Queen Of Rulers From Another World

Queen Of Rulers From Another World
•Who Are You ?•


__ADS_3


.... ...


..."Baiklah-baiklah kau bisa tertawa sepuas mu, sekarang ayo kita kembali bersama."...


.... ...


...--🌷--...


Hari semakin larut, langit hitam menguasai Darkness World, ditambah rasi bintang menjadi manik permata terbaik di cakrawala. Rembulan yang bersinggah menghujani tanah kegelapan itu dengan cahaya surinya yang sangat menawan. Beberapa angin terasa menusuk kulit putih Lezzy saat di rasa para anila menari di sekitarannya.


Lezzy masih setia duduk diatas pagar balkon kamar sembari memeluk dirinya dengan lara. Gaun tidurnya begitu tipis dan tidak mampu menghalau dari rasa dingin. Tetapi hal itu ia abaikan dan hanya mengandalkan selendang yang merangkulnya.


Dalam tepian nestapa yang sangat memilukan, Lezzy masih merindukan rumah yang telah lama menjadi atap baginya berteduh---Apa yang sedang terjadi disana? Bagaimana reaksi Mia ketika ia tidak ada? Oh, atau bagaimana dengan tempatnya bekerja? Apa dia sudah di berhentikan karena tidak masuk selama seminggu.


Ada begitu banyak pertanyaan yang terus tercatat dengan paksa di benaknya. Jika di bilang bahwa ia telah beradaptasi dengan keadaan, tentu itu bohong. Mau bagaimana pun ia tumbuh dan lahir di Bumi.


Jadi bagaimana bisa dia semudah itu tak merindukan rumah, meski tidak ada siapapun yang akan menunggunya di rumah---setidaknya masih ada beberapa orang yang menantinya kembali.


Lezzy menundukkan kepalanya menarik nafas dengan snagat dalam, mencoba menghibur diri. Untuk sesaat ia tertawa remeh, seakan menertawakan nasibnya---entah bagaimana ia berpikir mungkin saja tidak akan ada siapapun yang mencari keberadaan nya.


Mau bagaimana pun juga selama ini, ia hidup memandang, dan memang tidak semuanya berkata jujur kepadanya. Apakah yang paling setia di dunia ini hanya diri kita sendiri?


Lambat laun juga Mia akan melupakan nya, ia punya kehidupan nya sendiri dan hasilnya yang tersisa hanya diri Lezzy sendiri yang mengingat keberadaan nya yang sekecil butiran pasih di tengah banyaknya masyarakat.


Aku kesepian ...


"Lezzy ..."


Sesuatu yang hangat merangkul Lezzy bersamaan dengan suara rendah yang entah mengapa terdengar sangat nyaman bagi Lezzy. Seakan panggilan nya menarik Lezzy keluar dari kehampaan yang mengurungnya.


Suara yang juga telah lama menemani Lezzy dalam mimpi selama 10 tahun terakhir. Lezzy mengangkat wajahnya menatap pemilik suara baritone ramah itu, untuk kesekian kalinya Lezzy akui bahwa mata merahnya yang terkadang terlihat menyeramkan---memandang hangat kearahnya, seakan ia merindukan sosoknya dan sudah begitu lama menderita. Tapi perasaan apa ini?


"Kau belum tidur? Apa kediaman mu kurang nyaman?"


Lezzy menggelengkan kepalanya dan menyadari pria itu baru saja memakaikan jas nya kebahu Lezzy. "Tidak. Semua sudah sangat cukup nyaman untuk ku."


"Lalu, kenapa kau di luar?"


"Aku hanya ingin punya waktu sendiri saja."


“Sebaiknya kau segera beristirahat, jangan terlalu lama berada di luar saat malam hari apalagi kau hanya menggunakan gaun tidur. Yang kutahu Manusia itu lemah, jadi harus berhati-hati dalam memilih waktu bersantai."


