
Angin tak berwarna berhembus pelan, menghantarkan perasaan hangat tak kasat mata kepadaku, mata biruku merekam dengan pelan setiap tempat ini, tempat antara sebuah mimpi atau tempat yang benar-benar nyata.
Aku mengangkat sedikit gaun tertutup berwarna putih yang entah sejak kapan sudah kukenakan.
Tempat ini sungguh sangat menakjubkan, seluruh daratan ditumbuhi bunga Myosotis Alpestris berwarna biru yang bercahaya sangat terang, langit malam terhias bintang gemilang dengan iringan nada aurora.
Aku berjalan dengan wajah berseri, rasanya tenang dan damai seolah tempat ini terbuat dari penantian seseorang.
Hingga Aku semakin membinarkan kedua klorofil mataku, saat bulan purnama yang membulat sempurna, berukuran besar di balik sebuah pohon persik yang menaburkan setiap kelopak bunganya, mirip seperti sakura.
Disana terdapat seseorang tengah duduk di ayunan sembari menatapku dengan senyum lembutnya, ya.. senyuman yang begitu damai dan sangat menyentuh bagiku, seorang wanita cantik yang dulu pernah kutemui bersama Luna.
Paras Dewinya yang terlampau sempurna iris mata yang begitu persis denganku, kulihat Dewi itu menepuk pelan ayunan disebelahnya, seolah menyuruhku untuk duduk disebelahnya.
Aku berjalan pelan menghampirinya lalu duduk tepat disebelahnya, kedua mata Savier kami yang persis seperti padang bungan Myosotis Alpestris saling menatap, Dewi itu membelai setiap senti dari wajahku memberikan perasaan rindu yang telah lama dia tahan, tatapan yang Ia pancarkan begitu bisa kupahami.
Ya, Aku memejamkan mata meresapi setiap belaiannya yang juga kurindukan.
“Lezzy...., kau sudah tumbuh dewasa dengan sangat cantik.......”
“Ibu.....”
Aku kembali melihatnya dengan sendu, sedangkan Dewi itu menarik pelan tangannya, panggilanku kepadanya membawa pesan yang sudah lama Ia tunggu, kedua matanya berlinang air mata bibir ranum semerah mawar bergetar ingin berkata, tapi menjadi bisu.
Aku mengingat semua kenangan yang telah hilang, Katastrofi telah memberi tahuku bahwa dia, Dewi Selini Thea adalah Ibu kandungku maka salahkah Aku jika memanggilnya dengan sebutan Ibu? Benar atau tidak, menerima atau menolak.
Tapi hatiku menjerit meyakinkanku bahwa wanita di hadapanku adalah Ibu yang selalu ingin kuketahui.
“Kau..., tahu sia..pa Aku, Lezzy?”
Aku tersenyum lembut lalu memeluknya menghantarkan perasaan hangat kepadanya.
“Em, Aku merindukanmu Ibu.....”
“..Le...Lezzy, hiks...maafkan Ibu, maaf untuk semua yang telah kulakukan kepadamu, Aku tidak berniat melantarkanmu...Aku.....”
“Lezzy tahu, semua yang Ibu lakukan adalah untuk melindungiku, tapi apa boleh kuketahui semua alasannya Bu?”
Sembari melepas dari pelukannya, Aku melihat dengan antusias menunggu jawabannya lalu perlahan dia menggerakan ayunan.
“Ceritannya cukup rumit Lezzy, sejak dulu Dewi dan Manusia dilarang keras untuk bersama begitu juga untuk makhluk lainnya, tapi Ibu dan Ayahmu tetap melanggarnya perasaan cinta yang kami tanam menumbuhkan buah hati yang sangat kami nantikan, hingga hubungan kami di ketahui oleh para petinggi Dewa dan menghukum Ayahmu dengan kematian, Ibu mencoba membela tapi yang kami lakukan tetap lah salah..,. Ayahmu menerima hukumannya dengan syarat kau tidak boleh ikut di adili, para Dewa pun setuju. Setengah darah Dewiku membawa kutukan untuk takdir hidupmu Lezzy, menjadikanmu sebagai Dewi sekaligus Vasilissa yang telah menjadi gelar setiap keturunan Selini Thea..”
“Jadi Ayah mengrbankan dirinya untukku...?”
