
Lezzy menyipitkan kedua matanya saat cahaya matahari berhasil menerobos masuk dari celah jendela.
Perlahan-lahan ia mulai menunjukan keindahan mata Savier nya yang berwarna biru.
Rasanya tubuhnya tidak bisa bergerak dengan bebas, lalu sedetik kemudian Lezzy tersadar bahwa saat ini dirinya sedang berada dipelukan Fedrick.
Lezzy melirik bosan, walau dilarang tapi pasti akan tetap dilakukan oleh Fedrick. namun rasa ke kesalan Lezzy hilang, saat melihat wajah polos Fedrick yang tengah tertidur pulas.
Jemari lentik Lezzy bergerak membelai pipi Fedrick, ini pertama kalinya ia melihat Fedrick begitu sangat tenang, tidak ada tatapan dingin, atau aura yang menyeramkan.
Tangan Lezzy mulai menjelajahi setiap lekuk wajah Fedrick.
‘Dia tidur dengan sangat nyenyak. Tunggu, sepertinya aku tidak pernah melihatnya tertidur, atau jangan-jangan dia tidak pernah tidur?’
“...Apa kau punya waktu istirahat yang cukup, Fedrick?”
“Menjadi Lord memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi rakyatnya, aku tidak punya waktu hanya untuk sekedar istirahat saja.”
Lezzy langsung bangun mendengar perkataan Fedrick yang tiba-tiba.
“...Kau, sejak kapan sudah bangun?!”
Fedrick membuka kedua kelopak matanya.
“Semenjak tangan Istriku menjadi nakal untuk menyentuhku..”
ucap Fedrick dengan senyuman penuh pesona, membuat Lezzy sedikit salah tingkah.
“Se-- sebaiknya kita segera bersiap..”
"Mau kubantu mandi?"
"Dan sebaiknya kau tidak beranjak dari sana, atau aku benar-benar menelpon Polisi !!"
Brakk!
ucap Lezzy sembari keluar kamar dan menutup pintu dengan keras, sedangkan Fedrick tertawa senang melihat wajah Lezzy yang sangat menggemaskan.
-o0o-
Setelah semua sudah selesai dari membersihkan diri hingga sarapan, Lezzy dan Fedrick bersiap untuk menyelesaikan tujuan mereka datang ke Bumi.
“Fedrick, cuaca masih dingin sebaiknya kau gunakan syal ini.”
“Aku seorang Lord, tidak akan pernah mau memakai barang buatan Manusia rendahan seperti itu!!”
“Sikap egoismu itu perlu dimusnakan, syal ini aku sendiri yang merajutnya saat SMA!! Jika kau tidak mau pakai, tidak masalah!”
“Eh? Lezzy aku hanya bercanda semua barangmu adalah yang terbaik, berikan kepadaku..”
“Mohon ampun Yang Mulia, syal ini bisa membunuhmu jika kau kenakan, sebaiknya dibuang saja!”
Lezzy mulai merajuk dan bersiap untuk membuang syalnya, namun dengan cepat Fedrick mengambil syal berwarna merah itu dari tangan Lezzy, bila dilihat kembali syal itu begitu persis seperti yang Lezzy kenakan.
“Dasar pria munafik!”
“Kau bilang apa!!”
“Aa-- aku hanya bilang kau pria yang menarik^^”
__ADS_1
“Baiklah, sekarang kau ingin menyelesaikan urusanmu yang mana?”
“Kita akan pergi kesuatu tempat, tapi untuk kesana kita harus menaiki bus umum dulu....”
“Tidak mau! Aku tidak sudi berdekatan dengan kaum tamak seperti Manusia.”
“Cih, calon Istrimu ini juga adalah Manusia Yang Mulia."
Fedrick tertawa kecil, lalu ia menjentikan tangannya dan tiba-tiba saja muncul Lamborgini Elemento yang enatah datang dari mana, Fedrick membukakan pintu mobil untuk Lezzy.
“Fedrick, kau bisa mengendarainya? Apa ini Lamborgini asli?”
“Ada sebuah pepatah yang bilang, saat kau berada di Roma maka berprilaku lah seperi orang Roma, aku seorang Lord tentu kendaraan di Bumi harus selaras denganku. Untuk masalah berkendara, aku hidup selama 972 tahun dan sudah sering ke dunia Manusia untuk melihat perkembangan sejarah kalian, kau tidak perlu takut aku sangat ahli dalam semua urusan di Bumi.”
"Kau pasti menyuap mereka---"
"Jaga kata-katamu, aku tidak pernah menggunakan hal kotor seperti itu."
"Pembohong!"
"Lezzy, kau jadi mau pergi atau tidak?"
"Baiklah-baiklah...”
ucap Lezzy sembari memasuki mobil.
.
.
.
Setelah turun mobil Lezzy berjalan terlebih dahulu lalu berhenti tepat di depan dua batu nisan yang sudah agak lusuh, sembari berlutut di depan makam kesayangannya, Lezzy meletakan dua buket bunga yang sempat ia beli saat diperjalanan.
