terkapar tak berdaya, oleh para pengawal seorang saudagar yang menuduhnya telah mencuri benda berharga milik keluarga saudagar tersebut.


Bahkan sejenak Chao De muda terpikir jika nyawanya tidak akan pernah bisa dipertahankan lagi. Dan dia akan segera mati Dengan mengenaskan. Karena dia tidak bisa melakukan kultivasi sehingga tidak bisa membalas maupun melawan orang-orang yang telah menghajarnya.


Di saat Chao De muda telah merasa begitu putus asa, dan dengan ajaibnya ada seseorang pria muda yang tiba-tiba saja menenangkan para masa dan membantunya menangani masalah yang Chao De muda alami.


Dan pria muda itu juga membantunya untuk membuktikan jika Chao De muda tidak pernah melakukan pencurian seperti yang mereka tuduhkan, serta membersihkan nama baiknya.


Sehingga pada saat itu Chao De muda memutuskan dalam hatinya. Bahwa dirinya akan selalu mengabdikan dirinya dengan segenap jiwanya pada pemuda yang telah menyelamatkannya itu hingga akhir hayatnya.


Namun terakhir dirinya ketahui jika sosok pria muda yang telah menyelamatkannya itu merupakan seorang Pangeran Mahkota dari Kekaisaran Atas Langit yang begitu agung dan bermartabat.

__ADS_1


Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang kasim kecilnya. Yang sampai saat ini dirinya masih saja sangat setia pada majikannya itu.


Dan setelah sekian lama Kasim Chao De mengikuti dan melewati semuanya bersama-sama dengan Sang Pangeran Mahkota yang kemudian telah dinobatkan sebagai Kaisar dan kini telah melengserkan dirinya sendiri dari tampuk kepemimpinannya dan menyerahkan tanggung jawab besar itu pada putra tertuanya bersama mendiang Permaisuri satu-satunya dalam hidupnya.


Setelah begitu panjang waktu yang mereka lalui bersama dengan mantan pensiunan Kaisar Kekaisaran Atas Langit. Begitu banyak pula hal-hal yang telah mereka rasakan dan lewati bersama.


Sehingga Kasim Chao De tahu betul dengan apa yang terjadi pada mantan pensiunan Kaisar, bahkan dirinya juga bisa bagaimana perasaan orang yang telah menyelamatkan hidupnya itu lebih baik dari siapapun bahkan Ketiga putranya sekalipun.


Oleh Karena nya saat ini Kasim Chao De merasa sangat protektif dan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga dan memperhatikan kesehatan Sang majikannya itu. Yang dirinya tahu benar, bagaimana kondisi Sang Pensiunan Kaisar Atas Langit tersebut.


Ya, semenjak pensiun, Mantan Kaisar ini memang memiliki sedikit masalah dengan kesehatannya, dan itu disebabkan oleh banyaknya faktor yang membuat mentalitas dan juga fisiknya semakin melemah. Ditambah dengan cidera organ dalamnya yang telah dia derita selama bertahun-tahun lamanya. Yang hingga saat ini belum juga ditemukan obatnya.


“Chao De tua, bagaimana bisa kau membuatku tampak seperti bocah bau berusia 5 tahun. Aku tau dengan kondisi ku sendiri. Bahkan aku masih mampu memukul dan melempar dirimu ke kolam teratai itu.Huhh," omel Sang Pensiunan Kaisar pada Kasim Chao De yang menurutnya semakin bawel akhir-akhir ini.


"Dan kau bocah bau cepat katakan padaku ada berita bahagia apa? Jika itu hanya hal biasa saja, Huhh, jangan harap kau akan bisa mencicipi harta berhargaku itu, meski hanya menghirup aroma menggugah selera dari anggur ku itu!” ucap Sang pensiunan Kaisar Di Zhao Zhang sambil mendengus.


Kasim tua Chao De merasa jika junjungan nya itu sangat lucu, bahkan dengan ekspresi merajuknya itu justru membuktikan bahwa dirinya benar-benar mengharapkan bahwa akan ada hal baik yang akan Ia terima, setelah sekian lama Ia merasakan kepedihan hati dalam kesunyian nya.


"Ah, mana hamba berani begitu lancang terhadap Yang Mulia," bapas sang Kasim Chao De dengan senyum yang cerah, yang menandakan dirinya sedang bergurau dengan Sang majikannya itu.


Sedangkan Kaisar Muda Di Fu Tian kini tidak lagi berencana untuk menggoda Sang Ayah lagi. Karena dirinya sangat mengetahui bagaimana perasaan Ayahandanya itu selama ini.