Lezzy menghela nafas kemudian menghadap pria itu dengan posisi masih duduk di pagar pembatas balkon. "Dengar, aku akui Manusia seperti ku memang sangatlah lemah daripada kalian. Tapi kami tidak selemah itu, lagian Manusia tidak akan mati hanya karena tidur di taman. Justru jika aku terus berlama-lama di dunia ini, nyawaku yang akan terancam. Maka dari itu, bisakah kau membantuku untuk membawa ku pulang?"


Pria itu terlihat gentar untuk sesaat, bibir nya yang sempat terbuka kecil mengkatub kembali kemudian menatap dingin tanpa arti kearah Lezzy. "Sudah berapa kali kubilang, kau tidak akan bisa pergi ataupun pulang."


"Haa----jadi, apa kau di utus Lord untuk mengawasiku juga?"


Pria itu terlihat ragu untuk mengungkap sesuatu kepada Lezzy. "Itu, sebenarnya----"


"Sudah lah, Aku juga tidak bisa melawan kehendak nya---melawan pun percuma. Tapi jika terlalu banyak pengawal di sisiku itu hanya membuatku tidak nyaman, selama seminggu di istana ini pun rasanya juga sesak."


"Mau coba ke taman?"


"Sebebarnya ada berapa banyak taman di sini?"


Pria itu berjalan mendekati Lezzy. "Entahlah, terlalu banyak lahan kosong di sini sehingga di gunakan untuk membuat taman."


Lezzy terkesikap saat pria itu memeluk pinggangnya kemudian menariknya mendekatinya lebih dekat, sehingga ia dapat mengcium aroma bunga Gracelia yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu. "Pejamkan sebentar mata mu Lezzy, ini akan sedikit membuatmu pusing."


Belum sempat mencerna maksudnya---Lezzy dapat merasa angin bergerak liar di sekitaran mereka dan dalam sekejap Lezzy menyadari mereka berpindah tempat saat ia membuka matanya. Manik mata langitnya merekam penuh terkagum pada tempat ini.



Saat ini mereka berada di lereng perbukitan wilayah Lucifer Kingdom dan istana kekaisaran berada di bagian selatan dari lokasi mereka saat ini. Padang rumput yang membentang luas dengan terselimuti bunga liar dengan kuncup menyerupai salju dan terlihat seperti pantulan cermin bintang di angkasa.


Lezzy merentangkan kedua tangan nya meresapi sapaan anila yang terasa menyenangkan seperti saat mereka berada di hutan belakang istana timur. Rambut coklat yang terkadang terlihat silver berkibar dengan sangat baik membingkai wajah jelitanya seakan ia adalah fenomena alam paling cantik di tengah semesta.

__ADS_1


Lezzy seketika lupa dengan keluh kesahnya dan sangat mengagumi dunia ini, mungkinkah ada banyak tempat yang sagat indah selain di wilayah ini---apakah dia akan memiliki kesempatan untuk menjelajahinya?


"Kau terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya Lezzy."


Lezzy menatap pria di sebelahnya, daripada memikirkan cara kembali---Lezzy juatru semakin tertarik dengan sosok pria ini. "Ini sudah ketiga kalinya kita bertemu dan aku masih belum tahu nama mu."


Pria itu tersenyum, Ia meraih tangan Kanan Lezzy. “Namaku Fedrick William Lorddark’s, kau bisa memanggilku Fedrick.” Kemudian mencium punggung tangan Lezzy selayaknya sapaan seorang pria bangsawan terhormat.


Meski dia terlihat ramah, tapi entah mengapa setiap tindakan nya memiliki maksud tersirat. Terlebih, aku selalu berdebar setiap menatap matanya.


“Apa ada yang ingin kau tanyakan?”


“Siapa kau sebenarnya? aku selalu merasakan aura berbeda darimu.” Fedrick menatap lekat Lezzy dengan pandagan datar.


“Maksudku, kau berbeda dengan mereka."


"Aku memang berbeda karen aku tidak satu ras dengan pelayan ataupun Styvn."


"Bukan begitu. Maksudku---terkadang kau bertindak seperti tidak memedulikan peraturan. Kau selalu menatap ku, sedangkan yang lain mengalihkan pandangan nya. Di saat yang lain berhati-hati dengan memanggil nama Putri, kau justru bersikap bebas dan hanya memanggil nama ku.”