Yang sebelah kanan adalah makam sang Ayah dan yang sebelah kiri adalah makam sang Ibu, Lezzy tersenyum lembut.
Ia menutup matanya dan mulai berdoa untuk ke dua orang tuanya, sedang Fedrick hanya diam berdiri dibelakang Lezzy sembari melihat aktifitas Lezzy.
Tak lama kedua mata Lezzy terbuka menandakan ia telah selesai berdoa.
“Ayah, Ibu, Lezzy datang berkunjung. Maaf aku menjadi Putri yang nakal karena sudah lima tahun ini tidak mengunjungi kalian. Lezzy sibuk bekerja untuk biaya sekolah, tapi jangan khawatir masih ada Miya yang selalu menemani Lezzy selama ini, dan sekarang Lezzy telah menemukan pangeran seperti kisah dongeng yang selalu Ibu ceritakan...”
Lezzy menarik tangan Fedrick menuntunnya untuk duduk disebelahnya.
“Emm..., halo Ayah mer..tua Ibu mertua.”
Fedrick sedikit kaku saat berbicara seperti ini, dirinya tidak pernah berkunjung ke makam, makam mendiang Ibunya dulu saja terakhir ia datangi tepat saat hari kematiannya saat Fedrick berusia 45 tahun.
“Ahahaha.., ternyata kau bisa canggung juga^^”
“Diamlah!”
"Dasar pria gengsi-,-"
"........."
“Baiklah, Ayah dan Ibu hari ini, mungkin terakhir kalinya Lezzy berkunjung kesini, karena Lezzy akan segera menikah dan ikut Fedrick untuk tinggal di dunianya. Kalian juga tidak perlu khawatir Fedrick akan selalu menjaga dan melindungiku, aku juga sangat mencintainya walau terkadang dirinya sangat kejam tapi Fedrick tidak pernah melukai Lezzy. Karena itu Le-- Lezzy berharap kalian sudah tenang dan tidak terlalu cemas akan masa depanku, Lezzy sayang kalian.”
"Kau cengeng sekali..."
__ADS_1
"Ish, memangnya kau tidak pernah menangis? emm, Fedrick aku tidak pernah melihat keluargamu dimana mereka?"
"..........."
seketika nuansa hening, Lezzy merutuki kata-katanya mungkin saja itu sesuatu hal yang tabu untuk dibahas.
"Mereka semua sudah meninggal...."
"Fedrick aku minta ma--"
"Kau tidak perlu minta maaf, lagian itu semua karena diriku..."
"Karena dirimu?"
"Kau ingin tahu? Apa kau tidak takut mendengarnya?"
"Ku-- Kurasa tidak.."
Fedrick memajukan wajahnya tepat di daun telinga Lezzy.
"Karena aku yang membunuh mereka, tapi tidak untuk Ibuku....."
Lezzy diam, tubuhnya menegang merinding, mendengar turahan kata-kata Fedrick yang begitu dingin.
"Aku di didik dengan begitu keras, seorang pemimpin dilarang keras menunjukan senyumnya maupun sikap lembut, terhadap makhluk lain. sejak dulu generasi Lord hanya mementingkan kekuasaan dan kekuatan besar, hingga membuat Rakyat sengsara. Peperangan masih hal yang baik dalam menyelesaikan masalah daerah kekuasaan, aku tidak suka ideologi mereka yang begitu kejam, membuat Darkness World penuh dengan kebencian dan perang dingin, hingga kuputuskan untuk merubah dan membantai habis semua yang tidak layak hidup termasuk keluargaku sendiri, Itu lah kenapa aku dikenang sebagai Lord yang paling keji dan bengis....."
"Fed-- Fedrick Aku-----"
"Ahahahaha, lihat wajah tegangmu itu....."
"Kau.., kau membohongiku?!"
"Aku hanya bercanda mengenai ucapanku, bagaimana apaaAku sudah terlihat Lord yang menyeramkan?"
"Menyebalkan!"
"Baiklah aku minta maaf, sebaiknya jangan dibahas lagi....."
Fedrick menggenggam tangan Lezzy dan mengajaknya untuk kembali ke mobil.
'Lebih baik, kau tidak mengetahui kebenarannya Lezzy.'
Angin berhembus kencang menghantarkan perasaan dingin.
Musim dingin merubah daratan menjadi warna putih, bergemilang cahaya dari matahari yang saling berpantulan.
“Mumpung masih ada waktu, kau ingin kemana? Lebih baik kita kunjungi tempat-tempat yang menarik sebelum kembali ke Darkness World.”
“Kau serius Fedrick?”
“Hn.”
“Kalau begitu kita kunjungi semua wisata yang ada di Sydney^o^”
Lezzy berseru senang mendengarnya, Fedrick tersenyum hangat lalu mulai menjalankan mobil Lamborgininya menuju tempat yang ingin Lezzy datangi.
--_o0o_--
__ADS_1