
*Australia, Kota Sydney.
~Kediaman Crownsiamoer.
“Tidak!!”
Aku membuka ke dua mataku secara paksa, saat sesuatu hal buruk hadir dalam mimpiku. Semua seperti menyakitkan namun tak dapat kuingat dengan jelas, mimpi apa yang telah kualami?
Dengan cepat aku berjalan menuju cermin menatap kondisiku yang seolah sedang terpuruk, kedua mataku menjadi sembab akibat menangis. Padahal aku sendiri tidak tahu untuk siapa aku menangis?
Selama 10 tahun, aku sudah sering memimpikan sesuatu hal yang aneh, tapi untuk yang kali ini ada rasa yang mengganjal di dalam hatiku.
Seolah aku telah melupakan sesuatu hal penting di dalam hatiku, em..biarlah mungkin saja itu adalah beberapa kenangan buruk saat masih sekolah.
.
.
.
Setelah membenahi diri, aku membuka jendela kamar untuk melihat matahari terbit yang telah menjadi rutinitasku setiap pagi hari. Menghirup udara segar dengan tenang, sepertinya musim dingin akan segera berakhir, saat bisa kurasakan udara disekitarku sudah sangat hangat.
Dor..Dor...Dor
Aku melirik dengan sinis, saat tamu hadir kerumahku dengan cara tidak sopan, memangnya tidak bisa mengetuk lebih halus kah?
Sembari berjalan dengan kesal, kubuka pintu rumah melihat siapa tamu yang sangat tidak sopan ini.
“Lezzy, kau kemana saja sela----, ya Tuhan ada apa dengan penampilanmu?!”
Aku mengerutkan keningku, saat melihat wajah Miya yang mendadak seperti orang bodoh.
'Penampilanku baik-baik saja kok, memangnya apa yang beda?'
Kulihat Miya meronggah tasnya mencari cermin andalannya dan menunjukannya kepadaku dengan heboh.
Awalnya merasa aneh lalu aku pun ikut diam mencoba menebak siapakah perempuan cantik yang ada di cermin itu. Oh siapa saja bisakah kalian menampar wajahku saat ini.
Sungguh apa ini Aku? Serius!
“Jadi selama satu minggu ini kau pergi untuk perawatan, hah! Tanpa memberitahuku?”
“Satu minggu?”
“Yes Lezzy, you’ve been missing for a week and without news!”
“Really? You’re sure!!”
“YES! Oky lupakan mengenai kau hilang selama seminggu. Dengar aku membawa kabar baik untukmu Lezzy^^”
“Apa?”
“Jadi, Profesor Jhonson ingin bertemu denganmu.”
“Profe-- Profesor Jhonson! Maksudmu Dekan Falkultas Kedokteran kita! Kau serius Miya?”
__ADS_1
“Ya! Kau tahu, dia orang yang begitu banyak pilih dan sangat teliti dalam menilai mahasiswa, mungkin saja kali ini keberuntungan ada ditanganmu sekarang.”
“...Eh, bagaimana jika yang beliau membahas mengenai biaya Universitas?”
“Oh ayolah, kau harus semangat Lezzy, kau tidak perlu khawatir jika itu mengenai masa depan impianmu, aku akan selalu mendukungmu oke.”
“Baiklah, sebaiknya kita temui beliau dulu.”
Kulihat Miya tertawa riang lalu berjalan lebih dulu, kututup pintu rumah dan bergegas mengejar Miya sembari mengenakan Syal merah di leherku.
“Lezzy aku hanya bercanda semua barangmu adalah yang terbaik, berikan kepadaku..”
Tap!
Secercah ingatan buram terlintas dikepalaku mengenai Syal merah ini. Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas tapi suara itu, suara baritone yang masih mysteri dalam hidupku, suara itu begitu persis dengan suara aneh dimimpi ku.
“Lezzy, ayo. Kenapa kau hanya diam saja?”
“Eh, tu-- tunggu aku Miya!”
Aku menepis jauh-jauh perasaan aneh itu, lebih baik fokuskan diri mengenai panggilan Profesor Jhonson sang idolaku, dulu.
--o0o--
*Kantor Profesor Jhonson.
“Jadi Lezzy.., boleh kupanggil seperti itu?”
“Ya! Profesor, anda boleh memanggil nama saya.”
Biasanya siswa yang telah dipercayainya akan memiliki kesempatan, terjun langsung ke dunia kesehatan bahkan bila akademiknya sangatmemuaskan, bisa langsung menjadi Dokter secara resmi.