Fedrick merubah raut wajahnya menjadi khawatir. Ia ingin berkata jujur tapi ekspresi wajah Lezzy ketika mengetahui bahwa ia adalah mate Lord, tidak bisa ia abaikan, sekaan ia sangat tidak sudi bersanding dan jika dia jujur bahwa dia adalah Lord itu---Akan kah ia semakin membencinya?


Harusnya dia membereskan mulut tikus yang merusak citranya sebelum membawa Lezzy ke sini. Tapi walau di tutup pasti akan diketahui juga olehnya karena baginya tidak ada alasan untuk bersikap ramah kepada pemberontak.


“Fedrick?”


“Lezzy, aku---”


GERR...!!


Perhatian Lezzy dan Fedrick teralihkan saat mendengar geraman dari seekor Serigala besar berwarna putih keabu-abuan. Lezzy yang melihat itu langsung ketakutan, ia mendekatkan dirinya kearah Fedrick dan mencengkram kuat lengan baju Fedrick.


"Apa kita di serang? Kenapa serigala nya besar sekali? Tidak bisa, kita harus kabur---" Lezzy menarik tangan Fedrick mengajaknya untuk lari dari hadapan serigala tapi sayangnya Fedrick tidak bergerak sama sekali dan hasilnya Lezzy yang justru di tarik kembali ke sisi Fedrick.


"Kenapa kau diam saja? Jika kau ingin melawan nya kita hanya akan menjadi santapan nya."


Aku hanya khawatir diriku mati di usia muda, bukan dirimu.


"Aku jadi kecewa mendengarnya."


"Apa? Memangnya aku bilang sesuatu----Wa!!"


Fedrick menarik Lezzy lalu menutup matanya sembari memdekapnya. Setelah itu ia menatap tajam kearah serigala besar itu. Melihat aura kegelapan menyelimuti mereka membuat Serigala besar tersebut berjalan mundur.


“Pergilah, kita bahas ini di ruangnku! Wujudmu itu hanya akan menakuti calon Istriku." Perintah Fedrick, dan seketika Srigala itu pergi.


Lezzy bergerak memberontak dan melepaskan diri dari dekapan Fedrick. Ia menatap pria tampan di hadapan nya dengan wajah tersipu, sedangkan Fedrick mendekatkan diri dan menyentuh dahi Lezzy dan hal itu menambah wajahnya memerah.


“Sepertinya kau demam. Sebaiknya kita kembali, ini sudah sangat lama sejak kau berada di luar dan angin malam sangat dingin. Ayo, Aku akan mengantarmu.”


Lezzy menarik kemeja hitam milik Fedrick. “Tadi kau bilang apa?”


“Aku akan mengantarmu.”


“Bukan yang itu, sebelumnya.”


“Sebaiknya kita kembali.”


“Bu--bukan yang itu Fedrick.”


“Lalu yang mana?”


“Kata-katamu saat bicara dengan Serigala tadi?”


“Kau bisa pergi, kita bahas ini diruangan---ku?” Ujarnya sembari menunjukan wajah polos.


“Lanjutannya?” Lezzy ingin memastikan pendengaran nya dan terlihat begitu antusias.


“Sebaiknya kau kembali keruangan mu.”

__ADS_1


“Bukan, bukan yang itu Fedrick!”


“Lalu kau ingin aku mengatakan apa?”


“Kata-kata sesudah dan sebelum itu!"


“Aku sedang memegang dahi mu, lalu aku menyuruhmu untuk kembali keruangan mu.”


Lezzy menatap tidak percaya, ini pertama kalinya ia bertemu pria yang benar-benar sangat susah di atasi dan sangat tidak peka!


“Kau--kau begitu menyebalkan Fedrick!” Lezzy berjalan meninggalkan Fedrick.


“Kau mau kemana?”