Meskipun mereka berdua tidak pernah mengutarakan isi hatinya masing-masing. Tapi secara garis besarnya adalah kehidupan Ayahnya itu selalu diliputi kesedihan dan juga kerinduan terhadap orang-orang yang Ia kasihi.


Jadi dirinya sedari awal memang sengaja ingin membangkitkan kembali semangat Sang Ayah. Agar Ayahnya itu selalu memiliki sebuah harapan dan semangat untuk terus hidup lebih baik lagi kedepannya.


Karena Ia tahu, saat ini yang menjadi kecemasan terbesarnya adalah masalah pernikahan adik ketiganya yang sangat dingin dan membosankan itu.


“Baiklah Pak Tua, dengarkan ini baik-baik aku tidak akan pernah mengulangi ucapan ku lagi. Jika tidak maka kau harus bertaruh padaku,” ucap Sang Kaisar Di Fu Tian dengan ekspresi wajah yang sengaja dirinya buat sangat menjengkelkan. Untuk membuat ayahnya semakin terpancing.


Namun setelah itu, sebelum Sang Ayah kembali marah-marah, dia segera mengatakan pesan yang ditinggalkan oleh adik ketiganya tadi sebelum pergi.

__ADS_1


“Bocah bau, apakah yang kau katakan itu benar atau tidak? Apakah bocah bodoh itu akhirnya mendapatkan pencerahan? Akhirnya tidak sia-sia aku bertahan hidup selama ini. Jika benar bocah bodoh itu matanya masih bisa melirik seorang gadis aku benar-benar bersyukur. Dan gadis manapun itu dan apapun latar belakangnya tidak peduli apa asalkan bocah bodoh itu sudah memilih nya maka aku tidak akan pernah menghalanginya.” Ucap Sang pensiunan Kaisar dengan penuh semangat.


Hingga tanpa sadar setetes air mata telah membasahi pipinya. Dan Ia bahkan tidak peduli lagi dengan citra dan martabat seorang pria yang tidak akan pernah mengeluarkan air mata nya.


"Heh, Meskipun aku merasa sedikit puas dengan berita ini. Tapi apa yang dilakukan Bocah bodoh itu benar-benar membuatku kesal. Bagaimana mungkin dia bisa pergi begitu saja, tanpa bilang apa-apa pada ku sebelumnya benar-benar menjengkelkan. Awas saja jika nanti dia kembali bersama istrinya. Maka aku akan menahan istrinya di sini untuk memberinya pelajaran," gerutu Sang Pensiunan Kaisar.


Sedangkan Kasim Chao De merasa sangat tidak berdaya ketika dirinya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh junjungannya itu.


"Bukankah semalaman Yang Mulia Kaisar Dewa mencoba menemuinya dan juga membujuknya tanpa henti. Hanya saja Yang Mulia Pensiunan Kaisar sendiri yang bersikeras mengunci pintu dan tak ingin menemui putra kebanggaannya itu. Lalu bagaimana bisa ini menjadi hal lain di mulut Yang Mulia Pensiunan Kaisar ini?" pikir Kasim Chao De yang saat inu hanya bisa terdiam dan tak mampu berkata-kata.


“Hei Pak Tua, bukankah sudah aku katakan padamu sejak awal. Jika berita yang ku sampaikan kali ini akan membuat mu begitu bahagia. Kau masih saja tidak percaya kepada ku. Jadi aku harus apa? Lagi pula kemarin aku tanpa sengaja juga mendengarkan dirinya yang menanyakan mengenai hal itu pada bawahannya yang juga sama bodohnya dengan anak itu.” Ucap Sang Kaisar Di Fu Tian dengan tidak berdaya.


Terlebih lagi ketika dirinya mengingat kejadian beberapa malam yang lalu yang membuatnya tanpa sengaja mendengarkan perkataan adiknya yang sangat membosankan itu mengenai hidup bahagia dengan berkeluarga.


Namun yang membuatnya menjadi semakin geram adalah, orang yang ditanya dan diajak diskusi adalah seseorang yang bahkan kondisinya lebih menyedihkan jika dibandingkan dengannya.


Bagaimana mungkin seorang budak terikat kontrak hidup dan mati masih bisa sempat memikirkan hal hal lainnya seperti membina sebuah hubungan ataupun berkeluarga.


Bukan kah itu sama halnya dengan berangan-angan dan tidak akan pernah bisa terwujud.