__ADS_1
“Lezzy, Aku dan Ayahmu tidak pernah menyesal memilikimu. Justru kami menyesal karena telah memberikan sebuah beban hidup berat, karena menanggung dosa yang telah kami lakukan, dulu rasa ingin tahuku mengenai Bumi mengikat takdir cinta kepada Ayahmu.., semua salahku tapi Aku tidak menyesali pernah mencintai Ayahmu dan memilikimu, kau segalanya untuk kami. Apa sekarang kau membenci kami Lezzy?”
“Tidak, Lezzy sangat bahagia memiliki orang tua yang hebat seperi kalian.., terkadang orang tua akan melakukan segalanya untuk kebahagiaan anaknya tidak perduli meski harus melawan dunia. Tapi Aku sudah cukup bahagia memiliki kalian.”
“Terimakasih Lezzy....”
“Lalu kenapa Aku bisa ada di Bumi?”
“Seperi yang sudah kau ketahui mengenai Katastrofi, demi melindungimu Aku memerintahkan Olyfia untuk membawamu pergi ke Bumi, Ayah dan Ibu yang selalu mengurusmu selama ini adalah Adik dari Ayahmu. Lebih tepatnya Ibumu adalah bibimu, mereka sudah lama menikah tapi tidak memiliki seorang anak. Lalu kuputuskan untuk memberikanmu kepada mereka hingga batas usia kedewasaanmu, yaitu usia 23 tahun. Namun sayang, takdir Vasilissamu jauh lebih berat hingga kau harus mengurus hidupmu dengan kesendirian...”
“Em, Ibu... jika Manusia dan Dewi dilarang bersama begitu juga dengan makhluk lainnya, lalu bagaimana denganku dan Fedrcik?”
“Kalian berbeda Lezzy, sejak awal kalian telah ditakdirkan untuk bersama.., pasangan Vasilissa dan Vasilias akan selalu berdampingan tidak perduli terdapat ranjau disetiap langkah kalian, kalian tidak akan pernah berpisah....”
“Tapi dia tidak menepati janjinya untuk menemuiku Bu, Aku juga telah melupakannya selama 2 tahun sebelum kumiliki kembali ingatanku, Ibu Aku merindukannya, Aku ingin melihatnya atau kah dia telah melupakanku juga?”
“Tidak Lezzy, dengar biarkan dia melindungimu dengan caranya sendiri, jika sebuah perpisahan adalah rute tercepat maka kau hanya perlu tetap percaya dan menunggunya, sebenarnya Lezzy dia lah yang lebih menderita, selama ini tanpa kau sadari Fedrick selalu memperhatikanmu, sosok yang menjadi pengganggu adalah sosok yang paling kau butuhkan dan kau rindukan, sama halnya dengan Ibu dan Ayahmu, meski kami terpisah tapi dia maupun diriku tetap bersama. Pelajarilah dari takdirmu Lezzy temukan jawabannya.”
“Apa Aku bisa bersama dengannya kembali Bu?”
“Ya, kau ppasti akan menemukan sendiri jawaban itu, karena kau adalah Putri kami.., sekarang kembali lah sudah waktunya kau harus bertemu degannya.”
Angin berhembus kencang menerbangkan kelopak bunga Myosotis Alpestris, tubuhku bersinar dan perlahan menghilang bagaikan serpihan bintang.
Lalau seluruh tubuhku hilang diringi hembusan angin yang lembut.
Selini Thea tersenyum bahagia lalu melirik Rusa jantan Putih, yang merupakan Soul Of Life milik Suaminya sekaligus Ayah Lezzy.
“Kau dengar itu Carzie, dia tidak membenci kita tapi justru bangga memiliki kita, Apa kita telah berhasil menjadi orang tua yang baik untuknya?”
“Ya, kita sudah berhasil.., wajahnya sangat mirip denganmu Selini. Dia akan menjadi seorang penguasa yang bijaksana..”
Ucap Carzie yang telah berubah menjadi wujud manusianya.
--o0o--
Aku terbangun melihat lingkungan sekitarku, sudah bisa kutebak bahwa saat ini Aku sedang berada di Rumah Sakit, perlahan Aku bangkit dan melihat hari sudah gelap, sepertinya Miya cukup panik dengan kejadian tadi pagi dan membawaku ke Rumah Sakit terdekat, masih bisa kurasakan pusing pada kepalaku.