“Aku ingin kembali ke kamar ku---”


"Memangnya kau tahu jalan ke istana timur?" Lezzy mendadak terdiam. Benar juga tadi mereka kesini karena menggunakan sejenis sihir perpindahan milik Fedrick, apalagi tempat ini bagitu luas, meski istana terlihat---tidak mungkinkan jaraknya benar-benar dekat.


Dengan wajah menahan malu Lezzy berbalik dan berjalan mendekatk Fedrick kembali. Ia terlihat menahan rasa egonya untuk berkata---Ayo kembali bersama. Dan hanya diam sambil membuang muka dengan kesal.


“Jangan pasang wajah seperti itu kau terlihat tua.”


“Jaga kata-katamu, aku masih 23 tahun dan itu usia yang masih muda. Harusnya kata-kata itu lebih cocok untukmu, karena aku yakin kau----" Lezzy menganalisis penampilan Fedrick dari atas samapai bawah "---Pasti berusia 80. Lebih tua daripada aku, mengingat kau salah satu makhluk seperti mereka.”


“Tebakanmu salah mengenai usiaku.”


“Lalu berapa usiamu?”


“972 tahun.” Lezzy diam, Ia mencoba mencerna kata-kata Fedrick barusan.


“Ka--kau hidup selma 972 tahun?” Fedrick mengangguk dengan bangga. “Apa kau tidak di museum kan?”


“Ha?”


“Maksudku, kau seharusnya sudah di museum kan saat ini, dan aku yakin kau pasti akan mendapatkan Books Of Record dengan usiamu yang setua itu---Hahaha," Lezzy tertawa sembari memegang pundak Fedrick.


"Jangan khawatir, aku akan menempatkan mu di lemari kaca emas di museum nanti." Lanjutnya masih tertawa, tapi Fedrick tidak tersinggung karena menurutnya melihat wajah Lezzy yang tertawa lepas seperti ini adalah moment berharga baginya.


"Baiklah-baiklah kau bisa tertawa sepuasmu, sekarang ayo kita kembali bersama." Fedrick mengulurkan tangan nya menunggu Lezzy meraihnya. Namun ia mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangan nya saat ia rasa Lezzy sepertinya masih enggan untuk berinteraksi secara dekat dengan nya.


"Kau tidak perlu memegang tangan ku, cukup berdiri di deka-----"


Fedrick terdiam saat ia merasakan jemari mungil Lezzy kini telah menggenggam tangan nya, ia lirik wanita pujaan hatinya yang kini terlihat malu seperti dirinya dan seakan ia dapat mengetahui segalanya, Fedrick merasa gila dan sangat di bua mabuk oleh sosok plitanya---karena detak jantung mereka berdetak seirama.


"Kenapa diam saja? Kita harus segera kembali, aku--aku semakin kedinginan."


Meski Lezzy tidak melihatnya dan hanya menundukkan wajahnya, tapi itu reaksi yang sangat imut dan menggemaskan baginya. Maka Fedrick pun tersenyum dengan sangat senang sembari menggenggam erat tangan Lezzy sebelum lingkaran sihir menarik mereka untuk kembali ke istana Timur.


Tanpa mereka sadari, pembicaraan dan tingkah mereka telah terlihat dengan jelas oleh dua orang pria tampan yang mengawasi mereka dari atas pohon dengan sihir tembus pandang.


Briant yang baru saja kembali dari wilayah Vampire tidak sengaja melihat mereka tengah bersama, sedangkan Styvn memang sudah ada di sana karena setiap malam lereng bukit Lucifer Kingdom adalah pos jaganya dan mengawasi pergerakan musuh yang mencoba memasuki perbatasan.


"Gila! Apa yang barusan itu sungguh benar Lord, Styvn?!" Ujar Briant sembari menjambak rambutnya---memandang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Berhenti melihat privasi Lord, sekarang wktunya pergi ke ruangan Lord." balas cuek Styvn da pergi.


"Hum, kau sendiri juga mengintip. Dasar bayi Elf." Briant menyusul Styvn.


 


...__-o•°🌷°•o-__...


 


...



...

__ADS_1


__ADS_2