"Dan apa maksudnya dia kemarin? Bahwa dia berkata hal semacam itu pada bawahannya yang sangat kaku itu? Bukankan itu sama halnya dengan mencelakakan gadis yang dia sukai itu. Aku benar-benar tidak bisa mengerti dengan pikirannya itu," keluh Kaisar Di Fu Tian yang sangat kesal, ketika dirinya teringat dengan kelakuan adiknya yang dingin itu.


Sedangkan Sang pensiunan Kaisar mendengar ucapan putranya itu, kembali merasa lebih bersemangat dan antusias untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai putra ketiganya. Yang selama ini sangat pendiam dan tertutup. Semenjak Ia kehilangan Ibundanya, yang mana Ia adalah satu-satunya wanita yang Ia cintai melebihi apapun di dunia ini.


“Bocah bau, sepertinya kali ini kau memiliki pengetahuan lebih yang ingin kau sampaikan pada Tetua mu ini? Bagaimana dengan itu? Apakah benar-benar ada pergerakan lebih dari si bodoh yang seperti balok es hidup itu?” tanya Sang Pensiunan Kaisar dengan penuh rasa ingin tahu.


“Hah... Apalagi yang tidak membuat ku tertekan setengah mati. Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku mendengarkan dia menyebutkan seorang gadis dan dia bahkan bertanya mengenai gadis dan hidup berkeluarga pada budak yang bahkan tidak akan pernah memiliki kesempatan seperti itu. Bukankah dia itu bodoh, apakah tingkat kebodohannya itu meningkat terlalu jauh, sehingga membuat otak ya itu tak bisa berpikir dengan baik lagi. Bahkan sampai saat ini aku masih sangat tertekan jika mengingatnya. Setidaknya aku ini adalah saudara tertuanya. Dia bisa saja mencari ku untuk mendiskusikan masalah ini. Tapi bukannya mengatakan sesuatu yang membahagiakan ini padaku dia justru menemui ku justru hanya untuk sekedar berpamitan, dan pergi begitu saja. Benar-benar orang yang terlalu bodoh dan menjengkelkan.” Tukas Sang Kaisar Di Fu Tian dengan bersunggut-sungut ketika Ia mengingat Sang Kaisar Dewa si balok es hidup itu.


"Dan lagi, yang lebih parahnya. Kemarin aku juga sempat mendengar bahwa Anak sialan itu benar-benar mengutus dua orang bawahannya untuk mengawasi dan menuntunnya untuk menuju kawah magma yang berada di suatu gunung yang disebut Yinshu yang berada dikawasan Shanghong. Bukankah itu sama saja ingin menjerumuskan krhidupan kecil gadis itu pada kematian yang nyata? Ini sungguh membuat hati ku ini terasa di permainkan oleh anak bodoh itu. Baru saja aku berharap akan hari baik yang akan si balok es itu tapi seketika itu juga aku harus kembali terlempar dalam kedalaman jurang yang gelap akibat ulahnya yang berubah-ubah itu," keluh Sang Kaisar Di Fu Tian, dan bahkan tanpa sadar dirinya kini telah membuat salah satu cangkir giok kesayangan Sang Pensiunan Kaisar Hancur menjadi bubuk dengan kekuatan remasan tangannya.


Sang pensiunan Kaisar mendengar Omelan dan menyaksikan betapa frustrasi nya putra pertamanya itu pun merasa sedikit terhibur. Tapi tidak menampik bahwa dirinya kini juga semakin gemas dan juga geram oleh tingkah putra ketiganya nya, Yang kini semakin jauh dengannya semenjak tragedi berdarah itu yang mengubah hidup anaknya itu. Dari sosok yang ramah dan periang dan penuh kasih menjadi seorang pria dingin dan kejam bahkan terhadap dirinya sendiri.

__ADS_1


Putra ketiganya itu bahkan memperlakukan dirinya sendiri sebagai alat pembunuh dan berupaya untuk menjadi semakin tangguh. Hingga Akhirnya Ia mencapai posisi yang sangat tinggi di dunia atas. Yang bahkan sebelumnya tidak pernah terbayang dalam benaknya jika suatu hari, akan ada salah satu dari ketiga putranya itu akan menjadi seorang Penguasa Alam Atas dan juga para Dewa.


Dan karena hal itu pulalah yang membuat mereka ayah dan anak terpisah jauh dan dalam waktu yang sangat lama. Sangat sulit bagi dirinya hanya sekedar untuk menyaksikan dan melepas rindunya pada putra bungsunya itu.


__ADS_2