Lalu Aku berjalan melihat malam musim dingin kota Sydney dari balik jendela, kejadian barusan bukanlah mimpi tapi Aku yakin Ibu ingin mengatakan bahwa Fedrcik masih selalu menungguku, ya Aku sangat yakin dan sosok misterius itu pasti adalah Fedrick.
__ADS_1
“Aku merindukanmu, ....Ratuku”
Aku meminta tolong kepada suster untuk membawakan keras dan pena, suster itu memberikannya kepadaku, lalu kutulis semua yang ada di benakku untuk Miya dan meletakannya di atas meja kecil, karena sepertinya Miya dan keluarganya sedang keluat atau mengurus hal lain, lagian akan lama jika menunggu mereka.
Karena Aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa rinduku untuk bertemu dengannya.
Kulihat langit malam sekali lagi, lalu berlari untuk kembali pulang ke rumah. Entahlah hatiku terus berkata dia sedang menungguku, di rumah Untungnya Rumah Sakit ini sangat dekat dengan rumahku.
Tanpa memikirkan tatapan orang-orang yang teruju kepadaku, Aku terus berlari sekuat tenaga mungkin sudah banyak yang kutabrak saat berlari, tapi Aku tidak perduli.
Butiran salju putih menghujani malam dingin penuh harapan, hembusan angin terasa menusuk dikulitku tapi itu sudah tidak kuperdulikan, hingga Aku berhenti berlari saat sudah sampai di depan rumah.
Deru nafasku yang sesak akibat kupaksakan untuk lari dari Rumah sakit menuju rumah, perlahan mulai sedikit stabil, Aku berdiri tepat di pintu rumah
.
“Aku telah memahami takdir hidupku sebagai Dewi Alice, Aku...telah memahami setiap pelajaran hidup sebagai Vasilissa. Jika jawabannya adalah ‘Berkorban’ untuk melepaskan diriku maka, jawabanku adalah menyelamatkan dia dari tekad buruknya, dan jika jawabannya adalah 'Kematian' untuk melindungi seluruh orang-orang yang dia sayangi maka, jawabanku adalah menghidupkannya dengan seluruh rasa cintaku...”
Aku terus bergumam entah kepada siapa, tapi Fedrick telah memberikan empat lembar terakhir yang harus kujawab, dan itu harus kulakukan karena dia adalah Vasiliasku, karena dia adalah sosok Raja yang dapat bersinggah di hatiku, dan karena dia adalah pasangan Mate yang ditakdirkan untukku.
“Kumohon kepada To Fos Tou Fengariou, pertemukan kembali Aku dengannya. Kumohon kepada para Dewa Alam, hentikan semua ini jangan pisahkan diriku dengan dirinya, dan Aku memohon kepadamu To iliako Fos, kembalikan dia kepadaku..”
Aku memejamkan mata sembari memutar kenop pintu, membukanya membiarkan suara deritan pintu yang begitu nyaring, jantungku berdegup cepat lalu perlahan kubuka mataku, berharap seseorang yang kuharapkan ada disana, sedang berdiri melihatku.
Tes..
Air mataku mengalir saat melihat tidak ada siapa-siapa di dalam rumah, pupus sudah harapanku mengenai dia, hilang sudah kepercayaanku tentang janjinya, dan hancur sudah hatiku saat kusadari bahwa dia mungkin tidak akan pernah bersama denganku lagi.
Aku terduduk berjongkok meraung sakit disetiap nada isakan tangisanku, mencengkram kuat rangkulanku pada lutut, angin musim dingin berhembus kencang memasuki rumahku dari pintu yang terbuka lebar, membawa hawa dingin yang kian menusuk.
“Berhentilah menangis, Aku tidak suka melihatmu menangis.., dimana senyuman manismu, dimana suara tawa bahagiamu. Bukankah Aku sudah bilang....bahwa Aku pasti akan menemuimu kembali Istriku sayang...”
Suara bariton itu menghentikan tangisanku, suara itu menghantarkan jawaban kerinduanku kepadanya, kuangkat kepalaku melihat wajah Suamiku, Kekasihku, Mate ku, dan Raja ku.
Dia memakaikan Syal merah kepadaku, menatap lembut dengan pancaran rasa rindu yang sama sepertiku, jemariku bergerak membelai wajahnya membuktikan, bahwa penglihatanku bukanlah sebuah imajinasi.
“Fedrick.......”
--_o0o_--
Terimakasih untuk suport pembaca, Author berharap kalian tidak bosan dengan semua ceritaky...
~See You😘
__ADS_1