“Selama dua tahun kau menerjang pendidikan Kedokteran di Universitas ini, Saya selalu memerhatikanmu. Kau memiliki potensi akademik yang sangat memuaskan, setiap hasil nilai predikat ilmu maupun praktek kau selalu masuk tiga besar. Jadi, Saya ingin menawarimu masuk ke tahap magang disalah satu Rumah Sakit ternama Sydney.”
“Sungguh Profesor, Lezzy bisa berkesempatan menjadi mahasiswa magang Kedokteran di Rumah Sakit itu?”
Miya unjuk suara menggantikan Lezzy yang tengah terkejut.
“Ya! Tapi bila kau ingin menjadi seorang Dokter kau harus lebih berjuang lagi, pahami lah apa itu Profesi Dokter. Mungkin saja ini bisa membantu mewujudkan salah satu mimpimu Lezzy.”
“Terimakasih untuk perhatiannya, Profesor Jhonson. Saya pasti akan berjuang keras!!”
“Semoga sukses!”
Lezzy dan Miya berpamit meninggalkan ruangan, mereka masih diselimuti rasa bahagia yang begitu sangat mengharukan.
Impiannya akan segera terwujud.
Miya mengajak Lezzy untuk berkunjung ke makam Orangtuanya, berharap Lezzy bisa membagi rasa bahagianya kepada mendiang keluarga tersayang Lezzy.
-o0o-
“Lezzy, kau sudah mengunjungi Orangtuamu?”
Lezzy menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Lalu kenapa ada dua buket bunga di makam Paman dan Bibi?”
Dengan penuh rasa heran, Lezzy mengikuti arah pandang Miya ia menatap bingung melihat dua buket bunga mawar yang sudah layu, siapa yang sudah mampir ke makam Ayah dan Ibunya? Seingatnya, Lezzy tidak punya waktu untuk berkunjung kesini bahkan terakhir kali saat 5 tahun lalu.
“Em, mungkin saja saudara atau kenalan Orang tuamu.”
"Ya.., sepertinya be..gitu...”
“Ha! Maaf Lezzy, aku meninggalkan dompetku di toko bunga tadi.”
“Kalau begitu cepat pergi.”
“Aku benar-benar minta maaf, jangan khawair aku segera kembali... oke^,~"
Lezzy terawa kecil melihat sahabat baiknya yang masih saja ceroboh. Ia kembali menatap dua batu nisan yang sudah agak lusuh.
Sembari memejamkan kedua matanya seraya berdoa, dan menyampaikan segala kebahagiaannya hari ini, bercerita ria seorang diri seolah kedua orangtuanya akan mendengarnya.
Lezzy alihkan pandangannya kearah dua buket bunga yang telah layu itu, sembari meraihnya dan melihatnya secara intens.
“Emm..., halo Ayah mer..tua Ibu mertua.”
“...........Ayah, Ibu hari ini terakhir kalinya Lezzy berkunjung kesini, karena Lezzy akan segera menikah....................”
"Mumpung masih ada waktu, kau ingin kemana?..............”
Sruk!
Buket itu jatuh beriringan dengan jatuhnya air mata Lezzy secara bersamaan, ingatan buram itu kembali hadir tapi masih sangat singkat.
Hatinya terasa perih, sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Saat dia terbangun, Lezzy malah menangis hingga bersembab, terus Miya bilang dia hilang selama 1 minggu.
Padahal seingatnya, ia pulang dari cafe dan kembali pulang untuk istirahat. Lezzy sendiri masih bingung, atau 'kah benar ada sesuatu hal yang telah dia lupakan?
“Lezzy, kau udah selesa----, Lezzy ada apa denganmu?”
“Miya, eh...aku baik-baik saja kok, hanya merindukan mereka.”
“Hem, berhentilah menangis. Tadi Ibuku telfon kita harus merayakan kabar ini dirumah ku, kau juga sudah lama tidak berkunjung.”
“Baiklah, entah kenapa aku merindukan kalian seperti sudah lama tidak bertemu”
Untuk sekali lagi Lezzy menatap ke belakang, lalu sepintas ia melihat rusa putih berwarna silver, melompat ceria kemudian hilang.
Lezzy nengidikkan bahu, mungkin hanya khayalannya saja. Lezzy menatap langit Sydney dengn senyum bahagia.
“Semoga semua baik-baik saja.”
---_o0o_---
Hi, readrs.
karena sudah masuk sekolah jadi agak susah buat Up cepet, tapi jangan khawtir Author akan membuat cerita ini tidak akan mengecewakan😘😘
__ADS_1
~See You